Titik Terang
Sebuah media baru akan lahir. Di dalam kepala saya, sudah terbentuk bagaimana karakternya nanti. Independen. Tidak mengikuti arus pemberitaan. Lahir karena kebutuhan. Bukan ketamakan. Juga tidak didasarkan pada kekuatan modal. Tapi keresahan yang suaranya terus-menerus memekakkan kepala.
Sebuah media yang dibuat bukan demi memenuhi isi kantong. Namun, untuk melepaskan dahaga rasa penasaran.
Saya sudah memimpikannya sejak beberapa tahun terakhir. Mungkin pada 2018. Ketika mantan bos saya, yang juga sudah saya anggap sebagai kakak, Robithoh Johan Palupi, saat menanyakan mengenai karir saya di masa mendatang. Dengan lantang saat itu saya menjawab akan meninggalkan Berau Post. Sebagai catatan, Berau Post adalah surat kabar Robi-sapaan akrab Robithoh Johan Palupi- pada 2018 menjabat sebagai Direktur.
Koran yang beroperasi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur itu tergabung di bawah naungan payung Kaltim Post Group. Saya tahu karir saya tidak akan ke mana-mana jika masih bertahan di sana. Mentok-mentok menjadi Pemimpin Redaksi. Itu pun jika nasib beruntung. Karena masih ada beberapa rekan senior saya, yang menjabat sebagai seorang redaktur. Di tahun itu, jabatan saya sebagai redaktur rubrik olahraga dan ekonomi.
Secara tidak langsung, mungkin karir saya menjadi pemimpin redaksi mungkin akan menghabiskan waktu minimal 10 tahun jika masih bertahan di sana. Tapi saya tahu, Berau adalah kolam yang menurut saya sangat kecil untuk diselami.
Saya membutuhkan lautan. Yang dalam. Dengan beragam mahkluk di dalamnya. Mengapa demikian? Semua karena rasa penasaran saya.
Saya tahu, saya adalah orang yang penakut. Terkadang sembrono. Lebih sering gagal. Cenderung beruntung. Karena seteah beberapa kali jatuh, Tuhan masih menyayangi saya dengan menghadirkan orang lain untuk mengangkat saya ke permukaan. Untuk kembali bernapas. Mencoba mengatur kembali kehidupan yang hancur. Lalu mencoba kembali menyelami lautan yang gelap, penuh dengan misteri.
Skenario itu terjadi juga menjelang penghujung 2018. Tawaran untuk bergabung INDOPOS, sebuah perusahaan surat kabar yang beroperasi di Jakarta, menawari saya untuk bekerja di sana. Tak tanggung-tanggung, tawaran itu langsung datang dari direkturnya, Rizki Darmawindra.
Bang Rizky-begitu saya menyapanya, mengajak saya untuk ”hijrah” bersama dengan beberapa orang rekan jurnalis lainnya, yang pada 2017 pernah menimba ilmu di INDOPOS. Dua orang rekan itu adalah Zaki dari Samarinda Pos, dan Muakbar, eks-Redpel Kaltara Pos.
Sangat disayangkan, Zaki tak mengambil kesempatan itu. Dia lebih memilih bertahan pada media yang telah membesarkannya. Walau tak sampai setahun, akhirnya dia juga memilih untuk undur diri pada perusahaan tersebut.
Saya dan Akbar pun terbang ke Jakarta untuk berjuang melawan derasnya arus ibukota. Layaknya para perantau lainnya, yang mencoba mencari peruntungan di balik, tipu-muslihat di tengah-tengah kehidupan urban kota termacet di Indonesia itu.
Memang, seiring saya bekerja di INDOPOS, ada banyak ketidakcocokan dengan kultur kerja perusahaan tersebut. Kultur oligarki, kurang egaliter, serta praktik-praktik manajemen politik, menjadikan hati saya kurang sreg dengan media tersebut.
Terlepas dari alasan tersebut, ada juga sejumlah kesalahan yang saya alami. Post-traumatic atau luka masa lalu, rupanya masih membekas di hati saya, sehingga membuat kinerja saya sedikit menurun di beberapa bulan terakhir 2019.
Tentu saya bisa membuat sejuta alasan dan pembenaran. Intinya adalah, saya diserang gejala kegelisahan. Entah mengapa, sejak September 2019, sampai Januari 2020, saya merasakan ada sesuatu yang mengganjal hati. Saya pun jadi uring-uringan. Kerja tidak semangat. Makanan rasanya tidak enak. Sementara itu, tidak ada tempat untuk berkeluh-kesah.
Saya merasa, dunia beserta seluruh isi masalahnya seperti berputar di dalam kepala saya. Merasa ada yang tidak beres, saya pun mencari pertolongan profesional. Ternyata benar. Saya mengalami persoalan tingkat stress cukup tinggi. Sehinga berakibat buruk pada tubuh saya. Sejumlah obat pun diberikan. Sedikitnya saya menghabiskan enam kali terapi, dan sejumlah meditasi untuk menghilangkan mental illness ini.
Setelah melakukan beberapa kali pengobatan secara profesional, saya pun berani terbuka kepada beberapa orang. Pertama adalah sahabat terbaik saya, Muhammad Yusuf Ekaputra. Lalu beberapa orang sahabat yang saya percaya. Terakhir adalah ibu saya, yang saya paham benar bahwa dia akan menerima keadaan anaknya dalam keadaan apapun. Saya sebenarnya agak terlambat memberi tahu ibu. Walau saya tahu itu salah. Sebenarnya, saya hanya tidak ingin membuatnya khawatir. Pun pada akhirnya juga memberitahunya bahwa saya mengalami masalah psikologi, walaupun sudah diobati.
Januari 2020, sepulang dari mendaki Gunung Gede, saya pun membulatkan tekad untuk menghentikan karir sebagai seorang jurnalis. Saya memutuskan untuk menutup bab perjalanan sebagai seorang wartawan. Usai sudah. Tidak ada penyesalan. Menurut saya, karir itu juga diakhiri dengan sangat elegan. Dikarenakan, terakhir saya bertugas adalah meliput di Istana Negara. Tempat presiden bekerja. Bagi saya, itulah puncak karir seorang wartawan. Walaupun tentu saja, pendapat saya itu bisa diperdebatkan.
Tak berselang lama, tawaran untuk bekerja pun sudah datang kembali. Kali ini untuk memulai bisnis. Bedanya, saya bukan sebagai karyawan. Tapi rekan bisnis. Ya, partner. Kami berbagi saham, dan profit. Tanpa pikir panjang, tentu tawaran itu saya ambil.
Di tengah proses memulai bisnis ini, saya juga melakukan perjalanan dari Jakarta ke Cirebon. Ke rumah paman saya. Kakak dari ayah saya. Lain kali, saya ceritakan pengalaman perjalanan yang menghabiskan waktu kurang lebih sekitar 12 jam tersebut.
Bisa dibilang, saya memulai bisnis di saat yang kurang tepat. Di waktu baru saja memulai usaha, wabah Covid-19 kian menggila. Ada kekhawatiran bisnis ini tidak akan bertahan lama. Namun, ternyata prediksi itu bisa jadi salah. Karena saat pandemi dimulai, hingga akhirnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai dilonggarkan, bisnis kami mulai bertahan.
Di rumah saja, ternyata tidak menghalangi bisnis yang kami jalani tetap survive. Tentu masih jauh dari kata untung. Tapi setidaknya ada progress. Meski masih perlu mendapat evaluasi.
Di tengah-tengah masa pandemi ini, saya pun banyak berpikir. Terutama mengenai kejadian pada 2019. Tahun lalu, saya seperti naik roller-coaster. Terkadang saya bisa tertawa dengan lepas. Namun, di waktu yang bersamaan, saya merasa begitu kesepian.
Pandemi pun mengajarkan saya banyak hal. Merefleksikan kesalahan. Membuka mata, hati, dan pikiran untuk menata ulang prioritas yang saya miliki.
Sedikit cerita, saya punya semacam bucket list. Thirty before thirty. 30 hal yang ingin saya lakukan atau kerjakan sebelum berumur 30 tahun. Tentu beberapa hal telah saya kerjakan. Tapi, masih banyak juga yang belum kesampaian.
Akhirnya, di tengah kondisi paling sulit yang pernah dialami manusia di abad ke-21, saya pun menghapus beberapa list tersebut. Menjadikannya lebih spesifik. Filternya sederhana. Saya mulai dengan pertanyaan, ”andai saya tidak mengerjakannya, apakah saya bahagia atau tidak?”.
Pertanyaan itu kemudian yang membuat list saya menjadi lebih sedikit. Dari 30, kini hanya tersisa lima. Salah satunya adalah memiliki media sendiri.
Aneh memang. Apalagi di awal Januari saya memutuskan untuk menghentikan karir jurnalistik. Lantas mengapa saya ingin menjadi media?
Begini. Keinginan untuk memiliki media, sebenarnya telah saya tulis sejak umur 25 tahun. Tepatnya pada 2017. Hasrat itu itu muncul, ketika saya berbincang dengan sahabat karib saya Irfan, untuk membuat sebuah media alternatif berbasis digital bagi warga Berau.
Karena tak memiliki modal, dan sumber daya, saya pun mencoba menawarkan proposal ini kepada Berau Post, media tempat saya bekerja saat itu. Sayang tawaran itu ditolak mentah-mentah.
Berangkat dari mimpi itu, saya pun mencoba melihat peluang untuk membuatnya menjadi kenyataan. Gayung bersambut. Seorang sahabat lainnya, yang saya panggil Bang Luway, menanyakan pertanyaan sederhana mengenai rencana membuat media. Bang Luway ini adalah, kolega saya sewaktu naik Gunung Gede pada akhir Desember 2019.
Pun, semasa orang-orang diwajibkan untuk tetap di rumah, dan bekerja secara online, saya melihat sebuah probabilitas, bahwasannya pertemuan bisa dilakukan kapan saja, dan di mana saja. Selama terhubung dengan jaringan internet, kita bisa melakukan jadwal rapat. Sebuah kejadian yang mungkin tidak pernah dibayangkan 5 tahun yang lalu. Tapi semua itu nyata terjadi.
Karena kemungkinan tersebut, saya mencoba menghubungi orang-orang yang bisa diajak bekerja sama mewujudkan mimpi itu. Tentu saja Bang Luway akan terlibat. Lalu, orang kedua yang ada di benak saya adalah Rusdiono. Rekan seperjuangan ketika bekerja di Berau Post.
Tidak perlu diragukan lagi kemampuan jurnalistik, dan analisanya. Wane-begitu saya menyapanya- adalah orang yang secara pikiran, dan perbuatan, yang bisa dibilang paling bisa menyamai saya. Bukan bermaksud tinggi hati. Tapi begitu faktanya. Sangat sering, kami memiliki ide yang sama saat hendak membuat sebuah liputan khusus. Atau ketika membahas ide mengenai rubrik baru, yang dapat menarik minat pembaca Berau Post.
Apalagi, Wane adalah orang yang bertanggung jawab karena telah meracuni saya mendaki gunung. Karena sudah terlalu percaya, saya pun senang sekali mendaki gunung dengannya. Perasaan selalu aman, dan nyaman ketika saya berjalan beriringan dengannya ketika mendaki gunung. Bahkan, kami mendaki Gunung Salak, yang terkenal mistis hanya berdua saja. Padahal kami berdua tidak pernah sama sekali mendaki gunung yang berada di Bogor, Jawa Barat itu.
Saya pun mengajak Wane. Ditambah saat ini, dia tidak sedang terikat kontrak kerja oleh perusahaan mana pun. Termasuk media. Saya pernah mencoba untuk meminangnya bergabung dengan INDOPOS. Namun, dia lebih memilih bertani di kampungya yang berada di Banyumas, Jawa Tengah sembari menjaga orangtuanya. Sebuah tindakan yang menurut saya harus mendapat penghargaan Nobel.
Wane pun setuju. Saya, Bang Luway, dan Wane akhirnya mulai intens berkomunikasi. Membahas konsep isi konten. Sampai arah media yang akan kami buat nantinya.
Namun, kepingan puzzle menurut saya masih belum lengkap. Di kepala saya terbayang beberapa orang lagi yang harus saya ajak untuk menjadikan proyek ini kenyataan. Beberapa nama, berputar-putar di otak saya.
Nama pertama adalah Ahmad Ridwan Alisyahbana. Dia bisa katakan adalah seorang seniman, paling brilian yang saya kenal. Kami mulai akrab pada 2012. Seorang anak muda lulusan SMK yang kehilangan arah, lalu memutuskan untuk mengambil kuliah jurusan design grafis di Master School of Design di Yogyakarta.
Sangat disayangkan, Ridwan sangat sulit dihubungi. Entah mengapa. Saya tahu tentu dia mengalami banyak masalah di hidupnya yang belum diceritakan kepada saya. Saya juga merasa bersalah karena tidak bisa hadir di saat-saat paling berat dalam hidupnya. Tapi saya meyakini, bahwa Ridwan adalah sosok manusia yang kuat, yang mampu bangkit meski berada di titik paling rendah dalam hidup.
Saya tidak kehabisan akal. Orang lain yang sudah pasti saya ajak, dan pasti tidak akan menolak adalah Irfan. Ya, pria dengan dua orang anak ini adalah pemantik mengapa saya ingin membuat sebuah media sendiri.
Tentu saja, saya tidak perlu khawatir dengan kapabilitasnya. Sebagai seorang entrepreneur sejati yang sejak beberapa tahun terakhir bekerja menjadi karyawan ini, adalah pria paling kreatif yang mampu menyelesaikan sesuatu paling sulit, pasti menemukan solusi atau jalan keluarnya.
Saya tak perlu ragu dengan kemampuannya ini. Beberapa kali saya melihat dengan mata kepala saya ini. Saya pun sering dibuat kagum dengan etos kerja dan kreativitasnya. Pasalnya, tidak mudah bagi saya untuk menjalani beberapa pekerjaan di saat bersamaan. Tapi tidak buat Irfan.
Dia menjalani peran sebagai seorang suami, ayah, karyawan, seniman, pengusaha, bahkan leader untuk teman pekerjanya di saat bersamaan. Jadi ketika saya menjelaskan niat ihwal membuat media ini, dia pun sangat antusias mengenai ide ini. Mungkin dia tidak bisa menjelaskan secara gamblang mengenai perasaannya, ketika saya memintanya untuk bergabung. Air wajahnya memperlihatkan itu dengan sengat jelas.
Tentu saya berani menjamin ini. Sebagai seorang jurnalis dengan pengalaman lebih dari 7 tahun, saya sangat paham ekspresi orang. Jadi saya tahu, ketika diajak, Irfan menyiratkan perasaan bahagia.
Terakhir mengenai Bang Luway, saya percaya adalah sosok yang tepat untuk memimpin tim ini. Saya tidak mau menjadi leader dari sekawanan orang paling berbakat yang pernah saya kenal. Saya tahu peran saya tidak sebagai leader.
Kami butuh seorang konduktor dengan segudang pengalaman. Bang Luway adalah sosok paling tepat. Sepak terjangnya di dunia politik tidak perlu diragukan. Dia mampu membuat ribuan orang untuk meyakini memilih pilihan yang tepat dalam pemilihan umum. Sangat sedikit orang dengan kemampuan seperti itu menurut saya. Tan Malaka yang mahsyur pun tak mampu.
Saya yakin, jalur saya sekarang adalah dari segi bisnis. Entah mengapa, hasrat untuk mempelajari bisnis begitu tumbuh sekarang. Pengalaman sebagai jurnalis sekaligus redaktur rubrik ekonomi mengajari saya banyak hal. Mengenai ekonomi mikro dan makro. Mengenai ketimpangan bagi kelas masyarakat ekonomi lemah, maupun si pemilik modal. Di dalam hati kecil, dan pikiran idealis, saya ingin membengkokan stigma itu. Bahwa sebenarnya ketimpangan itu bisa dikurangi, tergantung dari cara penilaian kita di dalam kehidupan sosial.
Saya ingin membuat sebuah sistem bisnis yang lebih manusia. Yang mendirikan pondasi bisnisnya pada kemanusiaan. Mungkin ini delusi. Tapi jika tidak dicoba, saya belum bisa mengatakan bahwa rencana itu adalah sebuah kegagalan. Toh, pepatah mengatakan, bahwa orang yang merugi adalah orang yang tidak memiliki rencana sama sekali. Jadi lebih baik memiliki rencana, walau itu tidak mungkin.
Saya sangat sadar, bahwa akan ada banyak hal dikorbankan pada proyek ini. Terutama waktu. Tapi saya yakin dengan sepenuh hati, mereka bertiga mau memberikan sedikit waktunya untuk membuat proyek ini bangkit dari dunia mimpi.
Sekali lagi, di tengah masa-masa sulit, saya selalu melihat keburuntungan kerap menghampiri. Di keadaan paling gelap dan kelam, terkadang ada setitik cahaya yang selalu memberi tahu saya jalan menuju kehidupan lebih baik. Meski saya tahu, untuk mencapai titik itu membutuhkan perjuangan dan kerja keras. Toh, titik terang itu ada.
Pandemi bukan halangan. Ada sejuta kemungkinan yang hadir di masa sulit. Terutama bagi manusia yang selalu berharap, dan mau mengerjakannya. Walau tahu jalan yang ditempuh akan penuh cobaan dan tantangan.
Bandung. 10 Juni 2020









