Allah yg kunci hatinya untuk ga berpaling ke yg lain karena Allah tau semua yg ak minta ada di dia.
Stranger Things
Game of Thrones Daily

No title available

祝日 / Permanent Vacation
hello vonnie
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
h

Love Begins
occasionally subtle

Discoholic 🪩
$LAYYYTER

❣ Chile in a Photography ❣
Keni
Cosimo Galluzzi
Claire Keane
No title available
Sweet Seals For You, Always
tumblr dot com
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
we're not kids anymore.

seen from United States
seen from United States
seen from Spain

seen from Palau
seen from Germany
seen from Canada
seen from Lebanon

seen from Türkiye
seen from United States
seen from T1

seen from Canada

seen from Colombia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from South Africa
seen from United States

seen from Italy

seen from Türkiye
seen from Malaysia
@lelangitan
Allah yg kunci hatinya untuk ga berpaling ke yg lain karena Allah tau semua yg ak minta ada di dia.
Si Sulung
Diperhatiin gini aja sama Ummi aku dah seneng.
Sakit diare dan batuk dari Sabtu, kemarin sabtu malam dibikinkan jeruk + kecap karena apotik tutup mau beli obat batuk.
Malam dibawain nasi , telur Padang dan kecap.
(c) 27November 2023
Si Sulung
"Ndak tau aja rasanya ketika pengen sesuatu waktu kecil tapi tidak bisa mendapatkannya. Makan sate harus dibagi-bagi cuma dapat 3 sampai 4 tusuk, ambil udang cuma 2, padahal pengen nambah tapi harus adil dibagi sama adiknya. Apa apa dibagi sama adiknya. Sangu, jajan. Padahal aku juga pengen. Ya wajar aja kalau aku bangga bisa membelinya dengan uangku. Disaat orang lain bisa punya hp, aku ga punya sendiri, harus pinjam mbak tyas buat smsan atau telpon.
Motor aja kan emang ga berniat dibelikan abi juga bukan? Aku ingat sekali abi bilang klo adik butuh motor buat cari kerja. Lah wong dianya aja belum lulus waktu itu. Aku kudu naik angkot 2x buat kerja. Ya walau akhirnya ada 2 motor baru dirumah, tp aku disuruh nyicil ke mbak iwit. Adek? Pasti ndak disuruh nyicil. Malah dibelikan 2 kali bukan.
Lalu disaat aku bisa mendapatkannya, tidak ada yang mengapresiasi malah diceramahi jangan ini itu. "
Si Sulung
Perhitungan
"Eman, masak uangnya buat nonton konser"
"Lah ya gapapa to Mi, toh uangku sendiri, tabunganku sendiri"
"Ya mending buat beli rumah, tanah"
"Ya ada lah itu mi, spare sendiri. Ini kan aku emang ada tabungan buat rekreasi. Buat dana darurat, buat haji, buat s2, buat nikah ada insyaa Allah. Emang situ, yang ga punya tabungan?"
"Lah ummi mana punya, kan kebutuhan keluarga banyak, gaji ummi juga berapa"
"Lah saya jg seberapa ada spare sana sini tapi masih bisa nabung. Bisa beli motor sendiri, servis motor sendiri. Emang situ, pinjam uang anaknya buat beliin motor anak satunya? Padahal gaji dia juga lebih gedhe daripada saya"
"Ummi ga pantas nyeramahi dan ikut campur tabungan saya, noh abi, pinjam uang saya bilangnya buat benerin rumah, benerin kamar mandi eh ternyata buat beliin motor si Adek. Enak kali dibelikan motor 2 kali. Saya aja beli motor sendiri"
" 2019 kemarin aja abi ga bisa mrioritasin mana yang lebih butuh motor, saya atau adek? Saya perjalanan jauh hampir 30 km , PP berarti hampir 60 km. Adek? Cih, katanya motor buat cari kerja, tapi dianya aja belum lulus. Mau 7 tahun lagi"
(c) 18 September 2023
Stage 1
"Kamu ndang nikah, udah mau kepala 3 lo. Kasihan kesuburanmu, ntar susah hamil baru tau rasa" ujar seorang bapak kantor.
"Lah ngapain buru-buru pak, ntar kayak bapak, bukannya pernikahan pertama bapak gagal ya?"
Stage 2
"Kamu ndang nikah, udah mau kepala 3 lo. Jangan kebanyakan milih"
"Saya aja mau makan masih pilih-pilih menu pak"
Stage 3
"Kamu ndang nikah, udah mau kepala 3 lo. Ikhtiar coba"
"Ya saya ikhtiar lo pak, tapi emang ga kabar² ikhtiar saya apa. Bapak siapa? Keluarga? Bukan. Saudara? Apalagi. Emang kita sedekat apa pak sampai saya harus menceritakan ikhtiar saya ke bapak?"
Stage 4
"Kamu kapan nikah? Si Fulan dan Fulanah yang lebih muda dari kamu sudah mau nikah lo."
"Alhamdulillah ya pak, rezekinya. Doain saya juga dong pak"
you're long forgiven but you tell me—after everything that have happened—how could we go back to how we were?
not mad, just learn to be done
"Sometimes you have to break a little more to heal a little more."
I can't even look at them the same way. And life been so peaceful.
the only reasons why i left them is for their good. so no matter how it hurted me, i will never regret my decision.
Si Sulung
"Udah tabungan ummi abi yang buat nikah mbak buat persiapan adik kuliah aja. Kosnya cari yang nyaman, gpp mahal. Yang penting deket kampus. Toh mbak juga ga tahu bisa nikah apa tidak. Ya kalaupun bisa nikah, ta cari uangnya sendiri. Toh beli motor kemarin juga pakai uangku sendiri. "
Si Sulung
"Wenak yo mbk dadi dek ibad, mari kecelakaan , motor e rusak ae langsung ditumbasne maneh. Aku kae leren servis dewe, duit²ku dewe. Aku kae yo tumbas motorku iki yo tumbas dewe, gawe duit dewe. Seng vario abang e dek ibad kae malah ditumbasne.
Ta kiro abi minjem 6 jt i gae benakne ac mobil opo toilet. Kan iku luwih penting to. Tiwas aku nyilihi, Tibak e gawe tumbas motor gawe ibad. 😮💨😑
Padahal yo ibad sik durung butuh motor, sik urong wani. Sik trauma mari kecelakaan kae. "
(c) 4 Mei 2023
Orang bilang, roda kehidupan itu berputar. Kadang diatas , kadang dibawah. Tapi bagaimana kalau itu terjadi tanpa ada aba-aba atau peringatan? Berada dibawah.
Sedih. Sakit. Rasanya seperri kurang dipercaya.
Apa aku kurang cakap?
Apa aku bodohkah?
Apa aku kurang mampu?
Tidak diajak dalam kelompokan.
Tidak diajak berdiskusi.
Tidak diajak dalam sebuah grup.
Salah apa ya? Aku bodohkah? Semua itu berputar di kepalaku. Pening. Pusing.
Akau ingin keluar dari sini.
Karena tidak ada kerjaan juga. Non job.
Padahal padahal kupikir selama ini yang kulakukan itu untuk kepentingan bersama, pekerjaan bersama, membantu beliau naik kelas.
Apakah aku selama ini tidak ikhlas bekerja?
Lalu aku harus bagaimana kedepannya? Selama setahun ini? Atau mungkin selanjutnya?
Bantu aku.
Kadang malu mau tahajud. Perasaan kaya “giliran ada maunya aja tahajud” gini sering muncul dibenak akhirnya ga terlaksana
Katanya ini was was dr syaitan kak yg bikin kita malu buat meminta dan berusaha mmperbaiki ibadah2 kita yg biasanya. Pdahal Allah itu suka banget kalau hambaNya meminta🥰
"Jangan pilih-pilih, kalau ada yang mau langsung sikat saja"
"Bagi wanita, semakin berumur semakin susah hamil. Kesuburannya yang terpenting"
Lupa kalau jadi orang beriman kah? Yang nentuin bisa hamil atau tidak itu bukan kesuburan atau umur tapi Allah.
Jodoh, rezeki, anak bukan kita yang nentukan tapi Allah swt.
Kita pun sebenarnya hanya menunggu waktu dan pergulirannya, soal siapa yang bahagia lebih dahulu, menikah lebih dulu, sukses lebih dulu dan mati lebih dulu. Tidak perlu dibanding-bandingkan dan dijadikan ajang untuk saling berbangga, sebab semua hanya menunggu waktu habis usianya. Nikmati yang dipunya, maksimalkan apa yang ada dan mulailah untuk mengatur rasa.
— jndmmsyhd
Dulu, kamu adalah doaku yang paling serius.
Sekarang, kamu adalah ikhlasku yang paling tulus.
5 stages of grief are denial, anger, bargaining, depression and acceptance.
"well i'd like to add one more, revenge."
Jangan mau damai, bilang sama orang tua yang bully, "Bapak mau hajar anak bapak di depan saya atau saya hajar anak bapak di depan bapak"
Jangan mau damai, bilang sama orang tua yang bully, "Bapak mau hajar anak bapak di depan saya atau saya hajar anak bapak di depan bapak"
Sisa-sisa Masa Lalu
Hari itu, jiwanya merasakan tenang saat dua kalimat syahadat terucap dari lisannya.
Beriring dengan maaf dan pengampunan dari Rasulullah, manusia agung yang dahulu begitu dibencinya.
Namun, ada rasa sedih saat didapati gurat kecewa yang teramat dalam di wajah indah Sang Baginda.
Ada sesak di dadanya saat beliau memalingkan wajah, setiap tak sengaja bersitatap dengan dirinya.
Ada gundah rasa bersalah saat mengingat kekejaman dirinya, saat ia mengakhiri nyawa paman beliau tercinta.
Dan ada gelora membara ingin menebus segala dosa di masa jahiliyahnya, yang kini beban dosa itu serasa menghimpit jiwanya.
Ya, duka itu masih tak mau enyah dari diri Sang Baginda Nabi.
Luka itu begitu dalam menyayat hati beliau, meninggalkan rasa pedih seolah tak terobati.
Terbayang bagaimana paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthalib, manusia yang begitu ia cintai dan hormati. Terbunuh ditangan seorang Wahsyi bin Harb, dengan sangat kejam dan keji.
Dan ia, Wahsyi bin Harb, memang kemudian menjadi bagian dari kaum orang-orang beriman.
Namun sisa-sisa kenangan terbunuhnya Sang Paman, saat di Perang Uhud, masih melekat kuat di ingatan.
Bahkan sampai akhir usia, Rasulullah tak pernah bisa melupakan kisah kekejamannya saat membunuh sang paman, meskipun beliau sudah memaafkan.
Dan setiap berpapas dengannya, tak kuat hati beliau, hingga akhirnya selalu saja beliau menahan bahkan memalingkan pandangan.
Begitulah sisa kecewa masa lalu, yang terkisah di masa Rasulullah, sang manusia ma'shum sumber keteladanan.
Dan begitu pula yang seringkali terjadi hari ini pada diri kita, yang hanya manusia biasa tempatnya khilaf dan kesalahan.
Maka sebesar apapun upaya kita untuk menuju titik sebuah perubahan, selalu ada kisah sedih dan gores luka masa lalu yang ingin kita lupakan.
Selalu ada yang tertinggal dari karakter pribadi masa lampau yang hendak kita tanggalkan.
Maka bermaklumlah, kala terhadap sesama ada kecewa atau luka yang pernah kita goreskan. Kemudian kita dapati ia yang masih kesakitan, memilih untuk memalingkan pandangan,
Atau bersikukuh membatasi jarak dan hubungan, meski maklum dan kemaafan sudah dihulurkan.
Sebab mungkin saja, sakit serta kecewa itu masih belum hilang sempurna dari hati dan perasaan. Justru malah akan terkorek lebih dalam luka lamanya, jika kemudian dipaksakan.
Maka jika tertakdir berada di posisi itu, bersabarlah memang perlu waktu lebih untuk bisa kembali menuang kasih sepenuh pengharapan.
@indahufillah
Bersabarlah, bahkan meski tak kau dapati keridhaannya di dunia. Berharaplah pada Allah agar kelak dikarunia ampunan dan surga. Sebab di Surga, Allah sembuhkan segala luka, Allah hilangkan segala kecewa. Allah karuniakan keridhaan, Allah damaikan perasaan. Hingga kembali akrab jiwa-jiwa nan beriman, sambil duduk berhadap-hadapan diatas dipan-dipan.
Kediri, 21 Juli 2020 (c) Jundina Syifa'ul Mujahidda