If I should die before I wake, It's 'cause you took my breath away
Setelah kejadian di Yogyakarta pagi itu, yang di akhiri dengan pemandangan di bawah sinar bulan di pinggir pantai waktu itu, dari selesainya hari saat itu, kita berdua tidak lagi sama.
Aku menemukan sisi lainmu yang membuatku nyaman kala itu. Dari yang aku temukan itu, aku ingin lebih dari singgah, aku ingin menetap. Tapi itu inginku, aku tidak tahu apa yang ada dalam inginmu, apakah itu sama? Sejauh ini, sampai dengan hari ini, aku tidak menemukan jawabannya.
Kemudian waktu berlalu, masa masa jedamu sebelum kegiatan pra pekerjaan tetap mu habis, pelan tapi pasti, membuat kita berjarak, entah secara fisik, maupun kata kata.
Chat berkurang, cerita berkurang, ngobrol berkurang, lama lama kamu mulai sibuk kemudian pelan pelan bersiap menghilang.
Pembahasan melalui teks kita mulai terlihat perbedaan arahnya, bagimu aku hanya sekedar teman di kala sepimu, sedang bagiku kamu segalanya, waktu itu.
Mulai terlihat arah dari apa yang aku ingin, menetap, di sebuah tempat dihatimu, yang aku sendiri waktu itu tidak tahu, masih ada penghuninya atau tidak, atau sedang dipersiapkan untuk orang lain, yang orang lain itu bukan aku.
Kemudian, dari hal itu, karena mungkin kamu takut, aku akan lebih jauh menyukaimu-menyayangimu, dengan tegas kamu bilang dalam tanda tanya, "bagaimana kalau kita berdua, bukan tujuan akhir atau jalan utama dari masing-masing kita, bagaimana kalau ternyata kamu, hanya mengantarkanku ke jalan utama itu".
Hari-hari berlalu, berat bagiku, karena harus menanggalkan rasa-rasa yang secara natural hadir dalam diriku, dimasa kita saling mencari dan mendekat. Tapi ada satu hal yang aku sadari, bahwa keinginan kita berbeda. Inginku aku membersamaimu, tapi inginmu lain-lain.
Akhirnya, aku menarik ulur, aku menarik diri, dari kita, aku menjauh, dan masih harap harap cemas, akan ada yg kembali berlari ke arahku. Tapi hal itu semakin terasa nihil, ketika kamu bilang, "aku mau memperjuangkannya, sampai aku bisa bersamanya".
Seperti tersambar petir di siang hari, hati ku hancur, jiwaku melebur, aku menangis, kita selesai. Tidak ada lagi obrolan tengah malam sampai dini hari. Tidak ada lagi, kamu.
Waktu berlalu belum ada satu tahun, akhirnya di bulan Desember, kamu menemukan final kamu menikah dengan yang kamu perjuangkan. Sementara aku, masih berjuang menemukan final dari kuliah ku.
Begitulah cerita dari dua orang yang dipertemukan tidak untuk dibersamakan. Dari itu, aku belajar, setiap manusia ada masanya, setiap masa ada manusia yang berbeda-beda. Darimu aku belajar, dalam membangun masa depan kita harus dibersamakan dengan orang yang sama-sama saling menemukan.
Segalanya telah berlalu, lalu bersama waktu.
Tapi ketika, lagu yang berjudul "No Air" kembali diputar, bagiku, membuatku membalik masa, denganmu waktu itu, dan rindu. The one who tooks my breath away is you.