Murid-murid perempuan menulis surat dengan tangan mungil mereka di sela-sela aku mengajar, mereka merahasiakannya dariku, saat aku pura-pura tidak mengetahui. Bertanya bagaimana cara menulis âbyeâ dalam Bahasa inggris, aku jawab saja âbyâ karena aku pikir mereka menulis surat tanpa mengetahui Bahasa inggrisnya âdariâ. Aku agak sedikit menyesal setelah tahu bahwa maksud mereka adalah âbyeâ selamat tinggal, yang akhirnya mereka tulis dengan kata âbyâ. Mereka bilang, aku adalah ms dan guru terbaik, entahlah itu hanya kata-kata pemanis yang mungkin mereka lontarkan kepada semua guru, tapi itu sudah cukup membuat relungku terisi. Hati mereka masih polos dan bersih, tak mungkin aku balas dengan perasaan yang juga tak tulus.
Seorang murid laki-laki kemudian berkata padaku âMs, tau kan apa yang lagi mereka siapkan?â ucapnya sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku. âHmm gak tauâ jawabku asal sambil memeriksa buku modul anak-anak yang lain. Tiba-tiba ia berkata, âMs maaf ya, aku gak nyiapin apa-apaâ. Aku terenyuh kemudian menatapnya, âEhh, gak apa-apa arazâ ucapku kemudian lanjut menulis di buku. âKalian belajar sama miss, bagi miss itu hadiah kokâ aku terdiam. âHadiah dari araz, araz jadi anak yang sholeh, ya?â ucapku sambil tersenyum menatapnya. âAamiinâ ucapnya sambil cengengesan.
Saat pulang sudah tiba, aku memberikan arahan pada semua murid untuk merapikan serta membereskan meja setelah belajar. Aku menghapus papan tulis, lalu araz menghampiri, âsini miss, aku hapusâ, aku tersenyum lalu memberikan penghapus tersebut. Tubuhnya yang mungil tidak mampu meraih beberapa tulisan cukup tinggi untuk ia hapus. Aku terkekeh, âCoba araz hapus yang iniâ ucapku sambil menunjuk tulisan tersebut. âBisa, kokâ ujarnya setengah berteriak sambil melompat-lompat. Aku hanya terkekeh, lalu pergi membiarkannya berusaha, kemudian kembali lagi untuk mengecek hasilnya. Bagus, semua terhapus.
Semua sudah berbaris, berdoâa, lalu mengucap salam. Aku memberikan ucapan terima kasih dan permohonan maaf. Tiba-tiba seorang murid laki-laki lainnya berteriak âTunggu miss!â âMiss tunggu!â sambil merogoh sesuatu dalam tasnya, aku hanya tersenyum âIya, iya, belum kok. Nanti kita mau salam-salaman duluâ. Setelah semua siap akhirnya kita melakukan ritual perpisahan seperti biasa saat pulang sekolah. Bedanya, kali ini mereka memberikan selembar kertas, amplop, maupun permen setelah salim padaku. âMiss ini buat miss, nanti dibaca, yaâ ucap murid-murid perempuan. HIngga tiba pada murid laki-laki yang beberapa waktu lalu merogoh tas. Rupanya ia memberikan dua buah kartu pokemon, serta pengserut yang berisi permen di dalamnya. Entahlah dia mengambil barang itu secara sembarang lalu memberikannya padaku karena baru tahu bahwa ini adalah hari terakhir aku mengajar disana atau memang sudah ia siapkan. Walaupun ragu bahwa itu sudah ia siapkan, tapi aku sangat berterima kasih karena kehadiran, serta keaktifannya, suasana kelas sedikit berwarna.
Meskipun mereka hanyalah anak-anak kelas 2 SD. Tapi aku selalu berusaha untuk tidak menganggap remeh setiap perasaan yang mereka tunjukkan serta utarakan. Saat mereka sedih, marah, kesal, kecewa. hal itu bukanlah hal mudah bagi anak seusia mereka. Segala perasaan itu, setara dengan usia yang sedang mereka jalani. Sehingga aku dengarkan satu persatu kata yang keluar dari mulut mereka, aku perhatikan setiap raut wajah mereka. Hanya berharap, bahwa mereka dapat tumbuh menjadi sosok yang percaya akan dirinya sendiri. Tidak menjadi hilang harapan, meskipun kenyataan menjatuhkan berkali-kali. Sepertiku beberapa waktu lalu dan mungkin hingga hari ini.