Hilman Bercerita Tentang Sejarah Novel Lupus, Mimpinya dan Kegalauan Masa Depan Lupus
Awalnya di tahun 1986. Seorang mahasiswa tingkat pertama yang introvert dan pemalu, yang selalu grogi di tengah kerumunan orang banyak, ternyata mampu memegang kendali tren remaja Indonesia.
Lewat tarian jemarinya di atas keyboard komputer, mencurahkan imajinasi liarnya yang kreatif, lahirlah sebuah cerita remaja yang penuh humor namun bijak, “Lupus”.
Hilman Hariwijaya, dialah otak di balik “Lupus” yang juga mendapat gelar terhormat “Jago Ngocol se-Indonesia.” Sampai detik ini, rasanya belum ada yang pantas menerima estafet gelar itu. Hukum zaman berlaku, nama Hilman perlahan memudar dari etalase toko buku. Tapi yang pasti, Hilman masih tetap berkarya hingga detik ini.
Berawal dari Hai, majalah remaja yang pada dekade 80-an dan 90-an dikenal mengakomodir muda-mudi yang memiliki jiwa jurnalisme dan piawai menulis. Hilman yang waktu itu masih duduk di bangku SMP sudah aktif menulis di Hai. Pelan tapi pasti, Hilman menapaki karier sebagai penulis fiksi yang diperhitungkan.
3,8 juta eksemplar novel “Lupus” setidaknya ludes di pasaran. Angka fantastis yang mungkin sulit terulang saat ini. Dunia dalam “Lupus” seolah tak pernah kehabisan cerita. Lebih dari 30 judul novel Lupus telah diterbitkan.
Sosok remaja yang doyan makan permen karet itu selalu menarik untuk diikuti kisahnya. Banyolan yang khas, karakter-karakter pendukung yang kuat dan terus ada dalam setiap cerita, dan kejutan-kejutan yang menggelitik dan ajaib menjadi daya tarik novel “Lupus” di setiap episodenya.
“Awalnya saya ngebayangin mau ciptain tokoh kayak apa, saya mau menciptakan sesuatu yang baru. Gambaran anak muda pada saat itu, mulai dari cara ngomong sampai cuek-cueknya. Dulu cerita remaja tuh yang bikin bukan remaja, dulu Arswendo yang (sering) bikin. Sedangkan saya menulis memang seusia Lupus dengan dunia dan lingkungan saya sendiri. Melihat teman-teman dekat saya, akhirnya terciptalah Lupus dan geng-gengnya,” kata Hilman.
Kesuksesan Hilman tidak lepas dari posisinya sebagai penulis lepas di majalah Hai dan sosok Arswendo Atmowiloto yang pada waktu itu menjadi redaktur di majalah remaja pria itu. Arswendo disebut Hilman sebagai sosok yang berjasa karena telah memberikan porsi bagi dirinya yang masih muda untuk mengasuh rubrik cerita serial, yang akhirnya menjadi cukup penting bagi majalah itu.
“Dia (Arswendo) berjasa banget untuk saya mempopulerkan ini (‘Lupus’). Dia memberikan ruang bagi saya untuk menulis di Hai, padahal dia punya cerita serial juga. Ketika saya bikin ‘Lupus’ dia bilang, ‘terusin aja,’” kenang Hilman.
Entah memang insting Arswendo yang tajam dalam melihat potensi Hilman atau memang takdir Hilman untuk menjadi penulis besar, tidak butuh waktu lama bagi “Lupus” untuk jadi populer di kalangan remaja. Dari sepenggal cerita pendek dalam majalah, “Lupus” bertransformasi menjadi sebuah novel.
Sosok Lupus bukanlah cetak biru seorang Hilman. Lupus dan dunianya seperti tempat bermain baru bagi Hilman. Tempat Hilman memainkan sebuah dunia imajiner yang dibuatnya dengan racikan ideal kehidupan remaja yang indah, mengangkasa tetapi realistis.
“Saya itu orangnya pemalu, introvert dan grogian kalau banyak orang. Lupus itu alter ego saya. Saya penginnya kayak gitu, jadi anak muda itu kayak dia, lucu, disenengin, cuek, nyablak. Sedangkan saya sendiri banyak pertimbangan kalau ngomong, misal takut orang tersinggung enggak ya,” kata Hilman.
Sifat Hilman yang bertolak belakang dari dunia rekaannya dalam tulisan juga membuat atasannya kaget. Itulah Hilman, yang seolah memang dilahirkan memiliki jutaan gagasan ‘gila’ di balik sikapnya yang kalem.
“Arswendo aja waktu pertama kali saya bikin ‘Lupus’, dia agak underestimate. ‘Emang lu bisa bikin tulisan kayak gitu? lo kan pendiem gitu,’” ujar Hilman menirukan Arswendo. “Tapi itu sebelum dia baca, setelah dia baca, ketawa-ketawa, ‘Lo ternyata gila juga ya’. Saya menyalurkan kegilaan memang dari nulis. Dari situ saya bisa gila-gilaan,” lanjut Hilman sembari tertawa kecil.
Popularitas tidak lantas membuat karakter Hilman berubah. Acara jumpa pembaca dengan penulis menjadi ajang yang membuat adrenalin Hilman terpompa. Ekspektasi penggemarnya akan sosok Hilman yang setipe Lupus justru membuat Hilman pusing.
“Itu beban buat saya, orang berharap saya kayak lupus. Saya jumpa pengarang dan pembaca, dan itu yang dateng banyak banget. Di situ mereka harapin saya kayak lupus, makanya saya ajak teman-teman kayak Gusur dan Boim, kalau saya sendiri bisa mati berdiri. Bertahun-tahun beban berat buat saya diledekin, ‘Ayo dong Lupusnya ngelucu,’ saya semakin grogi digituin,” ungkap Hilman.
Andai Hilman tidak ikut klub pecinta astronomi di Planetarium, mungkin tidak ada nama Lupus dalam karyanya. “Lupus itu nama rasi bintang, saya juga suka astronomi, suka mengkhayal. Di Planetarium ikut klub astronomi, waktu itu komet Halley melintas dan saya ikut ke Cibubur untuk pengamatan, terus ada astronom pendamping dan dia ngomong, 'Sekarang lagi melintasi gugusan bintang lupus'," jelas Hilman.
Nama Lupus pun terus terngiang di benak Hilman dan dijadikan nama untuk karakter ciptaannya. “Saya enggak kebayang itu nama penyakit atau itu artinya serigala saya enggak tahu. Arswendo aja kaget, ‘Nama kok Lupus sih?’. Kalau Gusur itu nama asli, Boim itu karena saya mikir nama anak Betawi, kalau Fifi (Alone) itu nama asli. Alone itu karena dia enggak punya pacar, semua itu spontan enggak dipikirin sebelumnya,” urai Hilman.
Seputar lelucon yang ada dalam “Lupus”, Hilman mendapatkan idenya dari percakapan dalam kesehariannya bersama sahabat-sahabatnya di SMA 16 Jakarta Barat, tempat Hilman menimba ilmu.
Dunia cerita fiksi adalah dunia Hilman. Menulis bukan saja sebagai profesi, tetapi seperti sebuah kegiatan yang mampu membuat Hilman melupakan segalanya. Hilman menulis “Lupus” dengan segenap hatinya. Tak heran, karakter-karakter yang diciptakannya tidak menguap begitu saja setelah diciptakan.
“(Karakter) Buat saya kayak anak, makanya saya jaga banget Lupus. Setiap pengarang, karakter yang diciptakan itu anak-anak dia. Kita kayak Tuhan, menentukan karakter yang kita ciptain mau gimana. Jangan sampai kita membunuh karakter kita sendiri. Kalau yang enggak dijaga, 'dibunuh' sendiri, jadinya (orang lain) enggak simpati dengan karakter itu. Itu kenapa saya enggak mau kasih Lupus ke orang lain, karena saya enggak tahu nanti batasan-batasannya. Saya enggak mau Lupus nanti misalnya, gampar orang,” kata Hilman.
Kesuksesan penjualan Lupus tidak membuat Hilman berpuas diri. Dia justru terus mengeksplorasi kemampuannya dalam membuat cerita ke dunia yang lain, sinema.
Kesibukan menggarap skenario untuk sinteron tidak membuat Hilman memadamkan mimpinya untuk kembali mengangkat Lupus, “Saya kepikiran mau dibikin kayak animasi, karena sosok Lupus susah (divisualisasikan). Karena kalau animasi bisa sesuai,” kata Hilman.
Butuh keseriusan dari berbagai pihak untuk menghidupkan kembali karakter Lupus. Terutama jika Hilman bertekad ingin mengangkat lagi Lupus ke layar lebar.
Film "Lupus" yang menampilkan aktor alm. Ryan Hidayat terbilang sukses diterima masyarakat. Tak kurang dari 5 judul film "Lupus" yang telah diperankan oleh Ryan. Mulai dari "Lupus I: Tangkaplah Daku Kau Kujitak" (1987), "Lupus II: Makhluk Manis Dalam Bis" (1987), "Lupus III: Topi-Topi Centil" (1989), "Lupus IV: Anak Mami Sudah Besar" (1990) dan "Lupus V: Iih, Syereem!" (1991).
Meski belum ada rencana pasti, tetapi Hilman bercita-cita apa yang telah dibuatnya dapat terus dikenang dan tumbuh lintas generasi. “Salah satu cita-cita saya, kayak Disney, bisa abadi. Dari dulu sampai sekarang orang tahu Mickey Mouse, Donald Duck. Tapi itu kan enggak bisa sendirian. Butuh orang-orang baru dan itu yang belum saya dapat,” tukas ayah dua anak itu.
Hilman sempat mengakui bahwa ada sedikit kegelisahan bila ingin ‘menghidupkan’ Lupus kembali. Humor dan kisah yang disajikan mungkin tidak segar seperti dulu lagi.
Semoga kegelisahan itu tidak lama agar kami para fansnya tidak ikut galau menunggu lupus untuk hidup kembali.
Disadur dari tulisan :
Agustinus Shindu Alpito - 26 Januari 2015 03:30 wib
http://hiburan.metrotvnews.com/read/2015/01/26/349810/hilman-obrolan-tentang-lupus-sampai-raditya-dika