Hari itu.. terasa sedikit berbeda. Ada tawa yang lebih ramai dari biasanya, langkah kaki kecil yang berlari ke sana kemari, dan wajah-wajah yang penuh cahaya. Hari itu adalah hari yang sangat mereka tunggu, hari ketika mereka bertemu ayahnya.
Karena tugas negara memanggil ayahnya jauh di luar provinsi, pertemuan seperti ini tidak sering terjadi. Kadang harus menunggu dua bahkan tiga bulan hanya untuk bisa memeluk ayah mereka lagi. Tapi justru karena jarang itulah, setiap detiknya terasa sangat berharga.
Sejak pagi, kedua keponakanku sudah menempel pada ayahnya. Yang satu tidak berhenti bercerita tentang sekolahnya, teman-temannya, dan mainan barunya. Yang satu lagi sibuk menarik tangan ayahnya, mengajak bermain, seolah ingin mengejar waktu yang selama ini terlewat.
Mereka duduk berdekatan. Sesekali ayahnya tertawa melihat tingkah dua anak laki-lakinya yang penuh energi. Di mall itu, mereka bermain, berlari, bercanda, dan saling kejar-kejaran. Tidak ada gadget, tidak ada distraksi, hanya ayah dan dua anak yang sedang menikmati waktu yang sangat sederhana, tapi begitu berarti.
Melihat mereka… hatiku terasa hangat sekaligus haru. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika melihat seorang ayah yang begitu dirindukan oleh anak-anaknya, dan anak-anak yang begitu bangga memiliki ayah seperti dia.
Tapi di balik semua itu.. ada satu sosok yang selalu membuatku kagum. Ibunya. Kakak perempuanku.
Sebagai istri seorang tentara, hidupnya bukanlah hidup yang mudah. Ia menjalani LDM (long distance marriage) dengan kesabaran yang luar biasa. Hari-harinya dipenuhi tanggung jawab mengurus dua anak laki-laki yang sedang tumbuh aktif dan penuh rasa ingin tahu.
Ia menjadi ibu.. sekaligus sering harus menjadi sosok ayah di rumah. Mengantar sekolah, menenangkan saat sakit, mendengarkan cerita anak-anak sebelum tidur, mengajarkan mereka tentang kehidupan, dan memastikan mereka tetap tumbuh menjadi anak-anak yang kuat dan baik. Semua itu ia jalani tanpa banyak keluh. Dengan sabar. Dengan keteguhan yang diam-diam sangat kuat.
Kadang aku melihatnya dan berpikir.. tidak semua orang mampu menjalani kehidupan seperti itu. Butuh hati yang besar, kesabaran yang panjang, dan cinta yang sangat dalam kepada keluarga.
Dan setiap kali melihat dua keponakanku tumbuh menjadi anak laki-laki yang ceria dan penuh semangat.. aku tahu, di balik mereka ada ibu yang luar biasa.
Hari bersama ayah mereka mungkin hanya satu hari tidak sampai 24 jam, sebelum tugas kembali memanggilnya pergi. Tapi kenangan itu.. akan tinggal lama di hati mereka.
Dan aku… selalu merasa bangga memiliki kakak perempuan yang begitu tangguh. Seorang istri tentara yang kuat, dan seorang ibu hebat yang dengan penuh cinta membesarkan dua anak laki-laki yang kelak, semoga.. akan menjadi pria-pria hebat seperti ayah dan kakeknya.
Dan di dalam hati kami semua selalu ada satu doa yang sama. Semoga suatu hari nanti, tugas ayah mereka bisa berpindah. Semoga jarak yang selama ini memisahkan bisa digantikan dengan hari-hari yang dijalani bersama.
Agar kakak perempuanku tidak lagi menjalani semuanya sendiri. Agar dua anak laki-laki hebat itu bisa lebih sering pulang sekolah dan langsung memeluk ayahnya. Dan agar sebuah keluarga kecil yang selama ini kuat menahan rindu, akhirnya bisa kembali berkumpul utuh di satu rumah.
Karena pada akhirnya, sejauh apa pun seseorang mengabdi pada negara.. rumah tetaplah tempat di mana hati selalu ingin kembali. 🤍