Untuk saat ini, kematian terasa jauh lebih hidup dibanding kehidupan itu sendiri
wallacepolsom
tumblr dot com
ojovivo

izzy's playlists!

Discoholic 🪩
KIROKAZE

❣ Chile in a Photography ❣
todays bird
I'd rather be in outer space 🛸
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
we're not kids anymore.

roma★
Peter Solarz
almost home
Lint Roller? I Barely Know Her
Game of Thrones Daily

PR's Tumblrdome
𓃗

No title available
d e v o n

seen from Argentina

seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from Paraguay

seen from Germany
seen from T1

seen from France
seen from Germany
seen from Germany

seen from Israel

seen from Malaysia

seen from Brazil
seen from Argentina

seen from United Kingdom
seen from Brazil
seen from United States

seen from Italy
@karamelien
Untuk saat ini, kematian terasa jauh lebih hidup dibanding kehidupan itu sendiri
Tulisan secuil dari akun mungil seperti saya saja kok ditiru. Tinggal repost tanpa perlu tulis ulang dan kasih nama (klaim) di bawah tulisannya —harusnya lebih mudah ya🙂
KELEDAI
Keledai tidak lagi berusaha menerka persimpangan hutan yang akan dilaluinya. Kakinya otomatis berhenti. Ia mendadak lumpuh. Padahal, ribuan langkah sudah terlewati di belakang sana— menembus berbagai pilihan-pilihan remeh seperti itu. Tapi kali ini ia mendadak kehilangan kemampuan berpikir. Ia lupa bagaimana caranya berjalan dan memilih. Kanan-kiri nya kosong. Depan-belakang kosong. Bahkan bayangan pohon-pohon di hutan mendadak tidak terbayang olehnya. Di atas hanya ada langit dengan awan-awan kelabu. Di bawah tubuhnya ada tanah. Akhir-akhir ini keledai itu gusar, ingin merasakan lembab di bawah sana.
Keledai yang malang. Ia banyak mendengar berbagai suara, telinganya tidak punya hari libur. Tapi yang dapat bersuara itu belum tentu memiliki telinga (batin keledai), pernah ia berteriak— tidak sekali duakali, tapi situasinya tetap sama. Jadi, sekarang keledai itu menjahit mulutnya. Telinga ini mungkin Rahmat Tuhan untuk menjawab jika kehampaan itu bukan hanya soal sepi dan sendiri, tapi juga datang dari pengabaian.
"Semoga tidak banyak Keledai busuk sepertiku." Ungkapnya.
merakit entah apa—
apakah mengudara,
berlayar,
atau mendaki
akan sampai entah di mana—
apakah akan,
sedang,
atau tidak sama sekali
yang terburu-buru karena waktu, juga yang (katanya) terlambat tidak punya banyak waktu— sudahkah kita berlega hatinya?
Tidak ada kompetisi, sayang
Tapi ternyata sudah ada pemenang
barangkali kebangsatan dunia dan seisinya yang terjadi sejauh ini padamu adalah yang kau tanam sendiri. selamat bersulang! kau pantas terperosok dan tumbuh subur di bawah sana bersama rasa bersalah.
Dibanding menghujani bebatuan dengan tetesan air dan menunggunya puluhan tahun demi mengikis —juga mengerti betapa waktu bisa setabah itu, lebih baik menyeruput darah sendiri dan menikmati asin-manis nya seorang diri.
Ada yang membelah tubuh secara percuma demi menukar kesepian dengan bentuk-bentuk cinta yang sebelumnya tidak pernah ada.
Menyakiti harga diri sekaligus menyegarkan perih.
Kau membangunkanku dalam denial panjang atas kedukaan yang tidak pernah bisa aku telan secara bulat. Kau mati, kemudian aku menunggu waktuku habis sebagaimana seorang yang antre dalam menunggu panggilan-Nya.
Pusaramu tak pernah ku datangi, biar saja kau benci atas tanda pertemanan yang berujung sia-sia. Lagipula, kematianmu membuat mereka memaksaku untuk hanya menyatakan kabar baik atas diriku setelah jasadmu dalam gundukan tanah itu.
Selamat datang kembali dalam mimpi, kasihku. Akan ada suatu hari aku dapat tabah dan ikhlas, maka akan kutabur bunga-bunga putih favoritku dalam kuburanmu.
Bocah dengan napas tersengal akibat tarikan udara yang begitu menyakitkan melintasi hidung hingga rasanya ada hujan paku di paru-parunya, kini telah berusia cukup untuk kekar menyembunyikan sesak-sesak yang lain.
Selamat bertambah rasa cukup untuk pemilik jari-jari yang pandai berdansa dalam meromantitasi semua luka beserta tawa-tawa kecilnya. Betapa doa-doa 'menyederhanakan' usia hanya sampai sembilan belas tidak memiliki aamiin yang menembus langit. Entah bertebaran dan bertengger di mana sehingga kesederhanaan itu justru menjadi jalan atas kehidupan sampai (±) 3 tahun setelahnya (hari ini).
Melapangkan hari dan hati untuk banyak orang, lambat laun seperti membuka pintu untuk para maling. Orang-orang merampas seisi rumah (kepala) menyisakan tabah dan sisa-sisa curian.
Tuan rumah berkata,
"sebagian tubuhku tolong berikan juga pada fakir-fakir kesepian yang lain."
Para maling saling menatap, betapa si empunya memiliki sudi yang abadi. Mereka memotong tubuh pemilik rumah, membagi-baginya menjadi; seperempat untuk validasi, setengah untuk mereka yang kehilangan arti, dan sisanya untuk manusia yang haus notifikasi.
Iya juga, ya. Sebenarnya kalau ingin bahagia, percaya sama apa yang diyakini saja. Sejauh ini, saya terlalu memikirkan bagaimana respon orang lain atas setiap apa yang saya lakukan. Ujung-ujungnya tergocek ekspektasi dan mencemooh hasil usaha sendiri. Padahal segalanya adalah hak milik saya sendiri, kenapa orang lain turut serta terhadap tatanan hidup saya?
Penerapan hidup minimalis memang cukup riskan untuk orang-orang dengan privilege terbatas, tapi mungkin bisa kita awali dengan memanfaatkan aspek-aspek baik yang menyertai diri kita.
Kau mungkin satu-satunya kucing yang memiliki ribuan cara untuk kembali. Sering kau minta air karena kehausan, juga baju tebal karena kedinginan. Telah kusediakan rumah dengan pintu yang terbuka lebar agar kau dapat lebih mudah untuk keluar-masuk. Kau pun memanfaatkan persis seperti fungsinya;
Datang, makan, kenyang dan tuli, kemudian pergi.
Tidak dapat diprediksi kapan akan kembali.
Perasaan suka tidak menumbuhkan kesakitan. Ini simulasi patah sebelum tumbuh, bukan cinta-cintaan. Kecintaan terhadap apa yang pada saat kau mencintainya kau merasa luka lebih dulu mencabik dirimu bahkan sebelum kau bertemu serigala yang ganas?
Kau tentu mengada-ngada soal perasaan. Bertarung dengan 'bayangan' serigala hanya memuaskan imajimu. Tidak ada kemenangan atas perasaan itu, tidak ada yang benar-benar melukaimu selain dari atas ulahmu sendiri.
Juni memang bulan dari ketabahan Sapardi membuatnya seperti bocah yang minta susu Merengek kehausan Di bawah langit yang terburu menurunkan pilu
Sudah menanak nasi, sudah mencuci piring, sudah sekuat tenaga melintasi ruang-ruang penuh ketipudayaan—media sosial. Setelah suara-suara keras dan kalimat-kalimat menohok yang harus aku telan tiap "dipaksa" untuk bangun tidur, apakah setelah semuanya—bagianku selesai, aku boleh tidur kembali? Dengan jangka waktu yang tidak terbatas (selamanya)
Aku terlalu berani, terlampau menuntut pengertian-pengertian yang kau ukir dengan pena tanpa tinta. Sedang kau amat lugu, tak tahu cara memberi kasih yang adil dan lugas seperti momentum yang tersaji pada layar kaca kepunyaanmu.