Yang mulai baper karna tau temen sd, smp, sma, temen seangkatan sampe temen sekelas di kampus ternyata udah mau nikah bulan depan, bulan depannya lagi bulan depannya lagii, yaaa tahun ini lah!
Dan kita Cuma bisa baperrr, pengennn, galauuu, sambil berdoa “ ya Allah jodoh gue mana? Kok lama banget datengnya?!.”
Heii kamu! Iya kamu! Yang barusan mewek minta jodohnya cepet datang kayak mereka yang udah pada sebar undangan, mari sini! Dengar sini!
Nikah itu bukan perlombaan gais, tapi kesiapan hati dan mental! *terus gua kapan siapnya?
Ya Allahu a’lam. Allah yang paling tau kapan saat yang tepat seseorang siap untuk menikah. Percaya aja, husnuzon sama Allah, kalo kita udah siap, mesti Allah bakal anter si jodoh kedepan rumah..
Sayang, menikah itu bukan sekedar Aku dan Kamu menjadi Kita; makan ada yang nemenin, tidur gak sendirian, ada yang anter kemana-mana, ada yang perhatiin, foto mesra + caption bikin baper para jomblo, bulan madu ke luar negeri, liburan bareng, hidup bahagia; kaya dan berkecukupan, sayang sayangan, gombal-gombalan di fesbuk. BUKAN!
Mengapa pernikahan dinilai SERECEH itu?!
Apakah hanya karna hal-hal yang demikian maka Rasulullah menjadikan Pernikahan merupakan salah satu dari sunnahNya: menjadi salah satu jalan menyempurnakan agama???
Bukankah dalam ikatan pernikahan, Khadijah menyelimuti Rasullah yang menggigil setelah pertemuan pertamanya dengan Jibril?
Bukankah dalam ikatan pernikahan pula punggung Ali melepuh demi menimbahkan air untuk Fatimah? Dan tangan Fatimah berdarah demi menggiling gandung yang kasar untuk makan Ali?
Teruntuk kamu salihahku sayang,
Tolong jangan mudah baper dan buru-buru “pengen nikah”juga hanya karna melihat temen salihahmu yang lain udah sebar undangan.
Mungkin kita belum sesiap mereka; ilmu kita masih kurang. Karna untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu dibutuhkan bekal ilmu yang cukup. *tapi perasaan dia juga masih bocah, masih suka main sana sini, masih jauh dari kata siap, tapi udah nikah aja tuh?
Eitz jangan nyinyir dulu, kita gak tau, ujian manusia kan beda beda, sedang Allah yang paling tau mana yang terbaik bagi hambaNya. mungkin mereka diujinya setelah menikah, sedang kita diuji dengan menunggu.
Tetap akan terasa berbeda bukan; seseorang yang telah memiliki bekal untuk menempuh perjalanan panjang, dengan seseorang yang baru akan mencari bekal diperjalanan untuk menempuhnya(?)
Jika memang jodohmu belum terlihat, maka bersyukurlah. Karna itu tandanya Allah masih memberimu kesempatan untuk belajar sebanyak banyaknya. Jangan khawatir, itu tandanya dia disana juga sedang melakukan hal yang sama. Bukankah jodoh itu cerminan diri?
Jangan berharap mendapat jodoh seorang Hafidz, jika untuk membaca Al-Quran saja kita malas. Jangan berharap mendapat jodoh yang keren; cerdas, dibutuhkan banyak orang (sibuk), kerja kantoran *kayak ditipi tipi. Tapi kitanya dikasih kesibukan sedikit sudah mengeluh capek.
Sekarang coba tanya ke diri sendiri dan jawab sejujur-jujurnya dalam hati!
Sudah siapkah kita menjadi seorang istri; yang tidak hanya mampu menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan suami dari bangun hingga tidurnya, dari ujung rambut sampai ujung kukunya, tapi juga mampu menjadi “rumah” tempat ia pulangkan segala keluh kesahnya? sebagaimana Rasulullah memulangkan segala peluhnya dalam berdakwah pada pelukan bunda Khadijah?
*jangan jangan untuk mengurus diri sendiri saja kita masih belum becus, masih banyak malesnya (?) jangan jangan kita masih lebih sering mengeluh ketimbang bersabar dan bersyukur ketika diuji (?) jangan jangan besok suami kita bakal lebih senang menghabiskan waktu stresnya dengan nongkrong bareng temen2nya sampe pagi, ketimbang pulang ke rumah membagi bebannya ke istri, karna kita belum bisa menjadi "rumah" yang nyaman untuk dia pulang(?)
Sudah siapkah kita menjadi seorang ibu; yang tidak hanya harus super bisa dalam segala hal tapi juga mampu menjadi madrasah pertama bagi mereka; generasi penerus agama ini? Pola pendidikan seperti apa yang sudah kita siapkan untuk berkontribusi membentuk generasi yang baik?- Bukan generasi kebanyakan yang telah dibutakan oleh teknologi dan dunia sehingga tidak lagi mengenal agama dan Tuhannya. Bukankah semua itu tanggung jawab seorang ibu dalam mendidik? Sudah sadarkan betapa beratnya amanahmu jika menjadi seorang ibu nanti?
*jangan jangan untuk bangun berangkat kuliah saja kita masih malas? Mengerjakan skripsi masih nanti-nanti, Membaca buku masih mood-moodan, baca Qur’an apalagi (?)
Tolong cek lagi cek kedalam diri masing masing! sudah benar benar siapkah kita untuk “menikah” ?
Jangan jangan hanya napsu saja yang besar, hanya baper saja yang dituruti, hanya aspek dunia saja yang dinilai, sehingga pernikahan menjadi begitu receh dimata remaja remaja galau masa kini(?)
Mari salihah, kita tata lagi hati, luruskan lagi niat. Bahwa menikah tidak sereceh yang kita anggap selama ini, ada runtutan tanggung jawab dan amanah yang harus kita emban dalam pernikahan, dan untuk itu semua kita butuh BEKAL -butuh ilmu yang banyak, butuh kesiapan hati dan mental. maka mari manfaatkan waktu kita dalam “menunggu” jodoh *yang sedang OTW itu* dengan mendidik diri, menuntut ilmu; sebanyak banyaknya, memperbaiki diri; sebaik baiknya, dan menyibukan diri dengan kebermanfaatan.
Semoga hatimu dan hatiku senantiasa Allah jagakan, uusikum wa iyya nafsii :)