Kisah Malin Kundang
Malin Kundang adalah seorang pemuda yang terkenal di kampungnya karena kepandaiannya dalam berburu. Dia sangat tampan dan diidolakan oleh banyak wanita di kampung tersebut.
Suatu hari, Malin pergi meninggalkan kampungnya demi mencari keberuntungan di luar negeri. Setelah beberapa tahun mengembara, akhirnya dia menjadi kaya raya dan menjadi seorang kapten kapal yang terkenal di seluruh dunia.
Ketika dia kembali ke kampung halamannya, dia tidak lagi mengenali siapa-siapa. Ia menjadi sombong dan angkuh karena kekayaan dan kejayaannya. Ia bahkan tidak mau menyapa ibunya yang sudah tua dan sakit.
"Malin, anakku. Aku sudah lama tidak melihatmu. Apa kabar kamu?" kata si Ibu.
"Tidak ada yang perlu kau tahu, ibu. Aku sudah tidak lagi anakmu yang kecil itu. Aku adalah seorang kapten kapal yang terkenal di seluruh dunia. Jangan menggangguku lagi," hardik Malin.
Ibunya yang kecewa dengan sikap anaknya itu mengucapkan kutukan kepada Malin, mengubahnya menjadi batu.
Namun, ternyata kutukan itu tidak bekerja dan Malin terus hidup normal seperti sedia kala. Ia merasa lega dan menyesal atas sikapnya yang tidak sopan kepada ibunya.
"Ibu, aku mengerti kalau aku sudah salah. Aku sangat menyesal atas sikapku yang tidak sopan kepadamu. Aku meminta maaf. Aku juga akan memperlakukanmu dengan baik seperti yang kau lakukan kepadaku sejak aku kecil," tutur Malin.
"Anakku, aku tidak pernah menginginkanmu menjadi batu. Aku hanya kecewa karena kamu tidak lagi mengenalku. Tapi aku sangat bahagia melihatmu sudah mengerti kesalahanmu dan meminta maaf. Aku pasti akan memaafkanmu," kata si Ibu.
Akhirnya, Malin menjadi seorang yang lebih baik dan menghargai orang-orang di sekitarnya, termasuk ibunya yang selalu mencintainya sejak dia kecil. Dan kisah Malin Kundang pun berakhir dengan bahagia.
Namun, kisah Malin Kundang tidak sampai di situ saja. Malin memutuskan untuk mengabdikan hidupnya untuk membantu warga kampung yang kurang mampu.
Atas kebaikan hati dan dedikasinya tersebut, warga kampung memutuskan untuk membuat sebuah patung dari batu setempat yang menggambarkan kepribadian Malin yang baik hati.













