Ayahku Seorang Prajurit.
Cinta pertama yang tak akan pernah tergantikan sepanjang masa, kehebatan yang tak pernah diragukan olehku. Cinta dan kasihmu begitu manis.
Wahai ayah, kelak ketika aku yang ditakdirkan sebagai putrimu ini tak mampu membahagiakanmu, masihkah engkau mau menjadi cinta pertamaku? Masihkah engkau yang di depan membelaku? Masihkah engkau yang berjuang demi bahagiaku?
Ini aku, putri kecilmu yang mulai beranjak dewasa. Ayah pasti paham betul bagaimana perangaiku. Aku gadis kecil nakal itu, saat tubuhku masih setinggi lututmu, kemana ku pergi tak pernah lepas dari gandengan jari telunjukmu. Bagaimana aku berjalan dengan terbata2 dengan sigap membantuku bangun dan berdiri kembali untuk lanjut belajar berjalan hingga mampu berlari mengejarmu dengan tawa riangku.
Semakin bertambah umurku, beranjak menuju kedewasaanku. putrimu mulai mengenal sebuah ketertarikan yang mengalun dalam perasaan terdalam. Ayah selalu bilang, bahwa anak tentara harus mandiri. Anak tentara tidak boleh cengeng. Harus disiplin dan bertanggung jawab. Menikmati masa menjadi anak kecilmu selalu menyenangkan. Kemanapun aku ingin pergi selalu kau antar. Hingga waktu terus berjalan ayah membiarkanku pelan-pelan tak bergantung pada genggaman ayah.
Menginjakkan kaki pertama kalinya di kota orang. Jarak kabupaten kelahiran dengan tempatku menempuh pendidikan 7jam perjalanan lamanya. Sudah dipastikan anak bontot yg biasanya selalu dimanja akhirnya menjadi anak perantauan.
Banyak kisah yang aku sematkan dalam menempuh pendidikan. 4tahun tiba setenga semester asaku mulai melayang, aku dan engkau kehilangan wanita terindah. Dia ibuku, wanita yang sangat dicintai ayah. Wanita sederhana dan tak pernah mengeluh, melahirkan 4 anak dan mampu membesarkannya penuh kesanaran atas amanah yang dia jalankan sebagai ibu rumah tangga. Berkecamuk perasaan yang membuatku merasa menjadi gadis malang, hari-hariku menangis akan kerinduan. setiap kali aku katakan "yah, diah kangen ibuk" seketika ayah hanya memeluk dan mengusap kepalaku dan ikut meneteskan air matanya.
Aku tidak tahu bagaimana bisa akhirnya perlahan kita bisa ikhlas atas kepergian wanita terindah itu. Setiap hari ayah menguntai harapan2nya melalui sms tiap malam yg tak pernah telat seharipun. Ayah merapel dua posisi sebagai ayah juga sebagai ibu untukku. Menanyakan bagaimana kuliahku hari ini, menanyakan perlengkapan kuliahku apa sudah masuk semua ke dalam tas, jika musim hujan juga ayah tak pernah lupa mengingatkanku untuk menyiapkan jas hujan di jok sepeda.
Aku katakan sangat bangga dengan ayah dan ibuku. Orang tua yang hangat penuh keromantisan. Tak pernah membandingkan anaknya dg anak org lain yg mungkin punya kepandaian lebih. Orang tua yg tak pernah menuntut anaknya harus menjadi apa. Kita bebas menentukan apa yg kita mau, apa yg kita suka dan apa tujuan kita. Hanya saja ketika ada yg kurang tepat mereka juga tidak melarang atau membuat langkahku terhenti. Mereka memberi pertimbangan seandainya aku melangkah resiko apa yg harus ku terima dan kemenangan apa yg akan aku capai.
Ayahku juga sahabatku. Aku terbuka dengan ayah dan ibu tentang hari-hariku. Bahkan urusan asmara sebelum aku cerita kepada teman2 terdekatku, terlebih dahulu aku bercerita pada ayah ibuku. Jika respon baik baru aku bercerita pada temanku. Ayah ibuku juga bukan orang tua yg kolot akan perjodohan. Tidak memberi patokan kriteria pasangan untuk anak2nya. Jika sama suka silahkan jalan.
Malam itu, kudengar kabar ayah mulai sakit2an. Wajar saja karena faktor usia, seketika aku menatapi foto2 masa kecilku, foto2 masa muda ayah dan ibuku. Membuatku bangga menjadi anak mereka. Aku katakan aku bangga punya ayah tentara. Jiwa nasionalis dan patriotisme ayah tanamkan sejak aku kecil. Selalu menyanyikam lagu2 kebangsaan untukku, bahkan yel2 yg ayah nanyikan menuju tanah perang. Hingga banyak dongeng yang beliau ceritakan dari masa2 perjuangannya menajadi tentara. Ayah sekitar tahun 70an ditugaskan ke tanah timor timur yg sekarang menjadi timor leste. Operasi seroja kata ayahku. Ayah mengatakan hidup di hutan makan ala kadarnya. Banyak teman2nya yg gugur di medan perang. Dan aku bertepuk tangan kala itu, merasa ayahku menang, dia masih hidup dan bisa pulang. Terngiang selalu setelah bercerita perjalanan tugas tentara adalah lagu dengan lirik "tinggalkan ayah tinggalkan ibu, izinkan kami untuk berjuang, dibawah kobaran sang merah putih, dst". Disana ayah menyisipkan bangganya mempunyai istri seperti ibu yg setia dan tak pernah menuntut apapun dari ayah selain kasih sayang dan kesehatannya. Ayah bercerita pula bahwa perjalanan cintanya dengan ibu saat belum mempunyai apa-apa.
Kemudian di sambung dengan cerita ibu yang tak henti membanggakan ayah, ibu selalu berkata bahwa ayah laki2 yang sangat tampan dan gagah. Untuk menyatakan perasaan harus melalui kiriman surat yang menunggu berminggu2 baru sampai ke orangnya. Ibu bercerita bahwa di komplek asrama akan banyak perpaduan macam2 kriteria ibu2. Ada yg sederhana ada pula yg suka memamerkan hartanya. Ya ibu hanya diam karena merasa orang biasa saja. Ibu mulai menceritakan bagaimana menjadi istri prajurit untuk tetap setia. Karena tak sebagian wanita tdk kuat hidup jauh dr suaminya, hingga terjadi perselingkuhan. You are strong woman mom.. aku 4 bersaudara, dan ibu melahirkan 3 saudara (kakak2ku) tanpa ayah disisinya. Disana ibu menjelaskan bahwa aku harus paham, aku bukan anak yg bisa setiap saat bisa bermain dengan sang ayah. Menjadi istri dan anak tentara harus rela orang yg begitu dicintai telah di kontrak mati dengan bangsanya. Tidak butuh hal lain selain dukungan dr keluarga.
Tiba-tiba saja ibu berkata sesuatu. entah sengaja atau tidak aku juga tak seberapa menghiraukannya. Ibu berkata, bahwa nanti ketika aku sudah dewasa ibu berharap suamiku seorang tentara. Ibu berharap ada yg bisa menggantikan ayah nantinya. Hanya saja aku biasa saja menanggapinya. Sedangkan kakakku para wanita tidak setuju, menurut mereka tentara itu nakal banyak wanitanya. Apapun itu aku tidak membanggakan siapapun. Aku tetap bangga dengan 1 tentara yaitu ayahku.
Banyak yang mengatakan waah enak ya jadi anak tentara.. pasti saya jawab sangat enak. Menjadi anak tentara harus disiplin, harus percaya diri, tidak boleh cengeng apalagi penakut. Anak tentara harus segar bugar, sehat dan kuat. Punya ayah tentara itu menyenangkan, muka aja garang tp aslinya romantis sekali dg anak istrinya.
Tahun 2017, aku tamat menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri Politeknik Negeri Jember dengan IPK 3,65 dan dihadiri oleh ayahku. Dia datang dengan segala harapan. Aku peluk ayah erat2 sebelum menempati kursi wisudawan wisudawati. Aku duduk di urutan paling depan. Aku lihat ayah juga sudah memasuki ruangan sambil mendongakkan kepala mencari dimana posisi putrinya. Aku lambaikan tanganku ke arah ayah di seberang. Tampak ayah lega sambil mengacungkan jempolnya ke aku. Hingga mars dan hymne polije menggema, pemanggilan wisudawan sampai pada nama dengan gelarku dipanggil : Army Kusuma Dyah Anggraini, S.ST Lahir di Lamongan, 03 Juni 1995, Program Studi Teknik Produksi Benih, Jurusan Produksi Pertanian, IPK 3,65 dengan lama study 4 Tahun 10 hari lulus dengan predikat pujian. Tali toga dari arah kiri berpindah ke arah kanan. Aku turun podium sambil meliha ayah yg memegang dada sambil mengusap matanya. Hadir di wisudaku tanpa ibu atau saudara2ku. Setelah acara wisuda segera aku berlari menghampiri ayahku yg berpakaian batik dan celana seadanya dan aku tidak malu, karena aku paham tidak ada wanita yg menyiapkan baju lagi untuknya, aku cium kakinya dan kedua pipinya. sambil aku katakan "ayah, terima kasih.. army bangga sama ayah, maaf jika banyak mengecewakan ayah, terima kasih sudah memerankan 2 peran sekaligus untuk army sebagai ayah dan ibu dalam satu waktu." Ayah tak banyak kata, hanya mengusap air mataku, merangkulku ke luar ruangan dan berfoto bersama dengan sahabat2 yg sudah menyambutku dg hadiah2 di tangan mereka.
Akhirnya aku mulai mengenal cinta, dari sosial media aku berkenalan dg seorang laki2 dan dia berprofesi sebagai tentara. Ya awal biasa saja, hingga berjalan 4 tahun aku merasa dia yg akan menjadi jodohku. Kenyataannya tidak. Ada sebab2 yang tak perlu aku ceritakan. Hanya perlu aku katakan karena memang Tuhan tidak menjodohkan kita. Aku banyak tau lebih banyak kehidupan seorang prajurit tidak mudah, dari daftar, menikah sampai meninggal juga panjang prosesnya.
Masa kelam kembali datang, seolah segala jiwa ragaku merasa lumpuh lemas tak berdaya. Setelah aku kehilangan laki2 yg saat itu aku anggap cinta, nyatanya dg waktu tak lama aku benar-benar kehilangan cinta pertamaku. Ayahku, laki2 satunya yg berupaya selalu membahagiakanku, laki2 yang tak pernah menyakitiku. Harus pergi selamanya meninggalkanku. Hanya berpegang teguh pada hatiku.. keinginannya melihat aku menikah dan bs menjumpai cucu dariku blm tercapai. Menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 18 januari 2020 di usianya yg ke 63tahun dan ibuku menghembuskan nafas terakhirnya 28 januari 2015 di usianya yg ke 53.
Kosong sempat menjadi pandanganku.. namun Allah berikan aku kekuatan.. ayah berkata bahwa aku ini anak wanita yg hebat. Seperti nama indah yg diberikan untukku tak sembarang mengungkap makna.
Army Kusuma Dyah Anggraini
Dia anak perempuan dari tentara yang tumbuh seperti bunga negara yaitu anggrek. Tumbuh menempe di tanaman lain tapi dia sebagai puspa pesona indonesia, di cintai karena keindahannya, kelestariannya, dia hidup dimana saja diterima kadena bukan sebagai pengganggu tp pemberi keindahan.
Terselesaikan segala kesedihan.. berjuang mencapai semangat baru.. menata hati agar ikhlas.. hingga akhirnya aku punya keyakinan kelak ada pria sepertimu ayah.. jika aku dapatkan laki2 yg sepertimu, akan ku jaga amanahmu baik2. Menjadi wanita yang setia, menggapai keberhasilanmu mendidik anak2 putrimu yg berbakti pada suami dan mencintai mertua layaknya org tua sendiri tanpa garis pembedaan.
Salam rindu, untuk laki2 terhebatku bersama wanita terindahku.. sepanjang masa.. aku bangga menjadi anak prajurit sepertimu. Tenang saja.. jasamu tak kan hilang.. hingga anak cucumu akan ku teruskan dongeng2 perjuanganmu. Agar tumbuh jiwa2 nasionalis dan patriotisme pada mereka untuk cinta medalam pada negara.
















