Banyak orang yang takut jasadnya mati, tapi sedikit sekali orang yang takut hatinya mati.

shark vs the universe
No title available
No title available
he wasn't even looking at me and he found me
Jules of Nature

JBB: An Artblog!

blake kathryn
will byers stan first human second
I'd rather be in outer space 🛸
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
tumblr dot com

if i look back, i am lost
KIROKAZE
YOU ARE THE REASON
taylor price

No title available
h
Cosmic Funnies

izzy's playlists!
ojovivo
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States

seen from Algeria
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Poland
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from Argentina
seen from Netherlands

seen from Pakistan
seen from Lithuania

seen from Algeria
@keteguhanhatisalsabil
Banyak orang yang takut jasadnya mati, tapi sedikit sekali orang yang takut hatinya mati.
Surga dalam Keluarga
Tak dapat dipungkiri bahwa dalam perjalanan belajar dan mencari makna keluarga, seringkali muncul perasaan iri terhadap keluarga orang lain. Pertanyaan "Mengapa keluargaku seperti ini?" mungkin menghantui pikiran kita. Bahkan lebih sulit lagi, luka dan trauma masa lalu bisa membuat perasaan sedih semakin dalam, membuat kita merasa bahwa keluarga yang kita miliki tak ada gunanya bahkan hanya meninggalkan luka.
Seringkali, hal ini terjadi karena kita tidak memiliki tujuan yang jelas dalam belajar dan mencari makna keluarga. Efeknya pun menyebar dan merasuki berbagai aspek kehidupan. Namun, seharusnya kita menyadari bahwa parameter keberhasilan dalam belajar dan mencari makna keluarga adalah dengan mensyukuri apa yang keluarga kita miliki, kemudian menggunakan potensi yang ada dalam keluarga secara optimal.
Sadari » Terima » Optimalkan
Surga dalam hubungan keluarga bukanlah sesuatu yang diperoleh dengan mudah tanpa adanya ujian. Surga itu sendiri berasal dari usaha keras manusia dalam menghadapi segala ujian yang diberikan oleh Allah. Oleh karena itu, membawa surga ke dalam keluarga bukanlah hal yang mudah, bukan pula sesuatu yang dapat diwariskan atau diberikan oleh orang lain, melainkan suatu usaha yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga.
Jika hasil dari proses belajar dan mencari makna keluarga hanya berujung pada perasaan iri, luka dan trauma, maka jangan berharap surga akan ada dalam keluarga. Surga tidak dapat dirasakan dalam keluarga ketika yang kita bawa ke dalamnya hanyalah badai. Maka, bawalah kedamaian, ketenangan, solusi, cinta, dan juga kasih sayang sebagai buah dari proses belajar dan mencari makna keluarga. Lalu sajikanlah buah itu pada keluarga yang kita punya.
Pertolongan Allah
Mulai hari ini, 16 Desember 2023, hingga akhir bulan ini, aku berencana untuk merenung dan merefleksikan perjalanan hidup saya selama tahun 2023.
Tahun ini rasanya sangat luarbiasa bagiku, begitu banyak keajaiban yang terjadi. Kalau bukan karena Allah, sejatinya aku bahkan tak mampu mendatangkan keajaiban itu sendiri.
Salah satu keajaiban yang aku alami adalah kesadaran diri. Banyak pengalaman baik dan buruk yang membuatku sadar akan kehidupan ini, dan akhirnya, hal tersebut mendorong perbaikan dalam hidupku.
Selain itu, aku juga mendapatkan keajaiban lainnya, diantaranya :
Diberikan kesadaran atas nikmat ilmu dan juga iman
Bisa bersyukur dalam setiap keadaan
Diberikan nikmat sakit di tengah hidup penuh dosa :')
Lulus ujian di tengah huru hara kehidupan
Allah takdirkan keluarga inti berubah. Tadinya hanya sekedar kelompok, lalu kemudian Allah takdirkan menjadi satu organisasi yang utuh dan memiliki tujuan
Lulus post test dengan nilai sangat baik untuk coaching dan workshop yang seleksinya luarbiasa sulitnya
Dapet rezeki dari arah yang tidak disangka sangka
Mengerjakan ujian keknya mudah banget gitu ya padahal mah spaneng
Punya guru dan lingkaran ukhuwah
Di penghujung tahun bisa bikin buku
Bisa liburan bahkan di bayar karena amanah di akhir tahun
dll
Ada begitu banyak nikmat yang sulit diungkapkan satu per satu karena kebesaran Allah :')
Terimakasih Ya Allah atas ujian berupa nikmat dan cobaan yang Engkau berikan, yang membuat hamba semakin dekat dan mendekap-Mu :')
Semoga aku tetap bersyukur dan taat pada-Mu dalam setiap langkah hidupku.
"Dan (ingatlah), jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Q.S. Ibrahim: 7)
Freewill
Kemarin aku menonton series Bodies di Netflix. Ada perkataan yang menarik dari Gabriel Defoe, "Freewill itu tidak ada. Itu ilusi, ilusi yang menyenangkan".
Kalo dirasa-rasa dan dipikir-pikir, bener juga omongan dia ini. Hidup ini terkesan freewill, padahal engga juga. Semuanya selalu tentang tanggung jawab dan konsekuensi.
Memilih-Nya? Ada konsekuensi dari memilih-Nya, yaitu bertanggung jawab dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Terkesan bebas dalam melakukan hidup, padahal hidup ini penuh dengan aturan dari-Nya. Salah satunya adalah jalan fujur dan taqwa. Perkara kita mau kemana, itu tergantung pilihan kita.
Terkesan freewill tapi tanggung jawab dan konsekuensi menjelaskan bahwa freewill itu tidak ada. Kelak, kita akan ditanya "Kenapa kamu melakukan itu? Kemana akal sehatmu? Apakah kamu tidak berpikir? Bukankah Aku telah memberi peringatan? dll."
Fun Fact : Pemenang di dunia dan akhirat adalah orang-orang yang dekat dengan-Nya.
Hakikat dari manusia yang menghindari kesedihan dan mengejar kebahagiaan tentu mengejar kemenangan di dunia dan akhirat. Maka sudah jadi konsekuensi jika pilihan satu satunya adalah berislam dan beriman, agar kita bisa dekat dengan-Nya.
Maka benar, freewill itu tidak ada. Itu hanya ilusi yang menyenangkan.
Layaknya seseorang yang sedang memilih sesuatu untuk pasangannya, terkesan freewill padahal tidak. Ada konsekuensi bahagia dan sedih, maka ia harus memilih sesuatu yang membuat pasangannya bahagia. Tentunya, agar kehidupan dengan pasangannya dipenuhi dengan kebahagiaan.
Wallahualam Bissawab 🙏
Meniadakan Iman
Temen-temen pasti udah gak asing ya dengan materi-materi yang memisahkan atau bahkan seperti yang meniadakan iman. Katanya "sains ya sains, iman ya iman". Sebetulnya kalo ucapan ini keluar dari orang kafir ya gapapa, karena bisa jadi memang diagamanya diajarkan demikian. Tapi… ucapan ini seharusnya tak keluar dari orang Islam (kecuali munafik).
Why? Sebab ia harusnya tau bahwa muara ilmu adalah dari Allah. Dan iman kepada-Nya adalah pondasi utama. Seharusnya ia berbicara bahwa semua sains pasti adalah ilmu-Nya dan berada dalam koridor iman kepada-Nya.
Loh kok gitu? Ya iyalah. Allah kan Illah, Rabb, Malik, Ar Rahman, Ar Rahim, Ar Razzaq, dll yang dalam asmaul husna itu ya jelas bahwa sifat-sifat Allah yang menjadi muara ilmu.
Contoh: Mau belajar tentang financial? Imani dulu Allah Ar-Razzaq, lalu eksplorasi dari keimanan itu, kira kira apa aja ilmu Allah yang berhubungan dengan keuangan. Gak cuman sains, tapi tools dalam kehidupan sehari-hari pasti ada. Kalo gak ketemu, gunakan iman untuk menciptakan ilmu baru yang sesuai dengan ilmu dari Allah. Ini adalah bukti iman kepada-Nya.
Jadi gak ada tuh yang namanya "kesehatan mental gaada hubungannya sama iman, sains gaada hubungannya sama iman, dll". Lah dipikir ilmunya dari mane? Ajaib gitu bisa bikin ilmu sendiri? Ya dari Allah lah, kecuali kalo doi ngaku Tuhan. Itupun kalo ngaku Tuhan pasti termasuk penistaan agama wkwk.
Percaya gak percaya, yang nyampein bahwa "sains tak ada hubungannya dengan iman" biasanya orang kafir atau orang yang meniadakan iman dalam hidupnya 🤭 ihihihihihihi #kaboor
Jadi yu tingkatin lagi iman kepada Allah. Biar kelakuannya gak kaya Tuhan kecil yang lupa mengimani-Nya. Itu hal fundamental loh. Moso seh ngaku berislam dan beriman tapi masih mendikotomikan antara sains dan iman? 🤭
Wallahualam Bissawab 🙏
Jalan Iman
Rasanya, kita semua pernah atau bahkan sedang berada di fase yang merasa hidup ini berat. Tentang kejadian kejadian yang tak diinginkan, tentang kejadian kejadian yang rasanya menyakitkan. Bahkan tak jarang hal itu menyisakan rasa trauma dalam hati.
Di tengah gempuran hal itu, ternyata Islam dihadirkan oleh Allah untuk mengajarkan kita bagaimana merespon dengan cara yang menenangkan. Hasil dari respon kita itu pun membuat diri semakin beriman kepada-Nya.
Pilihan responnya ada 2 : 1. Sabar 2. Syukur Mau pilih jalan iman yang mana?
Sayangnya, banyak orang justru tak memilih diantara keduanya. Ia justru lebih memilih untuk menapaki jalan jalan yang dibuatnya sendiri, bukan jalan jalan yang telah dibuatkan oleh Allah.
Sehingga setiap kejadian tak membuat diri semakin beriman, namun semakin hari semakin putus asa karena merasa Allah memberi takdir yang tidak adil.
Padahal untuk membaca takdir Allah dengan cara yang tepat adalah dengan kedua jalan itu. Pilihannya hanya sabar atau syukur, hanya 2 itu. Baru setelah itu kita bisa memahami takdir-Nya dengan lebih jelas. Tentang "apa maksud Allah memberikan takdir yang demikian". Sehingga kita bisa semakin beriman kepada-Nya.
Begitulah islam mengajarkan kita untuk merespon takdir-Nya. Begitu menenangkan. Bagaimana tidak, pilihannya hanyalah sabar dan syukur, bukan marah atau kufur.
Mungkin alasan selama ini mengapa kita "aral" bahkan merasa Allah dzolim dan tak adil karena kebodohan kita sendiri. Allah telah mengajarkan cara dan memberi tahu jalan-Nya untuk merespon takdir, tapi kita malah membuat jalan kita sendiri.
Semoga kita bisa merespon takdir-Nya dengan cara cara yang telah diajarkan oleh-Nya. Sehingga kita bisa semakin dekat dengan-Nya. Aamiin 🤲
Wallahualam bissawab 🙏
Kekeliruan dalam Berinteraksi
Ada orang yang berantem terus sama pasangan, ada anak yang berantem terus sama orangtua, ada orang yang berantem terus sama temennya, dll.
Apasih yang dicari dari dunia ini? Apakah kita bisa bahagia dengan memupuk kebencian dengan kedok luka yang mendalam?
Kebodohan manusia = menghabiskan waktu untuk hal yang tak diperlukan.
Padahal hidup di dunia hanya sementara. Umur individu itu fana, umur dunia pun fana. Sebuah kepastian adalah kita semua akan meninggal.
Lalu, akan dihiasi dengan berantem sampai mati? Lucu bukan? Prinsip yang ditanam berdasarkan ego dan nafsu itu hanya membawa pada rasa sesak sampai mati, tak membawa pada apa apa selain itu.
Lucunya lagi : Jika salah satu divonis umurnya sudah dekat, maka akan terlalu mesra.
Terlalu mesra sampai membahayakan nyawa. Misalnya : Pasangan tervonis hanya bertahan dalam waktu 1 tahun. Sudah kondisi sakit, eh atas dasar sayang (katanya) lalu dibelikan makanan kesukaan yang dapat membuat kondisi pasangannya semakin buruk.
Anehkan? Wkwkwk Itulah manusia, kalo gak berkurang - kurang, manusia itu ternyata berlebih-lebih :')
Pertanyaannya : cape gak kaya gitu terus sama pasangan/orangtua?
Kita itu hidup cuman sementara. Kenapa gak fokus aja sama hal hal yang membuat kita bisa bertemu dengan-Nya?
Yuk mulai sadar. Kalau kita sadar dengan apa yang perlu dicari, insyaallah hidup kita akan berjalan dalam sirotol mustaqim (jalan yang lurus).
Kalau ada apa apa yang memunculkan perasaan buruk di hati kita, coba renungkan lagi pertanyaan pertanyaan di atas.
Wallahualam bissawab 🙏
Lapisan Keamanan Pengikis Keimanan
Akhir-akhir ini aku resah dengan lapisan keamanan yang dibuat oleh manusia sehingga manusia lupa terhadap Tuhannya, Allah.
Hal yang membuatku geleng-geleng kepala adalah : Ikhtiar lebih cepat dari do'a meminta tolong kepada-Nya.
Tak sadar jika kini manusia menuhankan ikhtiar, bukan lagi Allah. Padahal, ikhtiar hanyalah syarat dari terkabulnya do'a, tapi mengapa ikhtiar menjadi hal yang utama?
Seharusnya berdo'a dulu, agar jelas syarat apa yang harus dipenuhi. Baru memenuhi syarat agar do'a itu terkabul. Bukan sebaliknya.
Salah satu penyebab fenomena diatas mungkin adalah nilai praktis dari ikhtiar. Ada ukuran yang jelas dan kongkrit dari sebuah ikhtiar. Sedangkan, berdo'a pada Allah adalah hal ghoib dan abstrak yang entah kapan dikabulkan. Selain itu, banyak hati yang tak yakin bahwa doa bisa dikabulkan se-segera mungkin. Jadi yang dilakukan langsung menuju ikhtiar, tanpa diawali do'a. Sebuah langkah praktis dan konkrit, bahkan hasilnya dianggap lebih bisa dirasakan secara langsung.
Contoh : Menghadapi urusan masadepan yang ghaib, belajar/gunakan professional untuk membuat masadepan jadi konkrit. Sampai sampai, rezeki seakan dibuat dan dijamin oleh financial planning. Berdo'a meminta rezeki, tapi yang dibayangkan adalah perantara-Nya. Bahkan rezeki tak dianggap lagi datang dari Allah. Padahal Allah sudah menjanjikan rezeki yang tak disangka sangka. Kemudian manusia lebih mengimani adanya pengeluaran yang tak disangka sangka, menuhankan jalan jalan income dan management.
Tanpa sadar, manusia telah meniadakan kajaiban dan keberuntungan berupa rezeki yang tidak disangka sangka. Dengan membuat masadepannya terasa lebih konkrit melalui ikhtiarnya, bukan karena keberadaan-Nya.
Lapisan keamanan yang tanpa sadar telah mengikis keimanan. Bahkan seringkali tak sadar telah membuat manusia kikir hanya karena angan masadepan yang tak pasti, lalu ingin memastikan diri menjadi aman di kemudian hari.
Menyedekahkan harta pada yang membutuhkan pun hanya dari sisa sisa. Padahal rasul dan sahabatnya mencontohkan membantu urusan oranglain dengan hartanya bahkan sampai habis tak bersisa. Mereka percaya rezeki ada di langit, dalam genggaman-Nya.
Mari kita pahami kembali hakikat kehidupan dari-Nya yang telah disampaikan oleh-Nya. Jangan sampai kita keliru dalam mengimani-Nya sehingga tanpa sadar kita menuhankan selain-Nya. Tanpa sadar kita melakukan ikhtiar ikhtiar yang justru menjauhkan kita dari-Nya, bukan mendekatkan diri kepada-Nya.
Wallahualam bissawab 🙏
Hidup yang serba terukur ternyata sangat berbahaya. Sebab ini bisa membuat manusia jadi menuhankan dirinya sendiri, bukan menuhankan Allah.
Funfactnya : Sombong lahir dari kehidupan yang serba terukur dan keberhasilan atas rencana yang di bangun. Sehingga semuanya jadi serba aku dan merasa semuanya karena aku.
Beruntung
Tak terasa sudah berada di bulan Desember. Beberapa hari lagi akan terjadi pergantian tahun 2023-2024.
Ngomong ngomong tentang tahun, sudah berapa tahun kita hidup di dunia ini? Apa yang paling bermakna dari tahun tahun yang sudah terlewati?
Ada hal matters yang aku jadikan sebagai salah satu prinsip hidupku, yaitu perkataan bapak : "Gak perlu jadi orang pinter, mending jadi orang beruntung.".
Begitu banyak ayat ayat Allah yang berbicara tentang keberuntungan. Salah satunya Qs. Ali Imran : 104 "Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Salah satu syaratnya adalah dengan menyerukan dan melaksanakan amar maruf nahi munkar (taqwa). Jadi, orang orang yang beruntung itu adalah orang yang bertaqwa.
Dalam hidupku terjadi pula hal demikian. Bahkan dalam keadaan aku bermaksiat pun, rasanya Allah memberikan keberuntungan untukku, dengan menyelamatkanku dari kehidupanku yang penuh maksiat :')
Rasa-rasanya baik buruknya hidupku adalah hasil dari keberuntungan yang Allah berikan. Bahkan dalam keadaan terpuruk, sakit bahkan hampir putus asa, Allah selalu berikan keistimewaan dan keberuntungan didalamnya.
Keadaanku yang diselimuti nikmat adalah keistimewaan dan keberuntungan dari Allah. Rasa-rasanya hidupku tak pernah berhenti diselimuti oleh karunia yang Allah berikan.
Jika dimaknai lebih dalam lagi, ternyata keberuntungan tak hanya diberikan pada orang yang bertaqwa, tetapi diberikan juga pada orang yang tidak bertaqwa. Hanya saja berbeda kadar keberuntungan-nya. Selain itu, seringkali orang yang tidak bertaqwa menganggap bahwa keberuntungan itu tidak ada. Jadi wajar jika keberuntungan hanya dirasakan oleh orang-orang yang bertakwa.
Faktanya : keajaiban dan keberuntungan hanya akan dirasakan oleh orang yang mempercayai-Nya. Sebab keajaiban dan keberuntungan adalah sesuatu yang ghaib dan tidak bisa dikalkulasikan oleh otak manusia. Maka, keduanya hanya bisa dirasakan oleh orang yang mengimani-Nya.
Iman kita akan bertambah ketika kita berhasil memaknai keajaiban dan keberuntungan yang diberikan oleh-Nya.
Wallahualam bissawab 🙏
Hujan
Kata orang : "Sedia payung/jas hujan sebelum hujan." Tapi menurut mamahku : "Sing root we pas nu dileumpangan (semoga reda pas yang dilewatin)."
Hari kemarin aku mencoba membuktikan omongan mamah. Alhamdulillah gak cuman membuktikan omongan, tapi juga keimanan~
Aku pergi ke tasik kota sekitar jam 2 siang menggunakan motor, tanpa membawa jas hujan dan dalam keadaan langit sudah sangat gelap menandakan akan hujan.
Fun fact: Aku hanya terkena hujan sedikit, sekitar 100 meter. Menunggu hujan sedikit reda sekitar 20 menit.
Setelahnya, aku melanjutkan perjalanan sampai pulang tanpa terkena hujan lagi. Padahal keadaan langit masih gelap, bahkan aku berhenti di beberapa tempat dalam waktu yang lama.
Alhamdulillah sampai rumah jam 17.10 dalam keadaan aman sentosa, tanpa terkena hujan yang membuat badan basah kuyup.
Padahal sejak siang, langitnya "sudah sangat rawan hujan dan menakutkan". Upaya nekad ini telah membuahkan iman di hati.
Alhamdulillah, ternyata membuktikan iman senikmat itu ❤️ Merasa jadi nasabah prioritas yang kalo lewat, hujannya dipause dulu sama Allah 🤭
Ada konsep yang seringkali orang lupa
Obat itu fungsinya untuk mengobati. Obat tidak berfungsi untuk menyembuhkan. Sebab yang menyembuhkan itu adalah Allah.
Kalo ada orang yang mengaku bisa "menyembuhkan" atau bilang obatnya bisa "menyembuhkan", berarti…?
Tentang Beriman
"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas-jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Qs. Al-Baqarah : 256)
Allah gak maksa kita buat beriman dan berislam. Kita diberikan "free will" oleh Allah untuk memilihnya.
Dulu aku sempat bertanya tanya terkait semua ibadah yang menurutku berat. Misalnya: Kenapa harus sholat? Kenapa harus puasa 30 hari? Kenapa harus mengimani takdir? Kenapa harus mengimani Alqur'an? Dll.
Sebenernya semua hal itu dilakukan sebagai bukti komitmen atas pilihan kita untuk beriman dan berislam. Kalo gak mau berkomitmen ya sebenernya gak wajib juga, toh Allah gak maksa.
Simplenya gini : Kalo kita mau ketemu Allah maka harus beriman dan berislam. Kalo gamau ya gapapa, Allah gak maksa. Konsekuensinya ya kalo mau ketemu Allah pasti masuk surga dan kalo gamau pasti masuk neraka.
Ya sebetulnya ini hal basic. Sama kaya pengen ketemu orang-orang hebat itu kan ada syarat yang perlu dipenuhin. Ya ketemu Allah juga sama. Misal mau ketemu presiden, ada syaratnya juga. Konsekuensi kalo mau ketemu ya masuk istana, kalo engga mau ketemu, ya gak perlu masuk istana.
Namanya syarat pasti berat, jadi wajar kalo itu dianggap "memberatkan" dan membutuhkan "pengorbanan". Ya kalo mau yang ringan dan meringankan mah cuman bansos sama donasi. Itupun masih dikorupsi dan dipotong administrasi #becandaaaa🤣
Kalo kita udah tau konsepnya ini, jangan sampai kita jadi kaum yang nanggung. Iman engga, kafir engga. Akhirnya masuk lah ke golongan yang melampaui batas, munafik atau fasik :')
Naudzubillahimindzalik
Yuk mantapkan hati kita! Pilih secara maksimal mau beriman atau tidak~ Jangan jadi manusia yang setengah setengah!
Wallahualam Bissawab 🙏
Lihatlah Lebih Dekat
"Pendidikan Iman saat ini dijadikan anak tiri dari sistem pendidikan.", kata ustadz aad (psikolog) yang sampai sekarang aku sangat setuju.
Why? Lihatlah fenomena zaman sekarang, bukankah yang muncul di media adalah hal-hal yang tak mungkin dilakukan oleh orang beriman? Membunuh orangtua, oranglain, bahkan dirinya sendiri.
Iman yang memunculkan harap, optimistik, hunsudzon kepada-Nya akan membuat manusia memiliki kemampuan untuk menghadapi resiko-resiko kehidupan. Bukan lagi tentang resiko resiko kematian, sebab ia tau kematian pasti terjadi tanpa dicabut oleh dirinya sendiri.
Orang beriman itu pasti memiliki akal sehat dan hati yang baik. Tidak ada kewajiban bagi orang yang tidak berakal (akalnya tidak sehat) untuk beriman. Makanya orang beriman pasti memiliki akal yang sehat.
Ini adalah bekal yang paling penting dan yang paling dibutuhkan oleh manusia. Dengan keduanya, manusia bisa hidup dengan-Nya dan untuk-Nya. Resiko-resiko kehidupan akan dihadapi agar ia husnul khotimah ketika kembali kepada-Nya.
Pada faktanya akal yang sehat dan hati yang baik mampu melahirkan banyak hal yang baik juga menurut-Nya. “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).
Orang dikatakan beriman ketika akalnya sehat dan hatinya baik. Tanpa kedua hal itu, iman takkan terjadi. Sebab iman menuntut keduanya hadir secara terus menerus. Keduanya adalah syarat agar iman bisa ditegak dalam diri seseorang.
Ketika pendidikan iman telah menjadi anak tiri (tak lagi wajib dan spesial), maka akal sehat dan hati yang baik tak lagi menjadi sesuatu hal yang utama. Aku rasa ini adalah hal dominan yang menyebabkan banyak manusia yang berani membunuh orangtua, oranglain, bahkan dirinya sendiri.
Jika ia beriman, ia akan tau bahwa Allah takkan menyukainya jika ia melakukan hal tersebut. Sebab ia tau bahwa ia hidup karena-Nya, dengan-Nya, di jalan-Nya, untuk-Nya dan akan kembali kepada-Nya.
Wallahualam bissawab 🙏
Ka, aku mau tanya. Aku kadang udh doa dan tanya Allah, tp kok jawaban dari Nya gak dateng dateng ya? Aku harus ngapain lagi
Jawaban dari Allah yang gak datang atau hati kita yang belum bisa membaca jawaban dari Allah? Merujuk pada qs. al hajj : 46
"Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada."
Bisa jadi Allah sudah kasih jawaban tetapi hati kita buta sehingga tidak bisa membaca jawaban dari-Nya :')
Jika ditanya "aku harus ngapain?"
Merujuk pada qs. ar-rum : 41
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Dalam konteks ini, ketidakmampuan kita membaca tanda-tandaNya adalah merupakan akibat atau efek samping dari perbuatan kita. Entah itu dilakukan pada diri sendiri, makhluk-Nya ataupun kepada-Nya. Maka, saranku imani ayat tersebut.
Jadi sebagai bukti iman kita kepada-Nya dan kitab-Nya, kita harus meyakini bahwa apapun kejadiannya, Allah sedang memanggil kita untuk kembali kepada-Nya :')
HeartSet
Kita sering menggunakan pikiran atau mindset dalam mendasari kehidupan, tapi seringkali kita lupa melibatkan hati atau heartset sebagai generator diri untuk mendasari kehidupan dengan keyakinan yang utuh.
Sudah tau cara assessment terhadap kondisi generator dalam diri kita? Kalo belum, coba jawab pertanyaan ini :
Apa yang ada dalam pikiranmu ketika melihat kondisi palestine dan israel? Takut palestine menang lalu kiamat dan dajjal muncul atau berharap palestine menang dan imam mahdi datang?
Iman akan membuat hati optimis, ada rasa harap dan husnudzon, maka dominasi kita dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hidup adalah salah satu indikatornya. Pertanyaan di atas salah satunya.
Jika jawabannya mengandung hal-hal sebaliknya atau bersifat pesimis, maka bisa jadi ada yang salah dari generatornya. Atau bisa jadi generatornya perlu diganti.
Wallahualam bissawab 🙏
Meromantisasi Keadaan
Entah kenapa saat ini banyak orang senang sekali menjual kesedihan. Bahkan cerita kesuksesan saja seringkali diliputi dengan kesedihan.
Misalnya :
Bisa sukses meski broken home
Bisa lulus kuliah padahal anak petani
Bisa sukses padahal lulusan SD -Dll
Padahal cerita itu gak perlu disedih-sedihkan seakan "aku berbeda".
Ya nature aja gitu emang anak petani bisa sekolah, kan petani juga punya uang buat nyekolahin anak. Broken home tapi sukses? Yakan normal. Manusia mah mau broken home kek mau engga kek, manusia pasti pengen sukses. Terus sukses juga gak selalu liat ijazah. Ya sukses mah sukses aja gitu karena kita membuktikan bahwa kita ihsan (yang terbaik) dalam pekerjaan makanya sukses.
Mereka yang lebih dulu diuji dengan masalah hidup, bukan berarti berjuang lebih keras untuk mencapai sukses. Ada banyak orang dengan privilege, justru bekerja dan menghadapi tekanan yang lebih besar.
Misalnya, ia lahir di keluarga dokter tiga generasi, tapi memilih menjadi pengusaha. Contoh lainnya, ada anak dari keluarga koruptor tiga generasi, tapi pengen jadi ustadz. Bayangkan bagaimana tekanan nya. Ceramah ke keluarga besar susah. Ceramah ke orang lain di tolak karena keluarga koruptor.
Tentang hal ini, memang orang sukses dan gak sukses itu atas kuasa Allah. Tapi faktanya semua orang pasti mau sukses. Cuma kebetulan kesuksesan itu dikasih sama Allah untuk orang orang tersebut.
"…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); …." QS. Ali Imran : 26
Sedihnya tuh romantiasi begini malah jadi bablas :')
Dulu, petani gak perlu disedih-sedihkan, diviralkan ketika gagal panen atau harga hasil panen mereka murah. Padahal ya itu siklus, biasa dialami petani tanpa viral juga begitu. Emang mereka biasa nangis untuk melampiaskan emosi.
Eh sekarang, malah dijadikan bahan untuk "mencari keuntungan" dengan alasan kemanusiaan. Tanpa sadar membuat siklus itu rusak, lalu membuat petani merasa bergantung pada keuntungan yang didapatkan dari "rasa kasihan" netizen.
Bukan iri sama kebaikan orang ya, tapi kebaikan juga perlu disampaikan dengan baik. Gak cuman tentang yang kita anggap baik di saat itu, tapi juga kebaikan jangka panjang.
Sadar tidak sadar, kebiasaan meromantiasi keadaan ini menjadi butterfly effect. Gaya hidup bahkan bisa berubah karena hal ini.
Saking bablas-nya kebiasaan meromantisasi keadaan, ternyata telah mengubah cara pandang secara ekstrim. Dulu orang sibuk menutupi aib, sekarang orang sibuk jual aib.
Wallahualam bissawab 🙏