(26/5) / 2024 ~
Sebelum ikut kelasnya Kang Ulum & Teh Pepew, kita kepoin dulu konten konten yucubnya (ㅅ˙³˙)♡
Beliau beliau ini udah lama ngonten ternyata, maasyaAllah. Ku scroll sampe bawah udah dari 10 tahun yang lalu videonya.
Di postingan ini aku mau bikin resume ttg pembahasan pembahasan yang menurutku perlu aku tulis biar bisa aku baca ulang di kemudian hari. Semoga ilmunya bisa kepake buat jadi bekel hidup hehe ^^
Di video pertama yang aku tonton, aku dapet pemahaman bahwa; dalam berumah tangga, laki laki itu jelas punya peran sebagai pemimpin. Mau semandiri apapun perempuan saat sebelum menikah, perannya setelah menikah adalah jadi yang dipimpin.
Dari sudut pandangku sebagai perempuan, maka sebelum memutuskan dengan siapa aku akan menikah, salah satu indikatornya adalah pertanyaan;
"aku bisa ga menjadikan orang ini sebagai pemimpinku? dengan karakter yang demikian, habit yang demikian, udah sesuai belum dengan apa yang diharapkan? "
Karena, dampaknya akan sangat banyak, berpengaruh ke banyak aspek. Ibarat kita lagi bangun rumah, maka pondasinya jelas harus kuat. Maka udah sepatutnya, laki laki itu wajib paham agama. Landasan kepemimpinannya harus jelas, harus ada ilmunya. Ga boleh buta arah, nanti malah ga ngerti keluarganya mau dia bawa kemana.
Karena, istri yang baik harus bisa menuruti apa kata suaminya. Kalau apa yang disuruh atau yang dilarang jelas sesuai sama kaidah ilmunya, menuruti apa yang diperintahkannya pun akan diiringi dengan perasaan tenang. Ga akan ada pergolakan batin.
Selain itu, perempuan juga harus punya kesadaran diri, bahwa setelah menikah, perannya adalah sebagai yang dipimpin. Jangan sampai, karena level ego kita yang masih tinggi, kita menolak untuk menjalankan peran sebagai yang dipimpin, hal seperti ini lambat laun bisa mencederai kepemimpinannya laki laki. Bisa jadi sumber masalah dalam berumah tangga.
Jadi, ilmu berumah tangga itu jelas harus dimiliki oleh keduanya. Agar dalam proses menjalaninya nanti, bisa saling mengimbangi. Memudahkan peran laki laki dalam menjalankan kepemimpinannya, juga memudahkan peran perempuan untuk mengikuti apa yang sudah seharusnya jadi tugas & tanggung jawabnya.
Video kedua yang aku tonton sebenernya tentang nafkah batin; yang ternyata ada perbedaan persepsi nih antara suami & istri. Tapi kalau dalam tulisan ini langsung loncat ke topik itu kayaknya agak kejauhan.
Jadi aku mau ngeresume topik lain dulu, tentang uang atau harta.
Pembahasan ini idealnya didiskusikan sama pasangan sebelum menikah ya. Ibaratnya, sebelum jalan terlalu jauh, kita selaraskan dulu persepsi kita tentang topik topik yang nantinya akan sering kita temui dalam berumah tangga, salah satunya tentang keuangan.
Fenomenanya, skrg ini banyak pasangan yang enggan ngobrolin uang, enggan terbuka padahal itu hal yang penting buat diketahui satu sama lain. Dari mana sumbernya, untuk apa aja dikeluarkannya.
Kalau kata Teh Pepew & Kang Ulum, alasannya bisa macem macem. Takut dikira matre; belum apa apa udah bahas harta. Atau, kita merasa kalau manajemen keuangan itu jadi salah satu skill yang bisa mengalir gitu aja, ga perlu dibahas banyak banyak. Dan lebih menakutkan lagi, kalau kita merasa, bahwa pembahasan ttg uang ini akan jadi sumber konflik & keributan bagi pasangan, sehingga amat sangat dihindari buat jadi topik saat ngobrol.
Padahal, ngobrolin keuangan itu sama pentingnya dengan membahas persiapan persiapan lain sebelum pernikahan.
Kalau gitu, mulainya harus dari mana?
1. Kesepatakan; yang berarti kita & pasangan harus udah sepakat, kalau ngobrolin uang adalah hal yang lumrah. Ga harus tegang tegangan. Ga harus ngotot ngototan. Harus udah sama sama mengerti bahwa ngobrolin uang itu sifatnya penting.
2. Jujur. Apa Adanya. Proporsional & Ga Tendensius; Jujur dan apa adanya berarti menerangkan dengan pasti. Ga perlu merasa kecil karena penghasilannya barangkali di bawah standar, dan ga perlu merasa takut dikira sombong karena bisa jadi penghasilannya di atas rata rata. Dalam poin ini akan keluar nominal uang, & apa yg disampaikan harus sesuai dengan jumlah yang sebenarnya. Ga perlu ada yang ditutup tutupi. Proporsional artinya dimulai dengan pembahasan yang general, lalu secara bertahap dilanjutkan pada pembahasan yang lebih detail. Ga tendensius artinya ga mudah terbawa emosi. Pembahasan ttg keuangan perlu dilakukan dengan komunikasi yg baik dan pikiran yang jernih.
Terus, apa aja sih yang mesti ditanyain?
Banyak. Sesuai kebutuhan kita pengen tau sebanyak apa tentang manajemen keuangan yang dianut sama masing masing, tapi gambarannya antara lain ini :
1. Pandangan tentang harta?
2. Penghasilan sebulan berapa & biasa dikeluarkan buat apa aja?
3. Punya hutang atau piutang ga?
4. Punya tanggungan yg biasa dibiayai ga?
5. Kalau udah nikah, istri boleh kerja ga?
6. Setelah nikah mau tinggal dimana?
dll.
Intinya, ngobrol itu penting banget. Ngobrolin yang ga penting aja bisa jadi media bonding, apalagi ngobrolin yang penting penting. Itu kebutuhan.















