Entah
Kalau ditanya seperti apa dia kelak, akhlaknya tak terjeda, hatinya selalu merapat, tak dapat dieja pula kecantikannya. Ia, kelak ialah kalimat utuh yang tak cukup sekedar dilisankan.
kelak, bukan sekarang.

oozey mess
Not today Justin
trying on a metaphor
ojovivo
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

祝日 / Permanent Vacation
NASA
taylor price

No title available

tannertan36

Origami Around

No title available

if i look back, i am lost
occasionally subtle
Sweet Seals For You, Always
hello vonnie
Lint Roller? I Barely Know Her
we're not kids anymore.
Sade Olutola
AnasAbdin

seen from India

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from South Africa
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from India

seen from New Zealand
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@lebah-vs-tikus
Entah
Kalau ditanya seperti apa dia kelak, akhlaknya tak terjeda, hatinya selalu merapat, tak dapat dieja pula kecantikannya. Ia, kelak ialah kalimat utuh yang tak cukup sekedar dilisankan.
kelak, bukan sekarang.
Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita. Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita. Kita istimewa dalam penglihatan orang - orang yang mencintai kita. Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian. Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri. Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing - masing, maka tidak usah berlelah - lelah agar tampak baik di mata orang lain. Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita https://www.instagram.com/p/B8v8u0rHgjp/?igshid=18f0jb1g72uf4
Resensi Buku Islamisasi Sains: Sebuah Upaya Mengislamkan Sains Barat Modern
RESENSI BUKU
Judul : Islamisasi Sains: Sebuah Upaya Mengislamkan Sains Barat Modern
Penulis : Budi Handrianto
Penerbit : Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS)
Oleh : Rizki Rinaldi
Cetakan Kedua, 2019
Xi + 277 hlm.
No science has ever been integrated into any civilization without some of it also being rejected. It’s like the body. If we only ate and the body did not reject anything we would die in a few days. Some of the food has to be absorbed, some of the food has to be rejected. -Seyyed H. Nasr-
“Bacalah (wahai Muhammad). Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menjadikan. Menjadikan insan dari segumpal darah. Bacalah; dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajar insan dengan pena. Mengajar insan apa yang tidak diketahuinya. QS Al-Alaq ayat 1-5”
Memberikan gambaran secara langsung mengenai buku ini ialah, buku ini berisi tentang sejarah, konsep, paradigma, makna, fakta dan agenda islamisasi ilmu pengetahuan, khususnya di bidang sains alam (natural science). Diawali dengan pembahasan konsep ilmu menurut Islam (kajian filsafat ilmu), proses naturalisasi ilmu pengetahuan dari peradaban satu kepada peradaban lain, sejarah dan proses islamisasi ilmu pengetahuan di masa kejayaan peradaban islam.
Islamisasi bukan sekedar memberikan label islam terhadap ilmu. Bukan sekedar mencantumkan kalimat “bismillahirrahmanirrahiim” di awal tulisan, bukan pula mengganti istilah-istilah asing menjadi istilah islam. -hal tersebut hanya merupakan salah satu bagian dari proses islamisasi. Tapi islamisasi sains yang dimaksudkan dalam tulisan pada buku ini ialah islamisasi sains sebagai sebuah konsep di mana ilmu yang ada (ilmu sekular) dibersihkan terlebih dahulu dari nilai/paham yang bertentangan dengan islam dan kemudian diisi dengan nilai-nilai islam didalamnya. Oleh karena itu penempatan islamisasi sain berada dalam tataran konsep, dan fokus pembahasannya menyangkut ranah filosofi, bukan berkaitan dengan produk sains atau teknologi. Oleh karena itu tidak akan ditemui pembahasan islamisasi sains pada menghasilkan seperti matematika islam, astronomi islam, ilmu ukur islam, ilmu kedokteran islam, fisika islam, produk-produk yang dalam kritik dan sindirian terhadap islamisasi sains disebut bahwa akan mengubah sudut siku-siku yang 90 derajat menjadi 97 derajat, usia jagatraya yang 13.72 miliar tahun menjadi 6000 tahun, lingkaran bukan lagi bersudut 360 derajat melainkan 357 derajat. Sebuah kritik yang pernah disampaikan terhadap agenda islamisasi sains, yang pada dasarnya salah alamat karena islamisasi sains tidak bicara dalam ranah produk ataupun teknologi melainkan tataran konsep.
Kandungan Buku
Buku ini terdiri dari 9 bagian dengan 5 bagian utama mengenai Islamisasi sains. Bagian pertama merupakan bagian yang membedah konsep ilmu dan makna sains dalam islam. Bagian ini lah yang akan menentukan pembahasan selanjutnya, karena dalam bagian ini pokok utama pembahasan berasal dari thesis “ketidaknetralan ilmu” yang akan menjadi perdebatan dan poin kritik kenapa islamisasi sains menjadi penting. Jika dalam pemahaman seseorang ilmu itu “netral” maka mereka tidak akan mengenal dan memahami mengenai istilah “islamisasi”
Bagian kedua, setelah ilmu telah dijabarkan posisinya mengenai dirinya yang “value-free/bebas nilai” ataukah “value-laden/terikat nilai” maka penjabaran dibagian kedua ialah mengenai naturalisasi ilmu. Karena posisi ilmu yang tidak netral, maka ilmu bisa diarahkan kepada pemahaman tertentu suatu kaum. Seperti ilmu yang berasal dari Yunani yang bertransformasi ketika diambil oleh peradaban islam dan juga ilmu yang diambil barat yang menjadi terbaratkan/westernized.
Bagian ketiga, sejarah islamisasi ilmu pengetahuan di awal islam. Bercerita tentang bagaimana dahulu islam pernah melakukan islamisasi ilmu. Yaitu pengambilan ilmu-ilmu dari peradaban Yunani kuno, Persia maupun India. Setelah ilmu itu terislamkan, dan kemudian kejayaan islam mulai memudar, ilmu pun berubah lagi arahkan menjadi terbaratkan.
Bagian keempat, ialah akan mengulang kembali ide islamisasi ilmu pengetahuan secara umum, patut diketahui upaya-upaya dan ide-ide yang dahulu pernah dipaparkan, seperti oleh Al-Attas, Faruqi, maupun Nasr. Ide ketiga pakar inilah yang kemudian memengaruhi pengembangan ide islamisasi sains saat ini.
Bagian kelima, ialah inti yang membahas tentang islamisasi sains, yang saat ini setidaknya terdapat lima pendekatan. Instrumentalistik, justifikasi, sakralisasi, integrasi, dan wordview.
Kelanjutan dari buku ini ialah bagian yang juga memberikan ruang dengan kritik atas ide islamisasi sains dan bagaimana responnya, perkembangan islamisasi sains di Indonesia dan juga gerakan-gerakannya, serta yang saat ini ialah upaya memasukkan sains islam ke dalam kurikulum pendidikan.
5 Pendekatan Islamisasi Sains
1. Instrumentalistik
Konsep islamisasi sains dengan pendekatan instrumentalistik merupakan suatu konsep yang menganggap ilmu atau sains sebagai alat(instrument). Bagi mereka, sains terutama teknologi adalah sekadar alat untuk mencapai tujuan, tidak memperdulikan sifat dari sains itu sendiri, yag penting sains menghasilkan dan mengantarkan pada tujuan pemakainya.
Hal ini dapat diperhatikan dari reaksi pertama ilmuwan dan tokoh muslim terhadap sains barat yang melakukan pendekatan ini. Setelah barat maju dengan teknologinya kemudian melakukan penjajahan dan kolonisasi di negri-negri muslim, para tokoh tersebut menyadari ketertinggalannya dan bereaksi selama pendudukan bangsa barat dengan mencoba menggunakan sains dan teknologi itu untuk melawan kaum penjajah. Seperti Muhammad Ali di Mesir dan Sultan Salim di Turki. Mereka mengirimkan pelajar-pelajar ke Eropa, mengembangkan teknologi militer, menerjemahkan buku-buku dan memasukkan pengajaran ilmu pengetahuan dan teknologi modern ke dalam kurikulum sekolah.
Dengan kondisi seperti itu tentunya tanggapan yang hadir berbagai macam pula, yang terpenting ialah sikap kaum muslimin yang beriringan dengan perkembangan sains dan teknologi yang tumbuh sangat pesar serta disisi lain upaya kembali ke tradisi islam untuk mengembalikan hegemoni islam yang kian pudar.
Salah satu tanggapan tokoh muslim pada saat itu ialah tanggapan Jamaluddin Al-Afghani. Idenya mengenai pengambilalihan teknologi barat untuk dikuasia sarjana-sarjana muslim sebagai contoh pendekatan instrumentalistik dalam islamisasi sains.
2. Justifikasi
Islamisasi sains yang paling menarik bagi sebagian ilmuwan dan kalangan awam ialah konsep justifikasi. Justifikasi ialah penemuan ilmiah modern, yang diberika justifikasi(pembenaran) melalui ayat al-Qur’an maupun hadits. Meskipun kritik terhadap konsep ini juga cukup gencar salah satunya ialah kritikan konsep ini bukan merupakan islamisasi namun ayatisasi, namun penerbitan buku-buku yang mengupas penemuan Ilmiah yang dikaitkan dengan ayat al-qur’an dan hadist juga berkembang cukup pesat.
Konsep inilah yang berpengaruh kepada karya seperi Keith L. Moore, professor anatomi FK universitas Toronto yang menulis buku Hightlights of Human Embryology in the Qoran and Hadits (1982), kemudian buku correlation studies with Qur’an and hadits karangan ‘Abd Majid az-Zindhani, dan banyak lainnya. Salah satu contohnya ialah pendekatan justifikasi ketika meneliti mumi fir’aun di mesir yang dihubungkan dengan qur’an surat yunus ayat 92 yang berbunyi:
maka pada hari ini kami selamatkan badanmu suoaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu” (QS Yunus: 92)
Disini Bucaille, menemukan keganjilan, yaitu tingginya kandungan garam pada tubuh mumi tersebut. Dia baru menemukan jawabannya di Al-Qur’an, ternyata fir’aun inilah yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar nabi Musa as. Injil dan taurat hanya menyebutkan bahwa ia tenggelam, tetapi hanya Al-Qur’an yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga menjadi pelajaran bagi kita semua.
Konsep ini banyak sekali menemukan kesesuaian ayat dengan temuan sains modern, diantaranya;
· Pembentukan alam semesta
· Orbit benda-benda langit
· Langit yang mengembang (expanding universe)
· Atap yang terpelihara
· Gunung yang bergerak
· Segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan
· Keajaiban pada besi dll.
3. Sakralisasi
Sakralisasi. Artinya sains modern yang sekarang ini bersifat sekular dan jauh dari nilai-nilai spiritualitas, diarahkan menuju sains mempunyai nilai sacral. Ide ini dikembangkan pertama kali oleh Seyyed H. Nasr. Nasr melakukan kritik terhadap sains modern yang sekular yang berkembang saat ini. Menurutnya, dalam pandangan sekular ia tidak melihat ada jejak tuhan dalam keteraturan alam. Alam bukan lagi sebagai ayat-ayat Allah tetapi entitas yang berdiri sendiri. Alam digambarkan secara mekanistis bagaikan mesin dan jam. Alam menjadi sesuatu yang bisa ditentukan dan diprediksikan secara mutlak.
Nasr kemudian mengemukakan idenya tentang sains sacral yang membahas tentang kebenaran pada tiap tradisi, konsep manusia dan konsep intelek dan rasio. Dalam sains sakral, iman tidak terpisah dari ilmu dan intelek tidak terpisah dari iman. Rasio merupakan refleksi dan ekstensi dari intellek. Ilmu pengetahuan pada akhirnya terkait dengan intelek Ilahi dan bermula dari segala yang sakral.
4. Integrasi
Ide ini diketengahkan oleh Ismail R. Al-Faruqi. Menurutnya akar dari kemunduruan umat Islam dalam berbagai dimensi karena dualisme sistem pendidikan. Dalam pandangannya dualism sistem pendidikan inilah yang merupakan tugas terbesar kaum muslimin. Pada satu sisi, sistem pendidikan islam mengalami penyempitan pemaknaannya dalam berbagai dimensi, sedangkan pada sisi yang lain, pendidika sekular sangat mewarnai pemikiran kaum muslimin.
Al-faruqi menyimpulkan solusi terhadap permasalahan dualism sistem pendidikan yang terjadi ini dengan islamisasi sains. Sistem pendidikan harus dibenari dan dualism harus dihapuskan dan disatukan dengan jiwa islam dan berfungsi sebagai bagian yang integral dari paradigmanya. Paradigma tersebut bukan imitasi dari barat.bukan juga untuk semata-mata memenuhi kebutuhan ekenomis dan pragmatis belajar untuk pengetahuan professional. Sistem pendidikan harus diisi dengan sebauah misi yang tidak lain ialah menanamkan visi islam, menancapkan Hasrat untu merealisasikan visi islam dalam ruang dan waktu. Dalam pendekatan ini Al-faruqi mengajukan prinsip-prinsip metodologi islam seperti 1. Unity of Allah (tauhid) 2. Unity of Creation 3. Unity of Truth and Knowledge 4. Unity of Life 5. Unity of Human Kind.
5. Paradigma (Worldview)
Ide ini ialah salah satu ide islamisasi sains yang pertama kali disampaikan secara sistematis oleh Al-Attas. Bahkan secara khusus ia menyebut permasalahan islamisasi ialah permasalah mendasar yang bersifat epistemologis.
Ide islamisasi sains ini ialah ide yang dimulai dengan membongkar sumber kerusakan ilmu. Menurut Al-Attas tantangan terbesar yang dihadapi kaum muslimin ialah ilmu pengetahuan yang tidak netral telah merasuk ke dalam praduga-praduga agama, budaya dan filosofis, yang sebenarnya berasal dari refleksi kesadaran dan pengalaman manusia barat. Dan harus diislamkan, ini mencakup metode, konsep, praduga, symbol, beserta aspek-aspek empiris dan rasional dan yang berdampak kepada nilai dan etika, penafsiran hitorisitas ilmu, bangunan teori ilmu tersebut, praduganya yang berkairan dengan dunia, dan rasionalitas proses-proses ilmiah, teori ilmu tersebut tentang alam semesta, klasifikasinya, batasannya, hubung kaitnya dengan ilmu-ilmu lainnya serta hubungannya dengan sosial harus diperiksa secara teliti.
Oleh karena itu Al-Attas memberika pengertian islamisasi sains sebagai:
Pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional dan dari belenggu paham sekular terhadap pemikiran dan bahasa.. juga pembebasan dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekular dan tidak adil terhadap hakikat diri atau jiwanya, sebaab manusia dalam wujud fisiknya cenderung lupa terhadap hakikat dirinya yang sebenarnya, dan berbuat tidak adil terhadapnya. Islamisasi adalah suatu proses menuju bentuk asalnya yang tidak sekuat proses evolusi dan devolusi.
Proses islamisasi itu sendiri dilakukan dengan du acara yang saling berhubungan dan sesuai urutan, yaitu pertama ialah melakukan proses pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban barat, dan kedua memasukkan elemen-elemen islam dan konsep konsep kunci ke dalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Jelasnya “ilmu hendaknya diserapkan dengan unsur-unsur dan konsep utama Islam setelah unsur-unsur dan konsep pokok dikeluarkan dari setiap”
Anak laki laki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang. Kalau perahu telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang. Meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang. Mengutip siapa lagi kalau bukan Buya Hamka. https://www.instagram.com/p/B74WwWyl9D0/?igshid=14cqnrigenst8
Manusia diberi akal oleh Allah dan dia pandai sendiri mempertimbangkan dengan akalnya itu di antara yang buruk dengan yang baik. Manusia bukanlah semacam kapas yang diterbangkan angin ke mana-mana, atau laksana batu yang terlempar ditepi jalan. Dia mempunyai akal, dan diapun mempunyai tenaga buat mencapai yang lebih baik, dalam batas-batas yang ditentukan oleh Allah. Kalau tidak demikian, niscaya tidaklah akan sampai manusia itu mendapat kehormatan menjadi Khalifah Allah di muka bumi ini. — Buya Hamka (Tafsir al-Azhar, ayat 11 Surat Ar Ra’d) (di UGM Yogyakarta) https://www.instagram.com/p/B7ngsh9lWFx/?igshid=6zkczfn28xyq
Resensi Buku Relawan Kesehatan di Medan Bencana. Perjalanan Tim FK UGM/RSUP Dr. Sardjito Membantu Korban Bencana (2004-2018)
Judul : Relawan Kesehatan di Medan Bencana. Perjalanan Tim FK UGM/RSUP Dr. Sardjito Membantu Korban Bencana (2004-2018)
Penulis : Hendro Wartatmo, Laksono Trisnantoro, Sulanto Saleh Danu, Bella Donna, Handoyono Pramusinto, Sutono Partorejo, Madelina Ariani, Nurcholid Umam Kurniawan, Hanif Afkari
Penerbit : Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM
Oleh : Rizki Rinaldi
Cetakan Pertama, 2019
Xiv + 210 hlm.
Dalam beberapa dekade terakhir bangsa kita diterpa berbagai bencana alam. Mulai dari gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, longsor, banjir, dan belakangan, likuefaksi. Semua peristiwa alam yang terjadi secara tak terduga dan tak mengenal waktu tersebut telah menimbulkan dampak yang sangat besar, seperti hancurnya infrastruktur bangunan, rusaknya infrastruktur sosial, ekonomi dan budaya masyarakat hingga jatuhnya korban jiwa. Di tengah kondisi tersebut, kita sadar bahwa kita tidak dapat mencegah terjadinya bencana, melainkan kita dapat mengurangi risiko akibat bencana
Berawal dari Batuknya Merapi 1994
Buku ini memulai kisah-kisah tindakan kebencanaannya dari dr. Hendro Wartatmo yang saat itu ialah kepala UGD RSUP Dr. Sardjito. Erupsi Merapi terjadi pada 22 november 1994 pukul 10. 15, dalam waktu kurang dari dua jam saja, sekitar 60 orang yang mengalami luka bakar diperberat dengan kerusakan saluran nafas akibat menghirup asap panas tiba di UGD. Bahkan saat itu, tindakan triase atau tindakan memilah korban berdasarkan beratnya cedera luka bakar tidak diperlukan. Sebab seluruh korban yang masuk ke UGD mengalami luka bakar berat. Prioritas diberikan kepada korban yang terlihat mengalami gangguan pernafasan, sehingga perlu segera dipasang pipa jalan nafas dan dihubungkan dengan mesin bantu nafas atau ventilator. Sayangnya, ketersediaan ventilator yang hanya erdapat di ICU, dan hanya 1 atau 2 saja yang bisa digunakan. Akhirnya korban yang tidak mendapat bantuan nafas dari mesin nafas bantuan, nafas diberikan secara manual, yaitu di-bagging atau dipompa secara manual. Selain melelahkan, cara yang seharusnya hanya untuk tindakan sementara ini tidak efektif, dan dalam 24 jam pertama beberapa korban meninggal karena gangguan jalan nafas berat yang tidak sempat mendapat bantuan ventilator.
Aktivitas yang tinggi di UGD RSUP Dr. Sardjito tersebut berlangsung hingga dua bulan dan menimbulkan beban mental yang cukup berat bagi petugas. Itu karena hampir tiap hari ada korban yang akhirnya tidak bisa diselamatkan. Total jumlah korban erupsi di RSUP Dr. Sardjito mencapai 82 orang, 22 orang di antaranya sebelumnya dirawat di rumah sakit lain. Sementara itu, jumlah korban yang sudah meninggal ketika tiba di rumah sakit (death on arrival/DOA) sebanyak 11 orang. Sedangkan jumlah korban dengan gangguan saluran pernafasan sebanyak 51 orang. Dari jumlah tersebut, 33 orang selamat berhasil selamat dari fase akut, namun hanya 7 orang yang berhasil selamat, jumlah yang sebenarnya diatas perkiraan dari beberapa tenaga asing asal Australia dan Jepang yang memprediksi hanya 5 yang maksimal selamat.
Pembelajaran Pasca Merapi 1994
Dari peristiwa Merapi 1994, ada sejumlah pelajaran berharga yang bisa dipetik. Pertama, tidak berfungsinya sistem peringatan dini (Early Warning System) akibat alasan berupa kerusakan alat, mengakibatkan jatuhnya banyak korban dan tingkat cidera yang berat. Kedua, luka bakar karena awan panas menyebabkan angka kematian yang tinggi, terutama diperberat dengan kerusakan pada saluran pernafasan, meskipun sudah mendapatkan perawatan intensif yang maksimal.
Ketiga perlunya sistem kerja sama rmah sakit maupun puskesmas dalam penanganan korban bencana. Tidak adanya sistem pelayanan pra-rumah sakit saat itu menyebabkan seluruh korban yang dibaw ke rumah sakit tidak ada yang didampingi perugas kesehatan. Hal ini kemudian menjadi pemacu terbentuknya pusat bantuan kesehatan (pusbankes) 118 Yogyakarta yang diinisiasi oleh dr. Ahmad Suyudi yang saat itu menjabat sebagai direktur utama RSUP Dr. Sardjito, awalnya organisasi ini meruakan hasil kerja sama UGD di Yogyakarta yang berfokus pada pelayanan ambulan gawat darurat. Organisasi ini masih bertahan sampai sekarang, dengan focus pada pelatihan gawat darurat yang rutin diadakan bagi petugas UGD.
Tentang buku dan kepenulisannya
Tentunya ada lebih dari bencana Merapi yang disampaikan dalam buku ini, biarlah pembaca yang melanjutkan membaca bukunya secara langsung. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari beberapa penulis yang berlatar belakang profesi medis, namun berbeda pengalaman dan juga karakter penulisan, ada satu yang tetap menjadikan buku ini pada warnanya sendiri, yakni yang sama adalah motivasinya, nuraninya.
Tujuan kepenulisan buku ini ialah bagaimana, tiap pengalaman dapat dibagikan dan menjadi catatan dokumentasi tersendiri, baik bagi pribadi, maupun institusi. Selanjutnya, pengalaman-pengalaman yang tertuang dalam buku inilah yang menghasilkan berbagai wujud modul intrakurikuler Manajemen bencana (disaster management), modul pelatihan bencana Rumah Sakit (hospital disaster plan), dan penanganan bencana lokal (Rural Disaster Plan) untuk dinas kesehatan dan puskesmas.
Kesempurnaan tanggung jawab ialah terletak pada sabar, sabar pun dikenal pula sebagai ibu segala akhlak. Bismillah, pada sabar lah pribadi dinilai kapasitasnya, begitu pula dengan perjalanan ini, setidaknya hitunglah, mimpi-mimpi mu yang dahulu, telah sampai mana ? Mampukah dirimu bersabar melihatnya ? Ada yang diuji sabarnya dengan perjalanan yang tidaklah kian berkelok, namun kerendahan hatinya kian menanjak. Ada pula yang diuji sabarnya dengan jalan 9 kelokan hingga berat rasanya melanjutkan lagi. Tidak dapat tidak, seorang harus gagal sekali dalam hidupnya. Dengan kegagalan dia dapat mengetahui di mana sisi kelemahan dirinya. Gagal sekali tidaklah mengapa. Yang rumit adalah jika gagal dua kali di tempat yang itu juga. Peliharalah cita-citamu baik-baik. Karena jika cita-cita padam, samalah artinya dengan mati. *dalam proses memperbarui mimpi tahunan yang saat ini hanya tercapai separuhnya, seketika mendapat pesan yang luar biasa "Berjanjilah kepada dirimu tiga hal, jika kau mengerjakan sesuatu, ingatlah Allah, karena Dia melihatmu. Jika kau berbicara, ingatlah Allah, karena Dia mendengarmu. Jika kau diam, ingatlah Allah, karena Dia mengetahui isi hatimu" https://www.instagram.com/p/B6vm_VilWwz/?igshid=bbenq9bfuuwo
Jangan dikecewakan hati orang yang berlindung kepadamu. (di Desa Ngandagan Kec. Pituruh Kab. Purworejo) https://www.instagram.com/p/B6VwrtHFp6G/?igshid=1uzd8ay5xwprc
RK Story November
Alhamdulillah November is one hectic month and it is going to leave soon, it was very comforting yet challenging at the same time.
November, masa-masa yang dimana saya belajar, ketika kita memilih untuk membersamai, terkadang beberapa terpaksa tak dapat dibersamai, oleh karena itu terus berikhtiar, belajar, agar kelak dekapan ukhuwah mu bisa mendekap sebanyak mungkin saudaramu.
Pemilwa
Pada akhirnya, keputusan saya bulan lalu tentang momen pemilwa ini, tentu menghadirkan buah-buahan yang terkadang, jika dipetik seorang ia terasa manis dan ranumnya, terkadang pula, jika dipetik seorang lainnya ia masih pahit dan belum dapat diterima. Tapi manusia bebas memilih secara bertanggung jawab, saya pun telah memilih, tapi ikhtiar tak pernah saya berhentikan, dalam bahasa saya, telah ada ia yang menggantikan panggilan penuh tanggung jawab itu, tentu saya tak bisa beranjak meninggalkan ia dalam posisi memenuhi panggilan kemenangan itu.
Panggilan kemenangan, bagi sebagian orang yang melihat ikhtiar dan pengorbanan mereka mungkin mereka akan menilai dan meletakkan hormat setinggi-tingginya akan upaya memenuhi panggilan itu, walaupun dengan pahit harus dikatakan kami kalah bahkan hingga dua ribu suara dalam kontestasi pemilwa tersebut. Sedih bukan main hati ini, dikala sibuk menyiapkan diklat-equator MER-C yang sudah disiapkan sejak agustus, masih juga ku menyempatkan diri hadir di penghitungan, melihat bagaimana kondusivitas pemilihan, walau jerih ku tak sepayah atau se luar biasa saudara-saudara lainnya. Tapi ketika melihat progress penghitungan suara yang tak juga memberikan harapan, hati ini hanya mampu menahan ngilu. Puncaknya adalah ketika pelaksanaan diklat dilakukan bersamaan dengan pengumuman hasil perhitungan suara. Bahkan kala itu ada 3 hal yang kerap mengganggu pikiranku
1. Diklat-equator MER-C
2. Pemilwa UGM
3. Musyawarah wilayah ISMKI, yang ini pada akhirnya dari perbatasan Magelang selepas hujan pukul 12 malam aku berkendara ke lokasi, dan ba’da subuhnya ku berkendara kembali ke tempat pelaksanaan diklat-equator MER-C.
Ketiganya dalam waktu bersamaan, dalam tempat yang berjauh-jauhan pula jika berkendara motor, hingga pada akhirnya ku hanya mampu mencurahkan seluruh perhatian pada diklat-equator, karena ada hati yang benar-benar tak ingin kukecewakan, walau sepertinya ku tetap sedikit mengecewakan dia. Aku hanya dapat menahan sedih kala itu saat mendengar kabar saudara-saudaraku yang melihat ikhtiar mereka belum dibalas secara langsung, melainkan melalui harta luar biasa bernama hikmah.
MER-C
Satu yang sepertinya akan terus saya isi di RK story adalah cerita saya dan MER-C. November lagi-lagi seperti bulan-bulan lainnya menghadirkan cerita luar biasa saya dan MER-C. pada bulan ini saya memang tidak berkesempatan membantu, menjadi tenaga medis yang berjaga di beberapa kesempatan seperti di kajian akbar Jogokaryan atau lainnya, namun tetap saja nuansa kerelawannya tak pernah lepas tiap kali saya Bersama MER-C.
Kegiatan yang menjadi focus kita ialah kegiatan kekeluargaan relawan, kegiatan persiapan menyambut calon relawan baru yang juga calon keluarga baru, berkendara dari ujung ke ujung Jogja karena jarak bukanlah hambatan dan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pernah kami pada bulan November ini menantang panas berlatih mendirikan tenda posko bencana yang bisa saja kita katakan pekerjaan dalam porsi kuli, tapi begitu luar biasa. Luar biasa karena saya menghabiskan seharian saya Bersama mereka, mulai dari simulasi pendirian tenda, berkeliling mencari suasana asri daerah pakem, survey lokasi diklat yang memang tidak dekat, bahkan terjebak dalam hujan, yang itu semua selepas isya-nya saya harus bergegas ke Semarang dalam rangka berbagi Inspirasi Kebaikan.
Diklat-Equator merupakan suatu pengalaman baru bagi tiap-tiap relawan MER-C Jogjakarta, karena dalam kegiatan itu kita berfokus belajar mengenai Manajemen bencana, menarik peristiwa-peristiwa dahsyat yang pernah melanda negri ini dan betapa luar biasanya selalu saja ada orang-orang rendah hati yang mencurahkan tenaganya dalam mengelola bencana tersebut agar tidak bertambah mudharatnya.
Berbagi Inspirasi Kebaikan
Alhamdulillah, syukur yang luar biasa tingginya saya panjatkan, pada bulan ini saya masih diberi kesempatan untuk memberi inspirasi kebaikan, pertama kepada teman-teman mahasiswa FK Unisula, khususnya teman-teman yang telah mewaqafkan harinya waktu itu untuk berbicara polemik pendidikan kedokteran yang menjamur dan malah terkomersialisasikan. Luarbiasanya adalah saya justru mendapat kesempatan untuk berbagi tersebut bersanding dengan mantan Dekan FK Unisula yang pernah menjabat sebagai sekretaris AIPKI, Bersama ketua IDI Semarang yang begitu semangat bahkan menceritakan lagi kisah-kisah mahasiswanya kepada saya dan mengajak untuk kapan-kapan berkunjung ke kantor IDI Semarang.
Kedua yakni berbagi inspirasi kebaikan Bersama teman-teman BEM Farmasi UGM, pesannya satu, untuk mengingatkan mereka kembali atas alasan mulia kenapa mereka berjuang di keorganisasian seperti BEM, agar kelak bisa mereka melanjutkan menjadi penerus perbaikan dan pejalan-pejalan jauh menuju kebermanfaatan. Yasudah saya ceritakanlah tentang luar biasanya saya berprogress di BEM FKKMK UGM, ISMKI, dan juga MER-C Jogjakarta.
Selamat datang Desember, ku menantikan kisah luar biasa bulan ini
Resensi Buku Islam dan Kemanusiaan
Judul : Islam dan Urusan Kemanusiaan, konflik, perdamaian, dan filantropi
Editor : Hilman Latief dan Zezen Zaenal Mutaqin
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta
Oleh : Rizki Rinaldi
Cetakan Pertama, 2015
413 hlm.
Kehadiran Lembaga-lembaga kemanusiaan Muslim tidak hanya menggairahkan aksi-aksi kemanusiaan di lapangan, tetapi juga memiliki peran penting dalam menumbuhkembangkan gagasan dan prinsip-prinsip kemanusiaan dalam Islam.
Kendati demikian, di balik perna aktif lembaga kemanusiaan Muslim di ruang publik yang semakin meningkat, kajian mendalam tentang Islam dan masalah-masalah kemanusiaan, khususnya hukum humaniter, ternyata masih belum banyak dilakukan.
Konflik
Konsep jihad dalam kosa kata masyarakat muslim saat ini memang seolah-olah identik dengan perang, khususnya perang kepada orang selain Islam. Akibatnya, konsep jihad akhirnya menjadi momok yang menakutkan di tengah masyarakat yang beragam seperti di Indonesia, tidak hanya bagi non-Muslim tetapi juga bagi muslim yang sudah merasa nyaman dengan keberagaman dalam kehidupan sehari-hari.
Berkembangnya konsep jihad dan perang dalam Islam yang menjadi dekat dengan stereotip antiperdamaian, antikeragaman, penuh kekerasan tentu sangat dipengaruhi oleh ragam khazanah penafsiran Al-Qur’an, khususnya tema jihad dan perang, yang berkembang dinamis dalam tradisi Islam.
Didalam buku Islam dan Urusan Kemanusiaan, konflik, perdamaian, dan filantropi ini konsep jihad mengambil langsung rujukan dari beberapa tafsir dan literatur muslim, utamanya menggunakan tafsir al-mishbah karya Quraish Shihab dalam rangka membentuk frame konsep kemanusiaan dalam Islam.
Menurut Quraish Shihab, ayat-ayat tentang jihad dimaknai dalam beberapa hal, yakni:
1. Jihad merupakan ujian dan cobaan. Jihad merupakan salah satu cara yang diterapkan Allah untuk menguji manusia. Sebagaimana dalam QS. Ali-Imron: 142. Dari sini jihad sangat terkait dengan kesabaran, karena jihad adalah sesuatu yang sulit sehingga memerlukan kesabaran dan ketabahan. Kesulitan ujian atau cobaan yang menuntut kesabaran itu dijelaskan rinciannya dalam Al-Quran.
2. Jihad mengandung makna “kemampuan” yang menuntut sang mujahid mengeluarkan segala daya dan kemampuannya demi mencpaai tujuan. Karena itu jihad adalah pengorbanan dan dengan demikian sang mujahid tidak menuntut atau mengambil tetapi memberi semua yang dimilikinya. Ketika memberi, dia tidak berhenti sebelum tujuannya tercapai atau yang dimilikinya habis.
3. Jihad merupakan aktivitas unik, menyeluruh, dan tidak dapat dipersamakan dengan aktivitas lain- sekalipun aktivitas keagamaan. Tidak ada satu amalan keagamaan yang tidak disertai dengan jihad. Paling tidak, jihad diperlukan untuk menghambat rayuan nafsu yang selalu mengajak pada kedurhakaan dan pengabaian tuntunan agama.
4. Jihad merupakan perwujudan identitas kepribadian muslim. Karena itu seorang mukmin pastilah mujahid, dan tidak perlu menunggu izin atau meminta restu untuk melakukannya
Dari sini kemudian jihad adalah cara untuk mencapai tujuan. Jihad tidak mengenal putus asa, menyerah, kelesuan, tidak pula pamrih. Jihad selalu dilakukan dan ditegaskan dengan redaksi fi sabilillah (dijalan-Nya). Pada poin inilah tafisr al-mishbah menegaskan bahwa jihad menjadi titik tolak seluruh upaya, karenanya jihad adalah puncak segala aktivitas.
Perdamaian dan Kesinambungan
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Al-hujurat 49:10)
Adanya konflik yang menyebabkan korban nyawa manusia merupakan tindakan jahat, yang sungguh menantang kemanusiaan kita. Satu korban manusia saja akibat konflik itu dapat dinilai “sudah terlalu mahal” dari kaca mata islam. Nilai manusia atau harkat dan martabatnya sungguh agung dan tiada tara harganya. Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa martabat manusia itu tinggi dan sekaligus sebagai ciptaan dalam bentuk terbaik (QS At-Tin 95:4) dan dianugrahi keunggulan atas makhluk ciptaan lainnya (QS Al-Isra 16:70).
Menyadari betapa agung dan luhurnya martabat manusia, sungguh sulit untuk diterima adanya konflik yang mengakibatkan korban sesame manusia. Islam sebagai agama yang membawa kewajiban untuk mempromosikan damai, haruslah tampil secara professional dalam menangani masalah konflik demi damai yang berkesinambungan. Dalam Al-Qur’an dinyatakan Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali-Imran 3:104) dan pada surat yang sama Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali-Imran 3:110) sebagai orang beriman, kita diperintahkan menjadi pejuang melaksanakan kebaikan dan menolak kejahatan. Dengan demikian konsekuensinya bila ada kejahatan dalam bentuk apa pun haruslah ditangani dengan professional. Kelompok yang terlobat dalam konflik sungguh bagaikan telah dibutakan oleh kehendak, keinginan dan ambisinya masing-masing. Penyelesaian konflik yang benar dan adil merupakan tindak kemanusiaan yang sungguh dibutuhkan.
Dalam situasi konflik, intervensi kemanusiaan yang aktif tanpa kekerasan dinilai menjadi penting, karena di samping aksi kemanusiaan memang harus dilaksanakan, juga dapat ditempuh untuk mengadakan negosiasi dengan yang terlibat konflik, agar konflik dapat dihentikan dan solusi damai dapat dirintis. Dalam intervensi kemanusiaan, kita dituntut untuk tidak berpihak kepada siapapun, menguasai persoalan yang ada, menguasai medan, menguasai cara diplomasi yang berdaya guna sampai pada penemuan kemungkina untuk memulai perdamaian. Dasar yang harus dipakai adalah pendekatan yang objektif, benar, adil, bijak dan mempunyai tujuan demi kesejahteraan umum. Hal tersebutlah yang menjadi kapasitas seorang muslim untuk menghadirkan kedamaian secara professional.
Filantropi
Rahmatan Lil ‘Alamin. Islam secara jelas menjelaskan dirinya sebagai rahmatan lil ‘alamin. Rahmat yang berarti belas kasih menuntut setiap umat islam sebagai pengikut Rasulullah ﷺ berbelas kasih, melimpahkan nikmat kepada alam semesta. Karena itulah umat islam harus bisa membuat atau mendatangkan sifat kasih sayang yang akan mampu mewujudkan kesejahteraan, kedamaian bagi umat manusia bahkan bagi alam semesta.
Sejarah telah menunjukkan peran umat islam dalam memajukan peradaban, penemuan berbagai hal yang sangat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, seperti ilmu kimia, matematikan dsb. Hal tersebut tidak terlepas dari misi agama Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Salah satu fondasi konseptual yang melandasi gerakan salah satu ormas islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, berangkat dari penafsiran para pendiri dan pengikutnya terhadap surat Al-Ma’un
1. Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat
5. Yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya
6. Orang-orang yang berbuat riya
7. Dan enggan menolong dengan barang berguna
Tentang buku dan kepenulisannya
Pada dasarnya buku ini merupakan kajian-kajian mendalam mengenai islam dan masalah-masalah kemanusiaan, khususnya hukum humaniter. Kepenulisannya merupakan kajian kolektif membuat buku ini menjadi amat kaya akan referensi dan tidak terjebak dalam satu sudut pandang saja didalam membahas kemanusiaan dan islam.
Pada kepenulisan buku yang merupakan kajian kolektif atas dasar inisiasi kerja sama program pascasarjana UMY dan ICRC kerangka utama buku tersebut setidaknya dapat dibagi menjadi pemahaman perbandingan hukum humaniter internasional dan hukum islam mengenai kemanusiaan, perang yang diambil dari Al-Qur’an dan literasi islam. Kemudian kajian kasus konflik kemanusiaan yang terjadi di negara dengan penduduk mayoritas muslim dan upaya-upaya rintisan perdamaian, serta kehadiran gerakan masyarakat sipil dengan tujuan masyarakat madani atas satu konsep rahmatan lil ‘alamin.
Terima kasih. Terima kasih sudah memilih, memilih jalan ini, yang kita sebut jalan kemanusiaan, "to help the most vulnerable and the most neglected people". Sebuah jalan yang dalam bahasa sederhana ialah jalan memuliakan manusia, memanusiakan manusia. Mau bagaimana lagi, kita juga sudah tidak bisa menuntut manusia untuk berhenti berebut duniawi, oleh karena itu kita buat dunia lebih manusiawi. Terima kasih. Terima kasih kepada semua upaya, semua narasi niat baik, semua beban dan semua doa. Dalam perjalanan yang lalu maaf juga saya sampaikan, bila ada hati yang tersakiti, bila ada lelah yang belum dibayar lunas, bila pikiran kadang tak menentu berlari kemana. Terkadang, ketika kita memilih untuk membersamai yang satu, yang lain tak mampu untuk kita bersamai jua. [In frame: pelaksanaan Diklat-Equator] https://www.instagram.com/p/B5UcvjjF_O5/?igshid=1c1gktf4eeead
"ma fi qalbi Ghairullah"
Semoga selalu diberi kekuatan untuk mengucapkan ini sebagai ikrar
Kesepian adalah benang-benang halus ulat sutera yang perlahan-lahan, lembar demi lembar, mengurung orang sehingga ulat yang ada di dalamnya ingin segera melepaskan diri menjadi wujud yang sama sekali berbeda, yang bisa saja tidak diingat lagi asal-usulnya. Hanya ulat busuk yang tidak ingin menjadi kupu-kupu -Eyang Sapardi (di Mt.prau 2565 mdpl) https://www.instagram.com/p/B47bBr0FWOU/?igshid=1sw0ixqr8osbx
RK Story Oktober
Alhamdulillah Oktober is one hectic month and it is going to leave soon, it was very comforting yet challenging at the same time.
Oktober, masa-masa yang menentukan karena pada bulan inilah beberapa keputusan saya akan berdampak pada masa depan saya.
Pemilwa
Orang-orang besar selalu menyampaikan, jika tidak ingin kecewa, maka jangan letakkan pengharapanmu pada manusia, dan pada bulan ini saya membuat banyak orang kecewa, mereka kira saya akan menjadi capresma BEM KM UGM, sebuah posisi prestige apalagi melihat presma UGM tahun ini yang sedang naik daun, sehingga semua orang berlomba-lomba akan posisi itu, sementara saya ? saya hanyalah orang yang ingin memberikan apa yang terbaik, memang sedari awal jalan sebagai seorang presma bukanlah Azzam saya, istikharah sudah sejak beberapa bulan terakhir dan fatwa hati pun juga menyampaikan presma bukanlah jalan saya. Tapi leadership bukan posisi kan ? makanya saya tetap terlibat aktif dalam kontestasi ini, membantu sahabat-sahabat saya yang juga punya hak dan menggantikan posisi saya. Membantu membawa narasi dan gagasan baru dengan framework dan basis argument ala medika yang mengutamakan systematical thinking and reasoning. Tapi pada akhirnya memang saya tidak akan maju atau berada dalam posisi itu, orang tua juga tidak terlalu memberikan ridha mereka, sederhana ucapan mereka, “nanti kalau kuliah sampai 7 tahun karena ada koas, hidup jadi bosan di kampus, padahal orang-orang nunggu kompetensi mu”.
Sekali lagi saya mohon maaf, saya punya harapan besar kontestasi yang luar biasa ini juga mampu menghadirkan orang-orang hebat lainnya, sedang saya, aib saya masihlah terlalu banyak yang ditutupi Allah dan saudara-saudara saya.
MER-C
Satu yang sepertinya akan terus saya isi di RK story adalah cerita saya dan MER-C. Oktober lagi-lagi seperti bulan-bulan lainnya menghadirkan cerita luar biasa saya dan MER-C. pada bulan ini saya berkesempatan membantu, menjadi tenaga medis yang berjaga di beberapa kesempatan. Pertama adalah saat acara semarak Indosiar, orang-orang bilang saya jaga sambal dangdutan, tapi yang saya temui adalah saya menikmati diskusi dan mengamati betapa banyak orang-orang yang harus ke stand medis karena ternyata kelelahan akibat bekerja siang dan malam, berpanas-panasan dan kedinginan.
Kedua adalah saat acara Muslim United, acara yang sempat heboh itu, karena seperti shirah nabi, dakwah saudara muslim united harus berhijrah dari masjid Gedhe Kauman ke Jogokariyan pada dinihari. Tapi nilai lain yang saya dapatkan adalah semangat persaudaraan, semangat keislaman seolah-olah semua orang disana rindu akan kesejukan persaudaraan dan nasihat-nasihat islam. Dan jangan lupa, dari sana saya bertemu banyak rekan-rekan dari NGO lain yang juga berkontribusi luar biasa dalam muslim united.
Kegiatan lainnya ialah kegiatan kekeluargaan relawan, kegiatan persiapan menyambut calon relawan baru yang juga calon keluarga baru, berkendara dari ujung ke ujung Jogja karena jarak bukanlah hambatan dan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Berbagi Inspirasi Kebaikan
Alhamdulillah, syukur yang luar biasa tingginya saya panjatkan, pada bulan ini saya masih diberi kesempatan untuk memberi inspirasi kebaikan, pertama kepada teman-teman mahasiswa FK se-Indonesia, khususnya teman-teman yang berfokus pada kajian-kajian kesehatan dan pendidikan kesehatan, disana kita berdiskusi tentang keresahan mahasiswa dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia.
Kedua yakni berdiskusi dengan teman-teman dakwah fakultas farmasi UGM, yakni berdiskusi tentang Manajemen organisasi, bercerita tentang diskusi asrama mengenai Kaizen dan 4dx.
Ketiga yakni berdiskusi Bersama mahasiswa-mahasiswa FK UNS, luar biasa sekali sahabat-sahabat dari Solo tersebut, mahasiswa FK yang resah dan gelisah dengan arus yang ada, seperti layangan terbang mencoba melawan angin, berdiskusi tentang sekolah vokasi dan gerakan mahasiswa skala fakultas, univ, wilayah hingga nasional.
Alhamdulillah pula saya juga masih diberi kesempatan luar biasa untuk berbagi inspirasi kebaikan dengan teman-teman FKG UGM, kali ini menjadi moderator kakak-kakak saya yang luar biasa, mas Alfath dan mas Fahmi, seorang aktivis yang kuat pemahaman agamanya, dan seorang waris ulama yang menghafal al-qur’an dan mengamalkannya, betapa irinya saya akan mereka berdua. Semoga kelak mewariskan kefasihan dan nilai-nilai baik mereka juga.
Selamat datang November, ku menantikan kisah luar biasa bulan ini
Resensi Buku IDI mau dibawa kemana?
RESENSI BUKU
Judul : IDI MAU DIBAWA KEMANA? Sebuah Refleksi Bagi Para Pemangku Kepentingan Pendidikan Kedoktera Indonesia
Penulis : Judilherry Justam, Nunik Iswardhani, Setiawan, Sugito Wonodirekso, Tom Suryadi
Penerbit : PT JOFFICE MITRA MANDIRI
Oleh : Rizki Rinaldi
Cetakan Pertama, 2018
XI + 140 hlm.
Gajah di Dalam Ruangan, Ancaman Besar
Sesungguhnya, saat ini bidang pendidikan kedokteran di Indonesia memang sedang berada dalam masalah yang sangat besar. Namun sangat disayangkan, hal ini tidak banyak sampai dalam ranah pemahaman publik, kalaupun permasalahan sampai di masyarakat, mereka tidak memperoleh informasi sesungguhnya tentang masalah tersebut secara lengkap dan menyeluruh. Padahal, dibandingkan masalah politik yang kita lihat saat ini jenuh-jenuh saja di berita media nasional, masalah di bidang pendidikan kedokteran membawa dampak yang lebih besar bagi hajat hidup masyarakat, secara langsung masalah tersebut akan berdampak pada buruknya kualitas dokter yang berpraktek memberikan layanan kesehatan di Indonesia. Yang memprihatinkan ialah masalah ini dibiarkan begitu saja dan masyarakat dibiarkan tetap abai, meskipun merekalah yang kelak akan menanggung akibatnya.
Pada penjabaran yang sederhana, narasi tandingan yang dilempar sebagai wujud arus balik perlawanan terhadap regulasi pendidikan kedokteran. Alih-alih bersama-sama dalam upaya instropeksi diri dan memperbaiki kekurangan dalam sistem pendidikan kita, narasi tandingan yang dilempar justru UKMPPD menghambat kelulusan dan menghambat “dokter-dokter baru” untuk segera terjun di masyarakat, membaur dan berkontribusi mulia, namun lupa jalan yang diambil tidaklah ahsan, cenderung membenarkan kepentingan sendiri karena melupakan kewajiban dasar dan tega mengorbankan nilai dasar yang paling prinsip dalam dunia pendidikan.
Hingga hari ini, masalah besar tersebut belum bisa teratasi, bahkan cenderung status quo, banyak sekali pihak yang menjadi stakeholder dalam urusan pendidikan kedokteran di Indonesia (katakanlah inisialnya dikti, universitas, fakultas kedokteran, Yayasan, mahasiswa, dan orangtua mahasiswa) belum punya satu visi dan strategi yang seragam, atau mimpi besar yang searah dan setujuan untuk meningkatkan kualitas lulusan pendidikan kedokteran saat ini. Padahal tuntutan di masyarakat akan selalu dijumpai serupa, yakni layanan kesehatan dari dokter yang kompeten, sayangnya sinergi stakeholder tadi dalam peningkatan mutu pendidikan dan mutu lulusan masih harus menghadapi tebing yang terjal dan penuh hambatan.
Potret Amburadul Pendidikan Kedokteran di Indonesia
Sesungguhnya, pendidikan kedokteran di Indonesia tidaklah terlalu lemah, segala perangkat sudah dapat dikatakan cukup lengkap, perangkat pengawasan dan peningkatan mutu pendidikan yang dikerjakan oleh dirjen dikti, konsil kedokteran Indonesia, organisasi profesi (IDI), serta regulasi pendidikan kedokteran dan regulasi praktek kedokteran. Namun, setelah hampir satu dasawarsa, tenyata kondisi pendidikan kedokteran belum juga berada dalam frame ideal, jauh api dari panggang. Fakta bahwa fakultas kedokteran baru yang terus dibuka masih sulit mengejar standar yang diperlukan bagi suatu fakultas untuk berada dalam akreditasi yang baik, terutama terkait dengan jumlah dan kualitas pengajar, fasilitas belajar, dan kurikulum pembelajaran. Bahkan sering juga ditemui rasio pengajar dan mahasiswa yang tidak memenuhi syarat yang telah diatur dalam UU no. 12 th. 2012 tentang pendidikan tinggi, UU no. 20 th. 2013 tentang pendidikan kedokteran, dan peraturan Konsil Kedokteran Indonesia no. 10 th. 2012 tentang standar profesi dan pendidikan dokter.
Faktanya menurut data dikti, sebagian besar fakultas kedokteran masih berjuang dalam akreditasi C, yaitu lapis terendah dari tiga golongan akreditasi. Tingkat tersebut jika dibaca dengan UKMPPD sebagai parameter kualitas lulusan pun masih sangat berjuang untuk meluluskan mahasiswanya dalam ujian kelulusan yang bersifat berkeadilan dengan standar yang sama dan tingkat kompetensi yang sama pula. Di sisi lain, menristekdikti, seolah tanpa dosa terus membuka fakultas kedokteran, meski tidak memenuhi syarat, padahal dorongan untuk moratorium fakultas kedokteran tak pernah berhenti, terutama ketika Indonesia sudah bukan lagi dalam masalah kekurangan rasio kecukupan dokter, tapi berhadapan pada masalah peningkatan mutu pendidikan kedokteran, serta distribusi tenaga medis dokter yang berkeadilan.
Potret masalah kedokteran dari hulu ke hilir dapat digambarkan sebagai masalah pendidikan yang mencetak calon dokter, sebaran dokter dan kebutuhan akan dokter di daerah. Kondisi yang bahkan bisa dilihat dengan mata telanjang masih belum ideal. Perlu kemauan politik yang kuat dalam peningkatan kualitas dan terobosan dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada, dan I’tikad baik semua pihak agar kualitas dan kuantitas dokter yang ideal di Indonesia bisa tercapai.
Tentang Penulisan dan Kandungan Buku
“Manuskrip ini menceritakan fakta yang terjadi di Indonesia. Ada yang membanggakan misalnya berhasilnya negara sebesar Indonesia menyelenggarakan ujian nasional profesi dokter. Namun juga ada yang menyedihkan, sengkarut peran berbagai pihak yang tidak jelas. Menjadi kenyataan bahwa dokter adalah profesi mulia yang strategis bagi negara, sehingga produksi dokter, distribusi, peran dan karir dokter harus ditangani langsung oleh negara. Organsisasi profesi adalah mitra negara dengan perannya memperjuangkan kesejahteraan anggotanya.” Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed, SpOG-K
“Menarik sekali buku ini. Ditengah kekurangaan bacaan tentang organisasi profesi, buku ini memberikan dorongan ke IDI untuk menjadi organisasi profesi yang mampu berperan maksimal dalam sistem kesehatan dengan standar global” Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc. PhD
Aku datang menguak fajar, katakan padaku wahai hari Apa yang dapat kuberikan pada sejarah hari ini Aku datang mengantar senja, katakan padaku wahai malam Berapa bintang kau perlukan, untuk menerangi langitmu https://www.instagram.com/p/B4B64XoFxj9/?igshid=yz45t2bed854
If you want to build a ship, don’t drum up the men to gather wood, divide the work, and give orders. Instead, teach them to yearn for the vast and endless sea. Penutup yang selalu saya senangi setiap kali berbagi dengan teman-teman mahasiswa manapun, karena penutup ini tidak hanya mengajari mereka, tapi utamanya selalu mengajarkan saya. Matur nuwun kesempatannya @bemfkuns (di FK UNS) https://www.instagram.com/p/B39P-TCFyaq/?igshid=1ffqtaemett7t