Tentang Eps. 5 dan 6
Nonton episode pekan ini, yuk lah kita coba ambil hikmahnya. Kalau dari perspektif ku yang nonton 2 episode pekan ini, terkadang persepsi dan prasangka itu lebih mengerikan dibanding kita tabayun dan terus terang. kalau sangkut pautnya sama orang lain, dari pada kita memperspektifkan yang enggak-enggak tapi belum tentu bener adanya, ya mending di komunikasikan langsung aja sekalian. Cara itu tu paling clear untuk menyelesaikan kesalah pahaman, dibanding mempercayai perspektif dan prasangka yang bisa jadi salah total.
Manusia notabennya makhluk sosial, ya walaupun mungkin bisa nahan sampai sejauh atau sebanyak apapun masalah hidup, ada masanya ketika semua itu akhirnya capek banget dan g kuat. Meluap luap, meledak ledak dan rasanya pengen kabur menghilang. Itu fungsinya Allah ciptakan begitu banyak jenis manusia berbeda watak, karakter dan sikap. Buat saling mengisi dan melengkapi, biar yang kaku bisa dilengkapi sama yang enjoy, yang gengsi bisa dilengkapi sama yang mau mengalah, yang kurang motivasinya dilengkapi sama yang punya ambisi besar. Saling berbagi, dan jangan salah! sekedar mendengar (jadi pendengar yang baik) aja bisa membuat banyak ketenangan untuk ia yang sedang mau berkeluh kesah. Kita selalu punya orang-orang yang mau mendengarkan dan merangkul semua itu, percayalah! Allah Pasti akan hadirkan, karena Allah Paling Tau kapasitas tiap Hamba-Nya itu gimana.
Oiya lagi, aku setuju pake banget dengan statement don't judge book by cover. Karena bisa jadi, kita menemukan manusia yang kok dia egois banget, mementingkan diri sendiri, kok dia susah dideketin, kok dia dibaikin malah ngejauh, kok dia g ramah dan susah senyum, terus dengan enteng nya kita memberi cap dia Manusia yang g baik. Hmmmm, ini salah si kalau menurut aku. Karena kalau menurut perspektif ku, tiap orang tu punya alasan masing-masing dalam ia bersikap dan mengambil tindakan. Dia punya sesuatu yang menyebabkan dia memilih untuk menjadi seperti itu. Bahkan terkadang dia udah lelah untuk melakukan itu, dan yang lebih jahatnya bukannya didukung, manusia cenderung julid dan g mau ambil pelajaran dari berbagai perspektif. Yuk, coba belajar jadi manusia yang banyak-banyak khusnuzon sama orang lain. Selama apa yang dia pilih dan lakukan bisa dipertanggungjawabkan, coba lah untuk khusnuzon. Tugas kita untuk mengingatkan, menasihati dan memberitahu kalau-kalau memang ada yang melenceng dari tatanan agama, bukan untuk memaksa dan menggurui. Dan, kalau batasan agama tidak ia langgar, walau pait dan kadang bisa bikin yang lain kesel, ya udah khusnuzon dulu. Siapa tau keputusan itu sudah dia fikirkan dengan berbagai pertimbangan.
Terakhir, oke kita bukan manusia yang sempurna. Kalau menurut ku, kita diciptakan tidak sempurna supaya kita mau terus belajar dan berproses. Merasa kurang dan akhirnya bergerak,menyerap ilmu, menata diri lagi dan lagi. Tiap orang punya kesulitan dan strugle hidunya masing-masing. Punya pencapaian dan progres nya masing-masing. Yuk, belajar untuk saling menghargai dan memotivasi. Saling menyemangati dan mendukung satu sama lain. Boleh membandingkan agar bisa termotivasi, tapi jangan terlalut sampai membuat kita berhenti atau mundur ke belakang.
Semangat Manusia-manusia pilihan! Ya, pilihan! Aku, kamu, mereka, adalah manusia pilihan. Selamat menjadi manusia yang bisa memanusiakan manusia ❤️








