Dongeng untuk Mudigah . . Empat puluh malam pertama: awalnya kau hanyalah Nutfah yang dihantar ayahmu menjumlah lakhsa sel terbenam dalam dinding rahim asam-asin yang ada padaku tercecap sudah padamu pun renyut renjana di dada menjelma sebentuk atma. . . Empat puluh malam berikutnya: Mudigah, detak nadimu malam itu selaksa penari kehilangan rentak tak berarah bergetar dalam bilik yang belum sempurna tenanglah, Mudigah masih jauh matamu melihat purnama gelutilah segenap sudut gelap dalam aku sepuasmu sebelum kau tahu, di luar sana orang-orang ripuh merebut cahaya menjadi yang paling gerlap, hingga lenyap ditelan senyap. . . Empat puluh malam selanjutnya: Mudigah, semua yang ada di semesta ini memiliki suara kau dengar detak jantungku yang tiap detik membelukar cemas atau arus darah dalam nadiku bak riak gelombang yang kelak membawamu mengarungi mimpi menelusuri semenanjung atau menghantarkan langkahmu menginjak gunung dan tanjung. . . malam-malam seterusnya di hitungan berpuluh entah: Mudigah, kelak hal yang pasti kulakukan adalah menasbih namamu dalam air mata yang menganak sungai sebelum kita jadi debu, dan usia dihabisi lembar-lembar waktu. . . Bandung, 25 Februari 2018













