h
Today's Document
noise dept.
cherry valley forever
YOU ARE THE REASON
🪼

Janaina Medeiros

Kaledo Art
Alisa U Zemlji Chuda

if i look back, i am lost
Jules of Nature
Xuebing Du

oozey mess
$LAYYYTER
Cosmic Funnies
art blog(derogatory)

blake kathryn

No title available

ellievsbear

shark vs the universe

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Argentina
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Syria

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Mexico

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States
@kakkrchp
Beragama dan Berfilsafat di Era AI #1
Yusuf Kalla dan Tokoh Umat Beragama (Kredit Antara)
*BPK. JUSUF KALLA MANTAN WAPRES RI SEKALIGUS KETUA DEWAN MASJUD INDONESIA BERBICARA TEGAS MENANGGAPI ISU GEREJA YASMIN DI BOGOR*
“Gereja Sudah 56.000, Harusnya Bersyukur, Bukan Ribut Satu Gereja ke Seluruh Dunia!” – Jusuf Kalla di H adapan 700 Pendeta
Suasana mendadak hening di aula besar itu. Di hadapan 700 pendeta dari berbagai denominasi, Jusuf Kalla mantan Wakil Presiden RI sekaligus Ketua Dewan Masjid Indonesia berbicara tegas menanggapi isu Gereja Yasmin, Bogor.
“Toleransi itu dua arah. Kalau pembangunan gereja diminta dipindah sedikit, ya pindah saja. Tuhan tidak marah kalau kamu ibadah di tempat lain. IMB itu bukan urusan Tuhan, tapi urusan Walikota!”
Nada bicaranya naik. Tegas dan logis.
Karena faktanya, masalah GKI Yasmin bukan soal agama. Tapi soal hukum.
Ketua RT setempat, Munir Karta, terbukti memalsukan tanda tangan warga demi mengurus izin gereja. Ia divonis bersalah di pengadilan. Tapi anehnya, yang disorot media justru penyegelan gereja, bukan pemalsuan dokumen.
Yang dituduh intoleran? Umat Islam.
📊 Mari Kita Bicara Data, Bukan Drama
Jusuf Kalla pernah menyampaikan data penting soal rumah ibadah di Indonesia:
• Pertumbuhan gereja dalam 20 tahun terakhir: naik 130%
• Pertumbuhan masjid: hanya 63%
Jumlah masjid memang lebih banyak. Wajar, karena umat Islam mayoritas. Tapi yang perlu dicermati adalah laju pertumbuhannya. Pertumbuhan gereja dua kali lebih cepat. Ini bukan hal kecil.
Dan pertumbuhannya bukan hanya dari dalam negeri. Banyak ditopang jaringan internasional—baik dari gereja luar negeri, yayasan Kristen global, maupun negara-negara Barat yang aktif mengirim dana, tenaga, bahkan program beasiswa.
🌍 Siapa Saja yang Terlibat?
Beberapa lembaga luar negeri yang dikenal aktif dalam pendanaan gereja dan program kristenisasi:
• World Vision (AS) – bantuan kemanusiaan berbasis penginjilan
• Christian Aid Mission
• Open Doors International
• Evangelical Fellowship of Canada
• The Joshua Project – secara spesifik menyasar suku-suku Muslim sebagai target misi
• Gereja Mormon (Utah, AS)
• Dukungan langsung dari Vatikan
Mereka tidak sekadar membangun gereja, tapi juga mengirim:
• Buku-buku Injil berbahasa lokal
• Tenaga misionaris (sering menyamar jadi guru, relawan, atau perawat)
• Bantuan sosial, beasiswa luar negeri, hingga sekolah asrama untuk kaderisasi gereja lokal
📌 Di banyak wilayah miskin dan terpencil, kegiatan ini masuk lewat pintu pendidikan, kesehatan, dan bantuan bencana. Sekilas tampak netral. Tapi di dalamnya, pelan-pelan disusupi pengajaran agama.
🏘️ Gereja dalam Satu Desa, Bisa 4–5 Jenis
Gereja di Indonesia tidak tunggal. Ada:
• Katolik
• Protestan
• Pentakosta
• Gereja Injili
• Saksi Yehuwa
• Gereja Reform
• Dan lainnya…
Satu desa kecil bisa punya 4–5 gereja beda aliran, yang kalau digabung jemaatnya kadang masih kalah ramai dibanding satu mushalla kecil di ujung kampung.
Apakah umat Islam pernah menghalangi pembangunan?
Faktanya: tidak. Gereja tumbuh di mana-mana. Bahkan gereja terbesar se-Asia Tenggara ada di Indonesia.
🏛️ Graha Bethany Nginden — Surabaya
• Kapasitas: 35.000 jemaat
• Kehadiran reguler: ±140.000 orang
• Berdiri megah dan bebas di tengah mayoritas Muslim Jawa
Ini menunjukkan bahwa negara ini tidak menghambat gereja. Justru membiarkannya tumbuh dengan leluasa. Tapi mengapa umat Islam justru terus yang dituduh intoleran?
🕌 “Kenapa Harus Ada Masjid di Kantor?”
Masih dalam forum yang sama, seorang pendeta bertanya:
“Kenapa di kantor-kantor pemerintahan harus ada masjid?”
Jusuf Kalla menjawab:
“Justru itu bentuk penghormatan kepada Anda. Jumat tidak libur, sementara Anda libur hari Minggu. Anda bisa kebaktian dalam 5 shift. Umat Islam cuma bisa ibadah Jumat sekali. Kalau tidak ada masjid, kami harus bolos kerja. Apa Anda mau hari libur ditukar? Jumat libur, Minggu kerja?”
Penjelasan yang sederhana, tapi dalam. Toleransi butuh saling mengerti, bukan saling curiga.
🤝 Toleransi Itu Bukan Harus Diam
Mari kita jujur. Tidak semua konflik rumah ibadah adalah soal agama. Kadang soal izin, kadang soal manipulasi. Tapi sering kali, narasi dipelintir: umat Islam dituduh anti-kebhinekaan.
Padahal, yang dijaga adalah aturan bersama. Dan umat Islam—dengan jumlah mayoritas—telah banyak menahan diri.
Namun di sisi lain, realitas pemurtadan juga tidak bisa diabaikan.
Jumlah Muslim semakin berkurang di beberapa daerah karena berbagai cara pengkristenan:
• Lewat sekolah gratis
• Bantuan sembako rutin
• Rumah sakit misi
• Buku pelajaran agama terselubung
• Hingga beasiswa luar negeri untuk anak-anak muda Muslim
🧭 Mari Jaga Proporsi dan Kejujuran
Indonesia adalah rumah bersama. Dan rumah ini bisa berdiri tegak kalau semua pihak sadar akan batas, sadar akan etika, dan menghormati hukum.
Toleransi itu bukan berarti satu pihak boleh melakukan segalanya, sementara pihak lain dituntut selalu mengalah.
Toleransi berarti dua pihak sama-sama dewasa.
Sama-sama taat hukum.
Dan sama-sama menjaga harmoni, bukan memanfaatkannya.
——————
Kamu suka postingan ini, share dan follow Ngopidiyyah biar tiap hari postingan terbaru kami muncul diberandamu …!
*TOLERANSI ITU INDAH TAPI JANGAN DIKOTORI*
Yusuf Kalla dan Tokoh Umat Beragama (Kredit Antara)
*BPK. JUSUF KALLA MANTAN WAPRES RI SEKALIGUS KETUA DEWAN MASJUD INDONESIA BERBICARA TEGAS MENANGGAPI ISU GEREJA YASMIN DI BOGOR*
“Gereja Sudah 56.000, Harusnya Bersyukur, Bukan Ribut Satu Gereja ke Seluruh Dunia!” – Jusuf Kalla di H adapan 700 Pendeta
Suasana mendadak hening di aula besar itu. Di hadapan 700 pendeta dari berbagai denominasi, Jusuf Kalla mantan Wakil Presiden RI sekaligus Ketua Dewan Masjid Indonesia berbicara tegas menanggapi isu Gereja Yasmin, Bogor.
“Toleransi itu dua arah. Kalau pembangunan gereja diminta dipindah sedikit, ya pindah saja. Tuhan tidak marah kalau kamu ibadah di tempat lain. IMB itu bukan urusan Tuhan, tapi urusan Walikota!”
Nada bicaranya naik. Tegas dan logis.
Karena faktanya, masalah GKI Yasmin bukan soal agama. Tapi soal hukum.
Ketua RT setempat, Munir Karta, terbukti memalsukan tanda tangan warga demi mengurus izin gereja. Ia divonis bersalah di pengadilan. Tapi anehnya, yang disorot media justru penyegelan gereja, bukan pemalsuan dokumen.
Yang dituduh intoleran? Umat Islam.
📊 Mari Kita Bicara Data, Bukan Drama
Jusuf Kalla pernah menyampaikan data penting soal rumah ibadah di Indonesia:
• Pertumbuhan gereja dalam 20 tahun terakhir: naik 130%
• Pertumbuhan masjid: hanya 63%
Jumlah masjid memang lebih banyak. Wajar, karena umat Islam mayoritas. Tapi yang perlu dicermati adalah laju pertumbuhannya. Pertumbuhan gereja dua kali lebih cepat. Ini bukan hal kecil.
Dan pertumbuhannya bukan hanya dari dalam negeri. Banyak ditopang jaringan internasional—baik dari gereja luar negeri, yayasan Kristen global, maupun negara-negara Barat yang aktif mengirim dana, tenaga, bahkan program beasiswa.
🌍 Siapa Saja yang Terlibat?
Beberapa lembaga luar negeri yang dikenal aktif dalam pendanaan gereja dan program kristenisasi:
• World Vision (AS) – bantuan kemanusiaan berbasis penginjilan
• Christian Aid Mission
• Open Doors International
• Evangelical Fellowship of Canada
• The Joshua Project – secara spesifik menyasar suku-suku Muslim sebagai target misi
• Gereja Mormon (Utah, AS)
• Dukungan langsung dari Vatikan
Mereka tidak sekadar membangun gereja, tapi juga mengirim:
• Buku-buku Injil berbahasa lokal
• Tenaga misionaris (sering menyamar jadi guru, relawan, atau perawat)
• Bantuan sosial, beasiswa luar negeri, hingga sekolah asrama untuk kaderisasi gereja lokal
📌 Di banyak wilayah miskin dan terpencil, kegiatan ini masuk lewat pintu pendidikan, kesehatan, dan bantuan bencana. Sekilas tampak netral. Tapi di dalamnya, pelan-pelan disusupi pengajaran agama.
🏘️ Gereja dalam Satu Desa, Bisa 4–5 Jenis
Gereja di Indonesia tidak tunggal. Ada:
• Katolik
• Protestan
• Pentakosta
• Gereja Injili
• Saksi Yehuwa
• Gereja Reform
• Dan lainnya…
Satu desa kecil bisa punya 4–5 gereja beda aliran, yang kalau digabung jemaatnya kadang masih kalah ramai dibanding satu mushalla kecil di ujung kampung.
Apakah umat Islam pernah menghalangi pembangunan?
Faktanya: tidak. Gereja tumbuh di mana-mana. Bahkan gereja terbesar se-Asia Tenggara ada di Indonesia.
🏛️ Graha Bethany Nginden — Surabaya
• Kapasitas: 35.000 jemaat
• Kehadiran reguler: ±140.000 orang
• Berdiri megah dan bebas di tengah mayoritas Muslim Jawa
Ini menunjukkan bahwa negara ini tidak menghambat gereja. Justru membiarkannya tumbuh dengan leluasa. Tapi mengapa umat Islam justru terus yang dituduh intoleran?
🕌 “Kenapa Harus Ada Masjid di Kantor?”
Masih dalam forum yang sama, seorang pendeta bertanya:
“Kenapa di kantor-kantor pemerintahan harus ada masjid?”
Jusuf Kalla menjawab:
“Justru itu bentuk penghormatan kepada Anda. Jumat tidak libur, sementara Anda libur hari Minggu. Anda bisa kebaktian dalam 5 shift. Umat Islam cuma bisa ibadah Jumat sekali. Kalau tidak ada masjid, kami harus bolos kerja. Apa Anda mau hari libur ditukar? Jumat libur, Minggu kerja?”
Penjelasan yang sederhana, tapi dalam. Toleransi butuh saling mengerti, bukan saling curiga.
🤝 Toleransi Itu Bukan Harus Diam
Mari kita jujur. Tidak semua konflik rumah ibadah adalah soal agama. Kadang soal izin, kadang soal manipulasi. Tapi sering kali, narasi dipelintir: umat Islam dituduh anti-kebhinekaan.
Padahal, yang dijaga adalah aturan bersama. Dan umat Islam—dengan jumlah mayoritas—telah banyak menahan diri.
Namun di sisi lain, realitas pemurtadan juga tidak bisa diabaikan.
Jumlah Muslim semakin berkurang di beberapa daerah karena berbagai cara pengkristenan:
• Lewat sekolah gratis
• Bantuan sembako rutin
• Rumah sakit misi
• Buku pelajaran agama terselubung
• Hingga beasiswa luar negeri untuk anak-anak muda Muslim
🧭 Mari Jaga Proporsi dan Kejujuran
Indonesia adalah rumah bersama. Dan rumah ini bisa berdiri tegak kalau semua pihak sadar akan batas, sadar akan etika, dan menghormati hukum.
Toleransi itu bukan berarti satu pihak boleh melakukan segalanya, sementara pihak lain dituntut selalu mengalah.
Toleransi berarti dua pihak sama-sama dewasa.
Sama-sama taat hukum.
Dan sama-sama menjaga harmoni, bukan memanfaatkannya.
——————
Kamu suka postingan ini, share dan follow Ngopidiyyah biar tiap hari postingan terbaru kami muncul diberandamu …!
*TOLERANSI ITU INDAH TAPI JANGAN DIKOTORI*
Momen Natal akan segera dirayakan oleh umat Kristen di seluruh dunia.
Merayakan Natal adalah hal ilegal di negara ini. Warga yang melanggar bisa dikenai hukuman mati.
Gus Miftah, sosok yang tak asing di dunia dakwah, kini menjadi sorotan publik akibat sembilan insiden kontroversialnya, mulai dari pernyataa
Diskusi Wali Hadir Saat Diwakili Menikahkan Putrinya Kepada Orang Lain: Sah
Wali Telah Mewakilkan, Bolehkah Hadir di Majelis Akad Nikah?
Dalam sebuah rangkaian proses pernikahan seorang laki-laki dan perempuan prosesi ijab kabul adalah waktu yang paling menentukan sekaligus mendebarkan bagi banyak pihak. Bukan saja bagi pasangan calon pengantin yang akan berjodohan namun juga bagi orang tua kedua mempelai terlebih seorang ayah yang menjadi wali atas anak perempuannya yang akan dinikahkan.
Pada dasarnya banyak orang tua yang berkeinginan menikahkan sendiri anak perempuannya saat proses ijab kabul, tidak diwakilkan kepada penghulu. Hanya saja ketidakmampuan karena terbatasnya ilmu atau kondisi perasaan hati yang tak menentu terkadang menjadi kendala sehingga pengucapan ijab diwakilkan kepada penghulu atau orang lain yang dipandang mampu.
Pada saat yang demikian orang tua yang juga menjadi wali pengantin perempuan cukup berbahagia meski hanya bisa menyaksikan proses ijab kabul pernikahan anaknya. Hanya saja kebahagiaan tersebut terkadang tak terwujud dikarenakan adanya pemahaman sebagian masyarakat yang melarang seorang wali berada di majelis akad nikah bila telah mewakilkan kepada orang lain.
Ya, tak bisa dipungkiri bahwa di beberapa daerah masih ada sebagian masyarakat yang memahami bahwa apabila seorang wali nikah telah mewakilkan pengikraran ijabnya kepada orang lain maka ia tak diperbolehkan hadir di majelis akad nikah tersebut. Wali yang telah mewakilkan harus pergi dalam artian tidak hadir di majelis atau bahkan benar-benar pergi dari wilayah dimana akad nikah diselenggarakan. Hal ini tentunya membuat sang wali sebagai orang tua bersedih hati karena tak bisa menyaksikan proses ijab kabul pernikahan putrinya yang menjadi awal kehidupan baru bagi sang anak dan juga bisa dikata sebagai “perpisahan” dengannya.
Lalu bagaimana sesungguhnya fiqih Islam mengatur hal itu?
Di dalam kitab Kifâyatul Akhyâr karya Imam Taqiyudin Al-Hishni disebutkan sebuah keterangan sebagai berikut:
فرع - يشْتَرط فِي صِحَة عقد النِّكَاح حُضُور أَرْبَعَة ولي وَزوج وشاهدي عدل وَيجوز أَن يُوكل الْوَلِيّ وَالزَّوْج فَلَو وكل الْوَلِيّ وَالزَّوْج أَو أَحدهمَا أَو حضر الْوَلِيّ ووكيله وَعقد الْوَكِيل لم يَصح النِّكَاح لِأَن الْوَكِيل نَائِب الْوَلِيّ وَالله أعلم
“(Cabang) Dalam keabsahan akad nikah disyaratkan hadirnya empat orang yang terdiri dari suami, wali dan dua orang saksi yang adil. Wali dan suami diperbolehkan mewakilkan kepada orang lain (untuk melakukan ijab kabul). Maka bila wali dan suami atau salah satunya telah mewakilkan kepada orang lain atau wali dan wakilnya hadir (pada saat akad nikah) lalu sang wakil melakukan akad nikah maka pernikahannya tidak sah, karena wakil adalah pengganti wali. Wallahu a’lam.” (Taqiyudin Al-Hishni, Kifâyatul Akhyâr [Bandung: Al-Ma’arif, tt], juz 2, hal. 51)
Dari apa yang disampaikan oleh Imam Al-Hishni di atas bisa dipahami bahwa bila seorang wali yang telah mewakilkan kepada orang lain untuk melakukan akad nikah lalu wali tersebut juga hadir pada majelis akad tersebut maka pernikahan dianggap tidak sah. Barangkali atas dasar teks inilah sebagian masyarakat kemudian mengharuskan wali untuk meninggalkan majelis akad bila telah mewakilkan pada penghulu atau orang lain yang dianggap berkopenten.
Bila teks di atas dipelajari lebih lanjut kiranya akan bisa diambil pemahaman yang lain dari pemahaman di atas. Kalimat “disyaratkan hadirnya empat orang yang terdiri dari suami, wali dan dua orang saksi yang adil” pada teks di atas bisa menjadi kata kunci. Dengan kalimat tersebut mushannif (pengarang kitab) barangkali bermaksud menyampaikan bahwa tidak sahnya pernikahan tersebut apabila yang hadir di majelis akad nikah hanya empat orang saja sebagaimana disebut di atas.
Dalam keadaan demikian maka sesungguhnya yang menghadiri majelis akad tersebut hanya tiga orang saja, yakni suami, wali dan satu orang saksi. Satu orang lagi yang ditunjuk sebagai wakilnya wali sudah tidak lagi menjadi saksi. Sedangkan sang wali yang ikut hadir di sana meskipun ikut menyaksikan namun tidak bisa dianggap sebagai saksi karena pada hakikatnya dia berstatus sebagai wali hanya saja pelaksanaan ijabnya diwakilkan pada orang lain. Bila demikian adanya maka bisa dibenarkan ketidakabsahan akad nikah tersebut. Hanya saja sesungguhnya teks tersebut juga tidak bermaksud menetapkan larangan hadirnya wali yang telah mewakilkan sebagaimana dipahami sebagian masyarakat.
Pemahaman ini kiranya bisa diterima bila mencermati teks-teks fiqih yang lain yang disampaikan oleh para ulama di dalam berbagai kitab. Di antaranya apa yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi dalam kitab Nihayatuz Zain. Beliau menuturkan:
وَلَا بِحَضْرَة مُتَعَيّن للولاية فَلَو وكل الْأَب أَو الْأَخ الْمُنْفَرد فِي النِّكَاح وَحضر مَعَ شَاهد آخر لم يَصح النِّكَاح لِأَنَّهُ ولي عَاقد فَلَا يكون شَاهدا
Artinya: “Dan tidak sah sebuah pernikahan dengan dihadiri orang yang menentukan (orang lain) untuk perwalian. Maka bila seorang bapak atau seorang saudara seorang diri (yang menjadi wali) mewakilkan kepada orang lain dalam akad nikah dan bapak atau saudara itu hadir bersama seorang saksi yang lain maka pernikahan itu tidak sah, karena ia—bapak atau saudara itu pada hakikatnya—adalah wali yang mengakadkan, maka tidak bisa menjadi saksi.” (Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nihâyatuz Zain [Bandung, Al’Ma’arif, tt], hal. 306)
Bukan hanya Syekh Nawawi yang memaparkan hal tersebut. Beberapa ulama Syafi’iyah yang lain seperti Imam Zakariya Al-Anshari, Sulaiman al-Jamal, Zainudin al-Malibari dan Bujairami juga mengungkapkan hal yang sama di dalam kitab-kitab mereka.
Bila mencermati teks di atas kiranya bisa menjadi penguat pemahaman bahwa hadirnya wali yang telah mewakilkan di majelis akad nikah bisa menjadikan tidak sahnya akad tersebut bila ia berlaku sebagai saksi sementara tidak ada lagi orang yang hadir selain suami, satu orang saksi, wali yang telah mewakilkan, dan orang yang mewakili wali. Karena dengan demikian akad nikah tersebut hanya disaksikan oleh satu orang saksi, sedang sang wali meski menyaksikan namun tidak bisa dianggap sebagai saksi.
Pada kenyataannya yang terjadi di masyarakat bukanlah demikian. Ketika wali telah mewakilkan kepada penghulu atau orang lain dan ia tetap hadir di majelis untuk menyaksikan proses ijab kabul anak perepuannya, masih banyak orang lain yang hadir menyaksikan akad tersebut. Dengan demikian kendati sang wali tidak bisa dianggap sebagai saksi namun masih ada banyak orang lain yang hadir sebagai saksi. Oleh karena itu pula pernikahan tersebut dianggap sah karena semua syarat telah terpenuhi.
Sebagai penekanan sekali lagi disampaikan bahwa apa yang disampaikan oleh Al-Hishni di dalam kitab Kifâyatul Akhyâr-nya bukanlah dimaksudkan untuk melarang wali tetap hadir di majelis akad nikah bila telah mewakilkan kepada orang lain. Juga bukan pula untuk membatalkan pernikahan yang dihadiri wali yang telah mewakilkan kepada orang lain secara mutlak. Ketidakabsahan pernikahan sebagaimana disebut Al-Hishni di atas adalah bila dalam kondisi proses akad tersebut hanya dihadiri unsur rukun minimal dimana wali mewakilkan kepada orang lain sedangkan ia sendiri bertindak sebagai saksi. Dengan bahasa lain, ijab kabul pernikahan tetap sah meskipun wali yang mewakilkan hadir dan sekadar menonton prosesi akad di lokasi, bukan merangkap sebagai saksi. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)
Sumber: https://nu.or.id/nikah-keluarga/wali-telah-mewakilkan-bolehkah-hadir-di-majelis-akad-nikah-G3lgs
Ustaz Adi Hidayat Nikahkan Zumi Zola dan Putri Zulhas di Madinah,Zulkifli Hasan Mendampingi
Cerita dari Arie Puji Waluyo
• 1 jam • Bacaan 2 menit
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kabar gembira datang dari aktor dan politisi Zumi Zola, yang baru saja menikahi Putri Zulkifli Hasan atau Putri Zulhas, anak dari Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN.
Zumi Zola menikahi Putri Zulhas di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Kamis (5/12/2024) pagi.
Zumi memberikan maskawin berupa 13 Gram emas kepada anak Zulkifli Hasan.
Kabar pernikahannya itu diumumkan oleh Zumi Zola di Instagramnya dalam sebuah video.
Baca juga: Bahagia, Ini Kata Putri Zulhas Setelah Menikah dengan Zumi Zola di Masjid Nabawi Madinah Arab Saudi
Baca juga: Terima Maskawin 13 Gram Emas, Ini Kata Putri Zulhas Usai Dinikahi Zumi Zola di Masjid Nabawi Madinah
Tampak Zumi dan Putri Zulhas mengenakan busana perkawinan Timur Tengah berwarna putih.
"Alhamdulillah tadi pagi sudah dilakukan ijab kabul, hadir orangtua dari Putri dan saya. Ibu dan adik saya," kata Zumi Zola dikutip Wartakotalive.com, Kamis sore.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ini jalan-jalan pertama kita sebagai suami dan istri. Alhamdulillah bisa ijab qabul di Madinah depan Masjid Nabawi," tambahnya.
Sementara itu, Zumi menyebut ia dan Putri Zulhas menggelar pesta perkawinan sederhana di Masjid Nabawi, dengan dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat saja.
"Memang acara keluarga aja kecil, Alhamdulillah kami bisa melakukan ijab kabul di Madinah, depan masjid Nabawi," ucap Zumi Zola.
Sementara itu, Putri Zulhas terlihat begitu senang dan bersyukur bisa melepas status jandanya, karena sudah resmi menjadi istri Zumi Zola. Mereka dinikahkan oleh Ustaz Adi Hidayat.
"Yang menikahkan tadi Ustaz Adi Hidayat. Beliau menikahkan kami, makasih banyak ustaz. Ustaz bawa surprise banyak teman yang ikut hadir," ungkapnya.
Putri Zulhas menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua orang yang mendoakan pernikahannya dengan Zumi Zola.
"Makasih atas doa baik dan supportnya, maaf kami gabisa balas satu persatu. Kami haru dan bahagia," ujar Putri Zulhas.
Rencananya Putri Zulhas dan Zumi Zola akan menggelar resepsi pernikahan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, 14 Desember 2024.
Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News
Zumi Zola akhirnya menikah dengan Putri Zulhas. Tampak hadir Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN. (istimewa)
Sumber:
Terindikasi Kampanye, MUI Payakumbuh Tolak Penyelenggaraan Tabligh Akbar Dihadiri UAS
www.riauonline.co.id
Ustaz-Abdul-Somad3.jpg
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Payakumbuh, Sumatera Barat (Sumbar), menolak penyelenggaraan Tabligh Akbar terindikasi kampanye pasangan calon Kepala Daerah tertentu yang akan dihadiri Ustad Abdul Somad (UAS).
Penolakan tersebut disampaikan melalui surat MUI Payakumbuh Nomor 57/MUI-Pyk/X/2004 tentang Perizinan Kegiatan Tabligh Akbar. Tampak pada surat bubuhan tanda tangan Ketua Umum MUI Payakumbuh Erman Ali dan Sekretaris Umum Hannan Putra, Rabu, 16 Oktober 2024.
Sekretaris Umum MUI Payakumbuh, Hannan Putra, saat dikonfirmasi membenarkan surat penolakan tersebut.
Menurutnya, penolakan MUI bukan pada acara Tabligh Akbar UAS, melainkan pada indikasi kampanye pada agenda tersebut.
"Surat ini benar dibuat dan disampaikan oleh MUI Payakumbuh. Tetapi perlu digaris bawahi bahwa yang kami tolak bukan Ustadz Abdul Somad, tetapi penyelenggaraan acara yang terindikasi memuat kegiatan kampanye," ujar Hannan Putra kepada RIAUONLINE.CO.ID, Kamis, 17 Oktober 2024.
Surat ini juga diposting melalui akun Instagram @mata_rakyatsumbar pada hari yang sama, Rabu, 16 Oktober 2024.
Adapun poin pada surat tersebut, di antaranya:
Baca Juga
Jaga Keamanan Jelang Pilkada, Polsek Kampar Kiri Beri Imbauan Kamtibmas ke Masyarakat
Jangan Asal, Begini Cara Pilih Calon Kepala Daerah di Pilkada 2024
Kenali Koleksi Sejarah di Museum Sang Nila Utama di Riau
Butir 1: Pada dasarnya, MUI Kota Payakumbuh mendukung setiap kegiatan kajian dan majelis ilmu yang bertujuan memotivasi dan meningkatkan ghirah keagamaan umat, selama kegiatan tersebut tidak diboncengi oleh kepentingan politik praktis
Butir 2: MUI Sumbar melakukan Rakorda pada 22-22 September 2024, memutuskan bahwa MUI Sumbar tidak mengizinkan para muballigh dari luar Sumbar ikut campur dukung-mendukung dalam kontestasi Pilkada di Sumbar.
Pada poin 6 hasil Rakorda, disebutkan bahwa mubaligh dari luar Sumbar tidak ikut campur dalam politik praktis Sumbar dan menganggap hal yang demikian bagian dari suul adab dalam hubungan antar ulama dan maballigh". Pada poin 7 hasil Rakorda, disebutkan ulama Sumbar mengingatkan agar da'i dari luar Sumbar tidak ikut campur dalam politik praktis Sumbar dan mengimbau saling menghormati dan berpegang pada kaidah amam ahlul balad adra bi bizyi'abiha (penduduk suatu negeri lebih mengerti dengan kondisi negeri mereka).
"Tindakan mencampuri negeri orang yang ada ulama pembimbing umat di sana, tanpa mengindahkan komitmen bersama yang telah disepakati, itu adalah bagian dari suud adab," tulis surat tersebut.
Butir 3: MUI Payakumbuh mengenali narasumber pada tabligh akbar tersebut aktif mengkampanyekan dukungan kepada salah satu paslon di Pilkada Payakumbuh. Karena penyelenggaraan tabligh akbar bertepatan dengan masa kampanye, maka kami duga kegiatan tabligh akbar ini berpotensi menjadi alat kampanye yang sarat kepentingan politik.
Butir 4: Atas kajian pada poin-poin di atas, maka MUI Payakumbuh menyatakan menolak penyelenggaraan kegiatan tabligh akbar tersebut.
Demikianlah surat ini kami sampaikan dan atas perhatiannya, kami ucapkan jazakallahu khairal jaza.
Sumber:
MUI Payakumbuh menolak Tabligh Akbar terindikasi kampanye yang akan dihadiri UAS.
Marissa Haque, sang Mujahidah!
Shamsi Ali*
Saya kenal Prof. Dr. Marissa Haque sejak saya kecil. Siapa yang tidak mengenal beliau yang hampir setiap hari menghiasi TV nasional ketika itu? Beliau adalah seorang tokoh nasional di bidang seni, seorang artis senior, multi talented person, akademisi dan intelektual, bahkan seorang professor dan bahkan saya tidak ragu memanggil beliau Ustadzah.
Kami komunikasi dekat sejak dahulu hingga beberapa hari lalu dalam banyak hal. Tidak jarang kami berdua melalui media WA berdiskusi dengan beliau dalam banyak hal tentang perkembangan perpolitikan di tanah air. Pandangan politik kami banyak memiliki kesamaan dengan harapan yang sama. Untuk hadirnya perubahan bagi Indonesia demi masa depan yang lebih baik.
Awal kami komunikasi intens dengan almarhumah di saat beliau mengambil S2 di Athen, Ohio. Ketika itu beliau mengontak saya ingin mengikuti dan merekam (dalam video) beberapa kegiatan-kegiatan Dakwah saya, khususnya di bidang dialog antar agama. Maklum ketika itu Dakwah dan Dialog antar agama masih sesuatu yang langka dan rentang menimbulkan kesalah pahaman. Apalagi di saat-saat suasana Amerika pasca 9/11 yang masih mencekam.
Saya kurang ingat persisnya. Tapi ketika itu Presiden Indonesia adalah Ibu Megawati Sukarno Putrì. Ibu Hajjah, demikian saya memanggil almarhumah, hadir di kota New York dan menginap di kediaman kami di Astoria Queens beberapa hari. Tujuannya untuk mengikuti beberapa kegiatan Dakwah kami di kota New York. Termasuk hadir dan duduk menjadi peserta di kelas muallaf saya di Islamic Center New York. Almarhumah juga mengikuti beberapa acara Dialog antar agama yang kami rintis bersama beberapa tokoh agama di kota New York.
Pada waktu yang sama di bulan September itu ada acara Siang Umum PBB (UN General Assembly). Salah satu kepala negara yang hadir mewakili negara-negara anggota PBB adalah Presiden RI, Ibu Megawati Soekarno Putrì. Saya ketika itu masih staf di Perwakilan RI untuk PBB. Namun lebih dikenal sebagai salah seorang tokoh Komunitas Muslim di New York.
Salah satu acara sampingan Presiden RI di kota New York adalah pertemuan dengan masyarakat Indonesia di KJRI New York. Saya dalam kapasitas tokoh komunitas diundang untum hadir di acara itu. Almarhumah Hajjah Marissa yang mendengar tentang acara itu meminta ke saya kiranya bisa diusahakan untuk ikut hadir dalam pertemuan dengan Ibu Megawati.
Kebetulan Konjen RI ketika itu dekat dengan kami. Maka ketika saya meminta nama Marissa Haque untuk diundang beliau langsung menginstruksikan ke staf untuk memasukkan nama beliau ke list para tamu. Tentu saja Ibu Hajjah sangat bergembira dan hadir bersama saya di acara itu.
Di selah-selah acara itulah almarhumah mengenalkan diri ke suami Ibu Negawati, Taufik Kiemas. Bahwa beliau adalah pelajar di Ohio dan sudah hampir selesai. Bersamaan pula di Indonesia ketika itu akan ada pemilihan anggota legislatif (DPR/DPD). Dengan serta merta Taufik Kiemas menawarkan ke almarhumah untuk maju sebagai calon DPR RI dari PDIP di daerah pemilihan Jawa Barat. Mba Icha tentu saja dengan senang menerima tawaran itu. Alhamdulillah kita ingat beliau pernah jadi anggota DPR RI dari PDIP.
Walaupun beliau sudah jadi anggota DPR kami tetap berkomunikasi dekat. Seringkali kami berdiskusi via online dalam berbagai permasalahan di tanah air. Entah Kenapa beliau sering meminta pandangan saya, bahkan dalam bidang yang saya pasti bukan ahlinya, seni.
Karena kedekatan almarhumah dengan Taufik Kiemas, saya waktu itu meminta untuk menghubungkan beliau dengan saya untuk menagih janjinya. Kebetulan suami Presiden RI itu pernah berjanji untuk membantu pembangunan Masjid Indonesia di kota New York. Namun janjj itu tak kunjung dipenuhi. Akhirnya saya meminta ke Ibu Hajjah untuk mengingatkannya. “Lagi dikumpulkan”, kata beliau menyampaikan pesan Taufik Kiemas.
Komunikasi kami terus berlanjut. Bahkan dalam beberapa kesempatan beliau selalu meminta didoakan untuk bisa kembali berkunjung ke kota New York. “Saya nginap di rumah pak Ustadz aja ya”, pinta beliau. “Iya Bu Hajjah dengan sangat senang. Sama Kang Ikang ya”, jawab saya.
Beberapa tahun lalu kami bersama Dompet Dhuafa ketika hadir di Jakarta diundang ke kediaman beliau yang asri dan nyaman. Kami disambut dengan ragam kuliner laut. Dan Ikang tidak lupa menghibur kami dengan lagu-lagu rock terbarunya. Bahkan beliau memberikan beberapa CD lagunya.
Dalam tahun-tahun selanjutnya beliau sering mengkomunikasikan keluhan-keluhan politiknya. Terkhusus lagi ketika ada sedikit masalah dengan pimpinan Partai pengusungnya ketika itu. Entah Kenapa saya termasuk tempat beliau menyampaikan keluh kesah itu. “Sabar Bu Hajjah. Partai hanya kendaraan. Dan kalau kendaraan ngadat, dan tidak bisa direpair lagi ganti saja”, kata saya.
Seingat saya beliau pernah ke PPP. Lalu pernah pernah maju sebagai Cawagub Banteng dari PKS. Namun semua belum selancar sebagaimana dicita-citakan. Hingga suatu ketika beliau mengirim pesan: “Ustadz, I am giving up. Politic is not my way”.
Saya lalu tanya: “then what is the next Bu Hajjah?”. Beliau jawab: “saya mau sekolah lagi Ustadz”.
Ternyata benar. Beliau menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi Ph.D,
bahkan meraih gelar professor (associate). Beliau adalah “mujahidah” yang tak mengenal kata “menyerah”. Bahkan di tengah terpaan badai sebagai figur publik beliau melangkah terus dengan hati lapang dan senyum dan tawanya yang khas.
Sekitar dua bulan lalu kami masih komunikasi. “I still owe you Ustadz”, katanya.
Beliau maksudkan masih berhutang mengunjungi kami di Kota New York. Hal yang sejak bertahun-tahun lalu telah beliau sampaikan. Ingin ke kota New York bersama keluarga. Apa daya Allah lebih sayang beliau dan beliau dipanggil segera membersamai kasih sayangNya.
“Inna lillahi wa inna ilai rajiun”.
Selamat jalan Bu Hajjah. Kita tidak jadi ketemu di New York. InsyaAllah semoga kita sekeluarga ketemu di SyurgaNya Allah. Al-Fatihah!
Kami tuliskan ini diiringi doa terbaik untuk almarhumah dari Masjidil Haram, Makkah.
Mekah, 4 Oktober 2024
*a friend and a brother in faith in New York.
Ajaran pokok aliran Buddhisme Tzu Chi adalah cinta kasih, kasih sayang, kegembiraan, dan keseimbangan. Aliran ini didasarkan pada ajaran dari Silsilah Dharma Jing Si.
Tzu Chi adalah organisasi Buddha terbesar kedua di Taiwan yang berfokus pada pelayanan masyarakat. Tzu Chi memiliki beberapa ajaran pokok, di antaranya:
Pandangan benar, Pikiran benar (Internet)
Pastor Romo Markus Solo Kewuta SVD, Ph.D.
SOSOK dan Profil Pastor Markus Solo Kewuta SVD Ahli Islamologi, Penerjemah Ucapan Paus Fransiskus
tribunnews.com2 jam yang lalu

TRIBUN-MEDAN.COM - Sosok pastor atau romo yang juga ahli Islamologi, Markus Solo Kewuta SVD, mendampingi Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke Indonesia pada Selasa (3/9/2024) hingga Jumat (6/9/2024).
Romo Markus saat ini bertugas di Vatikan menangani Desk Relasi Katolik-Muslim di kawasan Asia dan Pasifik di Vatikan.
Ia juga menjabat sebagai Wakil Presiden Yayasan Nostra Aetate "Pendidikan Dialog Lintas Agama" pada Kantor Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama di Vatikan.
Sosok Romo Markus tampak mengalihbahasakan atau penerjemah ucapan dan pidato Paus dalam berbagai kesempatan.
Salah satunya ketika Paus bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta pada Rabu (4/9/2024).
Romo Markus juga mendampingi Paus ketika ia berbincang dengan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal, Jakarta pada Kamis (5/9/2024).
Sosok pastor atau romo yang juga ahli Islamologi, Markus Solo Kewuta SVD, mendampingi Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke Indonesia pada Selasa (3/9/2024) hingga Jumat (6/9/2024). (Tangkapan Layar Video)
Berikut selengkapnya profil Romo Markus Solo Kewuta SVD:
Romo Markus adalah imam Katolik dari ordo Serikat Sabda Allah atau SVD yang lahir di Lewouran, Kabupaten Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 4 Agustus 1968.
Romo dengan nama panggilan Padre Marco ini sempat menempuh pendidikan di SDK Lewouran, SMPK Ile Bura Lewotobi, dan SMAK Seminari San Dominggo Hokeng Flores Timur.
Dilansir dari Tribun Flores, Kamis, Romo Markus memutuskan masuk Serikat Sabda Allah (SVD) dan masuk Novisiat Serikat Misionaris tersebut di Nenuk Timor pada 1988.
Adapun, Novisiat adalah masa pendidikan awal bagi seorang calon anggota kongregasi religius dalam agama Katolik.
Majalah Hidup mencatat, Romo Markus terpanggil melayani Kristus karena ia terpikat dengan pribadi kakaknya yang merupakan imam.
Pada tahun kedua Novisiat, Romo Markus bergabung dengan Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Santo Paulus Ledalero di Maumere, Flores.
Di sekolah itulah, Romo Markus memulai tahun pertamanya menempuh studi filsafat.
Perjalanan Romo Markus berlanjut ke Sekolah Tinggi Teologi Katolik Sankt Gabriel di Modling, Wina, Austria.
Ia berangkat ke Eropa bersama rekan seangkatannya, yaitu Mariano Grace Da Silva.
Studi teologi dilalui oleh Romo Markus sebelum ia menjalankan praktik pastoral atau diakon selama enam bulan di Paroki Pischelsdorf, Steiermark, Austria.
Romo Markus kemudian ditahbiskan menjadi imam Katolik di Rumah Misi SVD Sankt Gabriel pada 3 Mei 1997.
Di tahun yang sama, ia juga bekerja sebagai Pastor Pembantu di Paroki Santo Maximilian Bischofshofen, Salzburg, Austria hingga 1998.
Romo Markus selanjutnya menempuh studi doktoral Teologi Fundamental di Universitas Leopold Franzens di kota Innsbruck, Austria.
Meski menjalani studi doktoral, Romo Markus juga menjalankan tugas sebagai pastor di Paroki Schwaz dan Paroki Sankt Jodok dan Schmirn di Provinsi Tirol.
Ia memperoleh gelar doktornya pada 2002 dengan predikat summa cumlaude setelah menyusun disertasi berjudul “Der ostflorinesische Gott und Gott Jesu Christi" - Die Suche nach theologisch-spirituellen Grundsätzen für den Dialog).
Setelah menyelesaikan studi doktoral, Romo Markus memperluas ilmunya dengan mempelajari bahasa Arab klasik di Kairo, Mesir dan menyelesaikannya dengan gelar Licensiat pada tahun 2005 pada Institut Kepausan untuk Studi Bahasa Arab dan Islamologi (Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies, PISAI) di Roma, Italia.
Pengetahuan Romo Markus mengenai Islam membawanya kembali ke Wina.
Di kota ini, ia mendapat tugas untuk memajukan dialog antara umat Katolik dan umat Islam di kota Wina, sekaligus menjadi Pastor Pembantu di Paroki SVD di Alxingergasse.
Pada tahun 2006, Romo Markus diangkat oleh Kardinal Schönborn sebagai Rektor Institut Internasional Asia-Afrika (Afro-Asiatisches Institut, AAI) di Wina.
Romo Markus bertugas di Vatikan
Setelah melalangbuana ke berbagai sekolah dan perguruan tinggi, Romo Markus diberi tugas baru sebagai staf Penasehat pada Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue, PCID) di Vatikan.
Romo Markus secara resmi bergabung dengan Dewan Kepausan ini pada 2007 dan bertugas menangani Desk Dialog Katolik-Islam di Asia dan Pasifik.
Sebagai orang Indonesia pertama yang duduk di Kuria Takhta Suci Vatikan sejak 2015, Romo Markus juga diberi tanggung jawab sebagai Wakil Presiden Yayasan Nostra Aetate.
Itulah profil Markus Solo Kewuta, putra asli NTT dan ahli Islamologi yang bertugas sebagai penerjemah Paus selama kunjungannya ke Indonesia.
(*/Tribun-medan.com)
Bertahun tak jumpa, tiba-tiba ada rezeki nonplok di jalan lingkar Danau Situgintung, Ciputat. Temu instan regulasi Sang Khaliq dg Prof Dr Aziz Dahlan Rektor IAIN-UIN İmam Bonjol Padang 1997-2001. Cakap tentang kesehatan dan keluarga serta beliau tanya beberapa kerabat sekampus yang senior. Brliau bertanya tentang Prof Dr Amir Syarifuddin. Allah Yarham rektor UIN IB 1983-1993 yang telah berpulang ke rahmatullah 27/12/2023. Dengan senang hati saya tunjukan link tulisan saya di langgam.id, kompasiana.com, shofwankarim.id, shofwankarim.com, shofwankarim.wordpress.com, shofwankarim.livejournal.com dan link lainnya.
,
Perpisahan dg Staff KDEI Taipei 26/7/2024
Semoga kita dijauhkan dari hal buruk
https://s.snackvideo.com/p/dPD7XtwG