duhai maha pembolak-balik hati
masih jelas tergambar dalam benak, baru saja kemarin yang benar benar kemarin kau menyuapi dan merawatku penuh tulus hingga ku terlelap di pangkuanmu. tersadar kau hendak kembali pulang karena tenggat waktu telah malam.
dan pagi pun menjelang, hangat sapaanmu pun terngiang kala itu, jam bergerak lancang. satu dua jam berlalu hingga malam berganti pagi dan berganti lagi hingga ketiga kali kau hilang bagai ditelan sang waktu.
puluhan kali ku coba menekan nomor telepon yang sama, aku yakin itu berdering di dekatmu, namun mati rasa mu seketika tiada bersedia menjawab pesan atau panggilanku.
duhai Allah maha pembolak-balik atas segala rasa ini, jika memang ini takdirmu, dengan sekuat hati aku hendak membesarkan hati ini dan melapangkannya.
namun jika sebelum kau menjenguk diriku kau telah mendapati tambatan hati yang baru, aku lebih baik pergi.
atau bahkan lebih buruk dari itu entah apa yang menghantui pikiran ini hingga terfikirkan ada sebuah kekuatan entah apa yang dapat mengubahmu dalam sepersekian detik. jika memang hal itu nyata ada, aku yang tak mengerti apa apa, aku lebih baik kalah.
aku terlalu berharga untuk hanya menjadi serentetan pilihan ganda.
terimakasih sederhana jika kau enggan menjelaskan yang sebenarnya tak mengapa, aku pergi ya
dari aku yang sempat kau bahagiakan














