Jadi, Mau Meninggalkan Apa?
Sedang senggang, gak? Lagi gak ada kewajiban apa-apa? Mampir sini, yuk, saya ada cokelat panas, nih.
Awas, hati-hati, cokelatnya panas, minumnya pelan-pelan, ya.
Begini Mas Mbak, saya sedang menulis buat tumblr dan twitter. Kebetulan tadi bikin cokelat panas kebanyakan, enggak asik kalau dinikmatin sendiri.
Rasanya, tahun 2020 ini, semakin banyak orang baik yang wafat, ya. Belum tengah tahun bahkan. Sebenarnya, kesannya sih memang tahun ke tahun seperti itu, kesannya orang baik dipanggil lebih dulu. Sebagian bahkan dipanggil dahulu sebelum bulan Ramadan. Mungkin Allah sudah mencukupkan amalan dan menghapus dosanya, jadi Allah panggil lebih dulu untuk pulang ke kampung akhirat.
Dan kita yang masih hidup ini yang masih diberi kesempatan untuk sadar diri karena dikitnya amalan dan banyaknya dosa.
Orang baik, berkarya yang baik, meninggalkan yang baik, insyaaAllah ditempatkan di tempatNya yang terbaik. Semoga kita begitu, ya. Aamiin.
Perihal itu Mas Mbak, saya jadi ingat satu cerita nih. Mau nyimak, gak? Cerita ini aslinya diceritakan oleh Mas Darwis pas lagi kumpul bareng.
Tahu gak siapa Mas Darwis? Itu tu, Tere Liye. Hehe.
Photo by Aljoscha Laschgari
Suatu kali ada pohon kelapa, penyu, dan burung di satu pantai yang elok di Indonesia. Kayak di gambar itu kira-kira eloknya. Mereka bertiga lagi hangout bareng begitu ceritanya.
Sang burung bercerita, “Saya tuh kemarin habis dari pantai di Itali, pantainya ciamik! Ada pantai yang pasirnya warna pink, instagramable pokoknya. Kalian harus lihat ke sana!”
Lalu sang penyu yang bercerita,”Ah apaan, di pesisir Australia kemarin saya baru dari sana pasirnya lebih cakep. Sudah warna pink, berkilau, tambah lagi langitnya cerah sekali. Kalau malam, itu langit kelihatan bintang-bintangnya. Romantis banget pokoknya,”
“Kasihan ya kalau enggak bisa ke mana-mana, mendekam terus di pantai ini sepanjang hidupnya,” ucap burung dengan kesan mengejek pohon kelapa. “Iya nih, untung punya anggota gerak, ya,” lanjut si penyu mendukung ejekan tersebut.
Sang kelapa hanya tersenyum. Sambil menatap ke horizon yang jauh, dia berkata, “Wah iya ya, pasti asik sekali bisa berjalan sejauh itu. Saya mah apa, menetap di sini saja hehe. Tapi alhamdulillah, buah saya yang ke mana-mana,”
“Buah saya berjatuhan di atas laut, mengalir terbawa arus, membawa segudang cerita dari nelayan yang singgah mengenai eloknya Indonesia. Satu mengalir ke Eropa, tumbuh menjadi kelapa besar dan menyebarkan dongeng Malin Kundang. Satu mengalir ke Australia, menyebarkan puisi pujangga Chairil Anwar dalam keresahannya bernegara. Satu mengalir ke Amerika, membawa legenda Ramayana ke mana-mana,”
Mas Darwis memberi pesan begini kira-kira.
“Beruntung menjadi penulis; ia menghasilkan karya, tersebar kemana-mana, tanpa tahu jiwa sesiapa yang disentuhnya”
Kalau mengingat cerita itu, saya tuh semakin semangat untuk nulis, Mas Mbak. Tambah semangat pula, di sekeliling saya banyak orang-orang hebat yang pintar menulis dan bagi-bagi hikmah. Senang banget rasanya. Meski mungkin tulisan saya enggak sebagus beliau atau teman-teman yang lain di lingkup sekitar, saya senang karena masih ada yang mau membaca pesan-pesan saya dan mau berbagi, entah itu satu atau lebih banyak jiwa yang membaca.
Karena saya ingin menjawab pertanyaan, sesuai judul unggahan ini,
“Jadi, Mau Meninggalkan Apa?”
Kalau saya ditanya begitu, kalau wafat nanti, saya ingin meninggalkan amalan jariyah yang banyak. Salah satunya tulisan. Saya ingin, tulisan saya membuat orang lebih mengingat wafat, bisa mengajak untuk berbuat lebih banyak kebaikan, dan menjadi amalan penggugur dosa-dosa, dan bentuk-bentuk kebaikan lainnya.
Alasannya sesuai janji Allah, seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra dalam hadits riwayat Muslim nomor 1017
Kita tidak pernah tahu, ya, kebaikan mana yang Allah ridhoi. Siapa tahu, Allah ridho dengan satu kata dari satu tulisan kita. Atau satu tulisan dari banyaknya tulisan kita. Atau unggahan lainnya dalam berbagai media. Baik itu ribuan atau cukup satu saja pembaca, kita tidak pernah tahu sebab Allah ridho yang mana.
Siapa tahu, darinya, Allah ridho. Sekali Allah ridho, tuntas rasanya semua urusan dunia akhirat ini.
Yah, kita tidak pernah tahu kapan akhir usia, ya. Tambah lagi hisab masih menegangkan. Pun surga yang belum jelas nasibnya.
Maka dari itu, yuk selalu berkarya kebaikan! Siapa tahu, gugurnya dosa dan turunnya ridhoNya, disebabkan oleh karya kebaikan kita.
Semoga kelak.. saya, mas, mbak, dan orang-orang yang kita sayangi, bisa berkumpul, dipanggil Allah dengan sebaik-baik panggilan, berbaris menuju surgaNya, seperti gambaran di kitabNya ini,
Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah
irji'ii ilaa Rabbiki raadhiyatan mardhiyyah
Fadkhulii fii ‘ibaadii wadkhulii jannatii
Hai jiwa yang tenang!
Kembalilah kamu kepada Tuhanmu
dengan hati puas lagi diridhai
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu
Maka masuklah ke dalam surga-Ku!
Monggo ditanyakan juga ke diri Mas Mbak sendiri nggih,
Jadi, Mau Meninggalkan Apa?