[Badak LNG Internship Program] Bontang, 1 Juli - 30 Juli 2016
we're not kids anymore.
art blog(derogatory)
TVSTRANGERTHINGS
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

祝日 / Permanent Vacation
Xuebing Du

No title available

oozey mess
Claire Keane
No title available
cherry valley forever

shark vs the universe
taylor price
Alisa U Zemlji Chuda

roma★
No title available
trying on a metaphor
One Nice Bug Per Day
Sade Olutola
todays bird

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United Arab Emirates
seen from Ecuador

seen from United States

seen from United States
seen from Morocco
seen from Colombia
seen from Colombia
@lintangkemuning
[Badak LNG Internship Program] Bontang, 1 Juli - 30 Juli 2016
[PIMNAS XXIX] Bogor, 8-13 Agustus 2016
Mungkin iya, laki-laki memiliki tangan yang kuat sedangkan wanita memiliki tangan yang tajam. Yang tajam belum tentu kuat, dan yang kuat belum tentu tajam.
Mutiara ***** "Mau?" Tanyaku, sambil menyodorkan sebungkus roti marrie regal untuk mengisi kekosongan perut yang tak kunjung diisi karena kendaraan ini tak kunjung jua berhenti. Kamu menyambar bungkusan merah itu lalu berusaha menyobek bagian ujungnya. Berkali-kali mencoba, namun gagal. "Ah, susah dibuka," katamu, lalu meletakkan bungkusan itu di keranjang depan tempat duduk. "Coba sini, aku yang buka," sahutku. Kemudian aku menyobek bagian ujung plastik pembungkus regal itu. Sret. Sekali tarik, plastik itu sobek dan dengan mudah aku bisa mengambil marrie yang sebelumnya terbungkus. "Wah, hebat," ujarmu dengan sedikit malu-malu. Dan aku hanya tertawa. -- 23.15 Kendaraan ini berhenti di sebuah rumah makan dengan halaman yang luas. Supir memarkirnya tepat di depan pintu rumah makan tersebut. "Yuk, makan." Aku masih mengantuk. Namun memaksakan diri untuk terjaga. "Sandalku mana ya?" tanyaku, masih mencari-cari sandal di bawah jok. Penerangan kendaraan ini tidak terlalu baik karena memang didesain untuk suasana tidur. "Coba tasnya diangkat dulu," ucapmu. Aku menurut, lalu mengangkat tas biru kepunyaanmu agar lebih leluasa mencari sandalku. Sebelumnya, memang aku yang menyuruhmu memindahkan tasmu di bawah tempat dudukku, agar tidak hilang. "Dih, berat banget. Isinya apa sih?" "Laptop," katamu ringan. Kamu masih memandangiku berusaha mengangkat tas itu, sedangkan aku masih kesulitan memindahkannya. Akhirnya kamu turun tangan juga, dan dengan mudahnya kamu mengangkat tas itu lalu memindahkannya ke atas tempat duduk. Aku hanya nyengir, "Hehehe." "Nah, itu bedanya tangan laki-laki sama perempuan. Tanganku kuat ngangkat tas berat, tapi buka bungkus regal aja gak bisa. Tanganmu itu tajam, bisa sebaliknya. Jadi yang tajam belum tentu kuat, dan yang kuat belum tentu tajam," simpulmu.
Hari itu, adzan subuh berkumandang. Lepas sholat dan mengaji, aku menyambar ponsel dan menelpon seseorang.
“Aaaaaa, enggak tau. Udah jenuh banget. Capek belajar. Gak pengen belajar lagi,” rengekku, hampir menangis.
“Eh, gak boleh gitu. Kan nanti siang ujian. Yuk, belajar.”
“Capek, udah eneg banget belajar terus. Huhuhu.”
“Move on yuk. Ajakin teman-teman belajar bareng. Biar semangat.”
Hiks hiks. Aku menangis karena rasanya sudah tidak kuat lagi memahami buku-buku itu. Padahal, masih ada lima ujian lagi di depan mata.
Menyadari aku menangis, seseorang di seberang sana tiba-tiba melantukan syair yang tak kupikirkan akan dilantunkannya.
“ Ya Rosulalloh, ya ya Nabi, ya Nabi, lakasyafa’ah wa hadzal mathlabi ya Nabi …
Aku langsung terdiam. Mendengarkan setiap kalimat yang diucapkannya dengan seksama. Aku tau betul syair ini. Dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, aku sering menyanyikannya bersama teman-teman.
Aku lalu mengimbanginya melantukan syair indah itu.
”… Isyfa’ lana – lana lana – ya habibana …,“ begitu suara kami berpadu.
"Udah? Yuk sekarang belajar,” katanya, setelah mengakhiri lantunan sholawat itu.
“Iya, terima kasih,” ucapku, sambil menyeka air mata.
Setelah itu, aku belajar sekuat tenaga, mamanfaatkan waktu yang tersisa sebaik mungkin. Walaupun pada akhirnya, tetap saja kesulitan mengerjakan ujian. Setidaknya, aku berusaha keras di hari-hari setelah hari itu untuk menghadapi ujian-ujianku.
Begitulah, lantunan sholawat itu membangkitkan semangatku kembali.
Bandung, 10 Mei 2016 J-6 Ujian DST
A : Mas, ini bau apa?
M : Bau rem itu. Hahaha. Sok tau nih.
A : Gapapa remnya?
M : Gapapa kok. :)
A : Oke.
***
A : Mas, tapi baunya nyengat banget.
M : Iya gapapa, biasa kok mesin bau kayak gini.
A : Beneran?
M : Iya, kan mesin performanya naik turun.
A : Oh, oke.
***
A : Mas, kok baunya gak ilang-ilang ya, beneran kan ini mesinnya gapapa?
B : Gapapa, nduk. Gak usah cemas :)
A : Beneran yaa remnya gapapa?
B : Iya. Serius. Bobok gih :)
Dan alhamdulillah sampai rumah dengan selamat setelah berjam-jam mengkhawatirkan mesin kendaraan ini.
19 Mei 2016
Luar biasa cerdas!
Ya, dia cerdas, sangat cerdas. Dan itu yang membuatku selalu menyebut namanya dalam doa.
Kalau pun karena dosa-dosa kita banyak, dan Allah menunda mengabulkan doa kita, setidaknya masih ada doa orang tua kita yang kemudian berubah menjadi hidayah untuk kita. Selamat belajar. Sampai bertemu di ujung jalan ini. Setelah itu kita akan pulang, membangun rumah kita dengan bijaksana, insyaa Allah. Semoga Allah merestui :)
Bukan apa-apa! Kuncinya adalah keyakinan bahwa kamu bisa melewati rintangan itu. Maka tiba-tiba kekuatan besar akan muncul dari dalam dirimu dan mengalahkan segala ketakutanmu.
Outbond 2nd Best of The Best :) Ciwidey, 13-17 Januari 2016 #itb #rancaupas #outbond #2ndBoB
Sekbend-ers 35.1 :3 Akhirnya gue turun juga!
Mungkin menjadi pengingat, tapi ingat juga kondisi diri. Tak selamanya kita ada dalam kondisi ideal.
Galau Setiap membuka timeline sosial media, pasti hampir penuh dengan postingan 'anjuran' menikah. Siapa yang tidak ingin menikah? Kamu ingin juga, bukan? Ketika membaca 'hampir' setiap postingan tersebut, rasanya subhanallah pasca nikah itu enak banget. Nikah itu menjaga kemaluan, menjaga pandangan, separuh agama DLL. Terlihat sangat mudah, bahagia :) Subhanallah super bahagia banget kesannya. Gimana enggak? Berdua, mesra, rukun, akur, lillah, beribadah bareng, almost there is no problem - kelihatannya, idealnya. Pasti fotonya cantik ganteng, terus capturenya menggoda banget. Hehe Duh jadi pengen cepet-cepet nikah! Iya kan? Ngaku! Tapi, coba tinjau lagi, teman-teman. Benarkah akan semudah itu? Sesimple apa yang dipostingkan admin-admin kece? 😎 'Kedewasaan' yang dipaksa-paksakan dewasa, seakan menyihir kita, menjadi kesan yang justru mengelabuhi diri kita sendiri. Tanyakan kembali. "Apakah saya sudah benar-benar siap?" Saya pernah tertipu juga, mungkin karena saya kali ya yang bodoh, hehe Ketika membaca-baca terus menerus rasanya akan tersugesti, menganggap segalanya mudah, menganggap semua orang berpikiran sama - termasuk orang tua - bahwa menikah diusia muda, menyegerakan menikah, itu baik. Baik, memang. Tidak bilang salah. Tapi mungkin yang harus kita lakukan adalah berkaca, menengok diri sendiri. Sudahkah waktunya tepat? Sudahkah kita siap? Sudahkah ... Sudahkah ... Sudahkah yang lain? Mungkin sebagian teman-teman sudah banyak yang mencoba melangkah (saya banyak mendapat cerita dari teman-teman saya, bahkan pengalaman pribadi juga berkata, hehe), tapi sayangnya harus berderai air mata #alay. Banyak hal yang membuat terbentur: waktu, kemampuan, beda usia, restu orang tua, budaya, adat, tanggungjawab lain dan banyak lagi. Ruwet juga pas dipikir ulang. Ternyata ketika akan menikah, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Serius. (Apalagi kalau udah nikah yak? Tambah ruwetkah?) Coba analisis dari segala arah. Jangan grusa-grusu. Coba tempatkan diri, saat ini kita berada di posisi hukum nikah bagian mana? Wajibkah? Makruhkah? Pertimbangkan lagi, kalau kondisi A akan jadi gimana? Kalau kondisi C akan jadi gimana? Kalau Z gimana? Menikah cepet itu memang baik. Pro kok saya. Pengen juga. Hehe But, guys, berkacalah! Mantabkan dulu, minta petunjuk sama Gusti Allah. Sakit juga kalau udah menggebu-gebu tapi akhirnya belum tepat waktunya. Tetep berdoa. Ojo galau. Penuhi dulu kewajiban ke orang yang berhak, sebelum menambah kewajiban baru pasca nikah :) Kalau mantab dan kondisi mendukung, ada jalan, mangga bergerak :) Kalau belum, perbaiki diri dan puasa dulu ya :) Good luck! :) *Gak percaya? Yo wis cobain sendiri! Kalau gagal jangan nangis yak! Tapi kegagalan akan membuatmu belajar. Dan dikemudian hari akan membuatmu bisa menarik hikmah, alasan kenapa Allah tidak menikahkanmu hari ini. Hehe
Hari ini, lagi … Di tengah kesibukan ujian, masih diberikan kesempatan untuk jalan-jalan. Dengan orang yang sama, dalam lingkaran yang berbeda. Kata orang, perjalanan dinas. Menurutku bukan, semacam sebuah seremonial menyambut tamu dari kota tetangga.
Tadi malam rasanya sudah sangat sesak, sudah diujung tanduk. Lalu entah bagaimana, pagi ini semuanya terasa baik-baik saja kembali. Siang hari sudah bisa tersenyum, bercanda, dan sesekali tertawa, di pendopo masjid kampus Dipati Ukur.
Sore hari hujan mengguyur kota ini. Dan kita, memilih untuk berpindah tempat, lalu duduk melingkar mengelilingi sebuah meja, ditemani minuman hangat milik masing-masing. Aku tepat ada disebelahmu, mencoba bertingkah biasa saja. Tapi tetap saja pancaran gelombang-gelombang elektromagnetik dari tubuh kita menyentil orang-orang itu. Sampai mereka memastikan bahwa kita tidak memiliki darah yang sama.
Lucu. Namun mengesankan. Seterlihat itukah? Sekuat itukah energi pancaran gelombang kita? Atau mungkin karena bersuperposisi, hingga membentuk amplituda dan instensitas yang lebih besar?
Yang pasti, keraguaanku malam tadi seluruhnya lenyap. Berganti menjadi sebuah keyakinan, yang lalu menuntunku untuk selalu memperbaiki diri mulai dari sekarang. Mungkin saat ini kita sedang bertemu di persimpangan jalan, dan Allah yang akan menentukan, apakah jalan yang akan kita tempuh di depan sama atau berbeda. Jika pun berbeda, aku masih akan terus berdoa, bahwa kita akan dipertemukan di ujung yang sama dari masing-masing jalan kita.
Dago, 9 Desember 2015
"Kutunggu karya dan prestasimu!" Satu kalimat, yang sebulan kemudian mengantarkanku berdiri di Aula Timur ITB, hari ini. Alhamdulillah, terima kasih Allah. Terima kasih juga untukmu :) Meskipun belum menjadi yang terbaik, namun itu terbaik dariku, untukmu :) Bandung, 6 Desember 2015
Menengok kembali masa lalu. Kemudian menemukan sebuah momen dalam gambar. Mengingatkanku, betapa sefrekuensinya kita. Bahkan tanpa harus direncanakan dan dibicarakan. Ukur saja, RGB-nya nyaris sama :) That day, February 15, 2015 Ingin bilang hanya suatu kebetulan. Tapi kejadian serupa lainnya beruntun muncul di tengah-tengah kita. Senada, sewarna, sejalan, sewaktu, sefrekuensi, lalu berresonansi.
No caption
Aku : "Kau tak akan ikut?"
Kau : "Tidak, aku harus melakukan hal lain."
Aku : "Tak ingin aku temani?"
Kau : "Tidak."
Aku : "Kenapa?"
Kau : "Karena aku ingin kau mengaji."
Bandung, 24 Oktober 2015
Lantunan Syair Itu
Lantunan syair itu, Menenggelamkanku Dalam lautan kedamaian yang dalam
Suara itu, milikmu Dengan amplifikasi yang mengubah warna aslinya Hingga tak kukenali, sebelum akhirnya kutatap sendiri Orang yang melantunkannya adalah dirimu
Lantunan syair itu Sama seperti yang kudengar setiap minggu Dari mereka, darimu jua
Lantunan syair itu Mengoyakku, memberdirikan bulu kudukku, Memanggilku kembali untuk menghidupkan sunnah beliau
Lantunan syair itu Melelehkanku, Rasanya tak kuasa, melihatmu yang harus membacakannya
Lantunan syair itu Terkadang menyadarkanku, Bahwa tujuanku adalah Dia, bukan dirimu
Lantunan syair itu Sarana-Nya menyelamatkanku dari kegoyahan Namun terkadang juga melemahkanku Karena aku dan dirimu, sama ada di lingkaran itu
Bandung, 4 Oktober 2015