enak banget lagi kamu CINTAAK POL

Andulka
styofa doing anything
occasionally subtle

No title available

Origami Around

titsay
sheepfilms

⁂
almost home
Sweet Seals For You, Always
YOU ARE THE REASON
todays bird
Misplaced Lens Cap
trying on a metaphor

if i look back, i am lost
dirt enthusiast
Not today Justin

Discoholic 🪩

tannertan36
I'd rather be in outer space 🛸

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from South Africa

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Argentina
seen from Netherlands
seen from United States

seen from Vietnam
seen from Mexico

seen from Malaysia
seen from Paraguay
seen from Mexico

seen from Mexico
seen from United States

seen from United States
@lembarbisu
enak banget lagi kamu CINTAAK POL
404
kamu udah ga ada di mana mana. kamu aja bisa, masa aku engga. aku bisa juga kok tapi tunggu ya, tunggu sebentar aku masih berserakan ini di sini. nanti ketika waktunya datang, dan aku bisa kayak kamu -yang baik baik aja itu, aku akan secara brutal sayang lagi sama dunia dan seisinya. tapi untuk saat ini, untuk sementara, aku akan berceceran dulu sampai nanti aku bisa kembali menyatukan aku yang buyar di lantai.
- Meja kerja, 11 april 2023. 10.40 wib.
Perlahan Sirna
Engga mudah, tapi lebih engga mudah lagi kalau tidak ada. Akhirnya aku berhenti pada penantian panjang dan melelahkan ini. Aku berhenti berharap untuk sesuatu yang sulit aku dapati, aku berhenti berharap kamu akan menemukan cinta kasih yang menggebu gebu layaknya cinta kasih yang kamu temukan dulu.
Gak apa apa, aku terima.
Mungkin, memang mungkin, itu tidak akan lagi terjadi, tapi mungkin, bisa saja mungkin, bentuknya berubah. Mungkin dari yang berbentuk rentetan cuitan cinta, kini berbentuk kesabaran tak terhingga. Mungkin dari yang berbentuk dokumentasi tak terbatas yang memenuhi galeri kamu itu, kini berbentuk...berbentuk apa ya kok aku ga nemu :”) hahaha.
Gak apa apa, mungkin belum semuanya bisa aku terima tapi seenggaknya ini titik awal yang baik karena aku telah ikhlas melepas. Apa yang seharusnya menjadi milikku, tidak akan pergi dan tertukar.
Pada penantian panjang yang melelahkan itu, kini kabutnya sudah menipis. Aku kembali bisa melihat langit biru yang cantik, kembali bisa mendengar suara kicauan burung pagi hari, dan bisa berjalan tanpa harus melukai diriku sendiri.
Atas yang perlahan telah sirna, akan terganti dengan kebahagiaan yang tidak kamu duga.
Aku tidak boleh lupa, bahwa yang paling penting adalah aku tidak boleh kehilangan diri sendiri.
Aku sayang kamu, tapi aku jauh lebih menyayangi diriku sendiri.
Mari berjalan bersama, tanpa aku harus melukai diriku.
- Rumah, 28 maret. 02.21 WIB
Untuk Jalan Terjal yang Akan Kita Lalui
Sedikit aku bercerita tentang kamu di sini, tapi ketahuilah semua berbau kamu selalu ada di kepalaku 24/7. Namun malam ini berbeda, akan kutuangkan sedikit saja kamu dari kepalaku pada tulisan ini.
Untukmu, terkasih, Bapak.
--
Kita bukan penggemar pegunungan, pula bukan tipikal manusia yang hobi dengan pendakian dengan segala halang rintangnya, tapi lihat tanpa kita sadari selama ini kita bersama nyatanya kita sedang (dan selalu akan) mendaki. Pada puncak yang tidak kita ketahui, pada jalur pendakian yang tidak kita pahami medannya, pada luka yang menanti, pada akhir yang tidak terlihat tapi pada akhir yang kita ketahui akan ada kita di sana.
Sayang, teruntuk semua pilu yang dahulu telah kamu lalui aku semogakan kamu sembuh sepenuhnya dari itu, aku semogakan kamu menjadi pribadi baru yang lebih baik & lebih bijak dalam menyikapi rentetan kejadian terdahulu dan yang akan datang dan aku semogakan kamu dapat memaafkan atas apa yang pernah terjadi agar kelak kamu bisa kembali menemukan rumah bagi kamu.
Agar kelak kamu dapat menjadikan aku sepenuhnya rumah ternyaman bagi kamu.
Karena yang akan datang tidak akan mudah, aku membutuhkan kamu untuk dapat terus berjalan bersama, menemani, di sampingku. Karena yang akan datang tidak akan mudah, aku membutuhkan cinta kasihmu untuk dapat meyakinkan diriku atas perjalanan terjal ini. Karena yang akan datang tidak akan mudah, aku butuh kamu percaya bahwa kita bisa melalui semuanya, tanpa terkecuali.
Di sela selanya akan kita temukan kebahagiaan, di antaranya pula akan menjadi memori bahagia penuh suka cita dan di hari hari dalam perjalanan terjal itu akan kita temui rasa sayang yang dapat menguatkan kita untuk kembali berjalan esok hari.
Sayang, sungguh kasihku berlimpah untukmu dan untuk Si Kecil. Ketahuilah, atas semua keputusanku yang mendatang aku selalu melibatkan kamu dan si kecil di dalamnya. Atas segala doa yang kupanjatkan aku selipkan kalian di sana yang sesekali beriringan dengan isak tangisku yang tak kunjung henti.
Dan untuk Ibu, untuk seseorang yang namanya tidak pernah terucap, untuk seseorang yang pernah dan mungkin akan selalu jadi seseorang yang kamu sayang dan berada di relung hati kamu, pula aku panjatkan doa baik untuknya. Karena pada titik ini, rasanya aku sudah menyerah. Rasanya aku tahu bahwa tidak semua bagian dari kamu bisa aku miliki, rasanya memang ruang itu harus ada untuk dibagi terutama untuk kebaikan si kecil. Aku tidak lagi berusaha untuk mengganti posisi Ibu, karena aku sadari posisi itu tidak akan pernah terganti dan memang sebaiknya tidak terganti. Aku hanya melengkapi apa yang sudah ada, menemani sisa perjalanan yang masih harus dilalui. Semoga kedatanganku membawa kebahagiaan bagi kalian yang kini sudah terlalu aku sayang. Namun, semoga kelak baik kamu dan aku dapat berdamai dan berjalan beriringan dengan Ibu.
Wahai pelipur laraku, Bapak, terima kasih atas cinta kasih yang kamu berikan selama ini, terima kasih atas sabar yang tak berujung dan terima kasih atas rasa berjuangmu pada hari hari yang lelah namun tidak kamu temukan diri kamu untuk berhenti. Aku sayang kamu, dan akan selalu begitu.
Kita temukan kita yang berlinang air mata, kita temukan kita yang penuh tawa. Ketahuilah, kamu akan selalu menjadi pilihanku. Dalam aku yang sedang tidak percaya diri, dalam aku yang sedang menikmati seisi dunia, dalam aku yang sedang berkembang, dalam aku yang sedang mengobati luka dan dalam aku yang sedang meraih mimpiku, kamu, akan selalu aku jadikan pilihan dalam setiap langkahku ke depan. Aku pastikan akan selalu ada kamu di dalam sub bab hidupku, karena pula dapat aku pastikan kamu akan melakukan hal yang serupa, untuk memilih aku pada setiap langkahmu.
Aku menyayangimu untuk kamu terdahulu, sekarang dan yang akan datang.
Tertanda aku, perempuanmu, Putri.
- Rumah, 28 Maret 2023. 02.06 WIB.
Arsip yang Seharusnya
Seharusnya ia rapih tersimpan di arsip, tidak semua perlu diketahui khalayak ramai, tidak semua perlu dikemukakan. Tapi kemudian ia menyeruak dengan begitu tidak tahu dirinya, ia keluar melalui pintu yang selama ini telah tertutup rapat. Tanpa disadari pemilik rumah, pintu yang pernah ia tutup rapat itu kini telah usang, engselnya rusak, gagang pintunya sudah tidak berfungsi sepenuhnya, pintu kayu itu digerogoti rayap, yang lebih parahnya ia dengan teledor tidak pernah mengunci pintu itu kembali semenjak ia sering hilir mudik kedalam ruangan. Ia lupa merawat pintunya, terlalu banyak menimbun barang di sana --- di ruangan yang hanya ia dan Tuhan yang tau. Dan mungkin sekarang yang tau jadi beberapa orang (yang tidak tau urgensi kepentingannya apa, tapi toh mereka kini tau).
Seharusnya pula, ia bakar saja ruangan itu. Buat apa sih ruangan itu ada? Posisi ruangan itu jauh di paling ujung rumah, jauh sekali! Untuk mencapai kesana saja butuh menyelami beberapa ruang waktu, yang telah tiada. Kalau menuju kesana butuh banyak perjuangan, kembali dari ruangan itupun penuh pilu. Sering kali, si pemilik rumah kembali dengan muka pucat pasi dengan mata sebesar bola bekel karena habis nangis tidak karuan di sana. Itu ruangan apasih? Ruangan penyiksaan? Selalu kembali dengan penuh luka, tapi selalu juga ia hilir mudik kesana. Ia masokis? Atau apa sih?
Seharusnya si pemilik rumah tau akan konsekuensi yang akan datang, seperti hari ini. Sekarang gimana ini nasibnya? Hal yang ditimbun dalam ruangan itu mulai berceceran di lorong rumah, tidak sampai ke ruang sini sih atau ke kamar atau ke dapur, tapi yang ditimbun telah keluar dari ruangan penyiksaan itu. Kalau dibiarkan seisi rumah akan habis dan tidak akan menyisakan ruang untuk berjalan.
Seharusnya sejak dini ia - si pemilik rumah, berani mulai belajar membuang barang barang atau apalah itu yang ada di ruangan itu. Mungkin bisa beli lemari untuk merapihkan semua yang tertimbun di sana. Sekarang apa yang bisa dilakukan setelah 28 tahun semua tertimbun? Jelas engga bisa dirapihkan dalam sekejap untuk sesuatu yang telah menahun berada di sana.
Tapi, seharusnya? Seharusnya menurut siapa memang?
Mau dibungkam juga rasanya tidak kuasa. Mau terus ditimbun hingga akhirnya menyeruak ke seisi rumah juga jadinya tidak nyaman bagi penghuni lain.
Ini ga ada buku panduannya lagi, jadi, harus mengacu kemana sebelum akhirnya aku dan si pemilik rumah habis tercekat oleh isi ruangan itu yang menyeruak ke setiap sudut rumah?
- Jakarta 28 Maret 2023. 00.52 WIB
p.s: habis babak belur karena menemani si pemilik rumah berjalan jauh dari ruangan penyiksaan itu.
Aku di sini lagi. Lagi dan lagi dan lagi dan lagi.
20/03/23 21.48 wib
karma dari mana ya ini? aku gapernah sekalipun bermaksud buat pihak pihak yang merasa tersakiti tanpa adanya keterlibatan aku di sana, maaf ya.
udah setahun aja
Sumpah Serapah Pada Tombol Reset
Aku mau sumpah serapah tapi mungkin ke ngomong panjang lebar karena isi kepala lagi terlalu banyak yang hilir mudik. Kepalanya terlalu banyak mengetahui hal hal yang seharusnya engga aku tahu lalu ini gimana? Ngilangin residu-residu ini gimana?
Kenapa kepala ga ada tombol reset jadi bisa mengulang semua dari awal tanpa bawa embel embel yang lalu lalu tanpa tau apa yang terjadi di masa lalu tanpa adanya interfensi dari masa lalu.
Lalu kalau kepalanya sudah full capacity gini siapa yang bisa menjamin bahwa ia tidak akan pecah dan meledak? siapa yang menjamin kepalanya tidak meledak secara brutal hingga darahnya bucat dan berceceran di dinding dan di lantai kamar? kalau kemudian ia meledak dengan tidak tahu diri, kemudian siapa yang akan memberesekan darah darah bergelimangan itu?
Akal akalan siapa ini kepala kepenuhan tidak bisa direset. Harus bisa direset, kayak Pertamina, yang dimulai dari 0 aja.
Ah, bangsat!
- Fatmawati, 2 februari 2023. 00.50 WIB
Teruntuk yang terkasih.
Dari aku, Putri, perempuanmu.
Sudah habis di mana?
Kalau habis kok ga bilang? Sejak kapan habisnya? Kalau habis, aku bisa apa? Aku dapat sisanya? Sisanya yang tidak seberapa itu? Sedang aku? Aku kasih semua. Masih jauh ini, kamu sudah habis?
nyasar
kenapa di sini ya
kok bisa gini ya
bener gak ya jalannya
harusnya di sini apa engga sih
kalau di ujung sana kayak apa ya rasanya
ini bakal gini terus
selesainya kapan sih ini
jalannya kearah mana
kalaupun ini jalan yang benar, benar menurut siapa
diem aja boleh engga
mundur bisa?
- 13/01/23 01.25
aku cape
aku cape sama pemikiran ini melulu kamu tau cape ga nah iya itu aku ini kapan berakhirnya ya ini ada akhirannya kah aku kalau kayak gini harus apa bisa cerita ke siapa karena cerita ke kamu jelas ga bisa berujung semua akan kamu bantah tapi intuisi aku ga salah ini ada sesuatu aku ga suka banget aku cape aku mau masuk ke pala kamu aja lalu nyari tau sendiri karena kamu terbiasa di kepala dan di omongan itu berbeda aku mau teriak dlya aaaaa ok sudah.
ayo nangis lagi AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
-30/12/22 21.20
Kangen bgt im dead
- 29/12/22 20.20
AYO NANGIS PART KESEKIAN AAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
ok nuhun