Aku ingin punya banyak waktu denganmu. Ngobrolin banyak hal berdua, saling mengenal, saling bertukar pikiran. Bahkan muterin Bandung lebih lama lagi tanpa kenal waktu.
Bandung, 16 Desember 2021.
DEAR READER
h
Sweet Seals For You, Always
No title available
Sade Olutola

#extradirty
$LAYYYTER
YOU ARE THE REASON

No title available

pixel skylines
KIROKAZE
wallacepolsom

roma★
Jules of Nature
Peter Solarz
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

No title available
NASA
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
we're not kids anymore.

seen from Canada

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from South Africa

seen from Argentina

seen from Netherlands

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Türkiye

seen from Singapore

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Saudi Arabia

seen from South Africa

seen from Uzbekistan
@karlinnda
Aku ingin punya banyak waktu denganmu. Ngobrolin banyak hal berdua, saling mengenal, saling bertukar pikiran. Bahkan muterin Bandung lebih lama lagi tanpa kenal waktu.
Bandung, 16 Desember 2021.
Aku mengerti bagaimana rasanya,
Kejujuran yang dibohongi.
Kepercaayaan yang dikhianati
Komitmen yang diingikari
Dan Janji-janji yang tak ditepati.
Mencintai kamu itu di dunia aja nggak cukup. Makanya bimbing aku supaya bisa masuk syurga bareng-bareng. Nggak cukup seumur hidup, maunya seumur syurga juga! Sehidup, sesyurga.
Fase Kehidupan yang baru
HI, 2024. setelah di penghujung 2023 aku memutuskan untuk menerima pinangan dari seorang laki-laki. Tak terasa, di pertengahan tahun 2024, aku akan memulai fase kehidupan yang baru. Hidup bersama dengan seseorang lelaki yang aku pilih. Mencapai tujuan dan visi-misi yang sudah kita bangun selama ini.
Semoga apa yang kita semogakan berjalan sejalan dengan Takdir Tuhan.
bayangkan
bayangkan sebuah pernikahan
yang masing-masingnya tidak perlu khawatir yang lainnya tidak setia. karena kuat agamanya, kokoh komitmennya.
bayangkan sebuah pernikahan
yang jarak separuh bumi pun tidak akan membuat jauh apalagi terpisah. karena rindunya diwujudkan dalam bentuk menjaga. karena hatinya sudah selalu bisa ditata.
bayangkan sebuah pernikahan
yang keduanya tidak perlu khawatir akan hari yang belum datang. karena kesadaran bahwa semuanya adalah titipan. karena keyakinan bahwa rezeki selalu tepat takaran. karena keimanan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.
bayangkan sebuah pernikahan
yang pasangannya tidak perlu khawatir menjadi tua, diuji kesehatannya, menjadi lupa, atau tidak lagi elok rupa. karena cintanya jauh lebih dalam dari yang terlihat, jauh lebih besar dari yang memikat.
bayangkan sebuah pernikahan
yang orang-orangnya hanya khawatir akan perpisahan. khawatir bilamana kehidupan yang selanjutnya tidak mempertemukan mereka. khawatir bilamana bekal mereka belum cukup. sehingga mereka pun berupaya bersama, mencukupkan semua perbekalan.
pernikahan itu bisa saja adalah pernikahan kita.
Bagian paling menyakitkan dari kehilangan adalah ketidaksempatan mengucapkan selamat tinggal.
Cara Pandang Baru Saat Dewasa
Menuju dewasa yang kemudian melihat kehidupan ini bergeser Point of View-nya " 1. Mulai memahami kalau nggak ada yang terlambat dalam hidup, selama kita masih hidup. Itu adalah takdir terbaik yang kita miliki, kalau kita baru memulainya sekarang karena memang sekarang saatnya, bukan karena kita terlambat. Namun, itulah perjalanan hidup kita. Jadi, jangan takut kalau orang lain udah sampai mana, kitanya baru mulai
2. Belajar untuk merasa cukup. Dunia ini nggak ada ujungnya kalau dikejar. Nasihat terbaik yang kudapatkan di umur 34 ini adalah kalau kita gagal satu dua hal terkait urusan dunia, kita masih bisa ngulang. Tetapi kalau gagal di akhirat, ngak akan bisa ngulang buat memperbaikinya.
Rezeki kita itu cukup, tapi nggak akan cukup buat ambisi dan ketakutan kita akan kemiskinan. Ya Allah, kita berdoa setiap hari biar dikasih hati yang benar-benar terus bisa merasa cukup. Biar nggak hasad sama orang, nggak iri sama rezeki orang lain, dan lebih bersyukur sama apa yang kita miliki sekarang.
3. Pondasi agama sangat penting. Sebagai generasi yang tumbuh di lingkungan yang biasa-biasa aja dalam beragama, dulu di sekolah negeri juga agama tidak menjadi materi yang prioritas. Di umur sekarang dan menjadi orang tua, baru ngerasa banget kalau pondasi agama sedari kecil itu penting sekali sebagai panduan hidup. Agar melihat dunia ini lebih bijak dan prioritas hidup lebih benar dan terarah.
Mungkin itu yang bikin sebagian besar orang tua di generasiku sekarang yang milih anaknya sekolah di sekolah berbasis agama. Sebab di fase dewasa ini, sadar jika pemahaman hidup atas landasan spiritual ini yang benar-benar menyelamatkan diri dari masalah-masalah anxiety (kecemasan), feeling lonely (kesepian), depresi, dan beragam isu kejiwaan lain. Itu yang kurasain.
4. Belajar jujur sama diri. Badan itu pasti punya sinyal tertentu sebagai respon terhadap situasi/hal yang lagi jadi beban pikiran. Jangan sampai dzalim sama diri sendiri karena hal-hal yang sebenarnya bisa diputus tapi tetap dipertahankan karena rasa nggak enakan. Dan berujung pada langganan IGD, obat antidepresan, dan segala macam.
Jangan lupa menolong diri sendiri dengan kejujuran. Dan jangan takut buat minta tolong ke orang lain, ke profesional, dsb. (c)kurniawangunadi
Rezeki datangnya serupa iseng-iseng berhadiah. Yang bekerja keras, belum tentu rezekinya lebih besar dari yang berjalan santai. Sebab begitulah hidup. Kamu hanya perlu menjalani sebisanya. Sekuatnya. Dan seikhlasnya..
Hal-hal besar, perubahan, atau cerita-cerita bermakna yang terjadi di kehidupan kita pada akhirnya selalu hanya akan berakhir menjadi cuplikan-cuplikan peristiwa kecil di benak orang lain. Seiring berjalannya waktu, ia tidak lagi menjadi penting, tidak pula mengubah apapun pada hidup yang mereka jalani.
Saat kebahagiaan datang, beberapa mengucapkan selamat, beberapa menarik diri untuk menjaga hatinya sendiri. Lalu, hidup mereka berjalan lagi sebagaimana biasanya, seperti yang seharusnya. Yang tersisa adalah kita, bertarung dengan diri sendiri untuk menjalani kebahagiaan yang ada: apakah kita mampu mensyukurinya? Apakah kita cukup siap dan cakap untuk menjalani perubahan-perubahan hidup yang menyertainya?
Saat kesedihan datang, beberapa orang berempati, beberapa seolah tidak memiliki hati. Lalu, hidup mereka pun akan kembali berjalan seoalah tidak ada apapun yang pernah terjadi. Yang tersisa adalah kita, berjuang melawan keterpurukan, sekuat hati mencoba bangkit kembali, dan berusaha menjalani hidup kita lagi meski masih banyak berantakan disana-sini.
Tapi, bukankah hidup pada akhirnya hanya tentang Allah dan diri kita sendiri? Tidak ada siapapun yang akan dapat mewakili kita untuk menjalani dan memberikan pertanggungjawaban kepada Allah atas apa yang kita jalani. Kebahagiaan, kesedihan, ujian, amal shalih, semua kitalah yang akan menjalani dan mempertanggungjawabkannya. Orang lain hanyalah penonton, kitalah pemeran utamanya.
Mungkin ini serupa kisi-kisi dari-Nya, bahwa pada akhirnya perjalanan hidup adalah tentang rahasia-rahasia di kedalaman jiwa kita yang hanya Dia saja yang mengetahuinya. Mungkin ini juga yang membuat kisah pertanggungjawaban, dimana kita akan menghadapinya sendiri-sendiri, menjadi lebih masuk akal.
Apapun, semoga Allah mengkaruniakan kejernihan bagi jiwa kita, agar bisa tepat bersikap dalam menghadapi apa saja. Wallahu 'alam bishawab.
Ramadan #11
Jangan menuntut Tuhanmu karena permohonanmu yang belum dikabulkan. Namun, tuntutlah dirimu sendiri yang kurang sopan. Al Hikam - Ibn Athaillah
Ramadan #11
Jangan menuntut Tuhanmu karena permohonanmu yang belum dikabulkan. Namun, tuntutlah dirimu sendiri yang kurang sopan. Al Hikam - Ibn Athaillah
Mengurai makna cukup.
Kalau dalam hidup ini, kita terlalu fokus melihat keluar, untuk menatap pencapaian orang lain, melesatnya karier seseorang dan betapa besarnya pendapatan seseorang...maka kita akan selalu merasa hidup penuh kekurangan dan tidak pernah mencicipi " betapa nikmatnya" rasa cukup.
Padahal, mampu menikmati rasa cukup dengan segala apa yang ada dalam hidup adalah salah satu anugerah luar biasa.
Rasa cukup berkaitan dengan "tahu apa tujuan hidup" "kepekaan hati untuk pandai bersyukur", dan "menyadari kemana hidup sedang membawa kita".
Kalau tujuan hidup kita masih terlalu fokus untuk mengejar dunia dan segala kemilaunya, maka terpaculah diri untuk selalu berlari mengejar kata "hidup nyaman seperti orang lain" hingga lupa untuk mensyukuri nikmat yang banyak sekali ada di dalam diri dan di sekitar.
Kalau hati kita "lupa" bahwa sehat itu nikmat, dikelilingi keluarga dan orang baik itu nikmat, tidak kelaparan itu nikmat, memiliki tempat teduh untuk tidur itu nikmat, mudah untuk lelap itu nikmat, memiliki waktu yang tenang untuk ibadah itu nikmat, dan masih banyak nikmat lainnya, maka kita akan terus merasa kekurangan dalam hidup ini. Sebab kita buta untuk melihat banyaknya nikmat yang meliputi diri.
Kalau kita merasa hidup ini hanya sebatas urusan dunia, maka kita akan dibuat super sibuk untuk memikirkan kapan kita akan menjadi sukses seperti si A atau mapan seperti si B, hingga kita lupa bahwa terus bergulirnya waktu sedang membawa kita menuju pulang.
Kalau kita sadar, bahwa takdir manusia memiliki garis dan jatah rejekinya masing-masing dan segala apa yang kita damba serta jalani adalah "ketidaksempurnaan." Hidup orang lain yang tampak sempurna, hanya karena kita melihat dan menilainya dari permukaan. Padahal, tidak ada kesempurnaan di dunia ini.
Kalau kita sadar, mengejar dunia seperti meminum air lautan yang membuat kita terus merasa kehausan dan segala hal yang kita perjuangkan dan jalani akan di pertanggung jawabkan disisi Tuhan. Maka kita pasti akan amat hati-hati dalam meletakkan niat dan segala bentuk orientasi tentang harapan.
Alih-alih menatap kehidupan orang lain sampai lupa diri, mari lebih fokus untuk melihat ke dalam diri sendiri, sebab hati kita mudah sekali ternoda, satu dua percikan dosa yang terus menerus diperbuat lama kelamaan mampu menutup kacamata hati untuk melihat kebenaran. Sehingga kita tersesat di tengah kefanaan yang amat jelas kita saksikan. Mari, kembali pulang duhai diri.
Refleksi, 18 Maret 2024 10.34 wita
Pah, hari dimana papa meninggal
Rasanya menjadi hari terburuk bagiku.
Rasanya duniaku runtuh.
Hidupku hancur.
Cuma papa, satu-satunya yang aku punya.
Cuma papa, satu-satunya pegangan kami.
Kalo papa ga ada kami harus berpegang ke siapa?
Harus berdiri sendiri pah?
Pah bisa kembali ga sih pah?
Ya Allah aku mohon kuasamu.
Biarkan tangan Tuhan yang bekerja.
Aku ikhlas pasrah dan berserah.
Malam ke 3 Bulan Ramadhan 2024.
Mah, pah atas segala pencapaian kakak hari ini rasanya sesak. Kenapa? Karena aku ga bisa cerita itu langsung semua ke mama papa.
Aku ga bisa banggain itu di depan mama papa.
Mah pah bisa ga sih kembali?
Mah pah bisa ga sih ?
ternyata kamu adalah jawaban dari doa-daoku selama ini hehehe
pengen nikah sama orang sunda, pengen jodohnya anak IT, pinter jugaa hehehe