Quarter Life Crisis (?)
Bangun pagi selalu merasa dikejar-kejar sesuatu. Dulu bangun rasanya lagi jalan pengobatan di rawat inap, sekarang bangun dikejar rasa penasaran pasien ini sakitnya apa sebenarnya karena kondisinya seringkali tak terduga. Sering overtime, lebih karena tak tega ninggal kolega lain masih kerepotan. Lelah, melihat nominal transferan gaji yang yaaah. Overshift sejak awal masuk belum turun sampai aku lupa kemarin mengangani pasien overshift siapa saja. Insentif untuk momen tertentu sesekali memang ada. Bodo lah, toh di sini aku tidak money oriented. Kalau dibandingkan dengan cerita teman lain ya memang meringis sendiri mendengarnya. Tidak ingin melihat ke atas, tapi hati ini gamang dengan nominal segini, aku mungkin bisa bertahan dengan diriku sendiri, tapi hanya bisa menyisihkan sedikit untuk dana darurat dan menabung. Kalau dihitung-hitung pun sebenarnya pengeluarannya gak terlalu banyak. Masih bergantung sama orang tua juga untuk makan dan tempat tinggal.
21 Januari 2021. Udah setaun lebih sedikit bekerja, masih sering feel lost. Loss dol. Masih belajar mengendalikan diri. Berusaha untuk beranjak dari badai di hati. Dulu pas awal bekerja di sini memang motivasinya ingin dekat dengan keluarga dan ada kesempatan belajar, mau kondisinya seburuk apa juga dibetah-betahin. Burn out? Sering. Aku berusaha untuk tidak baper dan pasang ekspresi sekenanya saja. Ingin menghibur diri dengan jalan keluar kota tapi waktunya tidak ada. Plus ponsel harus tetap menyala karena kalau ditinggalkan sehari aja bakal ada urusan yang keteteran dan pasti akan banyak orang marah. Aku gak mau buat masalah di kantor. Aku sendiri masih merasa bodoh dan harus belajar banyak hal, tidak ingin membakar jembatan dengan orang lain maupun menggigit tangan orang yang memberiku gaji dan pengalaman.
2020 sudah berlalu dan ada banyaaaaak hal yang berubah. Di awal tahun baca tarot, death card keluar. Transformasi. Dan memang ternyata terjadi. Aku harus bekerja ekstra keras, lembur, terluka, lapar, kesepian, dan patah hati. Berbulan-bulan bergelut dengan perasaan aku-masih-suka-nggak-ya, ingin putus, tapi pada akhirnya mencoba berkompromi. Hingga pada akhirnya aku betulan tidak bisa menerima lebih dari ini, aku juga sebenarnya tidak sanggup menerima latar belakang dia sejak lama, kebiasaan dia menyembunyikan masalah yang seolah aku tak tahu, lalu tiba-tiba datang dengan kabar mengejutkan yang membuat kecewa. Dia pasti akan selalu seperti ini, sementara aku rasanya mau menua lebih cepat saja. Sampai di triwulan terakhir tahun lalu, kuputuskan untuk memilih diri sendiri. Kulepaskan ikatan tali kasih dengan bismillah, hubunganku khatam.
Semalam aku mimpi buruk, aku lupa mimpinya apa. Aku sering kena mimpi buruk, barangkali karena lupa berdoa saat mau tidur. Barangkali juga karena buhul gaib sialan yang kata masku ditanam orang didepan rumahku. Ah bodo amat. Aku gak mau overthinking. Aku gak lagi mau mengurusi hal yang tidak penting. Intermezzo sehari-hari kujalani dengan membaca snaps dari teman. Motivasi harian mereka aku baca. Swipe. Orang nikahan, dah biasa. Swipe. Momong bayi. Swipe. Orang bucin, can’t relate. Swipe, swipe, swipe. Jariku berhenti di status kawanku yang ada nun di Indonesia timur sana. Laut biru, pantai pasir putih, perbukitan, padang rumput di Pulau Timor sana. Cantik. Dia sepertinya merasa bahagia dengan dirinya sendiri walau sering baper kugoda dengan mencarikannya calon potensial untuk dipacari yang sama-sama dari NTT. Aku terhibur, kubalas statusnya. Ada teman dari Palu memfoto daerah tempat dia kerja. Padang rumput, jalan berbatu, gung liwang-liwung. Ada pula teman menangkap momen matahari terbenam dari pinggir Danau Sentani. Aku menatap layar lebih lama. Aku ingat dua bulan lalu aku menyinggahinya ke Jogja untuk pamitan sebelum dia pulang ke Jayapura dan kami tidak akan bertemu entah sampai kapan. Tiba-tiba dadaku sesak dan aku menangis. Terharu dan feeling blue sambil bilang “Kapan, ya?”.
Dulu saat aku koas, aku sering merasa kasihan dengan dokter puskeswan di desa-desa yang harus siap berangkat visit, menembus dinginnya malam, bantu lahiran sapi. Tapi saat ini rasanya ingin mengasihani diri sendiri. Aku bahkan iri karena tidak bisa. Selelah-lelahnya aku pas koas lapangan, aku masih bisa menyegarkan mata, preserve energy berhenti di pinggir jalan desa yang sepi sambil makan jajan angkringan atau pentol pas pulang. Malamnya aku bisa menyumpahi tayangan azab di TV sambil tertawa, kaget dengan harga bensin pertamini yang mahal di pedesaan dan betapa boros commute puluhan kilometer dalam sehari, serta mengutuk koneksi internet yang payah. Tempo hidup sepertinya berjalan lambat, tapi aku bahagia. Tapi pada akhirnya aku sadar bahwa the grass is always looks greener the other side. Wang-sinawang. Kita selalu menginginkan kehidupan milik orang lain.
Aku banyak menghela napas, banyak mengelus dada dan punggung sendiri, tidak bisa rely on others, tidak ada orang lain yang bisa, mereka pasti punya urusan sendiri. Untung aku punya rekan-rekan yang sayang padaku dan aku tahu cepat atau lambat mereka pasti pergi satu per satu, melanjutkan perjalanan di tempat lain yang lebih bisa menawarkan jaminan hidup berkesinambungan. Kami saling menimpali sambat dan bertukar pesan semangat. Ayo sebentar lagi, sedikit lagi. Sabar ya sayangku. Harus banyak belajar. Jangan banyak ngeluh. I feel you.
Sekarang aku mau berjuang menyelesaikan yang ada di tanganku sebaik-baiknya. Suatu saat kalau aku ada kesempatan keluar dari sini, tentu tidak dengan cuti yang terbatas itu dan masih harus dikejar-kejar pesan “Dhak, dhok, pasienmu gimana???”, aku mau ke NTB dan NTT. Ziarah ke Sumbawa. Mau menengok pusara kawanku yang telah berjuang sedemikian rupa namun kalah oleh nasib. Aku mau ke Atambua menengok temanku yang lain, mau main di pasir putih dengannya, main di sungai, jalan-jalan di padang rumput. Ah kalau ada rezeki lebih aku mau ke Jayapura juga. Aku mau menemani jadi pagar ayu-nya jika barangkali dia menikah di sana.
*sigh
Hello, world! I miss being whole!











