Arang Bara Nestapa dan Hujan Rintik Besari, nama yang bagus bukan? Nama yang kuberikan untuk mereka berdua dan hanya aku yang tahu mengapa aku menamai mereka begitu.
Kesendirian tidak akan menjadi sepi jika kekosongan tidak pernah membersamai Rintik. Rintik tidak pernah menyadari pun tidak akan bisa membedakan apa itu kesepian apa itu kesendirian. Hingga anak itu datang tiba-tiba seperti utusan Tuhan, entah untuk memberi Rintik suatu pelajaran yang baru ataukah untuk menyudahi kesendirian Rintik? Hanya Rintik dan Tuhan yang tahu.
Tiada yang lebih indah saat ini melainkan sebuah kehadiran. Mereka saling mengisi kekosongan satu sama lain. Mereka juga tahu bahwa ada hal pada diri mereka yang tidak bisa digambarkan dengan sekedar kata-kata. Setiap hari, hampir setiap waktu di dalamnya Bara selalu mendatangi Rintik.
“Bara, aku ingin ajak kamu pergi.” ujar Rintik memecah keheningan malam itu.
Angin malam begitu dingin dan bertiup dari pantai. Bara dan Rintik sedang menghangatkan tubuh mereka di dekatnya. Rintik yang sedang memainkan ranting bekas kayu bakar tanpa ia sadari pikirannya pun juga sedang kesana-kemari.
“Mau kemana? Memangnya kamu bisa pergi jauh?” tanya bara menjawab pertanyaan Rintik.
“Kemana saja Bara. Kita pergi jauh dari sini. Ketempat yang indah. Tempat dimana tidak seorangpun yang bisa menyakiti kita.”
“Ya, juga ayahmu.” jawab Rintik datar.
Bara terdiam mendengar ucapan Rintik. Tidak ada satu katapun yang bisa dia keluarkan dari mulutnya yang rewel itu.
“Bara...” masih ada yang belum selesai dari kepala Rintik yang mungil tapi seluas semesta itu.
“Ya? Apalagi? Jangan bilang kamu ingin naik karpet terbang.” Bara mulai mendekati Rintik dan duduk disampingnya.
“Bagaimana jika nanti Rintik hilang?”
“Kamu mau hilang kemana?”
Rintik hanya diam dan tidak mengacuhkan pertanyaan Bara. Matanya memandang lurus pantai yang sedang menari pelan dengan ombaknya yang gemulai.
Rintik memanggil Bara sekali lagi tanpa geming. Bara hanya menoleh menatap mata Rintik yang kosong itu.
“Menyedihkan. Ternyata Rintik ini menyedihkan.”
Senyum yang tertengger pada bibir Bara kini berubah menjadi laut yang surut akan airnya. Ia jatuh dari pelataran jendela hati dari sudut mata lelaki yang semestanya tengah duduk disebelah bahunya.
“Jangan ngomong gitu Rintik. Rintik bodoh! Rintik tidak boleh ngomong gitu. Itu tidak benar.” sanggah Bara kesal.
“Aku tidak lagi berbohong. Kenyataannya memang begitu, Bara. Akui saja!”
“Rintik, kamu itu adalah nafas yang aku jaga.” jawab Bara lirih. Pipi Bara semakin basah. Ia memeluk Rintik, melabuhkan kepalanya pada bahu Rintik. Ia merangkul Rintik seakan tidak ingin kehilangan.
Rintik pun terteduh. Ia menangis dengan anggun. Masih menegakkan kepalanya seakan tidak ingin Bara melihat wajahnya. Namun Bara tau dari deru nafas di dadanya bahwa Rintik sedang tidak baik-baik saja.
Betapa Rintik sangat ingin pergi dari dunia ini. Membawa Bara jauh dari segala hal yang menyakiti. Namun rasanya mustahil sekali mengingat keadaan seperti ini.
Setelah malam itu, keheningan menjadi jarak diantara keduanya. Rintik masih ingin meminta waktu untuk dirinya sendiri. Tapi merpati sepertinya tidak mengizinkan hal itu berlangsung lama. Katanya nanti malam akan ada bulan purnama yang cantik. Bara ingin mengundang Rintik di bibir pantai tempat biasa mereka bertemu. Merpati kelihatan gelisah saat menyampaikan pesan dan Rintik bertanya ada apa yang terjadi sebenarnya kepada merpati. Merpati hanya mengatakan bahwa Bara tidak baik-baik saja, keadaannya semakin parah.
“Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak kemana-mana dulu, Rintik. Tapi dia begitu keras kepala.” ujar merpati.
“Aku khawatir, bagaimana ini? Apa akan baik-baik saja jika dia kesini malam ini? Duh! Aku tidak bisa pergi menjenguknya!” sahut Rintik gusar dan sedikit kesal pada dirinya sendiri.
“Biarkan saja, jika dia begitu berarti dia mampu.” Merpati pun berlalu pergi terbang meninggalkan segudang kecemasan pada Rintik.
Matahari sudah berlalu kembali pada peraduannya. Bulan purnama sebentar lagi akan menampakkan diri. Bara sudah menunggu Rintik di tempat biasa. Rintik turun dari menara menghampiri Bara.
“Tadaaa! Bagaimana penampilanku? Tampan bukan?” Bara dengan sumringah memutar-mutar badannya bak penari balet hanya untuk memamerkan baju yang dipakainya.
“Cih! Bara norak deh. Weeeek” Rintik terlalu gengsi mengakui dan tidak ingin mengiyakan.
“Hahaha sirik aja. Gengsi amat muji.”
Yah, begitulah Bara jika sudah bertemu Rintik. Seperti anak kecil yang selalu ingin memamerkan ini dan itu ketika baru saja mempunyai sesuatu. Mereka dengan kekonyolannya masing-masing. Seperti biasanya, mereka meributkan hal-hal yang remeh sampai tertawa keras menertawai hal bodoh yang mereka lakukan. Hingga tawa itu membuat air mata terjatuh.
Bara batuk-batuk saking kerasnya tertawa namun lama-lama batuknya kian memburuk. Rintik panik, ia kebingungan melihat batuknya tidak kunjung mereda.
“Bara kamu kenapa? Kamu baik-baik aja?”
“Uhuk.. uhuk.. aku.. uhuuk.. gapapa kok.. uhuk.. uhuuuk..”
“Bara pulang aja yuk? Istirahat. Diluar sini dingin. Baraaa..”
Tubuh Bara kian lemas dan tiada tenaga. Pandangan Bara mulai kabur dan gelap. Bara terjatuh namun Rintik segera meraihnya.
Rintik memangkunya. Ia berusaha menyadarkan Bara. Ia menangis sejadi-jadinya. Namun Bara tidak bergerak sedikitpun. Rintik mencoba mendekatkan kepalanya kepada dada Bara. Tidak terdengar detak jantung Bara. Rintik panik, ia mencoba memastikan sekali lagi, Bara pun juga tidak bernapas.
Rintik seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia mencoba melakukan pertolongan pertama. Setelah berkali-kali tapi Bara memang sudah tidak tertolong lagi. Rintik menjadi gila. Ia menangis dan meneriakkan nama Bara sekencang-kencangnya. Ia memeluk tubuh lelaki itu erat-erat. Ini sangat menyakitkan bagi Rintik. Malam menjadi panjang baginya.
Bara seperti lentera untuk Rintik yang baginya hidupnya begitu gelap. Memberi cahaya yang teduh namun tidak menyilaukan. Namun entah bagaimana cahaya ini semakin lama semakin terang dan terasa dekat. Perlahan Rintik membuka mata dan ia terbangun seketika sebab kaget, Bara sudah ada di kamarnya sedang membuka jedala kamarnya lebar-lebar. Pantas saja sangat menyilaukan.
“Baraa! Kamu sejak kapan disini? Untunglaaah kamu masih ada!” teriaknya sambil menghela napas panjang. Ia memeluk Bara erat.
“Eh, lho emang kenapa? Kamu kenapa sih?” tanya Bara heran.
“Aku mimpi buruk. Aku mimpi kehilangan kamu. Kamu meninggal di pangkuanku.” jawab Rintik yang masih memeluk Bara sembari memejamkan mata.
“Hahaha, bagus dong. Tandanya aku akan berumur panjang. Romantis banget sih pake di pangkuan segala. Cie.. cie” Bara berusaha menghibur Rintik dengan godaannya.
“Apaan sih! Nggak lucu tau.”
“Dih, gitu aja bete. Udaah nggak perlu dipikirin. Itu cuma mimpi. Buktinya aku masih ada nih sehat-sehat aja.” Bara dengan senyumnya yang lebar menenangkan Rintik.
Rintik seperti diteror ketakutannya sendiri. Dibungai mimpi buruk seperti itu lantas tak benar-benar membuat Rintik tidak bisa melupakannya begitu saja. Tapi hari-hari masih tetap berlalu seperti biasanya. Bara dan Rintik bersuka cita.
Rencananya pagi ini Bara ingin membangunkan Rintik seperti biasanya tapi berhubung ada hal perkerjaan rumah yang belum terselesaikan Bara menunda untuk menemui Rintik selepas pekerjaannya selesai.
Diwaktu yang bersamaan Rintik mengirimkan merpati kepada Bara bahwa untuk menemuinya segera mungkin. Katanya Rintik sangat ingin bertemu sekali dengan Bara sebab Rintik memiliki waktu yang tinggal sedikit. Bara bingung, namun tidak benar serius menganggap hal itu. Ia pikir Rintik sedang menggunakan kiasan seperti biasanya.
Berselang waktu kemudian pekerjaannya selesai. Bara bersiap membersihkan diri dan segera menemui Rintik. Kala itu tengah petang. Senja sedang cantik-cantiknya di seberang laut. Bara ingin mengajak Rintik menikmati pemandangan indah itu bersama.
Setibanya di menara, ada yang tampak aneh. Tidak ada seperti tanda-tanda Rintik sudah bangun. Sementara pagi tadi merpati datang. Jendela Rintik masih tertutup. Apa yang sedang terjadi? Apa mungkin Rintik sudah menutup jendelanya lebih cepat dari waktu biasanya?
Bara menaiki menara itu dan masuk dari jendela Rintik. Jendela yang pertama kali ia lompati saat bertemu dengan perempuan itu. Bara tercengang. Rintik telah membiru terbujur kaku dengan cantik.
Bara teriak histeris tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Ia berlari kearah Rintik lalu memeluknya erat-erat. Rintik sudah sangat dingin. Ia menangis sepenuh-penuhnya rindu yang membanjiri laut malam itu.
Samudera biru lepas pun bergelombang besar seakan tau gemuruh apa yang sedang terjadi disana. Langit menangis dengan menurunkan rintik-rintik pada pasir putih yang menajdi teman main Rintik selama ini.
“Rintik, kamu benar-benar ingin hilang, ya. Rintik jangan tinggalin aku sendirian. Maafin aku nggak langsung menemuimu saat kamu memintaku. Aku cuma punya Rintik. Tolong bawa aku ikut bersama Rintik.” Bara menangis seperti anak kecil. Sesenggukkan tiada kendali.
Tiada penyesalan yang lebih saat ini yang membubuhi dada, Bara. Jagung bakar yang telah disiapkan Bara pagi tadi untuk melewati pergantian tahun bersama Rintik kini menjadi tiada guna. Hanya menyisakan luka. Seperti kehilangan dunia, kini Bara harus kembali pada awal yang sunyi.
“Akhir tahun lalu yang gersang, aku menemukanmu. Lalu akhir tahun yang dingin ini, aku kehilanganmu, Rintik, Semestaku yang cantik. Tidak kusangka sungguh sesingkat ini rasanya.”