Jika boleh menyederhanakan pemaknaan dalam hidup, kehidupan itu bagi saya adalah perihal mengukir syukur dan sabar.
Bagaimana dengan ibadah? Dimanakah letak ibadah dalam kehidupan ini? Bukankah puncak tertinggi dari ibadah seorang hamba adalah sebagai manifestasi syukur atas segala kebaikan yang Allah limpahkan kepada hamba-Nya?
Sebagaimana dahulu Aisyah RA bertanya-tanya mengapa Rasulullah SAW rela berdiri lama dalam shalat malamnya, padahal beliau sudah diampuni segala dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Rasulullah SAW pun menjawab, "Yaa Aisyah, afala akunu 'abdan syakura? (Wahai Aisyah! Tidakkah aku pantas menjadi hamba yang bersyukur?)".
Bagaimana dengan sabar? Setiap manusia akan diuji pada titik terlemahnya, sebagai bentuk tamhis (seleksi) akan kemurnian iman yang terkandung di dalam hati. Orang-orang yang mulia, para Nabi dan Rasul, telah begitu banyak menggoreskan tinta kisah tentang betapa luar biasanya mereka dalam soal kesabaran.
Nabi Ibrahim AS diuji dengan penantian panjang untuk hadirnya seorang anak, Nabi Ayub AS dengan penyakit yang parah, Nabi Yusuf AS oleh pengkhianatan saudara-saudaranya, dan tentu saja Rasulullah SAW, yang menorehkan begitu banyak kisah kesabaran, termasuk saat beliau memaafkan masyarakat Thaif yang menyakitinya, seraya berkata kepada malaikat yang menawarkan hukuman, "Sesungguhnya mereka hanya tidak tahu".
Pada akhirnya, hidup adalah perjalanan panjang yang penuh dengan nikmat dan ujian. Syukur dan sabar adalah dua kunci utama yang akan menuntun kita melewati perjalanan ini dengan hati yang tenang dan jiwa yang kokoh. Syukur menjadikan kita hamba yang selalu dekat dengan-Nya, sementara sabar memberikan kekuatan untuk tetap teguh meski badai kehidupan datang menghampiri.