Banyak yang bilang jika ingin bahagia, cukup dengan merasa bersyukur dengan apa yang kita punya. Tak perlulah melihat ke atas, lalu membandingkan hal yang orang lain dapatkan dengan apa yg kita punya. Tapi bagaimana jika "melihat ke atas" adalah hal yang tak bisa dihindari? Satu-satunya orang yang saya tabalkan gelar sahabat memiliki prestasi cemerlang dibandingkan pemuda/pemudi lain seusianya. Menjalin hubungan dekat dengannya, membuat saya sering tak sadar membandingkan diri saya dengannya. Saat kami akan beranjak dari bangku SMA ke bangku kuliah dulu, Ia lebih dulu diterima di Universitas tanpa harus ikut tes ujian masuk atau biasa disebut jalur undangan (PMP), sedangkan saya harus mengikuti les tambahan di bimbel yang biayanya tak sedikit agar dapat lulus UMB. Dia direkomendasikan oleh kepala sekolah untuk menerima beasiswa penuh S1 dari DIKTI dan semua urusan administrasi diurus oleh kepala sekolah, sedangkan saya harus mengeluarkan berbagai jurus bujuk rayu agar kepala sekolah yang sama mau mengeluarkan surat rekomendasi untuk saya dan tentu saja semua urusan administrasi saya urus sendiri (saat itu mengurus urusan apapun di biro rektor U*U sangat menguras tenaga, emosi, juga waktu) dan syukur alhamdulillah berkat izin-Nya saya mendapatkan beasiswa yg sama. Dia kemudian menamatkan S1 nya dalam jangka waktu 3,5 tahun. Saya? Yah, saya juga menyelesaikan perkuliahan dalam waktu 3,5 tahun tapi ditambah 1 tahun mengerjakan skripsi jadi total waktu sy menamatkan S1 adalah 4,5 tahun. 😅 Di saat saya baru wisuda, dia telah diterima jd mahasiswa S2. Tentang S2, kami telah menguntai benang impian ini dari SMA. Saya bercita2 S2 di Inggris, dia bercita2 S2 di Amerika (Bermimpi itu gratis, maka bermimpilah setinggi2nya. 😂) Impian itu tak berubah sampai kami di bangku kuliah S1. Hingga akhirnya dia mengubah negara tujuan S2 nya menjadi ke Inggris hanya perkara kekagumannya pada sekelompok remaja lelaki anggota boyband. Daaaan tebak saja ia lulus S2 di mana. Ya, dia lulus S2 di Inggris, tepatnya di University of Bristol, Bristol, United Kingdom dengan beasiswa paling bergengsi dr negeri ini. Di penghujung tahun lalu, ketika saya sibuk memikirkan bagaimana caranya agar dapat mewawancarai warga Pahieme yang motto hidupnya tiada hari tanpa ke ladang, Ia mengabarkan ia akan mengikuti konferensi ilmiah di University of Cambridge dan berniat untuk sekalian melancong ke London. Jangan tanya apa yang saya rasakan saat mengalami hal-hal tersebut, rasanya jelas saja nelangsa. Dulu rasa iri dan tanda tanya besar bersarang di hati kenapa dia sepertinya gampang saja mencapai tujuan dan cita2nya, sedangkan saya perlu waktu yang lebih lama dan harus melewati jalan yang berliku. Tapi saat hal2 itu "terbiasa" saya alami, saya mendapatkan beberapa pelajaran yang dapat di petik dan membuat rasa iri dan segala tanya sirna seketika: 1. Melihat kesuksesan orang lain itu tidak salah, jika kita melihatnya dari sudut pandang yang lebih dalam. Ketika kita akhirnya tahu bahwa semua yang dicapainya juga melalui perjuangan dan kerja keras bukannya lempeng saja seperti yang kita lihat dari luar, maka kita akan merasa bersyukur dengan apa yang kita dapatkan sekarang sekaligus termotivasi untuk berjuang lebih keras untuk mencapai tujuan kita. 2. Kemampuan setiap orang berbeda-beda, maka jalan yang Tuhan berikan juga berbeda. Jika kita merasa jalan yang kita tempuh lebih berliku dan lebih lama mungkin itu cara Tuhan untuk menempa dan menguji kita, agar nanti ketika yang kita cita-citakan terwujud, kita benar-benar siap dan layak untuk menerimanya. 3. Tuhan Maha Mengabulkan sekaligus Maha Mengetahui. Segala do'a kita pasti dikabulkan. Hanya saja kita yang tak tahu kapan waktunya. Ada do'a yang segera dikabulkan di dunia, ditabung untuk di akhirat, atau diganti untuk mencegah dari musibah. Jadi yang perlu kita lakukan adalah luruskan niat, terus berjuang dan berdoa, dan jangan ragukan jalan yang Ia siapkan untuk kita. Selamat melanjutkan perjalanan, semoga kita dapat sampai pada tujuan masing-masing. Catatan: Ditulis untuk For Today Kelas A RPJMN SUMUT 2017, Senin, 22 Mei 2017.