Dean Doug Elmendorf laid out the five core principles he believes "all of leaders who are trying to advance the public interest should hold”
todays bird
Jules of Nature

⁂

ellievsbear
Sade Olutola

izzy's playlists!
wallacepolsom
Today's Document
he wasn't even looking at me and he found me
Cosimo Galluzzi
we're not kids anymore.
cherry valley forever

Product Placement

pixel skylines
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
RMH
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

roma★
One Nice Bug Per Day
Alisa U Zemlji Chuda

seen from United States
seen from Japan
seen from United Kingdom

seen from Australia
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Norway

seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Singapore

seen from Malaysia
seen from Ukraine
seen from Italy
@luqmanomen
Dean Doug Elmendorf laid out the five core principles he believes "all of leaders who are trying to advance the public interest should hold”
Respected with Muchtar Riady. This book of Mochtar Riady: My Life Story provides an unprecedented look at the life of one of Southeast Asia's most respected business titans. Internationally recognised for his professional achievements and passion for philanthropy, Dr. Mochtar Riady serves as a stunning example of how personal philosophy merges with business acumen to create extraordinary success
#UNSTOPPABLE 4 : Dekat Dengan Al-qur’an
Ketika berada di kursi pinggir taman surga
Sepasang sahabat sedang bersenda
Lalu mereka tertukar kisah tentang masa lalunya
“Alangkah meruginya jika dulu kita meninggalkan Al-qur’an”
Semasa lulus SMP saya sudah merantau keluar kota, saya tinggal disebuah asrama SMA 10 Fajar Harapan Banda Aceh. Di sekolah itu saya memiliki teman yang kampung halamannya dari berbagai bagian provinsi Aceh. Ada yang dari Kutacane, Tapak Tuan, Lhokseumawe, Takengon, Sigli, Sabang, dan dari Banda Aceh sendiri. Sehingga dari setiap mereka menawarkan kisah hidup yang berwarna, yang tak pernah bosan untuk didengar.
Adalah Hasna, yang kisahnya sangat saya ingat hingga sekarang. Kisah tentang bagaimana ia dan adik-adik kecilnya melewati bencana tsunami belasan tahun silam yang melanda kota Banda Aceh.
Minggu pagi itu, Hasna dan tiga adiknya menjalanankan rutinitas pagi seperti biasa. Membereskan tempat tidur, makan, mandi. Namun yang berbeda kali ini adalah saat itu ayah dan bundanya sedang keluar kota. Ayahnya di Jakarta dan Ibunya di Medan untuk menjalankan agenda dakwahnya. Hingga dijagalah ia dengan neneknya.
Pagi itu berjalan hening, hingga beberapa jam kemudian gempa bumi yang sangat kuat menguncang rumah mereka. Mereka yang sedang ribut-ribut menyambut pagi mendadak bisu ditelan keheningan. Sang nenek lalu mengajak mereka keluar rumah, satu persatu mereka keluar. Kemudian mereka saling berpegangan tangan.
“Astaghfirullah, belum pernah nenek merasakan gempa sekuat ini. Laa hawla walaquata ilabillah”.
Ketika gempa dirasa berhenti, nenek mengajak mereka masuk kedalam rumah lagi. yang belum makan disuruh makan dulu, yang belum mandi diminta segera mandi.
Tapi, tak lama. Diluar rumah, terdengar suara derap langkah kaki orang-orang yang berlarian. Suara mobil dan motor berderum keras.
Mereka berteriak-teriak…
“Air naik…air naik…air naik”
Nenek dan hasna kebingungan, apa maksud mereka berkata seperti itu. Lalu mereka berdua membuka pintu dan melihat orang-orang itu. Mereka berlarian, cepat sekali seperti orang yang sangat ketakutan.
“Apa yang terjadi?” tanya nenek.
“Air naik laut nek, tinggi setinggi 2 pohon kelapa. Rumah-rumah udah pada hancur lagi. Ayo lariiiii!”
Beberapa saat nenek tidak percaya. Namun setelah nenek melihat air itu dari kejauhan dan bergerak semakin mendekat. Sekuat tenaga, nenek memanggil cucu-cucunya dan mengajak mereka untuk melahirikan diri.
Nenek bingung mau kemana mereka berlari. Dengan sudah lemahnya tenaga nenek, nenek tak bisa berlari jauh, lagipula nenek juga tak yakin cucu-cucu kecilnya mampu berlari. Sementara suara gemuruh air semakin mendekat.
Akhirnya nenek mengajak Hasna mengajak adiknya ke mesjid tanpa membawa apapun kecuali selembar pakaian yang melekat dibadan. Mereka sudah pasrah dengan segala ketetapan Allah. mereka menaiki tangga mesjid satu persatu. Ternyata ada beberapa ibu dan anaknya yang berkumpul disana.
Dari lantai atas mesjid mereka menyaksikan amukan dasyat tsunami. Semua rumah-rumah, gedung pertokoan, mobil-mobil yang dilewatinya lenyap seketika. Entah seberapa besar kekuatan yang ia memiliki sehingga semuanya habis terbawa.
Nenek dan Hasna berdoa terus menerus, mereka takut sungguh takut. Jika ini adalah hari terakhir mereka, tak apa, yang terpenting mereka bisa meninggal dalam keadaan mengingat Allah.
Akhirnya, air tsunami menghampiri mesjid itu. Suara dentuman dilantai bawah membuat bulu kuduk bergidik. Ngeri. Bagaimana jika mesjid ini roboh? Bagaimana jika kami meninggal sekarang? Ooh Allah, tolong ya Allah. Namun, Jika memang itu ketetapan Allah, apa lagi yang hendak dikata.
Mereka melihat banyak orang terbawa arus sambil melambaikan tangan meminta tolong. Pohon-pohon besarpun hanyut bersama mereka. Menjadi satu ditengah-tengah pusaran air tsunami yang menghitam.
Hingga menjelang sore. Tsunami mulai surut dan meninggalkan puing-puing sisa kedasyaratannya. Semua rumah hancur. Semua hancur. Orang-orang banyak yang meninggal dunia. Harta dunia hilang lenyap seketika. Semua orang berkabung.
Alhamdulillah. Mesjid yang tak terlalu besar tempat Hasna, nenek dan adik-adiknya berlindung, tidak roboh sama sekali. Hanya saja dilantai bawah ada kaca yang pecah. Sungguh besar keajaiban Allah. Allahlah yang menjaga rumah-Nya sendiri.
Sejauh mata memandang, yang ada hanya kosong, dan terdengar ratapan yang menyayat hati dimana-mana. Semuanya seperti mimpi.
Kemudian Hasna melihat ke arah rumahnya, aneh, rumah kecil itu masih berdiri tegak, tak hancur diterkam huru hara tsunami.
“Nek, rumah kita enggak kenapa-kenapa”, kata Hasna.
****
Rahasianya adalah karena didalam rumah tersebut setiap orang selalu melantunkan ayat suci Al-qur’an tanpa henti. Ayah, Ibu dan anak-anaknya senantiasa membaca dan menghafalkan Al-qur’an. Kakaknya Hasna, kak Ifah sudah menjadi Hafizah. Hasna sudah hafal sekitar 20 Juz. Adiknya 10 juz, adik yang lebih kecil lagi 5 juz. Rumah itu adalah milik keluarga yang menjaga Al-qur’an dalam kesehariannya. Sungguh Allah tak ingin merusak bagian dari rumah-Nya.
Sungguh, orang-orang yang mencintai Al-qur’an dan dekat dengannya akan diberi syafaat. Mereka yang senantiasa menghabiskan waktu bersama Al-qur’an akan mendapatkan perlindungan Allah dari musibah-musibah. Tsunami itu bagaikan kiamat kecil dan syafaat Allah itu datang dengan nyata untuk menyelamatkan mereka yang cinta Al-qur’an.
“Bacalah Al-qur’an, sesungguhnya pada hari kiamat Ia akan memberi syafaat kepada pembacanya”–(HR. Muslim)
Dimana Al-qur’anmu? Yuk kita bersama-sama mendekatkan diri dengan Al-qur’an lagi…
Bandung, 30 Mei 2017
Foto oleh kak @zakyamirullah di Gyongsan Lake, South of Korea
“I'm here to tell you finding your purpose isn't enough. The challenge for our generation is creating a world where everyone has a sense of purpose. Purpose is that sense that we are part of something bigger than ourselves, that we are needed, that we have something better ahead to work for. Purpose is what creates true happiness.
Change starts local. Even global changes start small -- with people like us. In our generation, the struggle of whether we connect more, whether we achieve our biggest opportunities, comes down to this -- your ability to build communities and create a world where every single person has a sense of purpose” - Mark Zuckerberg, CEO Facebook at Harvard University
See the full speech transcript
Apapaun kondisi hidup kita, andalkan Allah, selaraskan ucapan dan perbuatan dengan hati ketika meminta pertolongan kepada Allah agar Allah menunjukan keajaiban kepada kita :”)
How does a moment last forever? How can a story never die?
It is love we must hold onto
Love flows like a river through the soul Protects, persists, and perseveres And makes us whole
Apple is forcing change on the market again and that’s no bad thing.
Disan dan Ensiklopedia
(Disan dengan matanya yang bersinar dan senyumnya yang manis)
Papua :)
Waktu SMA, pernah liburan ke Sabang. Lalu saya dan teman-teman mengunjungi tugu KM 0 di Sabang. Ternyata saat disana, saya pernah bilang “Kalau kita sudah sampai di KM 0 paling Barat Indonesia, maka kita harus pergi juga ke KM 0 paling timur Indonesia”, artinya harus ke Papua, suatu saat. (Ini kata teman SMA, katanya saya pernah bilang gitu, padahal diri sendiri enggak ingat sama sekali).
Tapi memang sangat mungkin, apa yang kita katakan menjadi kenyataan karena mungkin malaikat meng’aamiin”kan, maka ucapkanlah perkataan-perkataan baik dan prasangka-prasangka baik yaa. Dua tahun berlalu setelah lulus SMA, akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di Papua, walaupun tidak sampai di KM 0 nya, enggak apa-apa, bersyukur sangat-sangat karena bisa ke Papua.
Perjalan ke Papua ini bukanlah perjalanan No Mission. Karena ada amanah besar yang harus dituntaskan. Contohnya adalah membangun pendidikan di Papua, membangun sistem pelayanan kesehatan, mengembangkan pariwisata, dan yang paling penting adalah membangun masyarakatnya. Walaupun saya sadar, bahwa saya bukanlah siapa-siapa, hanyalah seorang bocah yang mencoba mencari makna hidup dan ingin memberikan sesuatu untuk Indonesia, melalui langkah-langkah kecil yang sangat mungkin untuk diambil.
Sebelum ke Papua, saya dan tim mengumpulkan buku-buku bacaan untuk dibawa ke Papua karena akan dibangun perpustakaan kecil disana. Saya salut sama teman-teman tim saya, karena effort yang mereka berikan dengan totalitas. Sebelumnya, dari buku-buku yang terkumpul, kami sortir terlebih dahulu, untuk menghindari tersampaikannya hal-hal yang kurang baik, seperti provokasi, SARA dan semacamnya. Saat mensortir, saya sangat kagum karena ada banyak buku bagus yang belum pernah saya baca, lalu saya berniat membacanya ketika sampai di Papua nantinya.
Alhamdulillah, ada ratusan buku yang telah lulus sortir dan siap untuk dikirimkan ke Papua, semoga bukunya bermanfaat sampai sekarang dan seterusnya.
***
Suatu ketika di Papua. Saat menunggu waktu berbuka puasa. Dikarenakan sudah selesai masak untuk berbuka namun masih ada waktu yang tersisa, maka saya memutuskan untuk membaca sebuah buku didepan pintu rumah yang langsung menghadap ke laut. Disana enggak ada lampu, jadinya harus keluar untuk mendapatkan cahaya.
Halaman demi halaman saya baca, namun waktu berbuka puasa tak kunjung tiba.
“Kalian ngapain baca buku didepan pintu maghrib-maghrib?”, tiba-tiba seorang teman datang.
Kalian? perasaan dari tadi sendiri disini, batin saya. Lalu, saya menoleh kebelakang, Loh, ternyata ada seorang adik yang sejak tadi lagi lihat-lihat ensiklopedia tepat dibelakang saya.
“Oh ada Disan”
Lalu Disan senyum-senyum sendiri sambil membolak-balik halaman ensiklopedia yang ia pegang.
Wah, ternyata dari tadi dibelakang saya ada yang ikutan baca buku, tapi diam-diam aja.
Alhamdulillah, walaupun Disan belum bisa baca, tapi minat terhadap bukunya sudah ada.
***
Keesokan harinya, saya dan seorang teman sedang mencuci piring dibelakang rumah. Di Papua, tempat cuci piringnya hanya sebuah meja tinggi, lalu tanpa atap, dan airnya disedikan diember-ember kecil dan harus di hemat-hemat. Ketika cucian piring masih banyak, Disan datang menghampiri, kali ini dia sudah siap dengan seragam sekolahnya, bukan seragam baru yang ia pakai, entah baju siapa yang ia pinjam. Anak-anak disana, seragamnya lusuh-lusuh, tapi semangat belajar mereka tidak.
“Kakak Caye, Kakak Caye, hari ini kita ke sekolah kah?”, tanya Disan.
“Iya, Disan. Ada apa kah?”
Disan tidak menjawab, hanya merespon dengan senyumnya yang unik dan mata yang berbinar-binar. Lalu Disan langsung lari enggak tahu kemana. Sepertinya menuju ke arah sekolah. Tapi kan, ini masih pagi banget. Sekolahnya masih lama dimulai.
Kemudian, teman saya bilang, “Cay, Disan hari ini mau sekolah? Tumben. Dia kan belum pernah mau ke Sekolah sebelumnya”
“Sepertinya dia mau belajar baca, Meg. Karena kemarin Disan pegang Ensiklopedia, tapi cuma lihat gambar-gambar aja”
Tak lama, lonceng sekolah tiba-tiba berbunyi.
“Waahhh, siapa itu yang bunyiin lonceng sepagi ini, kita kan belum siap-siap, Yasalam”
“Kayaknya Disan deh”
“Iya bisa jadi”
“Ayok kita siap-siap, Meg. Biar adik-adiknya enggak lama nunggu”
“Yok”
*** Benar saja, sejak Disan mulai ikut ke sekolah. Lonceng sekolah selalu berbunyi lebih pagi. Disanlah orang pertama yang sampai kesekolah tiap hari dan yang memanggil teman-temannya. Padahal sebelumnya, kamilah yang membunyikan lonceng itu. Sekarang, kami sebagai gurunya kadang-kadang belum makan, tapi sudah harus segera ke sekolah, kadang-kadang gosok gigi dan cuci muka buru-buru karena lonceng berbunyi semakin keras.
***
Aaah Disan, semangatmu buat menuntut ilmu sangatlah besar. Kakak Caye iri. Apakah Disan sudah bisa baca Ensiklopedianya? Tetap semangat ke sekolah ya dek!
Bandung,
10 Mei 2017
23.52
Makasih yaa Kak CHayee, ternyata beneran ditulis :)
Managing Strategy for Value Capture in Dynamic World
Customer today are more informed and demanding than ever before. Fueled by unprecedented choice of products and services, customer expectations create serious challenges for business leaders in a marketplace rife with competition. At the same time. Products and services continue to become increasingly similar and less differentiated – making it more difficult to develop and extract real value from a brand.
Companies today face a formidable task. Firms must find ways to not only launch new products or services that create meaningful differentiation in the minds of their customers, but also to capture and sustain the value they have created for their different target segments. Such dynamics require companies to employ new innovative models if they are to create the necessary conditions for success. Recent dynamics in the industry indicate that this hypercompetitive trend will only increase over time. Failure to innovate invites disaster.
In competitive marketplace, often the best way to develop market leadership is by revisiting the conventional wisdom to determine novel new product strategies for success. The approach demands that firms cultivate the necessary for deepening their understanding of customers’ need and adopting a more sophisticated perspective on market segmentation and positioning.
Addition to economic value, customer now see the product or service quality in term of kinds of available features. This functional features value emphasizes sophistication, not savings and sophistication translates into a product with more and enhanced applications. Some customers also evaluate the quality of the product or service in terms of its brand image. Along this dimension, customers are currently most connected emotionally with a product and are willing to explore a brand’s image in order to cultivate a relationship with it. Quality here is driven more by intangibles than by tangible feature, with the end objective being to achieve “total satisfaction”.
We see a similar dynamic operating in cellular phone and computer industry – such as Apple and Microsoft are differentiating themselves by making a function of design features. Apple captures all dimensions of value: economic, functional, and emotional. Apple’s strategy was to introduce a flagship product in a new market with a premium price. It differentiated through integration with content, industrial design and simplicity, and ease of use. Apple expanded the market by introducing improvements to the product quickly, allowing the company to maintain demand and margins. Apple has also continued its innovative strategy begun with the iPod by launching iPhone, which created a splash in the marketplace and changed the dynamic of the cell phone category. Apple’s products are functionally superior to competitive offerings, provide value compared to competitors, and also provide an emotional appeal to its customers.
source: Kellogg on Marketing
Surround yourself with interesting, ambitious people, and always say “yes” to challenges. Be extraordinarily curious - Eric Schmidt, Google
Honest hearts produce honest action. Only the honest & good heart will produce the honor that will cause one to be true to himself & others
Walk with the dreamers, the believers, the courageous, the cheerful, the planners, the doers, the successful people with their heads in the clouds and their feet on the ground. Let their spirit ignite a fire within you to leave this world better than when you found it
Wilferd A. Peterson
Maka tak akan menyesal mereka yang menjadikan Allah sebagai landasan, muara segala kekuatan. Saat ujian nya seakan tak henti berdatangan, mungkin ini saatnya kita untuk lebih mendekat kepada Dzat Yang Maha Menguatkan. Saat kita merasa kehilangan kekuatan, cobalah mengembalikan hati kepada semulia-mulia niatan. Bukankah janji surga-Nya tak pernah lekang tergilas zaman. Maka mari kita menambatkan kekuatan pada Dzat Yang Maha Kekal, sumber energi yang tak berkesudahan…
Kak Dewina - https://dewinaisyah.wordpress.com/2017/04/21/we-are-strong-for-a-reason/
Customer centricity, long-term thinking and a passion for invention. When these go together, we can build a great experience, customers tell each other about that - Jeff Bezos, CEO Amazon