Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.
"Rabbi innii massaniyadhdhurru wa anta arhamurrahimiin."
Doa para anbiya tak pernah luput dari susunan adab yang mengagungkan.
Susunan doa doa yang termaktub lisan para anbiya itulah sekehendaknya yang menjadi tuntunan.
Tentang bagaimana yang utama dari lahirnya doa adalah kehadiran 'Yakin'. Yakin yang harus selalu berujung kepada Allah SWT. saja, tiada lain tiada bukan.
Sebab itu yang harus selalu menjadi mula adalah senantiasa -MengagungkanNya-
"...Anta samii'ul'alliim" (QS. Al-Baqarah :127)
Seraya termohon diterima nya amal dalam kutipan doa yang dilangitkan nabi Ibrahim as. dan Ismail seraya yakin kepada Allah, ..Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui..
"Wa anta khairul faatihiin" (QS. Al-Araf : 89)
Doa tawakal nabi Syuaib as. dengan keyakinan penuh dalam lirih lafalan yakinnya ..dan Engkau-lah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya..
"Wa anta arhamurrahimiin" (QS Al-Anbiya :83)
Sekiranya tergelar sabar, bersebab tak perhitungannya nabi Ayub as. dalam menanggung ujian sakit, doa nya meyakini betul akan datang keajaiban dari permohonan ..dan Engkau adalah Tujan Yang Maha Penyayang diantara semua yang penyayang..
99 asma paling terbaik kiranya tak boleh luput dari lisan insan. Sebab tiada daya dan upaya sedikit pun yang dapat diperbuat tanpa pertolongan Allah semata.
Kehadiran pengakuan 'lemah' juga merupakan jalan. Jalan yang menunjukan bahwa yang memanjatkan berdoa adalah manusia. Segala rentetan kelemahannya di beri panggung yang luas didalam rentetan susunan doa.
"Innii kunntu minazhzhaalimiin" (QS. Al-Anbiya :87)
Kiranya ini menjadi lirih pamungkas. Yang balasan terhadap nabi Yunus as. memangkas ketidakmungkinan dilapis-lapis ujian. ..sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim.. Pengakuan ketidakberdayaan yang Allah sambut dengan pertolonganNya yang berkesinambungan.
"Inni zhalamtu nafsii.." (QS. Al-Qashash : 16)
Pengakuan nabi Musa as. pun tak kalah lemahnya. Aku telah menganiaya diriku sendiri lalu tersambung permohonan ampun. Maka Allah beri tapak2 kemudahan yang beruntun.
"Inni massaniyadhdhurru.." (QS. Al-Anbiya : 83)
Maka keterusterangan nabi Ayub as. ini pun juga menjumpai keajaiban dari Allah bahkan terliput juga nobat kesabaran dibalik lemah nya rintih ..sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit..
Sekiranya banyak sekali jumlahnya doa yang dilangitkan lisan para anbiya. Al-Quran pun banyak mengabadikannya. Itu lah rupa nya masing2 Al Quran yang teramanahkan di tangam merupakan bekal untuk masing-masing pribadi tanpa mengenal kedudukan jabatan ataupun jaman.
Terperolehlah lisan ini kesempatan melafal doa sebagaimana nabi Ayub as. lafalkan. Rasanya?
Ditengah ujian yang +- 18 tahun panjangnya beliau dengan santunnya hanya mencantumkan penuh keyakinan pada Illah nya "Engkaulah Tuhan Yang Maha Penyayang diantara semua yang penyayang."
Dimana letak permintaan disembuhkannya?
Telisik diri yang imannya memang amat jauh dari -orang2 yang dirindu surga- tapi selalu berharap termasuk menjadi -orang2 yang dirindu surga-.
"Sungguh kenikmatan yang telah Allah karuniakan kepadaku, bertahun-tahun lebih banyak dari tahun-tahun masa ujianku kini" kira nya begitu kisah nabi Ayub as. menjawab telisik diri.
Sebuah keimanan yang didalamnya terpaut combo maut nya hidup; Sabar dan Syukur.
Maka keajaiban yang Allah beri bukan hanya kesembuhan dengan cara diluar sangka dititik matatho'tum nya ikhtiar nabi Ayub as. tapi juga kembalinya kebaikan yang bertambah-tambah dalam hidupnya.
Kira nya, umi berulangkali menguatkan saat tangis tak lagi mampu genap terbendung mata "Sabar ya mba, insyaAllah sehabisa datang ujian, akan datang hadiah yang diluar sangkaan." "Sabar ya mba, mba sedang kembali Allah suci kan, sebab barangkali Allah mau sandingkan mba dengan sosok yang kelak kesucian nya sejajar." "Sabar ya mba, Allah habis semua rentetan ujian yang datang sekarang, Allah akan datangkan hadiah yang besar." Dan runtutan penguat-penguat lainnya.
Namun entah mengapa. Rasanya yang dirapal pikiran berbeda. Kesudahan setelah ujian yang umi afirmasikan, bentuknya beberapa ada yang disisipi doa diharapkan perjumpaan dengan sesosok kawan perjalanan, kira nya tak dalam keadaan sakit ini rasanya kuat-kuat diaamiinkan adalah yg lisan lakukan sebab mendukung perasaan hati yang juga turut mempertanyakan perihal kedatangan. Tapi nyatanya, sakit membuat pikiran serta perasaan menganalogikakannya berbeda.
Kira nya sakit yang beruntun ini untuk memangkas dosa, apakah ini dipersiapkan untuk berjumpa Illahi Rabbi?
Kiranya disucikan, pernah bahkan berulangkali terlafalkan ingin sekali kembali pada Allah dalam keadaan tersuci (sesuci-suci nya), maka apakah ini titian untuk menjumpaiMu, ya Rabbi?
Kiranya untuk memperoleh hadiah yang besar, satu satunya ingin yang paling besar ku ialah perjumpaan denganMu ya Illahi, maka ini kah jalan untuk memperoleh hadiah yang di harap hati ini, ya Illahi?
Kira nya yang selama ini diharap menjemput awal adalah sesosok lelaki yang paling di Ridhoi Illahi, padahal barangkali ternyata ajal lah yang jauh lebih awal mengincar diri ini?
Semua pikiran itupun menjumpai keterpautan dengan doa nabi Ayub as.
Tentang yakin akan datangnya keajaiban, tanpa terkaan permintaan dibawah kendali manusia yang isinya kealpaan, kelemahan, kekurangan dalam merancang. Yakin yang membawa serta keajaiban kepercayaan, sebab Allah yang paling Maha dalam segala urusan.
Maka, Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.