Sudah berulang kali saya memperhatikan peristiwa yang kurang membahagiakan. Adalah ketika seorang “prajurit” kehilangan semangat nya untuk berjuang. Bukan, bukan karena masalah yang terus - menerus datang, bukan juga karena banyak masalah lainnya. Saya amat yakin jika memang itu penyebabnya, itu akan jadi perkara mudah. Tapi, penyebabnya hanya satu, dia kecewa dengan pemimpinnya.
Menarik jika saya membahas tentang pemimpin, karena akan terdapat banyak pendapat dan spekulasi dari orang - orang sekitar. Pemimpin; Seseorang yang memiliki jabatan tertinggi dalam sebuah organisasi. Itu definisi yang amat klasik, dan terlalu biasa. Banyak definisi - definisi yang belum banyak diketahui tentang pemimpin, bahkan oleh pemimpin itu sendiri. Karena ketika seorang pemimpin berdiri diatas pundak - pundak orang yang berjuang bersamanya, dia akan selalu diawasi dan mendapat penilaian. Baik, buruk, aktif, pasif, inisiatif, kaku, bahkan berhasil atau gagal.
Semua pemimpin -- saya rasa -- memilki satu harapan yang sama, menjadi pemimpin yang ideal. Mesikpun caranya berbeda - beda. Seorang korelis memimpin dengan tegas dan suara yang lantang, sedang seorang melankolis memimpin dengan harmonisasi dan keapikannya dalam merangkai kata. Seorang Sanguinis memimpin dengan mendengarkan, memberi masukan, serta mengandalkan kemampuannya dalam berelasi, sedang seorang plegmatis akan senantiasa memimpin dengan gayanya yang cenderung tidak banyak bicara tapi dengan tindakan. Semua ada lebih kurangnya, tergantung bagaimana cara pemimping itu memperbaikinya.
Lalu saya mengambil contoh pada pemimpin yang satu ini, pemimpin yang --kelihatannya-- sudah banyak membuat kecewa para pejuangnya. Dia baik, wibawanya terlihat, tapi kaku. Pemimpin ini memiliki tutur bahasa yang rapi, tapi penuh retorika. Bahasanya hanya berputar - putar saja. Pemimpin ini sering bertanya, tapi terus bertanya seolah tak tahu apa - apa. Begitu polos, bahkan -- sepertinya -- dia tidak tahu bahwa dia sudah mengecewakan banyak temannya. Pemimpin ini meminta agar pejuang nya menjadi terbuka, tapi dia sendiri selalu seperti menutupi sesuatu. Dia meminta untuk selalu konfirmasi, sedang dia amat sulit dihubungi. Sampai saya berfikir ke beberapa waktu lalu; apa motivasinya ingin menjadi pemimpin. Semangatnya atau paksaan? apakahi itu dirinya atau digerakkan orang lain? benar - benar pertanyaan yang tidak akan saya temukan jawabannya, sekalipun sudah jelas terlihat.
Dan saya tak hanya berhenti disatu sisi. Saya melihat mungkin saja ini salah kami, pejuangnya. Mungkin kami kurang terbuka dengannya, mungkin kami kurang banyak bercerita dengannya, atau mungkin kami tidak merangkulnya dan kurang berbagi tawa dengannya. Mungkin saja benar, tapi...
Saya selalu punya kata “tapi” sebagai alasan, karena memang seperti itu kelihatannya...
Bukankah pemimpin adalah seseorang yang memulai? dengan caranya, dengan jalannya, kemana tujuan utamanya. Boleh saja meminta masukan, tapi bukan konsep dari nol. Andai tujuan utamanya sudah jelas, biarkan pejuangmu berimprovisasi. Setelah itu, bukan berarti dapat ditinggal pergi tanpa alasan yang -- bisa dibilang -- tak masuk akal. Saat seorang memimpin suatu “kerajaan”, sudah seharusnya itu menjadi prioritasnya bukan? tapi, pada kenyataannya tidak untuk yang satu ini. Saya tidak tahu kemana perginya, atau kemana dia alihkan fikirannya, semoga saja mulia. Tapi saya yakin saya benar, bukankah yang dibutuhkan pejuang adalah kehadiran pemimpinnya? Kehadiran tak selalu tentang raga atau fisik. Setidaknya, pesan atau ucapan semangat yang tidak dibuat-buat pun sangat membantu.
Sampai timbul banyak pertanyaan dari diri saya, baik berkaca pada diri pemimpin tersebut maupun respon orang-orang disekitar terhadap dirinya. Apakah dia yang selama ini “memimpin”? atau ada niat lain dibalik itu semua? permainan? Meskipun sudah sangat jelas terlihat, saya tetap tak bisa temukan jawabannya.