Tak Termiliki
Tubuh jangkung itu menghilang di balik pagar rumahnya yang berwarna hijau tua, tangan kemejanya yang ia gulung sesiku juga backpacknya yang selalu ia gantungkan sebelah, betapa bayangan yag sempurna. mungkin ia baru saja pulang dari tempatnya kerja atau kampusnya, aku tak pernah tahu.
Hampir tiga tahun, setelah rumah besar yang berada di sebrang gang menuju rumahku itu kembali lagi terisi oleh pemilik baru, waktu tak pernah memberi kesempatan kami sekalipun untuk bertegur sapa. Meski selalu ku cari – cari kesempatan itu, namun tak pernah ada.
Bukan sifatku pula yang tiba – tiba bisa menghampiri seseorang, mencari bahan pembicaraan yang remeh temeh, kemudian bisa saling mengenal satu sama lain. Namun terus – terusan bertanya – tanya akan sosoknya saban hari juga terasa menyiksa.
Seringkali ketika hendak masuk shift pagi, ketika aku keluar dari mulut gang rumah, ia pun biasanya muncul dari balik pintu besi rumahnya tersebut di sebrang jalan. Lalu kemudian kami menaiki angkutan umum yang berbeda.
Ia lelaki dewasa pada umumnya, menurut perkiraanku usia kami tidak jauh berbeda. Meski badannya tak berisi namun bukan berarti bisa dibilang kurus, warna kulitnya adalah warna kulit terang kebanyakan orang inDonnesia, ia tak memelihara jenggot, kumis atau bulu buluan lain di wajahnya, pipi tirusnya diarsir dengan baik oleh bentuk rahangnya yang sempurna. Meski jarak terdekatpun adalah selebar jalan yang memisahkan mulut gangku dengan gerbang rumahnya, tak luput membuatku sebegitu detail memperhatikannya. Sedetail kamera ku memotretnya diam – diam dari balik pot sendok tukang soto yang mangkal di depan gang rumahku.
Ckiiiiittt sebuah mobil SUV berhenti tepat di depanku, membuyarkan lamunanku soal sosok sempurna itu.
“cepat masuk” Donne menurunkan kaca jendela mobilnya. Masih menggunakan seragam ia duduk gelisah di belakang kemudinya.
“tumben… jojo siapa yang jemput?” kataku sambil duduk di kursi depan, di sampingnya. ia belum mempercayakan siapapun untuk mengantar atau menjemput anak semata wayangnya itu. Tak biasanya pula ia bisa mengantarkanku saat shift siang seperti ini
“jojo udah aku titip papa, saat ini keselamatan kamu lebih penting” ujarnya sambil mulai menjalankan mobil.
Aku tak segera menanggapi, pekerjaannya sebagai kepala unit kriminal sering membawanya pada banyak situasi genting, mulai dari soal penyergapan atau membawa pelaku atau korban yang terluka parah ke rumah sakit. Seperti dulu ketika waktu pertama kali mempertemukan kami.
“emang ada apa?” aku menatapnya yang masih setengah gusar. Dapat kurasakan ketegangan hampir menjalari seluruh ototnya yang dibalut seragam polisi SUPER KETAT itu.
“nanti malam pulang jam berapa?” tanyanya kemudian, tanpa menoleh ke arahku.
“selesai shift siang ya kaya biasa jam sembilan…” jawabku datar.
“sebelum aku kasih tahu kalau situasinya udah aman, jangan dulu pulang. Tinggal dulu aja di rumah sakit, mungkin sejam atau dua jam..” Donne sesekali menatap ke arahku dan sesekali memperhatikan lalu lintas di depannya.
Aku hanya menatapnya. Berusaha menunggu kelanjutan perkataannya. Ada apa sebenarnya…
“nanti malam bakal ada penyergapan pabrik narkoba di dekat rumah kamu, menurut informan kita mereka ini bersenjata, aku gak mau kamu kenapa – kenapa, kali ini dikasih tahu nurut yaaa” jelas Donne, seakan sedang berbicara kepada jojo.
“ini malam minggu pasien IGD biasanya rame, gak ah….” Belum selesai aku bicara ia segera memotongnya.
“gak ada tapi, gak ada ngeyel, atau aku suruh randy sama giwan nahan kamu di rumah sakit”
Aku hampir menganga mendengarnya hendak mengirim dua anak buahnya itu lagi untuk menjagaku. Lalu dengan setengah kesal “iyaaa deh… tapi jangan kemalaman, takut ketiduran di rumah sakit”
Kami menghabiskan sisa perjalanan menuju rumah sakit tempat ku bekerja dengan berbagai macam perdebatan soal banyak hal, terutama soal ‘kondisi gawat’ yang tadi ia jelaskan. Dia yang biasa bawel soal tidak boleh ini dan itu, juga aku yang biasa tidak mendengarkan perkataanya.
…
“lima tahun bolak balik ke sini aku tidak pernah menyangka kalau rumah besar di sebrang jalan itu merupakan sebuah pabrik narkoba berskala internasional” kata donne dari balik kemudi.
Aku ikut memperhatikan rumah yang dimaksud olehnya. Rumah bercat hijau tua, rumah lelaki itu.
“dua belas pekerja dan seorang bos berhasil ditembak mati di tempat, maghrib tadi” kini donne menatap ke arahku.
Itulah rupanya alasan lingkungan yang biasanya ramai ini mendadak sepi. Sebentar kepalaku hendak menanyakan kondisi Dia. Tapi segera Aku lompat dari jok depan mobil patroli, meninggalkan Donne yang masih merapal panjang lebar soal harus jaga diri dan lain sebagainya. Akku terus menelusuri jalanan gang yang hanya diterangi oleh cahaya beberapa bolham, ku biarkan Donne tak berpamitan, telingaku sedang tidak sedang dalam mood terbaiknya untuk mendengarkan ceramahnya pada waktu dini hari begini. Tiga jam waktu tambahan nongkrong di ruang tidur perawat di rumah sakit bukan sesuatu anugerah, di musim ramai pasien begini.
Beberapa orang dari bagian keamanan lingkungan masih berjaga di sepanjang gang menuju rumahku, ku putar tubuhku sebentar, menatap rumah besar itu, garis polisi terbentang di pagar besarnya. Juga beberapa intel dari kepolisian masih mondar mandir di sana.
Donne, kehadirannya bisa merupa anugrah dan bencana dalam waktu yang sama untuk hidupku. Kami bertemu di IGD rumah sakit tempatku bekerja, ia membawa seorang pelaku curanmor yang babak belur dihajar massa, aku menjahit dan membersihkan lukanya hampir semalaman, waktu yang cukup lama untuk memperkenalkan kami berdua.
Donne adalah orang yang baik, untukku yang sejak sekian lama hidup sendirian di belantara ibukota. Namun ia pun adalah suami dan ayah yang baik di rumahnya sendiri. Di antara banyaknya waktu yang sering kami habiskan berdua, ia adalah kepala keluarga yang selalu ada untuk anak dan istrinya, di setiap momen apapun. Ulang tahun pernikahan, ulang tahun jojo, setiap acara keluarga, bahkan arisan bulanan keluarga mertuanya.
Aku mengetahuinya, karena memang ia yang membagi semuanya, meski tak pernah ku pinta. Meskipun ia tak pernah keberatan ketika ku minta mengantar pergi ke satu tempat dan tempat lainnya. Asal ia sudah berada di rumahnya ketika jam tidurnya tiba.
Ku dorong pintu pagar besi yang sudah lapuk dimakan waktu dan tetanus. Karatan di sepanjang batang – batang besi itu menunjukan dengan baik usia pagar maupun rumah ini. Rumah milik kedua orang tua ku, ralat, rumah milik bank dalam waktu tiga bulan lagi. Ku buang nafas berharap pikiran jelek itupun terbuang juga dari pikiranku. Sebagai satu – satunya warisan mana mungkin bisa ku relakan begitu saja rumah ini, hanya demi menebus hutang papaku dulu.
Pada dasarnya kedua orang tua ku adalah wirausaha, atau pasangan yang senang membuka usaha apapun demi peluang memperbaiki keuangan keluarganya. Mereka berdua datang jauh sebagai perantau dan tak menyisakan sanak saudara. Maka yang jadi pertolongan ketika membutuhkan modal hanyalah sistem korporasi keuangan bernama bank.
Rencana tinggal rencana, di semester awal kuliahku, mama meninggal akibat serangan jantung. Dan tepat setahun lalu, papa menyusulnya setelah penyakit stroke melumpuhkanya selama hampir dua setengah tahun. Semua sisa usaha habis untuk mengobati dan biaya perawatannya. Lalu tanpa kami ketahui, dua hari setelah kepergiannya orang dari bank datang dan menjelaskan soal kemungkinan menyita rumah ini sebagai tebusan untuk hutang – hutangnya.
Gajiku sebagai perawat selama bertahun – tahun tidak mungkin bisa melunasi hutang ratusan juta itu dengan segera. Ketiga kakakku? Owh… setelah memiliki kehidupan sendiri mereka bahkan seperti lupa pernah dibesarkan di rumah ini.
Setelah ku tanggalkan semua pakaian yang ku kenakan, ku hempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Mencoba meluruskan semua tulang belulang dan menyingkirkan semua suntuk karena kelelahan. Berbagai macam pasien, berbagai macam keluhan, dan berbagai macam pengamanan dari donne. Sungguh sebuah hari yang panjang.
“trung trung trung” terdengar suara orang memukul tiang listrik yang banyak berjejar di sepanjang gang lingkungan kami. Mungkin memperingatkan akan bahaya yang bisa saja masih mengancam. Dan membuatku terjaga dari hampir jatuh lelap tertidur.
Sudah jadi kebiasaanku, tidak tertidur dalam kondisi badan bekas dari rumah sakit. Rumah sakit adalah sebuah tempat dengan berbagai macam patogen dan waktu tidur adalah waktu di mana tubuh mampu menyerap apapun yang ada di sekitarnya, aku hanya mengusahakan bahwa tubuhku tidak sampai menyerap hal hal kurang bagus selama jatuh tertidur. Maka jam berapapun aku sampai rumah, mandi dan membersihkan badan adalah ritual wajib yang harus ku lakukan.
Ku tarik handuk yang terbentang di lorong menuju kamar mandi, tempat biasa aku mengeringkannya. Ku nyalakan beberapa lampu untuk menerangiku di tengah gelapnya waktu dini hari begini. Lalu ku tekan tanda on pada saklar mesin pompa air, ketika ku lihat bak kamar mandi yang kosong.
“ctrek ctrek ctrek” berkali kali ku tekan tanda on off pada saklar, namun air tidak kunjung mengalir. Ku pastikan kran air pun pada posisi terbuka. Lalu ku coba menekan saklar lagi.
“ohh tidak jangan ngadat jam segini” beberapa hari lalu donne sempat memanggil seorang tukang ledeng untuk memperbaiki pompa air di sumur belakang rumahku, setelah aku menyerah dan hampir membeli pompa baru. Yang kali ini keputusan itu aku sesali, sudah ku yakini kalau pompa ini memang waktunya diganti.
Ku buka pintu yang menuju ke bagian belakang rumah, tempat pompa dan sumur rumahku berada. Ku gantungkan handuk di leherku. Ku harap bukan kerusakan parah di waktu yang seperti ini. Tanganku meraba dinding mencari saklar untuk menyalakan lampu, ketika sebuah benda yang terasa dingin menempel di betisku.
Aku menemukan warna merah hampir menutupi seluruh teras belakang rumahku ketika lampu menyala dan seseorang yang menodongkan sesuatu kepadaku. Ke betisku tepatnya. Ia tergeletak di lantai. Berlumuran darah. Sebuah luka menganga di atas pelipis kanannya dan tangan kirinya menahan luka lain di balik kemejanya. Deru nafas penuh ketakutan namun mengancam membuatku mematung selama beberapa saat. Apalagi ketika ku sadari sebuah pisau tajam menempel di betis kakiku.
“jangan teriak!” katanya sambil berusaha mengangkat setengah badannya.
Wajah kami saling berhadapan. Di balik warna merah darah yang menutupi sebagian wajahnya, ku rasa aku mengenalnya. Dia…
“o oke” jawabku gugup.
“angkat tangan” komandonya lagi.
Aku menurut, ku angkat kedua tanganku ke udara.
“argh..” ia meringis. Aku dapat dengan jelas melihat darah mengalir deras dari balik kemaja, di pinggangnya.
“oh God, kamu butuh pertolongan…” hampir saja aku menurunkan tubuhku hendak menekan luka di perutnya agar ia tidak kehilangan semakin banyak darah.
Posisiku yang merendah membuatnya kini mengacungkan pisaunya tepat ke wajahku.
“I just try to help” sialan, ketika panik kebiasaanku mengeluarkan kata kata dalam bahasa asing tidak dapat ditahan. Bukan panik karena melihat darah, tapi sebuah belati tajam terarah ke bola mata ku.
Beberapa detik ia menatapku “apa polisi sudah pergi?” katanya lagi seperti bicara ke arah di belakangku.
Ku putar kepalaku, di rumah ini hanya aku saja. Dan dia yang ku temukan tergeletak di belakang rumahku dalam kondisi berdarah – darah ini.
“sepertinya di depan masih ada beberapa..” kelewat penasaran. Aku menyeka darah yang menutupi wajahnya. Reflek ia mencoba menepis wajahku.
“ka..kamu yang di rumah depan itu kan?” pantas kemejanya aku kenali, itu kemaja yang dikenakannya ketika masuk ke dalam rumahnya tadi sore, ketika aku hendak pergi kerja. Dia lelaki dari rumah besar di sebrang jalan, rumah yang ternyata merupakan pabrik narkoba menurut donne tadi.
“oh god kamu harus ke rumah sakit” ku lihat luka selebar lima senti di atas peilipisnya dan masih aktif mengeluarkan darah.
“nggak..” tubuhnya agak bergerak menjauh, tanpa menurunkan sedikitpun arah pisau di tangannya.
Aku tak mempedulikannya, dan malah menyingkap kemejanya yang basah dan berubah telah warna menjadi lebih gelap karena darah. Sebuah luka tembak. Tidak mengenai organ vital hanya saja lukanya cukup besar.
“kamu bisa kehabisan banyak darah, setidaknya kamu harus ke rumah sakit”
Ia mengacungkan lagi pisaunya ke arahku. Sekali lagi kami saling berpandangan. Ku lihat ia mulai menggigil, dan wajah putihnya mulai berubah pucat. Dalam kondisinya yang tampak semakin melemah, tangannya yang mengangkat pisau jatuh lemas ke lantai. Sementara tangannya satu lagi berusaha manahan luka di pinggangnya.
Ku lepaskan kaos yang menempel di badanku, kemudian membuatnya menjadi sebuah lipatan, ku gunakan untuk menekan luka di pinggangnya agar darah berhenti mengalir dan ku ikatkan handukku di atas lipatan kaos ku untuk menekan luka tersebut.
“tolong, jangan rumah sakit” gumamnya semakin lemah.
Aku mengangkat tubuhnya dari lantai, dan memapahnya masuk ke dalam dapur. Ku singkirkan dua buah kantong plastik berisi belanjaanku dan sebuah keranjang buah dari atas meja makan, lalu ku telentangkan ia di sana.
aku lari ke ruang tengah, ku buka laci yang ada di sana, mengambil sebuah infus set dan dua botol cairan infus berisi natrium clorida. dua minggu lalu donne terkena demam tinggi dan meminta aku menginfusnya di sini. Ku gantungkan botol nacl pada pegangan lemari di ruang makan, lalu memasang infusan di tangan lelaki itu.
Selesai dengan infusan, aku lari ke kamarku. Aku tidak menyimpan banyak alat P3k di rumah, apalagi alat untuk melakukan operasi minor. Tapi dua bulan lalu aku mendapat pelatihan tentang penangan kegawat daruratan, ku cari totebag dari pelatihan tersebut. Seingatku di sana ada satu set lengkap alat untuk menjahit luka.
Ketemu. Ku buka laci kerjaku, ku temukan sebuah botol obat merah dan beberap lembar kassa steril cukup untuk menutup dua buah luka tapi tidak akan cukup untuk membersihkannya. Aku lari lagi menuju ruang makan.
Aku hampir lupa, infusannya menetes dengan normal padahal dia hampir kehilangan banyak darah. Kini ku biarkan air mengalir dengan deras dari botol infusan ke dalam selang yang menuju ke pembuluh darahnya. Ku jajarkan semua alat yang ku bawa dari dalam rumah di sampingnya.
Ku buka lemari buffet bagian bawah di dapur, di sana ada beberapa serbet milik yang sejak dulu dengan rapi di tempatkan oleh mama. Ku ambil sebanyak mungkin. Dan ku masak air hingga mendidih di atas kompor, aku tahu ini tidak cukup steril tapi penting untuk menghentikan pendarahnnya dengan cepat dan ku gunakan untuk membersihkan luka juga noda darahnya nanti.
“oh tidak, aku Cuma punya dua botol lidocaine, itu hanya cukup untuk luka di perut sementara yang di pelipis…”
“emhh… tolong….” Gumamnya semakin lemah.
Kebiasaan untuk tidak panik ketika menghadapi jenis pasien apapun di rumah sakit, membuatku berusaha berdiri dengan tegap dan bernafas dengan normal. Pilihannya sekarang adalah aku harus mengeluarkan peluru di pinggannya dan menjahit luka di pelipisnya tanpa dibius sama sekali. Tanpa meminta persetujuanya terlebih dahulu, ku lakukan apa yang menurutku harus aku lakukan terlebih dahulu.
Pukul empat pagi, ketika ku papah ia ke kamar paling belakang di rumahku. Aku telah selesai mengeluarkan sisa peluru yang ternyata berhasil menembus dua senti bagian pinggangnya. Dan ku jahit luka di pelipisnya dengan diselingi rintihan kesakitannya karena aku kehabisan obat bius. Lalu setelah tubuhnya bersih dari semua noda bekas darah dan luka – lukanya sudah tertutup rapi ku ganti pakaiannya dengan baju dan celanaku, betul saja kami memang seumuran dan ukuran pakaian kamipun nampaknya sama.
Ku biarkan ia tertidur dengan selang infus menancap di tangan kanannya. Tangan yang tadi menempelkan sebuah pisau di betisku. Aku segera bergegas merapihkan ruang makan dan teras belakang, menyadari sebentar lagi pagi. Sebelum para tetangga bisa melihat darah banyak mengotori teras belakang rumahku atau donne yang bertanya kenapa alat operasi malah berserakan di atas meja makan.
…
Kandhara Biru, ku letakkan lagi paspor miliknya ke dalam tas kecil yang semalam ia bawa juga bersamanya. Juga pisau belati yang telah ku bersihkan. Tas kecil yang juga berisi dompet dan semua identitas miliknya.
“melihat – lihat barang pribadi orang lain, owh RIP kesopanan” kata sebuah suara di sebelahku. Ia berusaha bangkit dari tidurnya.
“ah..” aku tertangkap basah. Ku bantu ia untuk duduk. “aku alex..” sebagai balasan karena aku sudah mengetahui namanya, ku perkenalkan namaku. “Alex Visval”
“kamu sudah tahu namaku…” ia sedikit memijat keningnya.
“ini..” ku berikan segelas air putih kepadanya “pasti pusing setelah seharian tidur”
Ia menutup mulutnya.
“dan pasti agak mual, aku tadi memasukan obat anti nyeri dan anti radang lewat infusan”
Ia menerima gelas berisi air penuh dari tanganku, kemudian meminumnya perlahan.
“aku tertidur? Bukan pingsan?”
“yap, bisa dibilang keduanya” ku taruh lagi gelas yang airnya baru setengah ia minum ke atas meja.
“berapa lama?” tanyanya lagi.
“ya hampir sepanjang waktuku shift pagi sebenarnya, kalau saja aku berangkat kerja” jawabku sambil berdiri.
“oh maaf, pasti merepotkan sekali ya” ia meringis lagi sambil membetulkan posisi duduknya.
“engga begitu terlalu” aku menjawabnya sambil tersenyum. Oh god, melakukan sesuatu untuk orang yang kita sukai apalagi itu menyelamatkan nyawanya, tentu saja jawabannya pasti akan selalu; mengapa tidak.
“aku andra” ia menjulurkan tangan. “nama lengkapku aku yakin sudah kamu lihat barusan” ia menatap ke arah tas kecilnya yang ku letakan di atas meja.
“ah iya, sorry penasaran soalnya, sebagai perawat udah kebiasaan mencari tahu sendiri identitas pasien yang masuk ke rumah sakit tanpa ada yang mengantar” aku tahu aku mengelak.
“oh iya dan maaf untuk kejadian semalam, aku panik dan tidak bermaksud membuat kamu ketakutan dan terimakasih sudah mau nolong tanpa membawa ke rumah sakit atau melapor ke polisi”
Aku mengangguk pelan.
“apa di depan masih ada polisi?” tanyanya kemudian dengan nada setengah takut.
“kayanya udah gak ada, tadi pas ke apotek beli obat” aku menatap ke arahnya kini “ada apa sebenarnya kalau aku boleh tahu?”
Ia menggelengkan kepalanya lembut sambil tersenyum “oh tentu saja kamu tidak boleh tahu, kami tahu yang setiap hari antar jemput kamu itu polisi, mobil patrolinya mencolok, kan?” andra menatapku, kini dengan sorot mata yang lebih tenang timmbang semalam.
“oh donne…” menceritakan donne padanya saat seperti ini, entah kenapa rasanya seperti akan membuang – buang sebuah kesempatan bagus. “engga kok, dia Cuma teman doang.. ya kami kebetulan satu tongkrongan…” aku berusaha mencari alasan lain yang lebih meyakinkan. “kami mengikuti kelas thai boxing sama – sama” meski benar kami berdua memang mengikuti sebuah kelas thai boxing tapi tetap aku merasa berbohong padanya.
“wah… padahal seharusnya semalam aku bisa saja mengancam orang yang salah ya, orang yang justru bisa membunuhku dengan sekali pukul” senyum andra mengembang. Senyuman yang selama ini tidak pernah aku lihat sekalipun. Ia… terlihat.. lebih … manis… ternyata “kamu seharusnya tidak usah bertanya ada apa, pasti teman kamu itu sudah cerita” mungkin donne maksud andra lagi “dia seorang kepala unit kriminal kan?”
“hemm…” aku mengedikan bahuku “kalian pasti organisasi yang cukup hebat sampai tahu dia sampai sedetail itu, padahal selama ini donne tidak pernah tahu sama sekali kalau rumah kamu itu…” aku rasanya enggan melanjutkan perkataanku.
“sarang penjahat?” andra seolah menebak isi pikiranku. “pabrik narkoba?” ia tersenyum lagi. “kota besar semacam jakarta ini hal – hal seperti itu harusnya tidak terlalu mengejutkan bukan?”
Aku mengangguk agak setuju. Sambil mendengus…
“kenapa? Kamu kelihatannya agak kecewa?” tanyanya lagi. Sebuah pertanyaannya yang cukup mengejutkanku sebetulnya. Sebetulnya sejak awal pembicaraan kami, aku agak kikuk dibuatnya.
“ah tidak…” aku melangkah ke sudut lain ruangan. “aku juga berpikir sama seperti donne, rumah kamu yag kelihatannya tenang ya seperti rumah pada umumnya..”
“kalau saja jaringan kami di hongkong tidak tertangkap duluan, mungkin kami juga tidak akan berakhir seperti ini” ia membuang nafasnya panjang sambil menyenderkan kepalanya di bahu ranjang.
“kalau kamu merasa tidak nyaman untuk menceritakan ini, kamu sebenarnya tidak perlu cerita” kataku.
“tidak apa – apa, lagipula aku sekarang ada di sini, kondisiku seperti ini, mau melarikan diri kemana? Aku ada di rumah seorang yang berteman baik dengan seorang polisi”
“oh don’t worry about that” aku berusaha meyakinkannya “kamu aman di sini” jauh dari dalam hatiku, aku bahkan bersedia menyediakan tempat persembunyian paling aman buatnya.
“tunggu kamu dokter?”
“bukan, perawat” jawabku cepat.
“oh… pasien – pasien kamu beruntung pastinya, pernah berada di tangan orang sebaik kamu”
Ku rasakan pembuluh darah di seluruh wajahku agak menghangat.
“dari mana kamu bisa menebak aku orang baik”
“karena kalau tidak, sudah pasti aku tidak ada di sini sekarang, kamu bisa lapor polisi atau teman kamu itu”
Aku tersenyum, mengiyakan perkataanya lagi, padahal ada alasan lain kenapa aku rela menampungnya di sini.
“kejahatan yang kalian lakukan pasti sangat luar biasa dan perlawanan yang kalian lakukan pun pasti sangat mengganggu..”
Ia mengangguk. “kami hanya tidak menyangka kalau polisi akhirnya tahu, walau kami sudah mempersiapkan diri pada kondisi apapun. Ini sebenarnya bisnis kakakku, dia yang membawaku ke sini. Aku masih berusaha mencari pekerjaan normal setahun belakangan ini, tapi kamu tahu sendiri pekerjaan sekarang semakin susah bukan?”
“lalu bagaimana bisa melarikan diri?”
“aku lompat dari kamar depan, yang di atas, langsung ke jalan raya, waktu itu lagi ngerokok sama salah seorang pekerja kakakku, makanya dapat ini” ia menunjuk pelipisnya “kena trotoar ketika lompat, kalau tembakan sepertinya itu peluru yang kena ke temanku duluan”
Aku diam memperhatikan.
“oh iya, bagaimana kondisi luka – lukaku”
“keduanya tidak terlalu parah sebetulnya, luka yang di pinggang walau cukup lebar untungnya tidak mengenai perut bagian dalam, peluru hanya mengenai tepi pinggang dan tertinggal di sana karena mungkin pelurunya sebelumnya mengenai teman kamu dulu”
Ia mengangguk.
“tapi tetap saja kamu butuh istirahat dulu, meskipun harus belajar berjalan secepatnya untuk melancarkan peredaran darah” “oh iya, kamu pasti lapar, mau aku buatkan pasta? Maklum tinggal sendirian jadi gak terlalu banyak makanan”
“kalau tidak merepotkan…” balasnya sambil tersenyum.
“kenapa Cuma tinggal sendirian di rumah sebesar ini?” tanyanya sambil memakan satu sendokan terakhir pasta buatanku.
“hah?” kataku dengan tatapan minta diulang pertanyaan darinya, walaupun sebenarnya cukup terdengar olehku. “emhh… kedua orang tua ku sudah meninggal dan kakak – kakaku semuanya sudah berkeluarga..”
“kalau pasangan?” ia meletakan piringnya di meja sebelah tempat tidurnya.
Aku menggeleng sambil tersenyum padanya. “mungkin belum waktunya..”
“ah iya… biaya pernikahan jaman sekarang memang gila” di balik sosoknya yang ku pikir tidak banyak bicara, ia justru adalah orang yang sangat enak buat teman ngobrol, mungkin citranya selama ini untuk menutupi pekerjaan dan bisnisnya.
“sebenarnya bukan itu alasannya”
“lah terus apalagi? Kamu perawat, pekerjaan yang cukup mapan, penghasilan sudah lumayan, seenggaknya gak usah mikir lagi juga kan buat makan, kalau tidak ada yang mau, aku tidak percaya…” ia tertawa.
Aku mengikuti tawanya. “ya kadang kan hidup Cuma gak semudah itu aja…”
Ia diam sejenak, mungkin berpikir tapi kemudian melanjutkan lagi. “tapi pasangan ada kan?” ia seolah meyakinkan.
Aku kepikiran donne, aku mengangguk “ada… tapi…”
“tapi?” ia mengulang sambil bertanya.
“gak terlalu yakin, dia lagian sebenarnya sudah punya pasangan yang resmi dan ada orang lain yang aku sukai” aku mengangkat wajahku dan menatapnya.
Ia membalas tatapanku selama beberapa saat. “ahh.. betapa rumitnya, hidup memang gak mudah..”
“tok tok tok” terdengar seseorang mengetuuk pintu depan.
“siapa?” tanya andra waspada.
“emhh donne kaya nya” seharian ini aku tidak memberi kabar padanya. Sudah pasti ia akan menyusul ke sini. “ini jam dia buat jemput anaknya, pasti gak bakal lama kok di sini, kamu di sini aja, jangan ke depan, takut donne mengenali kamu”
Andra diam mematung di tempatnya. Sementara aku berlari menuju ruang tamu, menyambut donne yang sudah berdiri cemas di depan pintu.
“kamu kemana? Kenapa tidak ada kabar? Kata teman – teman kamu di rumah sakit kamu hari ini gak masuk shift pagi? Kamu sakit? Aku telpon dari tadi kenapa gak diangkat – angkat?” donne meluncurkan serentetan peluru tanda tanyanya sambil mendorong tubuhku masuk ke dalam rumah dengan langkah – langkah kakinya.
“ah iya, tadi pagi aku agak demam, mungkin karena semalam mandi terlalu malam, udah bilang sebenarnya tadi ke kepala UGD aku gak masuk” aku berdiri menghentikan langkah – langkah donne agar tidak masuk terlalu jauh ke bagian dalam rumah “kalau soal hp kayanya masih di charge di kamar dan aku ketiduran, barusan abis makan di dapur” aku menunjuk piring kotor bekas pasta di atas meja makan yang terlihat dari ruangan depan.
“kamu jangan sering – sering bikin khawatir coba. Sudah tau kondisi di sini lagi gak aman, pake acara ngilang – ngilang segala”
“I iya maaf..”
Tiba – tiba kedua telapak tangan donne ia tempelken di kedua belah pipiku. “kamu pucat, udah minum obat kan?”
“udah… udah..” aku coba menenangkannya.
“aku suka kesel kalau keadaan kaya gini, aku gak bisa nemenin kamu padahl di waktu yang bersamaan kamu lagi butuh aku..”
“aku gak apa – apa don, beneran”
“are you sure?” tak ada tanda – tanda donne akan melepaskan kedua tangannya dari wajah dan leherku..
“iyaa…. Bukannya sekarang waktunya kamu jemput jojo ya?”
Ia malah memejamkan mata dan menempelkan dahi kami berdua “iyaa…” desisnya lemah “kamu gak tahu gimana semaputnya aku mikirin kamu yang seharian ini gak ada kabar”
“sorry….”
Tak terduga, dengan kedua matanya yang masih terpejam donne menciumku di bibir. Aku hanya berusaha membalasnya ala kadarnya. Hingga akhirnya ia berpamitan pergi lagi.
“teman di club boxing emang diharuskan mencium di bibir ya?” sebuah suara mengagetkanku ketika aku masuk lagi ke dalam rumah.
“ah eh…”
Andra hanya tersenyum melihatku. Ia berdiri sambil memegang botol infusan di tangannya. Aku yang salah tingkah bergerak ke arah kran air dan mengambil minum.
“jadi dia yang sudah berpasangan resmi itu?”
Aku tak segera menjawabnya. Hanya berusaha menghabiskan segelas penuh air putih di tanganku terlebih dahulu.
“hidup tak semudah itu kan..” aku mengedikan bahu ke arahnya.
…
Ku biarkan cangkir kopiku yang berisi setengah lagi menjadi dingin. Aku sudah terlalu kenyang. Donne di depanku sedang memberikan sejumlah uang pada pelayan restoran, membayar makan siang kami. Waktu istirahat siangku hanya tinggal lima belas menit lagi. Ia merapihkan sesuatu di dalam tas kerjanya dan meletakan sebuah folder file berlogo pengadilan di atas meja. Ku kira itu sebuah file biasa, sebelum ku sadari ada namanya tertera di atasnya.
“file apa itu don?” sebenarnya aku tidak terlalu sering bertanya soal urusan pribadinya, termasuk pekerjaan atau kehidupannya. Namun file ini agak sedikit mencurigakan.
“bukan apa – apa..” jawabnya singkat. Kemudian ikut memasukan file tersebut ke dalam tasnya.
“oke, aku tidak mau bicara sama kamu sebelum kamu cerita sedang ada apa sebenarnya” suaraku agak meninggi.
Sesuatu yang donne takutkan jika kami sedang berada di tengah keramaian begini.
“surat pengajuan cerai”
Aku menegakan posisi dudukku dan hampir saja sikuku menumpahkan cangkir kopi di depanku.
“siapa yang mau cerai?” tanyaku seketika.
Donne tak segera menjawab, ia hanya menatapku beberapa saat.
“don…” ku cari pandangan donne, ketika ia berusaha menghindari pandanganku dan menatap ke arah lain.
“aku dan tania”
Aku kembali menyandar pada kursi tempatku duduk “enggak…”
Donne menggerakan tubuhnya condong ke arahku, seperti biasa tatapan matanya berusaha menenangkan. “biar ini jadi keputusan aku lex”
Aku menggelengkan kepala, aku benar – benar takut hal itu terjadi, bahwa aku bisa menjadi penyebab hancurnya janji suci orang lain.
“tenang saja bukan kamu alasan kenapa ini terjadi”
Donne seakan tak mau membuatku khawatir, ia menggenggam pergelangan tanganku.
“terus kenapa?”
“its not work…” donne kini menyandarkan punggungnya. “aku pikir ini bisa berjalan mudah, tapi ternyata engga. Aku pikir bisa terus pura – pura, tapi ternyata enggak..”
“don, kalau ini semua ada sangkut pautnya sama aku, aku yang pergi, jangan korbankan tania sama jojo”
Donne menggeleng.
“aku yakin kamu manusia dewasa, ini murni keputusan aku” donne memegang tanganku erat. “aku sayangnya Cuma sama kamu lex”
Aku mengangkat tubuhku dari kursi restoran, lalu meninggalkannnya di sana. sekian lama berkutat dengan hal ini, baru kali ini aku merasa begitu bersalah.
…
“rumah ini dalam proses penyitaan bank” ku robek stiker tersebut dari tembok depan rumahku. Meski aku pun belum tahu bisa membebaskannya dengan cara apa. Aku sama sekali tak akan menyalahkan keputusan papa atau mama dulu, hal itu sudah lama berlalu. Membenci ketiga saudaraku? Karena sudah hidup enak dan tidak ikut pusing memikirkan nasib rumah ini juga ku tahu Cuma membuang – buang energiku pada akhirnya. Sementara mencari jalan keluar untuk melunasi semua hutang itu pula masih berakhir buntu.
Aku bisa saja membiarkan bank menyita rumah ini, atau rumah ini ku jual dulu pada developer kemudian uangnya sebagian ku pakai untuk melunasi hutang tersebut. Lalu aku mencari hunian baru di pinggir kota sambil perlahan meniti karir ku sendiri di rumah sakit. Tapi bukan itu maksudku. Aku lahir dan di besarkan di rumah ini, rasanya terlalu murah jika harus menjual semua kenangannya begitu saja.
Ku simpan robekan stiker tadi di atas meja ruang tengah. Tiba – tiba saja andra berdiri di depanku, membuatku terperangah dan kaget dibuatnya. Aku lupa kalau di dalam rumah ini tak hanya ada aku saja sekarang.
“sorry, bikin kaget ya, tadi ada orang yang ngetok ngetok rumah, aku pikir temannya si polisi, tapi mereka Cuma nempelin sesuatu di tembok luar sama masukin amplop itu lewat celah bawah pintu” andra menunjuk amplop putih yang tergeletak di atas meja ruang tamu.
Aku hanya menghela nafas.
“have bad day di kerjaan?” andra mengambil kursi dan duduk di depanku.
Aku mengangguk kecil.
Ia mengulurkan tangannya. “infusan udah boleh dilepas kan? Udah bisa makan sama minum ini..” katanya sambil tersenyum lagi.
Tanpa banyak kata aku pun membuka selang infusan yang memang sudah andra minta untuk buka sejak tadi pagi, namun aku menolaknya, takut cairan dalam tubuhnya belum begitu seimbang. Namun ku janjikan sore ini untuk melakukannya.
“hari ini segitu buruknya ya?” tanya andra lagi sambil berusaha mencari tatapanku.
Aku tak menjawabnya. Sampai semua selang dan botol infusan lepas dari tubuhnya.
“hidup semakin kita tua malah makin ribet ya”
“gak seribet jadi buronan akibat bikin bisnis narkoba bro” jawabnya kini sambil tersenyum lebar.
“tapi lebih ribet jadi buronan akibat ngerusak rumah tangga orang” sahutku asal.
“ow..”
Hening sejenak di antara kami berdua. Jari – jari tanganku mengetuk ngetuk meja di depanku.
“something happen?” tanya andra lagi.
“ya, donne mau menceraikan istrinya”
Andra diam sejenak, sambil mengangguk – angguk kemudian dia bilang “bukannya harusnya kabar bagus buat kamu ya?”
Aku menggeleng cepat.
“bukan itu yang aku inginkan, maksud aku sama donne gak kaya gini”
Ku kira andra tak cukup mengerti bagaimana sebenarnya keadaan kami.
“ada hal yang memberatkan kamu lex?” aku hanya meliriknya sekilas “seseorang sedang membuat keputusan besar hanya untuk memperjuangkan kamu, kan? Maaf kalau aku berpikir terlalu jauh…”
Kali ini aku pikir malah andra bisa membaca begitu jauh apa yang terjadi antara aku dan donne bahkan tanpa aku jelaskan.
“kurang lebih seperti itu, tapi rasanya ada yang salah”
“apanya yang salah?”
Aku menatap andra beberapa saat, sosok yang tiga hari lalu namanya saja aku tak tahu kini bahkan bisa mengetahui tentangku bahkan hingga sejauh ini.
“aku juga gak tahu..”
“aku boleh bantu mikir gak lex?”
Aku mengangguk pada andra.
“sekarang coba sebutkan apa kekurangan donne atau letak sesuatu yang menurut kamu salah…”
“emhhh… dia sudah menikah, dia posesif, dia sedikit agresif, ada kecenderungan mengontrol semua yang dia miliki”
Andra mengangguk – angguk kecil. “sekarang coba sebutkan kelebihannya”
Aku berpikir sejenak “dia selalu ada waktu…” aku menimbang yang lainnya lagi “dia selalu memperhatikan hal – hal kecil, dia tak pernah menyerah…”
“lebih banyak nilai positifnya dari dia kan? Lalu kenapa tidak lex?”
“kenapa harus menjadi penghancur kebahagiaan orang lain? Seandainya bisa mencari sumber kebahagiaan sendiri..”
Andra memicingkan sebelah matanya. “ah.. aku ingat ada sosok yang itu ya…” aku membalas tatapannya, penasaran dengan sosok mana yang ia maksud “sosok lain yang kamu suka”
Aku menundukan kepala, tak berdaya pada pertanyaan terakhir andra.
“Benar begitu ya lex?”
Aku mengangguk pelan.
“ada orang lain yang kamu inginkan lex?”
Aku mengangguk lagi.
“orang itu tau kamu suka sama dia?”
Aku menggeleng, tak terlalu yakin. Mungkinkah tak terbaca…
“yah alex….”
Entah kekuatan dari mana di tengah ke galauanku sendiri yang membuatku berdiri tubuhku menimpa tubuh andra yang duduk di depanku, lalu ku arahkan bibir ku kepada bibirnya yang sepertinya hendak berbicara lagi. Sambil memejamkan mata. “orang itu kamu ndra…”
“owh… sorry…” aku menjauhkan tubuh dari tubuh andra yang kini duduk mematung setengah terkejut melihat apa yang aku lakukan kepadanya. “berbulan – bulan aku terus membayangkan bagaimana itu rasanya…” kataku pada ciuman barusan.
“not bad…” ujar andra sambil menghembuskan nafas dan tersenyum lagi.
Aku pikir keadaan akan membaik tapi aku malah memperparahnya, ku putar badanku lalu melarikan diri keluar dari rumah.
…
Pikiranku masih melayang jauh pada semua persoalan yang terjadi hari ini, keputusan donne sudah pasti bukan keputusan mudah untuknya. Setidaknya sudah banyak waktu yang ia habiskan untuk mempertimbangkan hal ini. Meski kami sesekai pernah membicarakannya, namun bukan keinginanku agar ia bisa memilih aku untuk hidupnya pada akhirnya. Jika kehidupan donne merupa sebuah jalan bebas hambatan, aku berpikir tak apa jika olehnya aku hanya dianggap sebuah rest area. Bukan tujuannya, bahkan untuk dijadikan tempat pulang. Dosaku terlalu berat ketika diampuni dan menerima kemurahan hati sebesar itu.
Aku menyukai sosok seperti andra hampir terjadi sepanjang hidupku. Sejak hari pertama hatiku mengenal cinta. Tapi kesempatan yang terjadi antara aku dengannya selama tiga hari ini, memunculkan keberanian besar yang bahkan selama ini tak pernah aku sangka akan muncul ke permukaan. Lalu entah keputusan bodoh dari mana yang bisa – bisanya membuatku berpikir bahwa tidak apa – apa mencium bibirnya.
Dua jam lebih ku habiskan waktu berkeliling tanpa tujuan di angkutan umum, naik dan turun dari satu halte ke halte lainnya, lalu menjelang waktu petang aku putuskan untuk mampir ke sebuah pusat perbelanjaan. Mengingat stok makanan di kulkas dan belanja bulanan sudah waktunya. Meski halte tempatku turun sekarang cukup jauh dari rumah letaknya.
Supermarket tentu saja tidak akan ramai di rabu sore begini, paling hanya segelintir pasangan yang mencari bahan pangan sampingan yang habis di rumahnya atau lajang yang kehabisan stok mie instan seperti yang datang ke sini. Aku menelusuri lorong demi lorong rak – rak supermarket yang menjulang bahkan hingga menyentuh langit – langit.
Lalu di sana, di ujung lorong yang berisi buah – buahan dan ikan – ikan yang masih hidup, dia berdiri di samping istrinya sambil menggendong anaknya. Dengan membicarakan satu atau dua hal. Dengan keadaan yang cukup baik – baik saja, cukup baik untung pasangan yang hendak bercerai.
Aku memutar langkah kemudian pergi secepatnya kembali ke halte tadi tempat angkutan umum menurunkanku ke sini, segera menaiki angkutan tercepat yang datang lalu membawaku pergi dari tempat itu. Pikiranku masih tertinggal di sana. di tengah tawa sebuah keluarga yang kebahagiannya hendak ku rampok dan ku hancurkan.
Pagar rumah terbuka ketika aku pulang, pintu depanpun tak terkunci. Lalu tak ku temukan andra di manapun di dalam rumah, ia pergi bahkan tanpa sempat berpamitan, tanpa mengucapkan sepatah katapun.
…
Beberapa bulan berlalu….
Aku duduk pada kursi di nurse station, beberapa menit menjelang waktu pulangku. Beberapa orang teman juga dokter duduk di kursi lain, ikut menanti yang akan bekerja pada shift berikutnya, menyerahkan status beberapa pasien yang baru masuk hari ini dan setelah itu kami dapat melepaskan diri dari rutinitas yang kadang terasa mencekik namun menyenangkan di waktu bersamaan.
Seorang office boy menghampiriku, ia menyerahkan sebuah amplop berwarna kuning tua dan berprangko Amerika. Aku mencari sudut di dalam ruangan, hendak membuka apa isi di dalamnya. Sebuah surat dan beberapa lembar kertas lain di belakangnya.
Dear: Alex Rhanabumi
Hai lex, apa kabar? Bagaimana hidup? Masihkah tidak mudah seperti biasanya? Aku harap tidak, seperti yang telah kamu berikan kepadaku. Ya walau itu hanya berupa waktu.
Waktu tiga hari terbaik yang sampai saat ini tak henti aku syukuri pada Tuhan karena pernah memberikannya. Ia betul – betul bermurah hati dengan menuliskan takdir bahwa aku bisa bertemu orang sebaik kamu. Ya bahkan kamu terlalu baik untuk menerima bahkan menyukai penjahat seburuk aku.
Lalu hal berikutnya yang tak pernah akan aku hilangkan keberadaannya adalah sentuhan kamu, sentuhan bibir kamu, sentuhan hidup kamu untuk hidupku yang telah merubah semuanya. Keberuntungan yang tak akan pernah bisa dimiliki oleh sembarang orang, yaitu bisa diberikan kesempatan berada satu ruang waktu dengan kamu.
Kamu menyadarkan aku akan suatu hal lex, bahwa cinta itu universal dan ada, cinta itu harusnya tak hanya memutus antara baik dan buruk saja tapi bisa melebihi kedua hal itu. Lalu kenapa aku pergi dari sebuah keberuntungan yang langka tersebut? Karena buatku aku terlalu kecil untuk sesuatu yang lebih besar yang lebih bayak kamu dapatkan.
Sedetik setelah kamu keluar dari pintu, aku begitu merasa beruntung, bahwa aku bisa menerima cinta sebesar itu. Dalam hidupku yang begitu hampa dan tak pernah mengenal apa itu cinta, kamu mengetuk dan memperkenalkannya bahwa hal itu merupakan sesuatu yang luar biasa. Kebaikan hati kamu, kerelaan kamu menyelamatkan nyawa seseorang yang bahkan bisa saja sebenarnya mengancam nyawa kamu sendiri. Tapi kamu tidak, kamu melakukannya. Entah demi cinta entah demi apa, tapi yang aku rasa itu adalah sebuah keajaiban nyata yang bisa dibawa oleh hati seorang manusia.
Lalu di detik berikutnya, aku sadar akan hal lainnya, benar kata kamu kenapa harus menjadi penghancur kebahagiaan orang lain? Seandainya bisa mencari sumber kebahagiaan sendiri. Aku tidak pernah melihat tatapan setulus donne ketika mengkhawatirkan kamu, sesuatu yang tentunya tidak akan pernah bisa aku berikan terhadapmu. Jika saja aku begitu merasa begitu beruntung akan kehadiran kamu di hidupku, bukannya harusnya begitu pula kamu merasa akan kehadiran donne di hidupmu? Lalu ketika kamu merasa telah menghancurkan kebahagiaan mereka, apa bedanya jika aku tetap memaksa menginginkan kamu? Kebahagiaan macam apa yang nantinya akan aku dapatkan jika ku peroleh dengan menghancurkan milik orang lain? Aku yakin kamu setuju pada hal ini.
Aku harap kamu tidak marah padaku, lex. Aku tetap menyayangi kamu dan jangan menggeleng tanpa jawaban lagi ketika orang lain bertanya soal isi hatimu.
Dallas, USA
Kandhara Biru
P.S aku tahu beberapa lembar berikutnya mungkin tak sepenuhnya menyelesaikan masalah kamu, namun dibandingkan yang telah kamu lakukan untuk hidupku, ini semua tidak ada apa – apanya. Oh ya, satu lagi, aku sudah mencetak foto-fotoku yang ada di kamera kamu. Aku harap suatu saat bisa mendapatkan balasan berupa foto- foto kamu bersama donne.
Ku buka lembar berikut yang ia maksud, sebuah cek berisi 50.000 dollar menyembul dari balik surat yang pertama. Aku tak tahu jika andra waktu itu membaca surat penyitaan dari bank. Ku angkat kepalaku, ketika ku lihat di pintu ruangan Donne sudah berdiri menjemputku pulang.
….
B)���














