Aku cuma mau bilang, "Sekarang, aku jadi paham"
Pengalaman ada guru terbaik, ia megajarkanmu nilai yang kamu akan kamu bentuk dan yakini berdasarkan keinginanmu. Sekarang, aku adalah ibu beranak satu yang sedang mengandung dan masih aktif bekerja. Kini aku menghabiskan waktu dari pukul 6 hingga 4 Sore hanya untuk mempersiapkan diri pergi ke kantor, berangkat ke kantor, dan bekerja. Sesekali di sela-sela persiapan, aku masih memikirkan kebutuhan anakku dan suamiku. Kondisi saat ini, aku banyak berkontribusi pada rumah tangga kami.
Seusai pulang kantor, yang ada di kepala hanyalah rehat dan rehat. Urusan makan dan minum untuk malam ku delegasikan sebagian kepada ART di rumah kami, sementara di waktu tertentu bisa ku putuskan untuk makan diluar. Mungkin karena mengandung, aku hanya ingin istirahat dan tidur.
Boro-boro untuk mengajari Wiki membaca dan menulis, kadang aku tak mampu duduk menemani dia bermain. Jadi aku kadang menghabiskan waktu di kamar sambil tiduran, kita bercerita dan bermain bersama.
Semua rutinitas ini tak terasa berat, malah banyak ku syukuri atas kemampuan yang bisa merawat keluarga sampai disini. Sambil kesulitan bertahan hidup, aku sudah berusaha berdamai dengan kondisiku sebagai ibu pekerja. Kondisi yang mengharuskanku banyak menghabiskan waktu bekerja dibanding memdampingi anak. Aku sudah tak mampu membendung perasaan bersalah itu, maka kini akan ku jalani hidup berdampingan dengannya.
Karena itu semua, kini aku jadi paham, jadi Mama dan semua ketidakmampuannya dalam memenuhi keinginanku. Bahkan keinginan yang amat sangat sederhana seperti mendampingiku belajar dan bukan sibuk mendengkur.
Walau dari kecil aku sudah memahami kondisi keuangan keluarga kami, dan kondisi mama sebagai tulang punggung keluarga, jadi memang tidak banyak tuntutan material yang kuajukan. Paling banyak, minta dibelikan tas atau sepatu bermerk luar kalau sudah rusak atau waktu ganti jenjang sekolah. Tapi aku kini paham, kesulitan yang Mamaku hadapi apalagi sebagai Ibu tunggal yang harus membesarkan 4 anak. Dan alasan lainnya dalam membangun pribadi, kesulitan pribadinya, kesulitan bersosialisasi bahkan hutang menumpuk yang banyak.
Andai saja, waktu itu kesadaranku membawaku ke dalam diri yang lebih dewasa dan pengertian, mungkin aku akan sangat meringankan hari-hari nya yang penuh kesulitan. Tapi lagi-lagi, pengalaman adalah guru terbaik. Sebagai orang tua, inilah peranku untuk membangun komunikasi yang baik, sehingga tidak akan membuat anakku kelak menyesal seperti ini, walau kadang juga mustahil.

















