Kamu tidak egois, hanya sedang belajar mempertahankan apa yang kamu yakini.
tumblr dot com
Three Goblin Art
KIROKAZE
h

@theartofmadeline
Not today Justin

祝日 / Permanent Vacation
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

★
i don't do bad sauce passes

#extradirty

titsay
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

roma★
Mike Driver
Show & Tell

tannertan36
Stranger Things
One Nice Bug Per Day
Lint Roller? I Barely Know Her
seen from Australia

seen from Singapore
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Austria
seen from United States

seen from United States

seen from France
seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands
seen from T1
seen from United States
seen from United States

seen from Germany

seen from Malaysia
@kelanakala
Kamu tidak egois, hanya sedang belajar mempertahankan apa yang kamu yakini.
Kamu tidak lelah?
Menjadi orang lain hanya untuk diterima.
Kamu tidak lelah?
Menjadi sesuatu hanya untuk diakui?
Sebegitu pentingkah sebuah penerimaan dan pengakuan hingga harus menjadi orang lain?
“Jangan cepat-cepat berangkat, karena lama harus menunggumu kembali lagi” - Ibu.
Sebulan, pulang ke rumah, tempat yang begitu hangat kini lebih sering membuat hati tersayat.
Maha Tahu
Tuhan tidak akan menakdirkan suatu fase kehidupan, melainkan kamu mampu melewatinya. Nikmati segala prosesnya entah suka, duka, jatuh hingga bangunnya.
Walau mungkin rumput tetangga lebih hijau, tetapi buahmu bisa jadi lebih manis.
Kita,
dalam barisan kata,
jutaan sorot mata,
pada rentetan kisah kasih nyata,
yang terabadikan dalam tulisan penuh cinta.
Pada hidup yang hitam putih,
Terdengar lirih, suara ringkih,
Langkahnya tertatih-tatih.
Ia merintih, berjuang penuh letih,
Berharap esok bisa lebih gigih,
Apa daya usaha berujung pedih,
Pada manusia tanpa welas asih.
Mungkin lewat perih,
Pikiran akan jernih, hati bersih, jiwa pulih,
Mungkin lewat Perih,
Diri tersadar, untuk kembali bertasbih,
Dan menyertakan Sang Maha Pengasih.
Dalam hidup yang penuh pamrih.
Hal Tersirat
Kita itu pandai, mahir menyembunyikan rindu. Jangankan bentuknya, aromanya saja tak terendus. Tapi sangat mudah ditebak, Ia tampak rapi dalam balutan kata-kata nan tegas berwibawa.
Kita itu terampil, terlatih menyimpan kagum. Jangankan menguraikan rasanya, bertutur saja kita ragu. Tapi ia terpancar pada sudut-sudut bibir yang melengkung ke atas, ikut menarik bola mata yang semakin mengecil.
Sebab, tawammu adalah jawabannya.
Isolasi Diri
Isolasi, bukan waktunya hibernasi, rebahan manja tanpa aksi, ongkang kaki bak kaum berdasi.
Waktunya kontemplasi, mengasah intuisi, agar diri termotivasi.
Waktunya refleksi, membaca banyak referensi, kalau-kalau jadi inspirasi.
Isolasi, tak membatasi komunikasi, tak mengekang imajinasi, ia menghidupkan kreasi.
Kita masih bisa berdiskusi, bercanda walau sudah basi, tapi tetap memberi apresiasi.
Salam, dari bumi yang kadang penuh konspirasi.
Pengingat Hidup
Hidup ibarat bermain kartu, menunggu giliran satu per satu,
Semua hanya perkara waktu, kapannya" pun tak menentu,
Saat roh raga tak lagi menyatu, hanya amalan diri yang bisa membantu,
Allah anugerahkan akal, agar ikhtiar bersambut tawakal,
Jika tahu tak ada yang kekal, sudahkah kita siapkan bekal? Sebab, Ajal dan amal, dua hal, yang tak bisa disangkal.
Di Seberang
Engkau tak hilang, hanya semakin jauh dari pandang, walau yang tertinggal adalah bayang, namun abadi dalam kenang.
Engkau tak hilang, hanya tak akan kembali pulang, walau yang kau tinggal adalah ruang, namun abadi dalam juang.
Di bawah teriknya siang, di sudut kota nan benderang, engkau masih berbagi riang, walau mimpimu dan kenyataan bersitegang.
Kini, tak seorangpun mampu mengekang, jiwa ragamu telah tenang, istrahatlah dengan senang, di malam yang remang, esok kita kembali berjuang.
Duhai Engkau, yang kini di seberang.
Menyembuhkan Luka
Perasaan semacam ini bukanlah yang pertama kalinya. Saya hanya perlu hati yang lapang, keyakinan yang kuat dan waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka sendiri.
Perasaan seperti ini bukanlah yang pertama kalinya. Saat ada yang datang, hati ini secara sadar sudah menyiapkan ruang untuk menampung segala sedih juga pedihnya.
Perasaan seperti ini bukanlah yang pertama kalinya. Sejak terluka, ia menjadi rentan terhadap luka yang serupa.
Tetapi akan menjadi yang terakhir kalinya, pada orang yang sama. Ia tidak hanya menghilang dari hati, tetapi pikiran juga hidup, ia lenyap tak berjejak.
- Sisi Sendu
Takut Menjauh
Aku takut jika jarak memberi ruang bagi yang lain untuk menapak, lalu mengisi jejak.
Aku takut cerita yang pernah dirajut, menjadi seperti benang kusut, lalu luput.
Aku takut saat menemukan kenyamanan masing-masing, lalu kita menjadi asing.
Sebab, Aku belum cukup kuat jika rindu harus berganti sendu.
- Sisi Sendu
Serba Susah
Apa-apa kalau pakai perasaan itu serba susah. Bahkan untuk sekedar menyapa, say Hai, tanya kabar atau komen di story.
Bukan apa-apa sih, belum siap saja menerima ekpektasi yang tak sejalan dengan realita.
Dia yang tak kau sapa hari ini, adalah yang pernah kamu khawatirkan waktu itu. Dia yang kini tidak kau pedulikan adalah yang pernah membuatmu berkata "tak bisa hidup tanpanya".
"Sebegitu mudahnya Allah membolak balikkan hati hambanya"
Lantas, mengapa masih saja menaruh harap, percaya, bahkan menggantungkan hidup pada sosok yang berdiri di kakinya sendiri saja masih butuh tumpuan, ia rapuh.
Sepertiga Malam
Ada yang tak pernah luput menyebut namamu di sepertiga malamnya. Saat kau masih terlelap, mungkin terlalu lelah mengejar kefanaan.
Ada yang rindunya lebih lantang dari pada hiruk pikuk bisingnya dunia, bahkan menembus langit berlapis-lapis. Tetapi lirihannya pun luput olehmu, tak terdengar, tak berbekas.
Doa dan rindu itu sepaket. Jangan lupa untuk mendoakan diri sendiri, juga sisipkan namanya dalam doamu.
Kini Menjauh
Biasanya kita saling berbisik dari heningnya kedalaman, kini harus menyapa dari senyapnya ketinggian. Walau sudut pandangnya berbeda, kau tetaplah sama, selalu menjadi apa adanya.
Terima kasih untuk raga yang selalu menjaga, telinga yang siap sedia untuk mendengar, juga hati yang tiada bosan untuk penduli.
Akhirnya,
Kita harus kembali membentangkan hati untuk melepaskan asa yang pernah tertanam, sembari menerima rindu dari sudut-sudut yang berbeda. Kelak akan ada yang tidak hanya sekedar menyapa. Ia menetap.
Pada Jarak
Bukankan kita tak asing dengan jarak? Memberi ruang untuk bergerak. Meresapi langkah diri sejenak.
Kita terbahak, lalu terisak, saat benar-benar beranjak, semua terasa terdesak.
Pada ombak, pasir menggalak, pada api, papan bergejolak.
Tidak, kita tidak sedang berpijak, pada setapak yang tak tegak, bukan pula saling mencampak, layaknya air dan minyak.
Kita hanya terlalu menikmati jarak, lalu lupa pada tindak, dan perlahan memberi pundak, pada dia yang selalu nampak.
Pada jarak, ia mencipta babak, untuk menjadi bijak.