JAWAB SERIUS. WALOPUN KESANNYA AKAN TERLIHAT BECANDA, INI BENERAN JAWAB SERIUS. KEY?
Motto hidup seorang Tami adalah……….
.
.
.
.
.
ga ada. And I can’t even find one ~~~/o/
Dulu waktu jaman jamannya ditanya ginian jaman SD, gue dengan easynya menjawab yang lagi trend. Kayak
DUIT - Doa, usaha, ikhtiar, tawakal
Man Jadda Wa Jada
Jangan menunda-nunda pekerjaan, yang bisa dilakukan sekarang, lakukan
Tiada hari untuk mengeluh, tiada hari tanpa belajar.
Keep moving foward
Dan banyak lagi. Bagus, sih. Tapi gue jijik. Kayak gak pas aja sama pembawaan. Masa motto hidup
“Jangan menunda-nunda pekerjaan, yang bisa dilakukan sekarang, lakukan” sementara faktanya, gue adalah manusia super mager dan perkara tugas ato apapun juga, deadliners? Kan gak match.
Motto hidup DUIT, sementara gue sholat aja bolong bolong, pakabar doa?
Pokonya, motto hidup di mata gue jadi kayak bullshit banget aja. Sepik. So, yeah. I dont even have one, sorry. Tapi kalo boleh bikin sendiri dan gapake punya orang, gue sedang menjalani
“Jalanin aja, keluhin, pusingin, ribetin, tar kelar kelar juga”
Kalo terdengar seperti bercanda, serius deh ini gue lagi serius
Ada baiknya sekarang kamu kecewa. Ada baiknya sekarang kamu terluka. Terserah seberapa lama, terserah seberapa parah. Kelak kamu sendiri akan sampai pada titik: terbiasa. Terbiasa melaluinya sendiri, hingga rasa kecewa dan luka pulih dengan caranya sendiri.
Sebagai orang yang biasa-biasa saja dalam bidang akademik, saya tidak kecewa ketika melihat IPK saya, saya sadar diri sih lebih tepatnya.ehehe
Entah kenapa dari awal kuliah saya tidak pernah terpaku dengan IPK yang harus diatas 3,5. Yang penting saya sudah berusaha, hasilnya nanti diserahin ke Allah.
Saya juga tidak mau memaksakan kemampuan saya, saya lebih ingin menikmati hidup sebagai mahasiswi. Mahasiswi yang punya banyak kenalan dari organisasi yang saya ikuti.
——————————
Selepas lulus kuliah, saya menjalani rutinitas seperti orang-orang biasanya. Mencari kerja.
Masukin CV ke beberapa perusahaan, di tolak di beberapa perusahaan juga (hehe) entah sudah berapa CV, foto, dan copyan ijazah yang saya sebar ke beberapa perusahaan. Paling mentok tuh sampai interview doang. Setelahnya ya gitu (hahaha)
Pernah saking downnya di tolak di banyak perusahaan saya mikir “mungkin IPK saya terlalu rendah?” Saya juga sempat menyesal kenapa sih saya ga fokus akademik aja waktu kuliah, kenapa sih waktu kuliah ga gini, ga gitu. Dan beberapa alasan yang mendukung saya untuk lebih down lagi.
Tapi saya berpikir, kalau saya seperti ini terus bagaimana saya bisa berhasil? Saya kembali bangkit dengan mencoba lagi melamar pekerjaan sana-sini. Tapi hasilnya nihil.hehe
Saya kembali merenung, apasih yang buat saya gagal terus?
CV sudah dibuat semenarik mungkin, saya juga selalu menonton channel agar bisa mengembangkan diri saya lebih baik lagi, berharap HRD memberikan saya kesempatan bekerja.
Hasilnya…..
Masih gitu-gitu aja.
Sampai satu hari saya merenung “apa sih yang membuat saya gagal terus untuk mendapat pekerjaan?”
Saya mendapatkan jawabannya ketika ada suatu tragedi yang sukses membuat saya sadar, bahwa apa yang selama ini saya lakukan belum berjalan dengan semestinya.
Saya berusaha memperbaiki kesalahan itu, dan Alhamdulillah anak dengan IPK 3.11 ini diberi kesempatan untuk mengikuti seleksi salah satu perusahaan BUMN, hingga saya Alhamdulillah sekarang sudah sampai ditahap wawancara psikologi. Mengalahkan orang-orang yang mempunyai IPK 3.5 keatas.
————————-
Dari pengalaman saya ini, saya berniat untuk membuat sebuah project buku “Di Bawah 3,3”
Saya ingin membuktikan pada anak-anak muda di Tanah Air, bahwa “Kesuksesan itu milik semua orang yang mau berusaha dan berdoa”
Kita yang punya IPK dibawah 3,3 pun BERHAK sukses. Karena kesuksesan bukan hanya milik mereka yang punya IPK 3,5 keatas.
Untuk menjalankan project ini, saya butuh bantuan kalian untuk reblog atau share informasi tentang project ini, agar mereka yang telah merasakan manisnya kesuksesan namun dulunya punya IPK hanya 3,3 kebawah dapat berbagi kisah inspiratif melalui project ini dengan mengisi form
Project ini dibuat sebagai inspirasi anak-anak muda di Indonesia yang terlalu terpaku dengan IPK yang harus diatas 3,5. Dengan project ini,
Bantu saya menemukan 100 orang tersebut untuk menjalankan project ini.
Kalau ada yang ingin kalian tanyakan ttg project ini, kalian bisa langsung tanya saya dengan menggunakan fitur Ask atau Message yah:)
Atau kalian bisa langsung follow ignya @dibawah3.3 untuk mengetahui secara detail apa sebenarnya project di bawah 3,3 itu?
Undangan tuh bukan sesuatu yang akan dimakan tamu, jarang juga disimpan. Jadi kudu hati - hati bikinnya.
Kalo mau yang mahal, sebisa mungkin yang manfaat. Misalnya undangannya berupa kalender, atau tas belanja. Jangan sampai mahal harganya tapi sia - sia belaka.
Kalo mau yang tidak manfaat, ya jangan mahal - mahal, tapi bukan berarti jelek. Buatlah yang ‘pantas’, sebagai upaya menghargai tamu.
Gw pribadi ga suka undangan yang mahal dan terbuang sia - sia, lebih baik budgetnya dialihkan pada suvenir atau catering yang jelas akan digunakan/dimakan oleh tamu. Di sisi lain, sebel juga dengan yang meremehkan undangan, halah asal sah. Ya ga gitu, walimah kan sunnah, menerima dan memberi makan tamu sunnah. Maka sejak mengundangnya pun perlu menghormati calon tamu. Mau lewat digital invitation, undangan cetak, atau bahkan mengundang langsung dengan pergi ke rumahnya, baiknya semua dilakukan dengan hormat.
Satu lagi, jangan ada ayat al-quran di dalamnya, sebab kita tidak tahu apakah penerima akan menjaga atau membuangnya. atau jika penerima adalah orang yang akan menjaganya, hal itu menjadi beban baginya.
*halah din gayamu koyok wes tau walimahan ae. Lho piye wes sering nggawekno (wong liyo) undangan je*
Saya pernah merasa dalam hubungan yang terasa begitu hambar, telpon tersambung tetapi masing-masing dari kita hanya diam, tidak ada sepatah kata terucap dalam menit yang cukup lama. Saya juga sedang berada pada titik terlemah wanita dimana hari-harinya dipenuhi dengan mood swing dan berbagai kondisi perasaan yang sungguh tidak jelas. Tidak satu pun dari kita berusaha untuk menggugah kembali obrolan yang telah lenyap. Di sudut saya, diam-diam air mata menetes. Kemudian berpikir apakah ini yang dinamakan titik jenuh dan bosan. Telpon begitu saja kami matikan, karena mengaku sama-sama kehilangan topik. Saya rasa kami tidak benar-benar kehilangan topik. Kami hanya baru saja kehilangan gairah. Saya yang selalu terdengar cerewet, kali ini tertegun kala banyak ocehan saya ditanggapi sekedarnya saja. Kemudian saya benar-benar kehilangan bahan pembicaraan, atau mungkin sekedar tidak nafsu lagi bercerita dengan sangat random. Dan ketika telpon benar-benar ditutup, tidak ada kata cinta di penghujungnya. Hanya sekedar ucapan salam, lalu tak ada lagi pesan singkat.
Yaaa Tuhan, nyatanya hidup memang tidak selalu ada di atas. Tidak mesti bahagia dan baik-baik saja. Kemudian saya menghargai perasaan kami yang mungkin sedang bosan. Mungkin beristirahat dan sejenak terdiam adalah jalan keluarnya.