Ketika kau pergi, aku diam-diam belajar melangkahkan kaki. Kelak, ketika kedua kakiku sudah fasih berlari, aku, tak akan pernah kau temukan lagi. (Kawasi, 14 Oktober 2017)
we're not kids anymore.

titsay
No title available
occasionally subtle
KIROKAZE

pixel skylines

Andulka

❣ Chile in a Photography ❣

tannertan36

No title available
styofa doing anything
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Claire Keane
TVSTRANGERTHINGS
Xuebing Du
No title available

Kaledo Art

roma★
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

⁂

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Peru

seen from United States
seen from Peru
@kiyasshi
Ketika kau pergi, aku diam-diam belajar melangkahkan kaki. Kelak, ketika kedua kakiku sudah fasih berlari, aku, tak akan pernah kau temukan lagi. (Kawasi, 14 Oktober 2017)
Ikhlaskan untuk setiap yang berjalan pergi. Bukankah setiap pergi sebenarnya adalah tentang pulang?
Ketika kita lupa kaki mana yang harus melangkah lebih dulu, barangkali semesta sedang mengajarkan tentang "tinggal dan menunggu (lagi)".
Kadang kita lupa, Tuhan menciptakan kata "Tamu" agar kita tau seseorang tidak selalu datang untuk tinggal dan hidup bersama.
Ketika kamu memutuskan untuk pergi, aku pun akan memutuskan, aku bukan lagi pulangmu.
Bahkan kita harus rela menahan sakit dulu untuk bisa bahagia di kemudian hari.
Bahkan kita sendiri tidak benar-benar tahu kepada siapa kita harus menaruh hati.
Kadang sesuatu yang menjadi "Mudah" untuk orang lain adalah yang "Tersulit" untuk kita. Begitupun sebaliknya. Pada dasarnya kita memiliki dunia masing-masing yang pantas untuk kita kagumi.
Setiap orang kadang lupa, Memberi, ketika banyak memiliki. Setiap orang kadang lupa, Bersyukur, ketika banyak menerima. Setiap orang kadang lupa, Bahagia, ketika banyak disakiti. Dan setiap orang kadang lupa, Menyendiri, lalu bercengkrama dengan Tuhannya.
Ibu dan secangkir kopi hitam
Ibu,
Ada peluh yang diam-diam digambarkan wajahmu.
Ada keluh yang disembunyikan senyummu.
Ada teduh yang dipancarkan kedua bola matamu.
Ibu,
Tentang perjuangan dan lelahmu.
Tentang luka dan sakitmu.
Kelak, letakkan saja di punggung kecilku.
Kemari, ibu.
Biar kusesap kopi hitam buatanmu.
Kopi hitam kawan senja sore itu.
Kopi hitam kawan ayah memotong kayu di hutan dulu.
Kemari, ibu.
Mari kita duduk dan menunggu.
Pada tumpukan ruas-ruas bambu.
Hingga petang memilih untuk berlalu.
Picture: @idioteq
Wp: @kitasulawesi
Senin, Puasa Pertama
Ramadhan tiba…Ramadhan tiba…Marhaban Yaa Ramadhan…Marhaban Yaa Ramadhan (tes vocal pake’ toa’ Masjid)
Alhamdulillah tak terasa 29 hari lagi kita lebaran.
Senin, 06-06-2016, puasa pertama di tanggal cantik. Insya Allah ibadahnya juga cantik. (Maklum saja, saya satu dari satu juta lima ratus enam puluh tiga ribu lima ratus dua puluh enam jiwa, anak gadis melankolis yang gemar berfantasi dengan angka cantik). Haha
Senin, puasa pertama, tentu saja No sarapan, No cemilan cepuluh cebelas, No makan siang, No tengok lemari es. Ibadah, Yes. Ngaji, Yes. *lagi riya’*
Senin, Puasa pertama, saya sedikit khilaf. Sempat nyobain sesendok bubur adek saya pagi tadi. Cuma sesendok. Besok sepiring. *ditabok pake’ pemukul bedug masjid*
Senin, puasa pertama, bukan cuma mengumpulkan amal ibadah. Juga mengumpulkan tugas kuliah yang sengaja diabaikan. Biar puasanya berkah, biar puasa dosennya berkah, biar puasa teman-teman saya berkah, biar puasa tetangga saya berkah. Amin *mabuk takjil*
Senin, puasa pertama, belum banyak yang bisa saya ceritakan, selain sibuk “ngabuburit” di dapur dan buka puasa bersama keluarga.
Senin, puasa pertama, yang dinanti adalah barokah. :)
cc: @kitasulawesi
Nanti kalau takdir saya menjadi seorang pengusaha, penjual, atau apapun itu yg berhubungan dengan jual-beli, saya tidak akan seperti penjual ayam goyeng tadi.
JANJI! (via duaapuluhtiga)
Tapi saya akan seperti ayam goyengnya. Fix (?) :))
Drama ini benar-benar membuat saya meriang. Well, saya diserang Descendants Syndrome akhir-akhir ini. Benar-benar ada semacam mysterious visual addiction yang membuat saya memutarnya over and over again. Pemeran utamanya cakepnya gak ketulungan, Song Joong Ki berperan sebagai Kapten Yoo Shi Jin, seorang kapten pasukan khusus (Tim Alpha). Biasanya dipanggil Big Boss (Saya biasanya manggilnya Uri-Oppa) *ditoyor. Dan seorang dokter cantik manis tanpa pemanis buatan, dr.Kang Mo Yeon, yang diperankan oleh kembaran saya (beda ayah, beda ibu), Song Hye Kyo. Drama ini sudah jadi bahan rusuh saya dan kak @ariniaris di grup. We are talking about the drama nonstop. Kata beliau, Kapten Yoo Si Jin itu seperti matahari yang memberi sinar dan menunjukkan jalan yang terang. Seperti judul dramanya. Call!
Kapten Yoo Si Jin selalu melakukan apa yang menurutnya benar, selama itu bisa menolong siapa saja (tanpa pandang bulu), bahkan dengan mempertaruhkan hidupnya. “Kemananan warga negara adalah keamanan nasional.” Katanya
“Kenapa kau jadi prajurit? Kau sangat patriotik sampai mempertaruhkan nyawamu demi negaramu. Kau sangat mencintai serta loyal terhadap negara dan rakyat. ” Kata dr.Kang Mo Yeon
“Kenapa harus jadi prajurit untuk bisa melakukannya?”. Jawaban Kapten Yoo Si Jin ini bisa membuat dr.Kang Mo Yeon bungkam dan berpikir.
Saya pun demikian. Sungguh belum ada yang bisa saya berikan untuk negara ini. *lap air mata, buang ingus
Be positive and be kind to others, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Ini secuil makna yang bisa saya ambil dari drama (yang kata orang drama cengeng) luar biasa ini.
Kamis depan ayoo ngerusuh lagi @kiyasshi :D
Siap-siap bawa koper. Sp tau dikick betulan. :))
Semua limbah bisa diolah. Kecuali mantan. @kiyasshi
hha noted!
So far sedang dicari teknologi pemanfaatannya @karimahkei
dijadikan gantungan kunci aja
Jangan. Nanti dikenang terus. :))
Drama ini benar-benar membuat saya meriang. Well, saya diserang Descendants Syndrome akhir-akhir ini. Benar-benar ada semacam mysterious visual addiction yang membuat saya memutarnya over and over again. Pemeran utamanya cakepnya gak ketulungan, Song Joong Ki berperan sebagai Kapten Yoo Shi Jin, seorang kapten pasukan khusus (Tim Alpha). Biasanya dipanggil Big Boss (Saya biasanya manggilnya Uri-Oppa) *ditoyor. Dan seorang dokter cantik manis tanpa pemanis buatan, dr.Kang Mo Yeon, yang diperankan oleh kembaran saya (beda ayah, beda ibu), Song Hye Kyo. Drama ini sudah jadi bahan rusuh saya dan kak @ariniaris di grup. We are talking about the drama nonstop. Kata beliau, Kapten Yoo Si Jin itu seperti matahari yang memberi sinar dan menunjukkan jalan yang terang. Seperti judul dramanya. Call!
Kapten Yoo Si Jin selalu melakukan apa yang menurutnya benar, selama itu bisa menolong siapa saja (tanpa pandang bulu), bahkan dengan mempertaruhkan hidupnya. “Kemananan warga negara adalah keamanan nasional.” Katanya
“Kenapa kau jadi prajurit? Kau sangat patriotik sampai mempertaruhkan nyawamu demi negaramu. Kau sangat mencintai serta loyal terhadap negara dan rakyat. ” Kata dr.Kang Mo Yeon
“Kenapa harus jadi prajurit untuk bisa melakukannya?”. Jawaban Kapten Yoo Si Jin ini bisa membuat dr.Kang Mo Yeon bungkam dan berpikir.
Saya pun demikian. Sungguh belum ada yang bisa saya berikan untuk negara ini. *lap air mata, buang ingus
Be positive and be kind to others, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Ini secuil makna yang bisa saya ambil dari drama (yang kata orang drama cengeng) luar biasa ini.
Semua limbah bisa diolah. Kecuali mantan. @kiyasshi
hha noted!
So far sedang dicari teknologi pemanfaatannya @karimahkei
Self Reminder: "Seninku, Tentang Bersyukur."
Setiap detik dalam sehari seharusnya memang bisa memberikan kita pelajaran. Dan hari ini saya mendapatkan pelajaran secara gratis dari seorang nenek tua penjual tissue di lampu merah. Nenek yang dengan peluhnya masih berusaha tersenyum menawarkan barang dagangan yang nyaris tidak dilirik itu. Dan saya? Adalah perempuan yang masih sering mengeluh untuk banyak hal. Benar saja bahwa ketika kita berjalan, kadang kita harus berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu bersyukur dan mengingat begitu banyak karunia yang Allah berikan tanpa kita minta. Kata filsuf besar Jerman, Immanuel Kant, "Kita tidak kaya karena apa yang kita miliki, tetapi terlebih oleh sesuatu yang tanpanya kita tak berdaya." Ialah bersyukur, menurutku. Cc: @kitasulawesi