Surat yang Tak Pernah Kusegel
Untuk Kamu, Yang Pernah Kupanggil Rumah
Aku pernah salah.
Pernah berdusta, tak hanya padamu—tapi juga pada diriku sendiri.
Kubiarkan senyum memaksa hidup di wajahku,
padahal di dalam, semuanya nyaris mati.
Aku jatuh.
Bukan sekali. Bukan dua kali.
Tapi berkali-kali, dalam diam yang tak sempat kau lihat.
Aku mencari, menelusuri setiap tanya dalam doa-doa yang letih:
“Mengapa hidupku begini?”
Dan akhirnya kutemukan…
bukan karena siapa-siapa.
Tapi karena hatiku sendiri,
yang belum ikhlas menerima jalan hidup yang Allah bentangkan—
tentang dia, tentang mereka, tentang kamu…
dan tentang aku yang tak utuh.
Kamu bagian dari lukaku.
Mungkin kamu tak sadar pernah menoreh,
mungkin aku juga terlalu sering menggoresmu.
Dan luka-luka itu kini tinggal serpihan yang tak bisa kusembunyikan lagi.
Kupungut satu-satu, tapi tak pernah bisa kugenggam semuanya.
Aku pernah merasa sendiri,
menjalani luka yang menolak sembuh.
Sakitnya seperti menelan sepi dalam ruangan gelap tanpa jendela.
Dan sungguh, aku tahu aku tak pantas meminta pelukmu,
ketika tubuhku masih diselimuti belati.
Pelukanmu bisa robek karena aku belum belajar melepas.
Mungkin, butuh ribuan batu menghantam jiwaku,
untuk akhirnya aku menyerah bukan pada keadaan—
tapi pada Allah.
Bukan karena lemah. Tapi karena terlalu lelah melawan-Nya.
Aku pernah berharap aku menghilang saja.
Lenyap tanpa bekas.
Tapi lalu…
suara kecil itu terngiang,
dengan rengekan dan kadang manja,
“Ibuk Jangan pergi.”
Dan di situlah aku menunda pergi.
Aku genggam tangan mungilnya,
kutuntun ia mengenal hidup lewat ayat demi ayat.
Kubuang niat untuk menepi…
diganti dengan harapan baru—
untuk menjadikannya kuat,
bahkan saat ibunya sedang runtuh.
Aku ingin, suatu hari,
saat ayahnya datang membawa bunga,
ia tak hanya melihat ayahnya,
tapi juga memeluk takdirnya—dengan hati yang penuh ridha.
Dan aku…
masih belajar.
Masih terus jatuh-bangun.
Tapi kali ini, bukan untuk membuktikan apa-apa,
hanya ingin pulang…
ke Allah, dengan luka yang telah kupeluk.
— Aku










