23 September 2016 - 3 Mei 2017
Baru beberapa bulan, belum ada setahun. Tapi, perjalanannya terasa panjang. Mengingat berumah tangga, pada semua hal di dalamnya membutuhkan komitmen, juga konsistensi.
Kita konsisten pada apa yang pernah diikrarkan sejak awal. Menjaga perasaan agar tetap pada tempat yang tepat, yaitu kepada pasangan. Juga bagaimana menjaga ritme rumah tangga agar tetap stabil ditengah perjalanan.
Mengapa kehidupan rumah tangga, kalau dalam masyarakat kita sering diberi istilah dengan “bahtera rumah tangga”. Karena memang barangkali “kapal” ini adalah kiasan yang paling tepat untuk menggambarkan sebuah kondisi rumah tangga, dibanding dengan kendaraan lainnya seperti mobil, motor, pesawat, kereta api, apalagi KRL.
Jalannya tidak pernah mulus seperti aspal, atau tidak juga terus berlubang seperti aspal (lagi). Laut adalah analogi yang paling bijaksana untuk menggambarkan kondisi perjalanan sebuah bahtera rumah tangga, ada tenangnya, ada badainya, ada ombak kecil, ada ombak besar, ada hujan, ada terik. Dan satu hal yan paling bijaksana dari gambaran ini, adalah bahtera itu sendiri. Bahtera menjadi pagar yang membuat orang-orang di dalamnya, mau tidak mau, harus berada di dalamnya. Bekerja sama agar kapal tetap berlayar, tidak tenggelam. Bahu membahu untuk saling berbagi peran. Juga semua yang berada di kapal dituntut untuk saling percaya satu sama lain.
Tidak menyenangkan kan kalau ada satu saja awak yang berkhianat, melubangi kapal, atau ketika badai tidak bertugas menurunkan layar, atau membelokkan kapal ke arah yang keliru. Saya pikir, masyarakat kita benar-benar bijaksana ketika mengkiaskan rumah tangga sebagai bahtera.
Memang tepat kalau dikatakan, ilmu sebelum amal. Untuk menjalani perjalanan jauh, dengan peran-peran yang penting, dan setiap peran memang penting. Perlu ada ilmunya. Penting untuk mempelajarinya, terutama bekal-bekal utama. Meski nanti di tengah perjalanan kita juga bisa sambil belajar, tentu saja ada modal pertama yang harus dimiliki. Minimal ilmu-ilmu dasarnya. Berumah tangga pun demikian, penting untuk memiliki ilmu-ilmu dasarnya.
Kalau kita paham. Kita tidak akan buru-buru menaikan jangkar, melaut. Padahal cuaca masih badai, atau arah angin masih berbalik. Kita akan tahu, kapan waktu terbaik kita untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Untuk itu, jangan buru-buru. Pahami betul tentang kapan waktunya, karena kalau kita tahu ilmunya, kita akan siap kapan pun untuk berlayar seketika kesempatan itu tiba.
Selamat belajar, memperbanyak pengetahuan. Lupakan tentang apa kata orang. Karena bahtera mu nanti itu ada dalam tanggungjawabmu. Mereka tidak akan bertanggungjawab bila nanti bahteramu tenggelam, atau salah haluan.
Pahamkan itu baik-baik :)
Yogyakarta, 3 Mei 2017 | ©kurniawangunadi