"Kamu dulu ngcamp nya dimana?"
"Kamu dulu lewat jalur yang mana?"
I'd rather be in outer space 🛸

Kiana Khansmith
tumblr dot com

No title available

★
ojovivo
Noah Kahan

Discoholic 🪩

gracie abrams
No title available

izzy's playlists!
No title available
EXPECTATIONS
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Fai_Ryy
Game of Thrones Daily
wallacepolsom
No title available
Xuebing Du

@theartofmadeline

seen from Netherlands
seen from Australia
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Denmark
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Japan

seen from Malaysia

seen from France
seen from Russia
seen from Singapore

seen from Russia
seen from Belgium
seen from Belgium

seen from Türkiye

seen from Uruguay
@lakulaksya
"Kamu dulu ngcamp nya dimana?"
"Kamu dulu lewat jalur yang mana?"
Pulang
Dalam sebuah diskusi kami suatu dulu, mas X bilang, "Keputusan buat pulangnya kita ini, salah satu tujuannya adalah supaya aku punya waktu lebih banyak buat kamu. Selain memang ada tujuan yang lain yang lebih besar porsinya, tapi jujur aja, aku tetep mikirin ini itu salah satunya adalah buat kamu."
Waktu itu saya hanya tertawa, atau bisa dibilang sedikit (((sedikiiiit))) mencibir, "Alah apa bisa... Aku nggak papa kok. Klo nanti sewaktu di rumah agak terabaikan aku nggak papa. Mamas kan jadi punya tanggungan lebih karena ngurusin ibuk bapak, dan aku nggak papa. Beneran. Kan tujuan utama kita pulang kan memang untuk bapak ibu."
Tapi mas X bersikeras. "Insyaa allah aku nanti akan punya waktu lebih banyak waktu sama kamu (dibanding saat itu). Walaupun ada bapak ibuk, insyaa allah kamu nggak kapiran (red: terabaikan). Insyaa allah.."
Saya hanya menanggapi santai, "oke.. oke..."
Dan ternyata, memang. Disini, sekarang, di rumah ibuk bapak, waktu bercengkrama kami justru lebih banyak. Canda kami lebih renyah. Diskusi kami lebih intens.
Mas X yang meniatkan, Allah yang memampukan.
Rasa-rasanya malu karena saya ternyata justru jadi salah satu orang yang sering meremehkan...
Lupa.
Padahal kan, kita, bisa minta apa saja lewat doa...
Semua itu, nanti Allah yang mampukan jika beliau berkenan...
I dreamed certain subject, repeatedly.
I not sad, nor upset. I just wonder. why.
Seriously, repeatedly.
"Ah... Kamu mungkin lupa nggak baca doa sebelum bobok, nda..."
To move on
Or letting go....
Seems like it takes forever, but little by little we move away. We not really lost sight on it, but it just slowly fading away. Not really clear anymore...
Do we okay? Maybe yes, maybe no. We didn't really say it doesn't hurt anymore. In several mean time, it sometime still hurt, but maybe we already know to handle it. So yes, maybe we're okey... Or maybe not?
Berita Duka.
Sedih ya...
Kita, yang jarang kumpul bareng, nggak ketemu dalam waktu yang cukup (atau bahkan sangat) lama, nggak saling bertukar pesan whatsapp, instagram, ataupun media sosial lainnya, tiba-tiba saling menghubungi, bertemu, berkumpul, berbagi cerita, karena hadirnya sebuah berita duka...
Setelah sekian lama... sangat lama...
Seolah:
"Apa iya, hanya berita duka yang akhirnya bisa mempertemukan kita?"
* * *
"Tapi..."
"Bukankah lebih sedih dan miris lagi, kalau sampai, bahkan berita duka pun ternyata nggak bisa bikin kita kembali terhubung..."
"Iya nggak sih, mbak?"
Pulang
Bagaimana cara menceritakan kepergian bapak dalam rangkaian kata-kata?
"Kuharap mamas masih punya waktu buat nemenin Bapak. Rasanya sesakit itu, dan aku nggak kepingin mamas ngrasain sesal yang bikin nyesek. Aku, sudah pernah ngrasain rasanya hancur sewaktu ditinggal papa, mas..." "Kuharap kita sempat pulang, Mas. Bapak sudah sepuh...." Bontang, 2015-2016
"Aku senang akhirnya kami pulang, Rin. Tapi Rin, jauh di lubuk hatiku, aku takut. Apa ini jawaban doa yang dulu? Apakah berarti, waktunya sebentar lagi?" "Ah, aku terlalu overthinking ya, Rin?" Bontang, 2022
Dan lalu Bapak pergi. Ataukah, sebaiknya kita katakan "Bapak pulang"? Srumbung, Juni 2023
MENGHAPUS KEMARAU
Bagi mereka yang sudah lama memunggungi rumah, kembali pulang untuk seterusnya adalah keputusan yang sama sekali tak mudah.
Ada banyak pertimbangan. Ada percakapan yang panjang. Ada renungan yang dalam dan berulang-ulang. Hingga akhirnya hembusan nafas yang berat itu dibersamai dengan satu keputusan, "Bismillah, kita pulang."
Seperti kita, mereka juga punya rasa khawatir setelahnya, karena masa depan memang rahasia. Tetapi kita percaya, bahwa doa yang sepenuh hati mengetuk pintu langit, ijabahnya lebih cepat dari cahaya.
Sehingga kita melangkah bukan tanpa rencana, melainkan dengan peta jalan yang disusun matang-matang, dipeluk harapan yang tak pernah habis akan pertolongan Tuhan.
Pulang pada akhirnya juga menjadi cita-cita. Kembali memeluk Ibu. Kembali mencium tangan Ayah. Sederhana tampaknya, tapi berdekat-dekat di usia senja mereka, adalah hujan yang menghapus kemarau.
achmadlutfi, 01.12.2022
Martabak Manis Terang Bulan
"Mas, ini ada postingan nih.. suami idaman itu yang rela ngasih bagian pinggir terang bulan ke istrinya..”
“Si A sama suaminya malah katanya rebutan bagian itu, wkwkwkwkwk”
“Kalo kita? kamu doyan bagian itu nggak sih mas? kayaknya biasa aja ya..” (sambil nginget-nginget mikir)
“Aku doyan”
“Oh ya? tapi kayaknya nggak sampe bikin kita rebutan deh...”
“Aku doyan. Karena itu kecil. Jadi nggak terlalu eneg.”
“.......”
konklusion : mas W not really in to terang bulan martabak manis makanya kita nggak sampai rebutan, wkwkwkwkwkwk
sepeda motoran.
di jalan tepi ada banyak pohon besar. dahan-dahannya beberapa menjulur ke bawah.
"mas, awas. depan ada daun ke bawah. nunduk!"
eh. malah sebaliknya. badan beliau ditegakkan, sedikit mau berdiri. kena daun dikit.
"mas! piye to?! dah dibilangin ada daun kok malah berdiri? ckckckc.. aku bilang apa, nglakuinnya malah apa. huh. "
"yaaa... kan biar kamu nggak kena. kalau aku berdiri ngalangin kan kamu pasti nggak kena..."
eh.
konsep melindungi yang berbeda.
2010
"Wait.. Rasanya aku nggak nyaman klo harus merubah panggilan. Walaupun, kalau nggak diubah, rasanya juga nggak sopan. Tapi aku kayaknya nggak bisa manggil 'mas', apalagi 'mamas'... hiiiii... semacam, too sweet, nggak sih?"
"Tapi klo aku panggil lengkap 'mas wahyu' dalam obrolan, sounds nggak akrab kan ya?"
"Kayaknya aku prefer panggil 'mas', tapi nggak berdiri sendiri. Misal, 'kalau kamu, mas?' atau 'mas, kamu...', gitu.. Nggak 'mas' aja, tapi juga nggak 'kamu' atau 'mas wahyu' yang terkesan kurang dekat. Gimana?"
Current situation
"Mas, mas...."
"Mas, mamas!"
"Mamas, mamaaaaaas~~"
:b
Dapat apa malam ini?
yang menarik adalah tentang mengubah angka ke biner 2 basis. ternyata gitu toh caranya.. semacam pertanyaan yang tersimpan bertahun2 tapi tak berusaha dicari jawabannya, lalu mendapat pencerahan, hehehe.. seneng gt rasanya...
hmmm.. hmmmm... kadang kala (kadang), celetukan selamat macam "wah pecah telor juga", ternyata (kadang) bisa bikin sedih hati pendengar lain (atau pembaca lain) yang 'telur' nya blm pecah. Hmmmm... hmmmm...
Terlalu sensitif kah? Terlalu iri kah? Nggak bersyukur kah?
Mungkin nggak juga... Mungkin beberapa ucapan selamat atau ucapan duka, sebaiknya disampaikan lewat jalur pribadi. Dilisankan dari hati. Terutama dengan teman dekat.
Kadang kala (kadang), guyonan internal antar teman (yang akrab) bisa jadi terasa kurang pas jika didengar sama pihak2 lain.. kecuali bila ucapannya mengandung niatan lain.. promosi misalnya.. beda ceritanya (mungkin)...
Dunia sekarang semua terpapar dipostingan...
Jujur.
Sebuah kontemplasi dari penuturan Ust. Muhammad Nuzul Dzikri حَفِظَهُ اللهُ tentang ujian kejujuran.
Ada seorang istri (misalnya) mendapatkan suami yang jauh dari kata ideal. Lalu bertanya, apa solusi terbaik untuk saya? Saya menghadapi suami yang tidak romantis, tidak ada baik-baiknya? (suami masih seorang Muslim namun tidak sesuai dengan ekspektasinya saja).
Lalu, saya harus bagaimana? Jujurlah pada Allah Subhanahu Wata’ala, selama ini apa yang Anda inginkan? Apa tujuan Anda menikah?
Begitu pula suami atau anak. Anak lahir cacat kemudian drop. Jujur apa yang selama ini Anda inginkan? Atau anaknya meninggal kemudian terpuruk.
Apa solusi terbaik yang harus saya lakukan? Anak saya meninggal di usia 3 tahun (misalnya).
Coba jujur, Anda menikah kemudian berkeluarga itu untuk apa? Lalu memiliki anak untuk apa?
Ketika Anda menginginkan anak agar menjadi anak yang saleh lalu di hari Kiamat akan memberikan kebaikan untuk Anda, kemudian anak Anda ditakdirkan meninggal di usia 3 tahun.
Anak yang meninggal sebelum balig akan bermanfaat untuk Anda pada hari Kiamat, dengan begitu keinginan Anda sudah tercapai, lalu mengapa Anda down?
Kemudian ada yang sudah menikah selama 15 tahun dan belum dikaruniai anak. Apa solusi terbaik? Jujurlah, apa yang Anda cari dalam rumah tangga? Jika menginginkan anak, lalu menginginkan anak yang seperti apa? Bukankah inti dari berumah tangga adalah menyempurnakan separuh agama? Lalu mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu Wata’ala, lalu bertakwa pada Allah Subhanahu Wata’ala, memang betul anak yang saleh itu luar biasa. Namun, Allah Subhanahu Wata’ala yang lebih tahu.
Ingatlah kisah Nabi Musa ‘alaihis salam dan Nabi Khidir ‘alaihis salam tentang perlakuan Nabi Khidir ‘alaihis salam pada seorang anak (QS. Al-Kahf: 80). Kita tidak pernah tahu. Bisa jadi ketika kita dikaruniai anak, anak tersebut durhaka.
Jujurlah pada Allah Subhanahu Wata’ala. Apa yang kamu inginkan? Kamu menginginkan masuk Surga bukan? Maka serahkan pada Allah Subhanahu Wata’ala detailnya seperti apa. Kamu tinggal ikuti apa yang Allah Subhanahu Wata’ala inginkan darimu dan apa yang Allah Subhanahu Wata’ala tetapkan daripadamu.
Jujurlah, ketika mengaku sebagai seorang hamba maka jadilah hamba. Mengapa selama ini berlaku seperti bos? Madam? Kritikus? Komentator?
Katanya, menginginkan menjadi hamba. Apa sih susahnya menjadi hamba? Khususnya dalam kondisi berat. Ketika kondisi menjadi sulit maka yang terbaik adalah jujurlah pada Allah Subhanahu Wata’ala.
Apa yang diucapkan selama ini? Apa yang dibaca setelah salat? Subhanallah sebanyak 33x yang berarti (Mahasuci Allah) dari semua sifat buruk, sifat negatif dan yang tidak sempurna walaupun baik maka apa yang Allah Subhanahu Wata’ala takdirkan padamu di hari-hari ini pasti bagus dan terbaik.
Mengapa? Sebab Allah Subhanahu Wata’ala Mahasuci dari menakdirkan sesuatu yang buruk, sebab Allah Subhanahu Wata’ala Mahasempurna. Lalu mengapa setelah membaca tasbih sebanyak 33x? justru stres atau down. Itu berarti kamu tidak jujur.
Untuk itu, jujurlah pada Allah Subhanahu Wata’ala. Dan, semua ini adalah ujian kejujuran. Jujurkah ketika berkata, ‘Aku beriman‘ atau mengatakan, ‘Saya seorang hamba’ atau mengatakan, ‘Saya umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam’? Maka ikutilah, sebab umat berada di belakang bukan sejajar atau di depan. Kamu hanya beribadah dari yang apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah kejujuran.
Dan, intinya jujurlah bukan pada manusia melainkan pada Allah Subhanahu Wata’ala sebab kamu tidak bisa berkelit sama sekali, tidak bisa mencari justifikasi sama sekali dsb apalagi pada hari Kiamat kelak.
Sebagaimana dalam QS. An-Nur: 24,
“Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Barangkali kamu bisa membangun imej atau personal branding di dunia, namun hal ini mengenai kejujuran pada Allah Subhanahu Wata’ala dan ketika seluruh manusia mengatakan baik, apa artinya di hari Kiamat kelak?
Yang menjadi masalah adalah jujurlah pada Allah Subhanahu Wata’ala bukan pada manusia sebab jujur pada manusia masih memiliki kemungkinan untuk mencari celah justifikasi namun tidak ketika jujur pada Allah Subhanahu Wata’ala sebab kamu tidak bisa berkelit sama sekali.
Reminder (lagi).
Pinginnya apa? Bisa jadi yang sekarang adalah jalan terbaik dari apa-apa yang dipinginin.. Allah yang ngatur.. Allah yang tahu...
Gratitut Ting (not onli) Tudei
Kudu dicatat. Supaya nggak lupa buat bersyukur. Supaya nggak ngrasa kalau Allah nggak sayang :( . Supaya selalu khusnudzon sama Allah. Supaya selalu semangat. Supaya selalu lapang hatinya. Supaya kerasa hangat hatinya, sekarang, juga untuk nanti. Besok, besoknya besok, besok besoknya besok, juga besok besok. Selalu.
___________
Pengen seledri. Udah niat beli. Udah lihat warung yang jual satu pot rimbun dengan harga yang murah. Jauh sih tempatnya, simpang Sangatta. Bontang coret. Udah luar kota (hahahaha). Tapi kan gpp, sekalian jalan2 muter2 seperti biasa.
Eh terus dapat. Beberapa minggu kemudian. Gratis. Dari tetangga. Tak terduga pula. Ngobrol bentar, nawarin cabe di halaman yang memerah. Trus dibalas sama se pot seledri, for free. Dan tanpa diminta. Tanpa cerita kalau saya lagi pingin seledri. Tanpa tau kalau si tetangga punya banyak seledri. Tanpa "tanpa-tanpa" yang lain. Huhuhuhu.. Antara senang, tapi juga terharu. Allah yang ngasih. Padahal aku mah apa atuh... :(
_______________
Cerita lain. Beberapa waktu lalu. Mbak X posting bibit celery. Abis pecah tunas. Pingin sih, tapi harganya lumayan (hahaha). Dan di rumah udah ada celery yang masih dalam taraf pengkondisian. Masih mencari cara supaya subur dan bertahan (hmmmm). Jadi sementara, niat ini diurungkan dulu.
Lalu beberapa waktu kemudian, mbak X open order makanan. Ikutan pesan karena emang doyan. Lalu lalu lalu, pas kurir datang, eh selain box pesanan, ada tambahan seplastik bibit celery. Apakah ini salah kirim ???? Pesanan orang yang nyasar??? Kurirnya salah antar??? Setelah konfirmasi sama mbak X, ternyata katanya masih ada sisa 1 polybag hasil pecah pot kmrn. Buatku saja. Gitu katanya... Uhuk. Hiks. Another "waaaaaaaaaaah" moment. Seneng, terharu, pingin jejingkrakan, speechless, macem-macem, gado-gado, nano-nano, rame rasanya...
_________
Tuh kan. Ada banyak hal yang baik-baik yang di dapat, yang nyenengin, yang bisa banget buat disyukuri. Trus malam ini dapat pula quote dari instagram. Benar, reminder. Ini dicatet dan diposting pun buat reminder. Besok, nanti, kapan-kapan yang entah kapan, pasti akan butuh reminder.
Cemangats ya kakak. Puk puk puk. (Hug)
Masih, kangen..
I do miss yu . . .
I miss yu, mas...