Dalam hari-hariku merefleksikan diri, ya aku. Adakalanya saya, -ternyata lebih nyaman dengan 'saya' daripada 'aku'.- mengingatkan pada diri sendiri, bahwa pikiran itu bisa melantur lebih jauh dan lebih buruk ketika sendiri. Berenang menuju ketiadaan cahaya, atau bahkan merasa dalam cahaya itu sendiri hingga susah keluar' dan merasa paling agung. Bahaya tentunya.
Maka, kawan berbicara itu layak dimiliki, bahkan suatu keharusan. Meski jatuhnya hanya jadi 'telinga besi' disuatu hari, dan waktu-waktu lainnya menjadi 'telinga tersumbat' bagi pembicara.
Tapi apa kuasa anda, ketika muncul 'Skala Cepat' diantara diri sendiri dan teman bicara ini, yang tentunya juga manusia, seperti anda?
Apa yang akan kita lakukan, ketika 'skala' itu muncul?
Tentu jawabannya akan serumit yang anda inginkan, atau sesederhana yang anda ingin utarakan. Beragam jawaban tentunya, yang semua berdasarkan sudut dan pola pikir kita masing-masing sebagai makhluk terunik, dan tersendiri.
Jawabannya yang paling menenangkan dan bersolidaritas tinggi adalah, "Itu tidak akan menjadi masalah apapun bagi kami, karena hubungan 'pembicaraan' ini -sebut saja persahabatan- tidak akan luntur oleh pembatas apapun, yang hierarki maupun yang tidak. "
Menenangkan bukan? Atau mungkin naif bagi beberapa orang yang mengecap kepahitan penghianatan sohib terbaik lebih dari anda.
Tapi bagaimana jika... pembatas ini, punya skala nilai yang tinggi, hingga nyaris mengganggu anda setiap saat, atau bahkan... membuat anda ragu akan pernyataan bulat diatas.
Bagaimana jika, Skala ini juga selain tinggi, adalah cepat? Dan ... harus meninggalkan apa yang tertinggal meskipun yang tertinggal itu adalah, subjek kemanusiaan atau manusia itu sendiri?
Apakah hal itu masih dapat disebut 'persahabatan' daripada 'pembicaraan'?
Disini masalahnya, ketika ritme anda tidak sejalan dengan partner anda, apa yang harus anda lakukan? atau sedikitnya, apa yang harus anda anggap mengenai keadaan ini yang skalanya semakin meningkat seiring berjalannya waktu?
Jawabannya begitu beragam, namun tetap dalam tiga kategori secara general.
1. Bagi mereka yang pendendam.
2. Bagi mereka yang baik hati.
3. Bagi mereka yang -katanya- cerdas.
Si nomor satu, akan bertingkah secara tidak adil pada dirinya sendiri, begitu pula pada orang lain dengan tingkat penyebaran ke-negatifan ini sendiri. Dimulai dari membandingkan, men-Judge, meremehkan, dan akhirnya... jijik.
Ini yang membuat dirinya tidak diadili secara tepat oleh pikirannya sendiri: pembandingan.
Padahal kita mengetahui, bahwa hidup tidak dijalani dengan membandingkan suatu nilai dengan nilai yang lain. Hidup juga bukan menilai antara tingkat keadaan dan keberadaan yang satu dengan yang lain. Atau bahkan hidup hanya membahas mengenai kotak satu dengan kotak yang lain dari volume yang hidup dalam kotak itu.
Itu semua matematika kelas satu SD. Bukan kehidupan.
STOP, being unfair to yourself. Bagaimana hidup akan terlihat adil, jika anda saja tidak adil pada diri sendiri?
Disinilah anda hidup, ini yang anda terima, dan hal-hal yang menyangkut mengenai kehidupan anda, baik atau buruk, adalah 'skala yang tepat' bagi diri anda sendiri.
Jangan pernah melihat tanaman milik tetangga sebelah, itu kan cuma keliatannya saja enak. Tapi masalah, dan kebahagiaannya begitu indah dan pilu juga bagi mereka, seadil-adilnya seperti hidup yang sedang anda nikmati saat ini.
So, stop judging yourself. It will hurt yourself also people -when it getting worse and you don't take any act to stop it, NOW.
Kedua, merupakan kategori yang manis dan memaafkan. Lihat, dari judulnya saja sudah menyenangkan, 'bagi yang baik hatinya'. Tentu saja, siapa yang tidak mau dianggap baik? -tapi ingat, baik itu relatif-
But wait gals, Seperti kutipan anonim bahwa : ' segala sesuatu itu pasti ada resikonya, ada buruknya meskipun itu baik, dan begitupula sebaliknya', maka aka kita simpulkan, baik saja tidak cukup.
Baik itu belum tentu benar, dalam hal ini, jawaban bagi si nomor dua ini merupakan jawaban yang tulus dan ikhlas, namun tetap apa adanya dalam penerimaan dirinya. Mereka akan memaklumi, ikut berbahagia atas skala cepat ini karena orang-orang yang ia sayangi -sahabat- tertentu kian pesat kemajuannya. Tapi disamping kebaikan mulia ini, mereka tetap STUCK disitu-situ aja. Tidak memperkecil jarak skala ini, dan membiarkan dirinya benar-benar tertinggal oleh orang yang katanya 'dia sayang'.
Katanya sayang, kok di tinggal mau?
Apakah anda termasuk golongan ini? Membiarkan semuanya mengalir, dan mengucap 'ada rejeki yang lain.' atau menyerahkan semuanya saja pada Allah? Apa sudah waktunya ikhlas? sudah waktunyakah untuk bersandar?
Tentu tidak, jika anda sendiri belum berusaha.
" Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum melainkan ia sendiri yang mengubahnya"
Kaki anda tidak akan menuju kemana-mana bila tidak segera dilangkahkan. Kehidupan anda tidak akan berakhir dimana-mana ketika anda tidak memulai. Kebahagiaan anda bersama 'mereka' tidak akan beriringan terus kecuali anda mulai mempersempit jarak.
So, apakah harus orang lain yang mengatakan kita juga harus bergerak, seiring hati kita berbahagia dengan kemajuan sahabat-sahabat kita yang melangkah didepan? -ini sudah pasti menjengkelkan-Atau anda sudah tahu dan akan segera memulainya saja, tanpa menunggu seseorang menjengkelkan anda seperti uraian tadi?
Saya tahu anda akan memulainya segera, dari sekarang untuk mempersempit jarak itu. Kenapa saya tahu? Karena anda sayang dengan diri sendiri juga sahabat-sahabat anda ini.
Kalo sayang, mana mau sih diem aja di tinggal? :D
Akhirnya pembahasan sampai pada pola orang-orang yang katanya 'cerdas'. Biasanya, kategori ini cenderung menunjukkan sikap sosiopath, tapi kalem, ini cuma cenderung, tidak sesungguhnya kok. Sosiopath sendiri sangat.. sangat ... tinggi tingkatannya. Sikap yang sering muncul adalah, tidak peduli, IGNORING.
Sejujurnya, saya memilih ini guys. Bukan hanya ingin disebut 'cerdas', namun menurut saya, ini karakter yang harus saya 'patch' pada sifat dan sikap saya, mengingat saya melankolis sekali.
Tapi setelah perenungan lama, muncul pertanyaan lain :
Apakah berpura-pura cerdas dengan 'abai' akan lingkungan sekitar itu, benar?
Awalnya ini gagasan yang bagus, sangat tepat. Awalnya doang.
Hanya saja, point yang salah itu adalah, kita tidak benar-benar cerdas, kita hanya pura-pura cerdas.
Menjadi abai akan segalanya, dan malah jadi belati bagi diri kita sendiri.
Adakalanya, jenis seperti ini, berlari terlampau cepat tanpa ada belas kasih bagi dirinya sendiri. Membuat dia lupa, bahwa tujuannya mempercepat langkah, bukan berarti harus meninggalkan kemanusiaan atas dirinya dan orang lain.
Begitu sendiri, begitu selfish.
Meskipun ya, jawaban yang manis dari sikap ini adalah, kemungkinan berlari lebih cepat dan melindungi diri sendiri dari sakit hati atas ucapan orang lain mengenai 'skala' mereka. Karena tentunya sikap nomor satu tadi, tidak akan membiarkan kemampuan kita lepas dari cemoohan atau bahkan tuduhan atas apapun yang kita lakukan. Kita tetap diatas.
Nah, ada baik, ada juga buruknya.
Secercah sudah saya katakan, bahwa pengabaian total adalah sikap utama dari pura-pura cerdas ini. Kita menang. Tapi apakah menang adalah segalanya?
Sikap ini menimbulkan : Hilangnya teman bicara.
Banyak hal yang menyebabkan ini, entah karena teman-teman yang masih terlingkup di pola satu, yang lalu membenci anda atas penerimaannya yang gagal.
Atau mungkin dalam posisi yang kedua, dimana secara tidak langsung, kawan terbaik anda mulai tertinggal dari anda sendiri. Mulai lambat mengikuti pola, mulai sulit bertemu dan menjadi teman bicara anda, karena kalah dalam 'skala cepat'.
"Tapi kan memang saya tidak peduli dengan itu. Sikap saya memang tidak memperdulikan itu. saya menggunakan logika saya."
ini yang membedakan anda antara cerdas dan pura-pura cerdas. Sesederhana seperti bagaimana membedakan mesin dengan manusia.
Bagaimana mesin tercipta? Apa dia cerdas begitu saja? Apakah anda mesin????
Sadarilah, bahwa apapun yang anda lakukan sekarang, tujuannya untuk apa?
Apakah untuk membangun peradaban?
Apakah untuk menggapai cita-cita anda?
Atau untuk menghidupi keluarga anda kelak? (seperti saya)
Apapun jawaban anda, itu semua hanya jawaban khusus, sementara secara mengglobal apa yang kita lakukan hari ini, terutama dalam kemajuan diri kita ini dasarnya adalah mengenai 'kemanusiaan', Human being, Manusiawi.
Ga ada dong yang berdedikasi untuk iseng. Ga ada.
Lalu kenapa dalam proses menuju kemanusiaan itu sendiri, anda harus repot-repot menjadi mesin?
Mesin hanya benda yang pura-pura cerdas. Karena yang menjadikan dia cerdas itu siapa? Manusia.
Bahasan kita bukan mesin, tapi sikap yang nomor tiga ini adalah 'menjadi mesin'. Berhentilah jadi mesin, yang taunya hanya logika.
Menjadi manusia merupakan anugerah terbesar! Kita tahu itu pasti! Maka jadilah manusia, jangan menjadi mesin yang teknisnya benar-benar melebarkan jarak anda dengan siapapun yang anda sayangi.
Saya tidak bilang kita harus mengulurkan tangan bagi mereka. Itu bukan yang saya mau. Tapi jadilah stabil, manfaatkan kecerdasan anda dalam usaha menuju kemanusiaan itu dengan memanusiakan diri anda juga.
Saya juga tidak berharap anda menanggapi ini sebagai alasan anda untuk mundur dalam berdedikasi, karena orang cerdas selalu tetap melangkah tanpa lupa bahwa dirinya manusia.
Caranya itu berlimpah, motivasi, memberi jalan, tips.. apapun dengan setitik kepedulian anda untuk mereka yang anda sayangi, dengan kadar secukupnya. Ingat, stabil adalah.. secukupnya. Know it's limit, karena yang kita mau adalah perubahan yang dimulai dari diri sendiri, entah itu oleh diri anda atau yang tersayang.
So, masihkah anda di golongan pura-pura cerdas, atau anda sudah lelah menjadi mesin?
Know it what for and the limits for each other.
Ini adalah hal yang sedang saya hadapi, karena saya termasuk orang yang tertinggal jauh dari teman-teman saya. Bagai menatap lubang menganga antara prestasi kami, dan mulai merasa sendiri.
Tapi hei, Alhamdulillah Allah menemani saya dalam merefleksikan ini semua dalam tuangan tanggapan dan solusi untuk diri saya sendiri (awalnya untuk diri sendiri, yang mungkin InsyaAllah membantu anda) di sini.
Akan ada point dan tentunya masih banyak kekurangan dalam pemikiran dan pengalaman saya ini.
Apa yang saya utarakan diatas adalah, fase saya dari awal bersahabat dengan mereka hingga akhir-akhir ini mulai menyentuh dasar pola ketiga. Saya berharap saya tidak akan jadi mesin, karena yah, mesin terlalu cerdas secara teknis bagi saya, saya masih punya sisi kemanusiaan yang terlampau besar, sehingga transisi menuju orang ketiga adalah 'skala' yang akan mulai saya langkahi.
Skala cepat, merupakan anggapan saya pada dunia persahabatan yang diliputi oleh berbagai aktifitas kompetitif. Nyaris membuat seseorang jungkir balik dari sikap sesungguhnya, meskipun ada baik dan buruknya. Dalam Skala cepat ini, fase saya diatas, telah saya arungi dan fase ketiga segera launching, meskipun saya belum ada di depan siapa-siapa.
Semoga Alllah meridhoi ungkapan kisah saya ini, dan saya sangat berharap ini bermanfaat bagi siapapun yang mau capek baca.
Jika terjadi kontradiktif, maafkanlah saya, Saya hanya manusia iasa, kepunyaan Allah yang Maha Sempurna.