Maka bagaimanakah, dengan diriku?
“Ketika hati seseorang telah terikat dengan Al-Qur’an, maka jiwanya akan tenang, dan perasaannya menjadi tentram. Dan tidaklah orang dewasa ataupun anak-anak yang membacanya kecuali dengan perasaan khusyu’, dengan keagungan (Al-Qur’an) akan mengendalikan jiwanya. Dan juga menundukan perasaan hatinya.”
Adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang ketika itu ditunjuk oleh Rasulullah ﷺ untuk mengimami shalat jama’ah namun dengan segera ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh Abu Bakar adalah lelaki yang berhati sangat lembut. Jika ia menggantikanmu menjadi imam, orang-orang tidak akan bisa mendengarkan suaranya karena banyak menangis.”
Diketahui, bahwa dari kalangan para sahabat, Abu Bakar radhiyallahu anhu adalah orang yang paling mudah menangis ketika mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Jiwanya yang begitu lembut, membuat tetes-tetes air matanya begitu ringan untuk berjatuhan dari kelopak matanya.
Dan sungguh, hati ini begitu merasa iri, merasa terperas dan teriris ketika suatu hari melihat seorang anak yang melantunkan ayat Al-Qur’an kemudian tiba-tiba terhenti. Ia sesenggukan, dan menangis.
Hingga bertanyalah seseorang di sampingku, “Kenapa sih, kok menangis? Memang apa arti ayat yang dibacanya?”
“Dan tidaklah Muhammad kecuali hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” {QS. Ali Imran 144}
Beberapa abad silam, dari balik ayat ini, telah ada tumpahan air mata yang begitu banyak. Berjiwa-jiwa sudah menangisi seorang utusan Allah yang kembali pulang kepada-Nya. Ummatnya merasa kehilangan, merasa tidak percaya bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat dan tidak lagi membuka matanya. Dada-dada tergoncang, sampai-sampai ‘Umar ibn al-khaththab berkata, “Siapa yang mengatakan Rasulullah telah meninggal, maka akan aku penggal lehernya!”
Maka berkatalah Abu Bakar, “Barangsiapa yang selama ini menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa ia telah wafat. Namun barangsiapa yang selama ini menyembah Allah Ta’ala, maka Ia adalah Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan mati.”
Lalu, terlantunlah ayat yang pernah Baginda ﷺ katakan, sehingga terlantunlah kembali ia dari lisan Abu Bakar Ash-Shiddiq,
“Dan tidaklah Muhammad kecuali hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” {QS. Ali Imran 144}
Maa syaa Allah.. teruntuk diriku, setinggi apakah benteng itu berdiri kokoh sehingga membatasimu begitu jauh dengan Al-Qur’an? Sekeras apakah hatimu, sehingga mendengarkan saja, mata itu kering lagi dada itu kosong dari pemahaman terhadapnya?
Tidakkah engkau merasa malu, kepada anak-anak yang begitu semangat menuju rak Al-Qur’an daripada novel-novel launching terbaru yang selalu menjadi incaranmu?
Tidakkah engkau merasa malu, kepada anak-anak yang menangis ketika membaca perkataan-Nya? Lihatlah betapa mereka memahami dan menghidupkannya dalam hati. Sehingga, seakan-akan cahayanya terpancar dari kedua bola mata yang basah. Sungguh.. betapa beruntungnya, betapa beruntungnya sebab Al-Qur’an telah memilih mereka sebagai penjaganya..
Maka hati.. melembutlah, melembutlah terhadap hal ini. Bahwa belum bisa berbahasa arab, bukan berarti kamu lantas bernyali ciut dan menyerah untuk berusaha memahami. Perlahan, bukalah terjemahan, dan lebih bagus lagi ketika menghadiri kajian tafsir untuk lebih mendalaminya. Hiruplah aroma kedamaian itu, in syaa Allah.. perlahan, sajauh apapun sudah engkau dengan Al-Qur’an, ia akan menghampiri hati-hati yang rindu, yang tulus dan jujur mencintainya.
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat (menguasai)-nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya”. {QS. Al-Qiyamah 16-19}
Mohon maaf untuk beberapa hari mimin tidak posting, semoga pemilik akun kelak tidak menagihnya melebihi batas kesanggupan mimin dihadapan Rabb-nya. Karena ada kendala teknis, jadi mimin Ibn Sabil akan mengisi juga di halaman Tumblr yang sudah sebagaimana ‘rumah’ ini, mau bagaimanapun, rumah tetaplah rumah kan yaa~~ :’)
Nah, kalau kata Ibn Syams, kita bertukar lapak, jadi, mimin Ibn Syams juga mengisi di IG quraners ya.
Untuk pertama kalinya, salam hangat dari mimin!