langgeng
“Bagai sang surya menyinari dunia”
Bukan satu-dua kali saya membaca, “forever daddy’s little girl” tertera di kolom bio media sosial sebagian teman perempuan. Maknanya, jelas tidak perlu disangsikan karena saya melihat bahwa perempuan yang sudah beranjak dewasa akan selalu dipandang sebagai “tuan putri kecil” oleh ayahnya sampai kapanpun. Di sisi sebaliknya, laki-laki dewasa sebetulnya boleh menuliskan, “forever mommy’s little boy” di kolom bio mereka andai tak dikalahkan oleh rasa gengsinya.
Kata “forever” yang tersemat di kalimat tersebut sejalan dengan bunyi pepatah klasik, kasih orang tua sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Kasih sayang orang tua langgeng membersamai perjalanan kita bertumbuh dewasa hingga tutup usia. Biarpun kelak usia kita menembus angka 30 atau 40 tahun, perhatian mereka akan tetap tercurah utuh seolah kita adalah anak yang baru bisa mengikatkan tali sepatu sendiri.
Lalui masa-masa dewasa seperti biasa dan temukan kenyataan bahwa ayah & ibu masih saja memendam kecemasan yang sama setiap kali kita pulang terlambat. Setiap kali kita jatuh sakit setelah dewasa pun, kita tidak cemas sendirian. Bahkan kecemasan mereka sering melampaui kecemasan kita terhadap diri sendiri. Ada saran berobat yang tetap disampaikan dengan penuh perhatian walau mereka yakin kita pun bisa memutuskannya sendiri.
Lalui masa-masa dewasa seperti biasa dan temukan kenyataan bahwa ayah & ibu masih membelikan barang-barang kecil yang mengingatkan mereka kepada kita. Baik berupa bacaan, aksesori atau cemilan kesukaan. Semua tetap dilakukan oleh keduanya walau mereka tahu kita pun bisa membelinya sendiri. Semua tetap dilakukan secara tulus karena kita yang telah bertumbuh setangguh ini, sampai kapanpun akan selalu menjadi tuan putri dan pangeran kecil di benak mereka.
Tapi, bukan rahasia umum lagi kalau wujud kasih sayang orang tua yang sedemikian berlimpah itu rentan disikapi dengan tidak semestinya oleh kita sebagai anak. Nyatanya, kita begitu akrab dengan peribahasa “air susu dibalas dengan air tuba”. Mungkin secara tidak sadar kita pernah menjadi pelaku isi peribahasa tersebut dengan berlaku buruk terhadap orang tua di banyak kesempatan.
Seorang sahabat yang telah menjadi ayah dari sepasang putra-putri pernah bercerita bahwa masa efektif bagi para orang tua untuk membangun pondasi hubungan dengan anak-anak mereka sebetulnya tidak lebih dari 12 tahun. Karena setelah anak berusia 12 tahun lebih, secara naluriah ia akan dihadapkan pada pilihan untuk “menyusun” daftar prioritas hubungan sesuai dengan lingkungannya. Mungkin ia menomorsatukan gengnya, menomorduakan lawan jenis yang ia anggap segalanya atau menomortigakan teman-teman ekskulnya.
Lalu di urutan berapa mereka menempatkan hubungan dengan orang tua? Sahabat saya berujar, “Kalau beruntung, 12 tahun masa yang sudah diinvestasikan oleh para orang tua akan membuahkan hasil manis berupa penempatan peringkat satu untuk hubungan keluarga pada daftar yang disusun oleh anak-anaknya. Kalau enggak, artinya sang anak akan menempatkan hubungan keluarga entah di nomor berapa”
Saya sedih waktu mendengar bentuk ketidakadilan tersebut. Ironis. Saat orang tua mengerahkan hampir semua hal yang dimiliki dalam kurun waktu yang dibatasi ajal, ternyata “forever daddy’s little girl” dan “forever mommy’s little boy” mereka masih mungkin mengesampingkan keduanya demi hal-hal lain begitu sementara. Mungkin persahabatan, asmara atau prestasi. Saat kasih sayang mereka terhadap kita selanggeng itu, namun kasih sayang kita terhadap mereka sesingkat itu.
Padahal, sehancur apapun kondisi kita atau sebrengsek apapun perilaku kita, sepasang tangan mereka selalu terulur untuk memeluk dan menenangkan kita saat diminta. Lisan mereka selalu siap dibasahi kapanpun kita minta didoakan. Bibir mereka selalu ada untuk mengecup ubun-ubun kapanpun kita minta disayangi. Semua dapat dilakukan dengan satu catatan penting: selama mereka masih ada.
Durasi kasih sayang yang tidak masuk akal tersebut bisa bertahan sedemikian rupa karena ibu-ayah kita dianugerahkan-Nya kekuatan hati yang luar biasa untuk melakukan satu hal sederhana: hanya memberi, tak harap kembali. Maka, selama mereka masih ada, mari kerahkan sebaik-baiknya bakti. Sebelum terlambat. Sebelum kita dihantui rasa sesal yang pedihnya begitu langgeng.
ummi dan abi, mamah dan babeh.
bogor dan serang.
terimakasih atas segala yang segala.











