Lantas aku harus bagaimana?
Pergi dari kamu itu bukan perkara mudah, tapi tinggal di dekatmu juga tidak akan membuatmu bahagia selama bukan aku yang kamu tuju.
Kata tedjo pada sebagian kisahnya.
tumblr dot com
Cosimo Galluzzi
we're not kids anymore.
cherry valley forever
i don't do bad sauce passes

JBB: An Artblog!
ojovivo
Jules of Nature

blake kathryn
Not today Justin
Stranger Things
occasionally subtle

★

if i look back, i am lost
Lint Roller? I Barely Know Her
dirt enthusiast
RMH

Janaina Medeiros

⁂

shark vs the universe
seen from United States

seen from United States

seen from Germany

seen from Ukraine
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Austria

seen from Australia
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Norway
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Belgium

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
@biruu
Lantas aku harus bagaimana?
Pergi dari kamu itu bukan perkara mudah, tapi tinggal di dekatmu juga tidak akan membuatmu bahagia selama bukan aku yang kamu tuju.
Kata tedjo pada sebagian kisahnya.
12 agustus 2020
Kalo saat ini di depan gue terdapat seorang psikologi perempuan, maka inilah yang akan gue sampaikan.
Bu, saya takut sama manusia. Tapi saya tau saya ngga bisa hidup tanpa manusia.
Saya tau suatu hari nanti saya harus kerja untuk bisa dapat uang dan membuat orangtua saya bangga melahirkan saya. Meski saya tidak pernah sekalipun minta dilahirkan oleh mereka.
Bu, saya ngga mau berhubungan sama manusia. Tapi saya kesepian. Setiap saya nangis, saya selalu berharap ada setidaknya seseorang yang tau saya nangis tanpa perlu melarang saya bersedih.
Bu, selama ini saya melakukan banyak hal untuk menjauhkan saya dari kegagalan secara keuangan. Karena saya tau, saya tidak miskin saja saya stress. Apalagi tidak punya uang. Mungkin saya udah mengakhiri hidup saya saat itu juga.
Bu, saya tidak mau jadi pusat perhatian banyak orang karena saya takut sama manusia.
Bu, waktu SMP segala yang saya katakan selalu ditertawakan atau diejek-ejek. Saya juga pernah mengurung diri saya di WC karena saya takut manusia bu. Pintu wcnya digedor. Saya dibentak untuk diminta keluar. Tapi saya takut bu meski saya kedinginan.
Bu, saya bertahan hidup di SMP, asrama, tidur di atas sejadah tanpa kasur karena kasur saya ditiduri temen saya yang ngompol.
Bu, saya capek sendiri.
Bu, saya capek ditekan untuk terus berhasil.
Bu, saya capek untuk terus dituntut sempurna.
Bu, saya takut manusia bu.
Bu, tapi kata temen-temen kuliah saya, saya hanya bisa dapet kerja kalo saya banyak kenal sama orang bu.
Bu, saya harus gimana yah?
Bu, sejak kelas 4 SD, saya udah pisah tempat tinggal sama orangtua.
Bu, saya sering dibentak, disembur pakai air kumur-kumur karena dikira kesurupan padahal saya hanya mau disayang.
Bu, gimana rasanya punya seseorang yang sayang sama ibu?
Bu, saya mau merasakannya juga.
Bu, saya takut sakit.
Bu, selama ini saya berdiri sendiri terus.
Bu, saya pegel.
Bu, setiap malam saya selalu membayangkan ada satu sosok yang memeluk saya dan menatap saya dengan bangga bahwa saya selama ini sudah berbuat hebat.
Bu, perlu apalagi ya, biar siapapun tau kalo saya sebenernya cuma butuh seseorang yang paham aja.
Bu, saya ngga mau mati. Tapi saya capek hidup…
padahal saya hanya mau disayang.
padahal, saya hanya mau disayang.
Sya ga mau mati. Tapi saya capek hidup,..
Baca ini rasanya ingin nangis meraung.
bu, saya capek sendiri
Bu, saya pegel
Nngggg
Berdo'a lah, sebab Tuhan Maha Pemalu melihat hambaNya menurunkan tangan dalam keadaan hampa.
“Hidup itu hanya tentang perjudian dengan Tuhan, membaca banyak kemungkinan-kemungkinan. Atau dengan kata lain; Tuhan hanya menyuruh kita jatuh cinta, bahagia dan terluka itu hanya diduga-duga”
—
“Jangan menghukum apapun hanya karna kita beda persepsi, sebab akan risih jika salah satu dari kita ada yang harus bermintamaaf hanya karna lambat memahami.”
—
Dan ternyata saya yang selalu minta maaf. 😔
Pulang...
Bahasa paling asing dan jauh.
Kita selalu ingin pulang, tapi tak pernah kemana-mana.
Kita ingin pulang, sementara waktu dan pijakan tak akan pernah lagi sama.
Kita berusaha mengulang-ulang kejadian, baik aroma, tempat, dan waktu, padahal sudah jadi mantan.
-
Kumohon jangan lagi pulang, datanglah, buat cerita pulangmu untuk kedatangan mereka yang salah jalan.
#WPrusunrusuh
Rezeki
Rezeki itu keterikatan, baik antara sesama manusia atau isi semesta yang lainnya, sementara kita adalah makhluk sosial yang gampang baper, gampang tersinggung, gampang mojjo, gampang mengeluh perihal kejadian-kejadian alam yang tidak kita senangi, sehingga secara tidak langsung kita menutup diri dari pintu-pintu rezeki yang akan datang.
berdoalah!
jangan malu menengadahkan tangan memohon sama Tuhan, sebab Tuhan Maha Pemalu melihat hambanya menurunkan tangan dalam keadaan hampa!
boleh saya jingkrak jingkrak?
Alhamdulillah... akhirnya tumblr bisa dibuka tanpa vpn, rasanya pengen sayang-sayang istri. hahaha
Jangan datang padaku jika tak ingin berdialog dengan sepi, tak berperkara dengan rindu, tak jenuh bermain di ruang tunggu, sebab aku jelmaan jarak dan waktu: jeda diantara kota, kata, dan kopi.
Kadang untuk menghasilkan satu qoute, seseorang perlu menghabiskan beratus-ratus halaman. Kadang sebaliknya: satu qoute menghasilkan berlembar-lembar halaman.
Kadang...
Selagi aku masih lembut, maka mencairlah, sebab pada bagian tertentu aku bisa lebih keras dari batu, bisa lebih mencekam dari samudra musim gugur..
Tak ada satu manusiapun yang lebih berhak atas hidupmu selain Tuhan, maka beranjaklah dari rasa takutmu...
Nyimak...
sebab segala sesuatu yang ada pada diri, baik kata atau laku, punya jawab masing-masing terhadap waktu dan Tuhan..
Hikayat Abu Nawas
Tak selamanya Abu Nawas bersikap konyol. Kadang-kadang timbul kedalaman hatinya yang merupakan bukti kesufian dirinya. Bila sedang dalam kesempatan mengajar, ia akan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot sekalipun ia tetap menyampaikannya dengan ringan. Seorang murid Abu Nawas ada yang sering mengajukan macam-macam pertanyaan. Tak jarang ia juga mengomentari ucapan-ucapan Abu Nawas jika sedang memperbincangkan sesuatu. Ini terjadi saat Abu Nawas menerima tiga orang tamu yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas. “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” ujar orang yang pertama. “Orang yang mengerjakan dosa kecil,” jawab Abu Nawas. “Mengapa begitu,” kata orang pertama mengejar. “Sebab dosa kecil lebih mudah diampuni oleh Allah,” ujar Abu Nawas. Orang pertama itupun manggut-manggut sangat puas dengan jawaban Abu Nawas. Giliran orang kedua maju. Ia ternyata mengajukan pertanyaan yang sama, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya. “Yang utama adalah orang yang tidak mengerjakan keduanya,” ujar Abu Nawas. “Mengapa demikian?” tanya orang kedua lagi. “Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu pengampunan Allah sudah tidak diperlukan lagi,” ujar Abu Nawas santai. Orang kedua itupun manggut-manggut menerima jawaban Abu Nawas dalam hatinya. Orang ketiga pun maju, pertanyaannya pun juga seratus persen sama. “Manakah yang lebin utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya. “Orang yang mengerjakan dosa besar lebih utama,” ujar Abu Nawas. “Mengapa bisa begitu?” tanya orang ktiga itu lagi. “Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba-Nya,” ujar Abu Nawas kalem. Orang ketiga itupun merasa puas argumen tersebut. Ketiga orang itupun lalu beranjak pergi. *** Si murid yang suka bertanya kontan berujar mendengar kejadian itu. “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan tiga jawaban yang berbeda,” katanya tidak mengerti. Abu Nawas tersenyum. “Manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati,” jawab Abu Nawas. “Apakah tingkatan mata itu?” tanya si murid. “Seorang anak kecil yang melihat bintang di langit, ia akan menyebut bintang itu kecil karena itulah yang tampak dimatanya,” jawab Abu Nawas memberi perumpamaan. “Lalu apakah tingkatan otak itu?” tanya si murid lagi. “Orang pandai yang melihat bintang di langit, ia akan mengatakan bahwa bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan,” jawab Abu Nawas. “Dan apakah tingkatan hati itu?” Tanya si murid lagi. “Orang pandai dan paham yang melihat bintang di langit, ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil sekalipun ia tahu yang sebenarnya bintang itu besar, sebab baginya tak ada satupun di dunia ini yang lebih besar dari Allah SWT,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum. Si murid pun mafhum.
Lalu apa kabar media sosial, yang tidak punya batasan untuk setiap kepala membaca ini dan itu? Jadi sangatlah wajar apa-apa yang selalu jadi perdebatan di media sosial, tingkat pemahaman tiap-tiap manusia itu beda-beda. Maka bijaklah dalam memahami segala hal di media sosial. :)
Ada manusia yang punya cita-cita setinggi langit, tapi dia lupa kalau ada ilalang ikut tumbuh tidak jauh dari cita-citanya. . Akhirnya ketika pohon cita-citanya tinggi, mudah baginya untuk roboh sebab digrogoti ilalang tersebut. . Seumpan manusia yang jatuh dari puncak karna lupa membersikan aib-aib masalalunya. . Jadi berdamailah dengan dosa-dosa masalalu sebelum jauh berjalan. . . . . . #selfreminder
Makassar Tidak Aman!
bukan karna teroris ya, sama sekali bukan. ini soal hati. hahaha ini kali ketiga dapat penolakan dari 3 perempuan yang berbeda dengan kurung waktu tak lebih dari seperdua tahun. woww... 😅😅😅 bukan soal cinta, bukan. cinta akan jadi pilihan yang sekian sekiannya dalam beberapa hal. bukan pula karna ketakutan akan sepi, bukan. sebab 3 diantara semua adalah hasil dari perjalanan bertahun-tahun dan pertemuan dengan banyak pilihan. bagaimanapun juga kesemuanya tetap menyimpan luka, entah sekedar lecet atau perih yang mendalam. kesendirian yang kurawat bertahun-tahun demi akhir yang menyenangkan tak sesuai harapan, aku kembali tersungkur untuk kesekian kalinya. aku belum berjodoh, kesendirianku belum memasuki masa tenggang. hahaha demi itulah makassar tidak aman, mungkin aku butuh menziarahi banyak hal, termasuk luka-luka yang tak sengaja aku sematkan pada manusia yang menanam harap tanpa aku ketahui, semoga restu mereka mengurangi masa tenggang kesendirian. amiin..