“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore
RMH
KIROKAZE
Lint Roller? I Barely Know Her
cherry valley forever

JBB: An Artblog!

JVL

PR's Tumblrdome
Cosmic Funnies
art blog(derogatory)
No title available

blake kathryn
Jules of Nature
Monterey Bay Aquarium

izzy's playlists!
tumblr dot com
Show & Tell
YOU ARE THE REASON
No title available
Not today Justin

oozey mess

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from T1
seen from United States

seen from United States

seen from Iceland

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Italy

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
@lembarcanvas
“Ya Allah, jangan Engkau ambil nyawaku secara tiba-tiba, jangan pula Engkau panggil aku saat aku lalai. Anugerahkanlah kepadaku tenggang waktu agar aku sempat kembali kepadamu, bertobat dari dosa-dosaku, sebelum tibanya kematian”
— Doaku jumat sore
2025 dengan seseorang dan rasa yang masih sama. How funny 🥲
Right now, I'm done loving you, kak. 8 years I kept it from you. I never revealed it. And it seems like I never will.
But thank you, I'm happy I was able to love you for that long. Even though it means nothing, our communication hasn't been the same for the past three years.
I am also very grateful to Allah, because during that time Allah never showed me that you already had a partner (whether in reality you already have one) but I am grateful, Allah never showed me that directly. So, while I still had feelings for you, I didn't feel particularly guilty about my ignorance about you, whatever it was.
In fact, I don't know if fate will truly bring me to the person who proposed to me. I still don't know, because that remains Allah's secret. But I have to finish with this feeling right..
So, it's done.
You will always be here. Even though my feelings will never be the same. You've been a part of my life, a learning experience, and a test for me.
Bye kak,
From SZ
To you, MAY.
Semakin dewasa, semua hal yang dahulu begitu mewah kita inginkan harus ada dalam kehidupan kita, perlahan akan memudar menjadi lebih sederhana. Kita tidak lagi ingin lagi menuntut banyak akan suatu keadaan, melainkan satu kalimat do’a "Ya Allah asal Engkau ridho." —brangkali akibat tempaan realita yang sering kali berkata lain yang menjadi asbab kehadirannya.
Apakah ini pertanda buruk? Tentu saja tidak. Ini bukanlah sebuah kepasrahan, maupun bentuk keputusasaan. Melainkan adalah sebuah penerimaan dan kepahaman dari bagaimana pelajaran hidup yang Allah berikan dalam mendidik kita.
Terkadang memang dengan rasa kecewalah manusia dapat terus tumbuh dan melanjutkan hidup. Sebab dari rasa kecewa itu manusia akan mengerti bahwa tidak semua yang dianggapnya baik adalah yang terbaik, lagi sebaliknya yang dianggap buruk adalah terburuk.
Semoga kita senantiasa diberikan kelapangan dada dan kejernihan akal dalam memahami setiap skema terbaik dari-Nya.
Mendewasalah dengan segala tawa dan tangisnya. Rasa senang dan kecewa itu lumrah, tinggal bagaimana cara kita menyikapinya :)
Tidak mengapa jika menangis itu menjadi teman dalam sepimu, bukanlah menjadi masalah juga bila menangis itu menjadi pengungkap rasa. Tersebab air mata itu penuh sejuta makna, yang hanya diketahui oleh pemilik air mata. Tidak apa-apa, insyaallah semua akan baik-baik saja.
Dari banyaknya manusia ada yang mengungkapkan isi hatinya dengan menangis, sembari menata hatinya untuk merelakan semua yang sudah terjadi, ia tidak menggugat Tuhan, ia hanya mencoba rela dan menerima dengan caranya.
Tak apa, semoga badainya segera hilang, semoga hujannya segera mereda, untuk setiap mata yang sedang menangis.
@jndmmsyhd
Bila Takdir Menyayangimu Lewat Cara yang Tak Kamu Pahami
Tak semua kehilangan itu benar-benar kehilangan. Dan tak semua yang ditunda adalah penolakan. Kadang, yang tenggelam bukan untuk dihancurkan — tapi untuk diselamatkan dari arah yang salah. Allah menenggelamkan kapal bukan karena ingin melihatmu terombang-ambing.
Tapi karena Dia tahu: Kapal itu, jika berlayar terlalu jauh, akan membawamu ke pelabuhan yang justru mencelakakanmu. Maka Dia tenggelamkan — bukan untuk menyakitimu, tapi agar kau kembali memeluk daratan-Nya.
Kadang, cara Allah melindungimu adalah dengan mematahkan keinginanmu. Kadang, cara-Nya menyelamatkanmu adalah dengan memisahkanmu dari sesuatu yang terus kamu perjuangkan.
Bahkan ketika kamu merasa, "Aku sudah cukup berdoa, sudah cukup baik, kenapa tetap tidak diberikan?" Maka jawabannya adalah: Karena Allah mencintaimu — dengan cinta yang tahu persis kapan waktu terbaik untuk memberi. Dan kadang… cinta itu datang dalam bentuk penolakan.
Semua yang Allah tetapkan — meski menyakitkan — tetaplah yang terbaik. Karena pilihan Allah untukmu, selalu lebih tahu, selalu lebih tepat, selalu lebih menyelamatkan, dibandingkan semua pilihanmu sendiri.
Selamat bercerita dengan doa, gapapa, semua akan baik-baik saja
@jndmmsyhd
Ya Allah, aku belum mampu. Pertahananku hancur. Setelah ini, gmna ya Allah. Setelah ini gmna ya Allah 💔🥀
Tentang Ujian, Tabiatnya, Hingga Cognitive Reappraisal
@edgarhamas
Wahb bin Munabbih menasihati, "Tiada suatu pun kecuali ia tampak kecil lalu membesar, kecuali musibah. Ia tampak besar di awal, lalu mengecil."
Kalau kita belum merasakannya, mungkin kutipan ini ngga relate. Tapi, ini relevan bagi siapapun yang hidupnya terbiasa hadapi problema.
Bagi siapapun kita yang pernah merasakan musibah, kita akan tahu bahwa penerimaan kita, membuat kita bisa lebih ringan memikul bebannya.
Inilah salah satu dinamika paling universal dalam pengalaman manusia: musibah dan bagaimana kita menghadapinya dari waktu ke waktu.
Biasanya dalam hidup: sesuatu yang kecil bisa membesar, seperti nasihat Wahb.
Tapi musibah berjalan terbalik: besar di awal, lalu mengecil. Ketika musibah pertama kali datang —perginya orang tercinta, kegagalan besar, kehilangan, penolakan, pengkhianatan— kita akan meledak.
Kita merasa tidak akan sanggup melewati hari esok. Tapi waktu berlalu. Rasa sakitnya menurun.
Kita mulai menata ulang makna hidup. Luka perlahan sembuh. Yang dulu menyesakkan dada, sekarang hanya jadi kenangan, bahkan kadang jadi pelajaran. Kuncinya ada pada: Ridha. Penerimaan.
Seorang teman yang bergelut di bidang psikologi mengatakan, bahwa ini bisa disebut bagian dari 'cognitive reappraisal.'
Saat kita mulai memaknai ulang peristiwa itu. Misalnya: "Mungkin ini cara Allah mendidikku." "Allah tunda sesuatu untuk diganti yang lebih baik. insyaallah."
Bahkan dahulu, Sufyan Ats Tsauri pernah menasihati,
لم يفقه عندنا من لم يعد البلاء نعمة والرخاء مصيبة
"Tidaklah seseorang dianggap faqih pada agamanya, jika ia belum menganggap musibah sebagai nikmat dan kelapangan sebagai musibah." (Al Jarh wa At Ta'dil 1/93)
"What doesn’t kill you, makes you stronger." Masalah-musibah yang kita hadapi dengan kuat, sabar dan tawakkal, itulah yang Allah jadikan sebagai penguat kita.
Sama seperti kata Shalahuddin, "ketika aku minta kekuatan, Allah berikan aku masalah untuk aku selesaikan."
2 Juli 2025
2025 dengan seseorang dan rasa yang masih sama. How funny 🥲
Semoga kamu.
Semoga kamu.
Yang akan membuatku menerima semua penyesalan masa lalu, berdamai dan memaafkan segala kesalahan yang kuperbuat sendiri.
Yang akan membuatku percaya bahwa masa lalu adalah sebuah pelajaran berharga bagi diri dan akan terhapus dengan semua tangis taubat, dan aku masih mempunyai kesempatan untuk membangun masa depan indah bersamamu.
Yang akan membuatku menerima diriku sendiri, dengan segala kekurangan dan kelebihan. Yang membuatku percaya terhadap diriku sendiri dengan segala kemampuan yang ku miliki.
Semoga kamu.
Yang akan mengajakku membangun surga di rumah. Terhiasi dengan berbagai kata indah dan kedamaian, bukan paksaan atau teriakan. Terisi dengan kesejukan lantunan lembut suaramu.
Yang akan menemaniku menikmati hangatnya mentari pagi di awal waktu. Memberikanku berbagai kebijaksanaan tanpa menghakimi. Menepiskan semua keresahan yang selama ini ada. Yang akan mengajariku menikmati hari hingga senja datang. Kemudian mensyukuri sinar bintang dan rembulan yang telah menuntun kita untuk saling menemukan.
Semoga kamu.
Yang akan menenangkanku pada setiap fase perjalanan, bahwa semua masalah dapat terselesaikan dengan baik tanpa sebuah pertengkaran. Kita tak perlu saling bersikukuh siapa yang paling benar, karena ini bukan perkara menang atau kalah, tetapi tentang bagaimana memahami diri kita masing-masing yang memerlukan waktu berpikir dan menyerahkan semua kepada Allah. Kita bisa, kan?
Semoga kamu.
Yang akan membawaku pergi jauh, melihat semua kekuasaan Allah, melihat semua keindahan ciptaan-Nya. Berkeliling menyusuri lingkar pantai dan berkunjung ke setiap rumah-Nya yang indah. Sembari menceritakan semua cerita sejarah yang telah hafal di luar kepala.
Semoga kamu.
Yang akan menuntunku menyusuri jalan setapak berkerikil yang panjang bernama kehidupan. Menggandeng tanganku memilih jalan terbaik, dan merangkul dengan penuh keyakinan.
Yang akan membuatku bersyukur telah mempercayai dan menerima takdir dengan mengikhlaskan segala rencana yang sebelumnya telah ku buat, yang ku revisi karena kehadiranmu.
Yang akan menyempurnakan semua mimpi yang telah ku harapkan.
Semoga kamu di masa depan, yang menjadi semestaku.
Iya, semoga kamu, siapapun kamu, tidak terlambat karena terlalu banyak pertimbangan dan hanya merencanakan, karena semua tidak akan pernah tersampaikan bila tidak dikomunikasikan.
Semoga kamu tidak terjebak pada idealisme yang kau buat sendiri.
Sebab sejatinya hidup adalah tentang memilih lelah, maka pastikan lelahmu bernilai ibadah; yang membuat Allah rida, yang melapangkan jiwa dan yang balasannya surga, bukan lelah yang sia-sia apalagi terhitung dosa; yang membuat Allah murka, yang menyempitkan jiwa dan balasannya neraka.
“Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya, merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syam: 7-10).
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)
Langkah pertama, patah. Siapalagi kini, batinku. Kamu baru memulai. Gagal, ini baru sekali. Suara lain meyakinkan.
Tak apa, melangkah lagi. Dengan hati yang lebih tenang, namun sarat akan keyakinan pada tuhanmu. Melangkah lagi, tak apa. Kalau jatuh lagi. Bayangkan, Rabbmu ada, selalu siap memelukmu. Memberi kekuatan baru.
Tenang, Allah disini. Allah dengar. Allah tak siakan ikhtiarmu. Lanjutkanlah.
#believe #destiny
Jangan berhenti berdoa Kiya, Allah dengar, Allah selalu dengar. Jangan putus asa, jangan menyerah. Kuatkan hatimu, luruskan lagi niatmu, kokohkan lagi tujuanmu. Allah disini, Allah disini.,
Lampung, 14 Desember 2024
Pesan Abi untuk Saling Mendoakan
Kabar itu datang tiba-tiba, seperti petir di siang bolong. Abi, yang selama ini tampak membaik dan kembali mengisi aktivitas dakwahnya, mendadak sakit hingga demam tinggi bahkan sempat mengigau di malam hari dan suaranya tiba-tiba hilang.
Umi bercerita bahwa Abi mungkin kecapekan. Sehari sebelumnya, aktivitasnya sangat padat, dari pagi hingga petang, bahkan harus bepergian ke luar kota. Padahal dokter sudah berpesan agar Abi banyak istirahat karena kondisinya bisa drop sewaktu-waktu.
Namun, seperti yang kami kenal, semangat Abi untuk berdakwah selalu besar. Rasa rindunya dengan jamaah, ditambah desakan lembut dari mereka yang terus menanyakan kapan Abi kembali mengajar, mungkin membuatnya lupa bahwa tubuhnya tak lagi seprima dulu. Alhasil, begitulah.
Akhirnya, dengan berat hati saya minta maaf ke Umi, Adek, dan tentu saja ke Abi asbab sepertinya sama dengan pekan sebelumnya, saya belum bisa pulang. Mereka cukup memahami kondisi saya. Terutama Abi yang selalu support dengan 'amanah' yang ada. Saya ingat, suatu ketika saat keluarga berkumpul, Abi pernah berpesan:
"Di manapun kalian berada, di tengah segala keinginan yang kalian mintakan, tolong juga untuk selalu menyelipkan doa terbaik untuk anggota keluarga yang lain ya. Dengan itulah hati orang-orang yang beriman akan saling terikat, apalagi kita keluarga."
Abi kemudian mengingatkan kami dengan firman Allah:
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath Thuur: 21)
Pesan Abi sederhana, untuk saling mendoakan. Amalan yang terlihat sederhana, tetapi sungguh ini adalah kado yang indah yang bisa dihadiahkan oleh siapapun. ahkan, Rasulullah pun menyebutkan bahwa doa seseorang untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab.
Bayangkan, betapa indahnya sebuah keluarga yang di dalamnya anggotanya saling mendoakan, saling mengingatkan, dan saling menolong dalam kebaikan. Bayangkan juga, karena doa-doa itu, Allah mengikat hati kita dalam keimanan dan kelak mengumpulkan kita di Surga-Nya. :'
“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra‘du: 23)
Semoga Allah senantiasa menjaga keluarga-keluarga kita, menciptakan 'keterikatan' hati di setiap anggota keluarga kita, yang darinya menjadikan keluarga kita menjadi keluarga yang Allah cintai dan kelak akan dikumpulkan kembali di Surga-Nya.
Aamiin yaa Rabbal 'alamin.
Journaling Pt.2
Sabtu, 28 September 2024
Sedang kesal dengan diri sendiri, karena masih belum konsisten manajemen waktu dan keuangan. Harapan dan target akhir tahun ini waktu dan juga keuangan sudah bsa stabil. Tpi krna belum konsisten dan ngga jarang mengikuti hawa nafsu. Jadilah menerabas habis sekian target yang sudah direncanakan :((
Juga manajemen emosi yang terkadang keluar dari batasnya. Melatih ketenangan jiwa nyatanya ngga semudah dan sesingkat itu.
Semoga bsa melatih diri lebih dewasa lagi, lebih tenang lagi, lebih berkomitmen lagi, lebih terukur lagi, dan lebih bijak lagi. Lagi dan lagi pokoknya. Aamiinnn
Journaling. Pt 1
Ahad, 18/08/24
Bismillah,
Aktifitas hari ini dimulai dg to do list mau ngapain aja, biar ngga lupa. Otw ke balam, kaki lumayan kram ya krna posisi nya selalu sama.Rehat sejenak di bandar, Nemu jajanan enak2 jdi semangat lanjut lagi. Pas sampe balam, full makannn pokoknya. Dari dessert yg manis2 sampe makanan berat. Churos topping matcha 7/10 krna yaa biasa aja. Ramyun station 8/10 unik krna self service kayak di koriyah2 gtu, cuma sayanganya milih mie yg kurang mantep di lidah jadi yaa masih oke lah. Lanjut ke ramen ya! Awalnya mau pesen ramen. Tapi krna udh nge-mie sebelumnya, jdi pilih nasi aja. Nasi sama ayam saus wijen (?) ya gtu kata waiters nya. Enak jugaa, rasa nya baru. Kelihatan porsi nya ga begitu banyak, trnytaa ngenyangin bgt dann enak, 9/10.
Ke kosan aning, trnyta cukup kecil ngga begitu leluasa. Tapi plus nya di kosan yg kali ini ada embung di depan kosannya. Jdi bsa joging pagi/nyore2, sejuk. Pohon2 nya juga rindang2. Oke bgt klo bagian ini nya. Tapi ruangan kos nya agak terik, krna teras depannya belum di kanopi. Sebenernya lumayan pas klo utk sendiri. Berhubung 1 kamar 2 org. Jdi, punya kipas yg ekstra akan lebih nyaman sprtinya.
Lepas maghrib, makan lagi. Sebungkus nasi barengan bertiga. Makan nya di samping embung, ditemani karokean bapak2 hajatan. Otw balik rumah, ditengah jalan bensin hampir habis dan bukain jendela matiin AC, biar bsa ttp jalan mobilnya. Sampe rumah kasi makan mmeng2. Mandi, rehat. Alhamdulillah
Feeling hari ini : seneng, ada pegel nya, agak gerah nya, tapi Alhamdulillah masih dikasih nikmat banyak hari ini sama Allah.
Sekian. Lanjut di journaling part selanjutnya
Bye, see you 👋🏻
Free Palestine! 🇵🇸
Entah seberapa jauh jaraknya. Entah sebanyak apa riuh perjalanannya. Entah dimanapun tempat berlabuhnya. Semoga selalu diyakinkan dengan: “pada akhirnya takdir terbaik Allah itu pasti datang.”
Tenang sayang, sebentar lagi ya, giliranmu. Bismillah. :)