Semua orang memiliki titik baliknya sendiri-sendiri. Sebuah titik yang mengubah dirinya. Titik itu bisa jauh tinggi di puncak, atau tenggelam di dasar. Sebuah titik yang menjadikan seseorang lebih baik, atau lebih buruk.
Bagiku, salah satu titik balik itu adalah kuliahku yang enam tahun lamanya. Terutama dua tahun terakhirnya. Sekolah yang tidak pernah ku pilih karena aku dipilihNya. Semakin berat karena aku sungguh tidak ikhlas menjalaninya.
Ada banyak pemikiran untuk aku lari darinya. Bagaimana jika aku berhenti? Bagaimana jika aku belajar yang lain? Bagaimana jika aku tidak kuat lagi? Preokupasi di pikiranku terus meyakinkan diriku bahwa, 'tempatku bukan di sini'.
Namun, suatu hari aku dipaksa menjejakkan kaki di tempat orang-orang yang sakit, tapi lukanya tidak kasat mata. Penderitaannya dicibir banyak pasien lainnya. Seolah yang tidak tampak pastilah tidak ada.
Pasien yang spesial ini, begitu sulit diagnosisnya dan begitu lama tata laksananya. Nyerinya bukan main dan bukan tidak mungkin merenggut nyawa. Tapi sekali lagi, lukanya tidak kasat mata.
Aku selalu mudah sekali tersentuh oleh apa yang tidak bisa dicapai panca indera. Maka pertemuan dengan mereka membekas dalam dan lama. Pada titik itu, aku mulai bertekad menyelesaikan sekolahku. Aku mulai memaksa diriku bertahan lebih lama. Karena aku ingin belajar bagaimana cara yang baik (meski mungkin tidak sempurna) untuk sedikit membantu mereka, orang-orang yang lukanya tidak kasat mata.
Bromo, 041220












