Anak Kecil terbangun jam 04.00, ketika Umma dan Aba nya tengah siap-siap untuk shaum. Baca doa bangun tidur dan minta susu, seperti pagi-pagi biasanya. Tapi ada yang berubah.
Selepas sholat Subuh, Eyang minta tolong untuk menyalakan tv untuk melihat berita. Dengan sigap, Anak Kecil mengambil remote di meja dan menekan tombol power.
"Nanti bisa nyala sendiri ni, Yang!", ucap Anak Kecil bersemangat sambil menunggu tv menyala. Tak lama kemudian, layar tv menunjukkan program anak-anak.
"Eh, tontonan Anak Kecil ini mah.", Eyang protes karena bukan berita.
Umma mendengar dari balik kamar.
"Hayoo, kan tidak ada menonton kartun kalau pagi hari sekolah!", Umma mengingatkan Anak Kecil sambil berjalan ke arah ruang tengah. Begitu sampai di ujung pintu kamar, mata Umma menangkap sebuah pemandangan langka.
Anak Kecil tanpa disuruh dan tanpa paksaan menyerahkan remote tv ke Eyang dan berbalik duduk di sofa. Tanpa menggerutu, tanpa menjawab, dia terlihat ikut menikmati berita pagi ini dengan Eyang.
Umma tertampar keadaan. Bukan tidak percaya dengan kesepakatan yang telah mereka buat agar Anak Kecil tidak banyak menonton tv, tapi dalam hati ini masih sering ragu dengan keteguhan hati seorang Anak Kecil.
Memang semenjak Eyang sakit dan butuh perawatan yang memadai di rumah, Anak Kecil lebih sering menunjukkan simpati dan empatinya kepada Eyang. Entah dengan kata-kata menenangkan, ataupun tindakan untuk merawat Eyang.
Mengambilkan tongkat jalan, menanyakan keadaan, mengingatkan Eyang, dan hal lain yang sungguh di luar perkiraan Umma dan Aba untuk anak seusianya.