cantik dan shar
Betine ni saja tayang body dgn tekshar dia utk jantan buat bahan
Fai_Ryy
$LAYYYTER
Cosmic Funnies
Lint Roller? I Barely Know Her
KIROKAZE
πͺΌ

#extradirty
RMH
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
ojovivo
Game of Thrones Daily
Show & Tell

Kiana Khansmith

gracie abrams
tumblr dot com

titsay

Discoholic πͺ©

No title available

blake kathryn
No title available

seen from Ecuador

seen from United States
seen from TΓΌrkiye

seen from Netherlands

seen from Singapore
seen from TΓΌrkiye

seen from TΓΌrkiye

seen from Argentina

seen from United Kingdom

seen from Mexico

seen from Singapore

seen from Netherlands
seen from Netherlands
seen from Indonesia
seen from Saudi Arabia
seen from Brazil
seen from Brazil
seen from Netherlands
seen from Belarus

seen from France
@maliciousnightblight
cantik dan shar
Betine ni saja tayang body dgn tekshar dia utk jantan buat bahan
πππ
"Ya, bos. Jane dah siapkan paper yang bos suruh tu. Tapi... kenapa bos tenung lurah Jane yang dah bersusu ni?"
Berzina dengan Ayah kandung
Aryanti adalah namaku. Aku berasal dari Johor, seorang anak tunggal yang tinggal bersama ibu saudaraku. Ibuku telah lama meninggal dunia sejak umurku tiga tahun. Ayahku berasal dari Singapura, bekerja sebagai buruh kasar. Aku dijaga oleh ibu saudaraku yang tinggal di Johor sejak kecil hingga umurku cecah 12 tahun. Karena keadaan sangat tidak menginzinkan, aku tinggal bersama ayahku di Singapura agar lebih senang untuk ke sekolah.Kami tinggal di rumah sewa 1 kamar Dari kecil aku memang selalu mendahagakan kasih sayang dari seorang ibu dan bapak. Sejak tinggal bersama bapak, akulah yang selalu memperbarui dan membersihkan rumah setelah pulang dari sekolah. Aku sudah mulai bersekolah di sekolah menengah setempat. Bapak selalu tidak ada di rumah karena bekerja keras. Walaupun dia sibuk bekerja keras, dia pastikan ada uang belanja untukku dan berikan uang belanja dapur yang patut. Ayah selalu pulang lewat hingga 2pagi dan karena ini aku sering sendirian di siang hari di rumah. Aku sering melihat wajah arwah Ibuku dan Bapak dalam gambar sewaktu mereka baru saja berumahtangga. Kulit ibu bersih, putih melepak .. memiliki ukuran yang sangat cantik .. seakan aktor veteran Latifah Omar dan juga berbentuk badan yang mulus. Bapaku pula berbadan sasa, sama seperti sekarang, berambut ikal dan mempunyai rupa akan Jamal Abdillah. Kulitnya pula sawo matang. Pasangan yang sangat ideal. Terakhir usiaku sudah cecah 15tahun, aku mulai menjadi remaja nakal. Pulang sekolah saja aku dan berjumpa dengan teman pria di taman yang sunyi untuk bercumbu. Jika tidak, aku akan mengajak teman teman sekolah yang lain ke rumahku, kadang kadang membiarkan mereka yang berpasangan bersetubuh di bilikku. Aku tidak tahu mengapa aku bersikap demikian.Barangkali sebab tidak ada orang yang dapat menegur perbuatan ku. Walaupun aku bersikap liar, aku masih belum bertemu seorang pria yang layak menewaskan daraku. Aku pernah menghisap batang konek teman2 lelakiku yang lain tapi aku rasa seperti aku belum temui seorang teman pria yang mempunyai konek yang aku idamkan untuk aku rasai pertama kali. Pada satu hari, satu kejadian terjadi yang merubah segalanya. Di saat itu aku sedang baru mulai cuti sekolah dan seperti biasa teman temanku datang untuk chatting untuk melihat vcd lucah sementara 3 pasangan sedang hebat melakukan maksiat di bilikku. Aku memang selalu suka melihat teman2 bersenggama. Dalam pada masa itu aku akan belajar teknik mereka jadi bila tiba masa nanti aku akan sendiri mencubanya.Aku memakai baju terus jarang pada masa itu tanpa berpakai coli dan celana dalam sebab cuaca panas siang. Tiba-tiba Bapak pulang mengetuk pintu. Aku terperanjat dan terus membuka pintu. Bapak mulai meluru masuk ke rumah lalu ke kamar. Di saat itu 3 pasangan temanku sedang masih di dalam lembah zina yang teramat masih sibuk melampiaskan cinta dan nafsu yang bergelora lalu tidak sadar yang Bapaku sudah di muka pintu kamar. βHoi!β jerit Bapak. Berambus korang dari rumah aku! . Dengan kilat teman2 aku semua melarikan diri, ada yang masih separuh bogel meluru keluar pintu rumahku. Aku terduduk ketepi pintu kamar dalam ketakutan. Bapak membeliakkan matanya sambil mulai menutup jendela dan pintu rumah. VCD lucah itu masih tersiar terpampang di kaca TV. Bapak mulai mengherdikku βBapak kirim kau ke sekolah kat sini untuk apa hah !!!??, pekiknya .. βDah jadi perempuan apa kamu nie hah!! Tak tau terima syukur aku kutip kau balik! Badan kau tu masih suci atau tidak!! - Jerit Bapak lagi .. βMasih pak β¦ βJawabku perlahan dengan perasaan serba salah. βBerani kau menjawab aku eh!β Bapak terus menarik badanku lalu menolakku ke kamar. Di saat itu aku terhidu bau arak. βMaaf pak, Yanti bukan menjawab ..β kataku padanya lagi. Tanpa berkata apa-apa, bapak mulai membuka tali pinggang besinya lalu memmukulku beulang ulang. βAmpun pak!β Yanti tak buat lagi! βKataku sambil menahan kesakitan.β Ampun?!! Aku tak percaya kau tu masih dara!! βSudah berapa pria jamah badan kau hah !!!?!!!β - Tengking Bapak lagi βYanti tak kasi pada siapa, Pak !!!!β rayuku lagi βAku tak percaya!β katanya. Dalam pada itu Bapak merobek baju jarangku. Di saat itu Bapak melihat tubuhku yang telanjang. Sambil menangis aku memeluk lututku karena malu dan masih dalam kesakitan dipukul bertubi2. βBiar aku periksa!! Aku tak percaya kau masih perawan!β Kata Bapak lalu menolak badanku dengan kasar agar aku terlentang. βJangan Pak .. Yanti malu β¦β rayuku lagi sambil nangis terisak-isak βMalu ??!!! Dengan kawan kawan memantat depan mata kau tak tahu malu!β herdiknya lagi. Kakiku dibuka terkangkang β¦ Entah mengapa sambil itu Bapak mulai menbuka pakaiannya. βJangan Pak β¦.β aku merayu padanya. βKau diam!β - Pekiknya lagi. Aku terlihat Bapak sudah telanjang dihadapanku. Aku mulai rasa semakin takut dengan apa kemungkinan Bapak akan lakukan pada diriku. Batang koneknya sangat besar dan panjang seperti aku inginkan sama seperti konek orang negro. Aku mulai rasa tegang dan takut. Aku dapat rasakan dalam benakku Bapak akan menewaskan daraku. Bapak mulai memeriksa lubang pukiku .. Matanya tak lepas melihat tubuhku dengan rakus .. βJangan Pak β¦ Yanti anak Bapak β¦β Diam!! βKatanya lalu Bapak mulai mengeluarkan lidahnya sambil menjilat jilat lubang pukiku β¦β Oughhhhhh. Pak β¦ Jangan β¦ βBapak mulai menjilat lubang pukiku dengan liar dan rakus ..β Sebelum kau kasi lubang puki kau pada betina tepi jalan, lebih baik kau kasi pada bapak sendiri! βBentaknya lagiβ UghOhh Bapak β¦. Ermmmm β¦β¦ Nggghhh β¦ βBapak mulai menggomoli badanku dengan lidahnya .. Terasa geli, sakit dan sedap bercampur aduk .. Tangan bapak meraba seluruh pelosok badanku.β Arrgghhh β¦. Bapakkkk .. Jangan !!!β¦.. aku merayu dengan nada berserah. Akhirnya lidah Bapak bertemu lidahku .. Bapak mulai menghisap bibirku dengan kasar. Bau arak jelas dirasa di bibirku. βArghhhh β¦ emmmmh .. Pak β¦. jan β¦ gan β¦..β Lidahnya mulai melumati leherku yang paling sensitif .. Aku sudah tidak mampu untuk melawan nafsu shahwat bapak. Di saat dia melumati leherku, tangannya memeluk tubuhku dengan erat sementara sebelah tangannya menggetel biji kelentitku. Dia mulai meremas kedua putingku dengan kasar sambil menjilatku di leher lagi β¦ βPakkk β¦.β desahku ..β. Arghhh β¦. sedapnya pak β¦ β βSedap eh .. nak tambah sedap lagi tak β¦ jawabnya sambil meremas puting tetekku β¦β Ohhhhhh β¦ pakk β¦.β desahku Bapak mulai mencium mulutku lalu melumati bibirku β¦ Tubuhnya basah dengan peluh itu menimpa tubuhku dan tangannya tidak pernah berhenti meraba tubuhku .. Di saat kesedapan disentuhi oleh bapakku sendiri, dia mulai menjilati leher ku lagi, kali ini dengan kasar β¦. βOuuhhhhh β¦.. Bapak β¦ Sedapnya β¦β¦.β desahku lagi Karena terasa diangkut dengan gelombang nafsu Bapak kandungku sendiri yang berusaha sungguh untuk menjamah tubuhku .. aku berubah kali ini bereaksi mencium mulutnya yang berbau arak bertubi tubi β¦ Aku seperti hilang akal akibat dirundung shahwat yang tidak bisa terbendung itu .. Di saat itu aku rasa aku terlalu terhutang budi dengan Bapak .. Aku mulai melawan ciumannya lalu merubah posisi. Kali ini aku yang membalas untuk mencium tubuhnya yang sasa itu bertubi-tubi β¦ βArrrghhhh β¦. Yanti β¦β¦.β teriak Bapakβ Ya .. pak β¦ βjawapku sambil menjilat putingnya. βIsap konek Bapak nak β¦β rayunya Tanpa berpikir aku terus memegang batang koneknya yang mulai mencuat β¦ Aku mulai menjilat dan menghisapnya dengan rakus β¦ Wajah Bapak jelas terpancar rasa kesedapan akibat kelakuanku β¦ Aku semakin merasa geram lalu mengisap dengan kasar batang koneknya karena ukurannya makin membesar sepanjang 15inci dan lebarnya sebesar bambu yang besar β¦ aku sudah tidak sabar β¦ Dengan tiba2 Bapak berdengus lalu membalikkan badanku β¦ Batang koneknya yang besar itu digesel2 di pintu lubang pukiku β¦ Gara2 perbuatan itu, air pelumas pukiku mulai mengalir β¦ dan pukiku mulai rasa gatal minta ditujah dengan batang konek β¦ βPakk β¦. Yanti rasa gatal pak β¦..β rayuku menahan perasaan Bapak mulai terasa marah β¦. βKau dah rasa gatal eh perempuan sundal, Kau dah giankan rasa konek eh β¦ itu sebab biar aku yang rasa dulu β¦ baru temu buku dengan ruas β¦. Perempuan sial β¦ Memang perempuan umur kau gini memang nak kena kasi konek tiap hari β¦ Kau ni macam arwah ibu kau, selalu mintak bersenggama .. Itu sebab kau tu bernafsu kuat! Puki gatal miang βkata Bapak sambil masih menggeselkan koneknya dengan kasar di pintu lubang pukiku β¦ βPak β¦ jangan siksa Yanti macam gini β¦β βArgghh β¦. ermm β¦. Yanti tak tahan β¦..β rayuku lagi. Bapak mulai mengesek masuk batang koneknya yang terhunus besar perlahan lahan ke dalam puki β¦ Aku rasa gian dan ingin merasakan batang konek ke dasar pukiku .. Tapi Bapak seolah olah cuma mau masuk sedikit demi dikit semata2 untuk menyiksa perasaanku β¦. Bapak menjilat leher ku lagi .. seperti sudah tahu itu tempat pusat kelemahkanku .. βOhhh β¦. Bapak β¦.. Jan β¦ gan siksa .. Yanti camni β¦. Argghh β¦.β desahku lemahβ Habis kau nak bapak buat apa ???!!β¦ β katanya sambil melumati putingku. βPak β¦. Yanti tak tahan β¦β¦β jawapku keresahan. βTak tahan nak Bapak buat apa?β Sambil menujah koneknya perlahan ke dalam pukiku. βMasukkan β¦. pak β¦.β kataku semakin berani. βMasukkan apa ??!!!β herdiknya lagi βMasukkan batang konek bapak DALAM PUKI Yanti! Yanti DAH TAHAN NIE !!!!!! - herdikku Kali ini tanpa menunggu Bapak menujah lalu menerobos batang koneknya yang gagah itu ke dasar pukiku β¦ βARRRGHHH !!!!!! SAKIT!! PAKKKK !!!!!β jeritku β¦ darah mulai mengalir dari pukiku tanpa dipedulikan Bapak βRasakan perempuan sial !!!β¦ nak rasa batang konek jantan sangat kan .. Ambik kau! βJawab Bapak sambil mulai memompa pukiku dengan kasar .. Sedapnya rasa pukiku ditujah dengan batang konek bapak β¦ Akibat ukurannya yang besar, semua G Spot yang aku ada semuanya terasa megakibatkan aku terair lagi .. Nafsuku dan Bapak sudah tak terbendung lagi .. Aku tidak sangka perzinaan anak dan bapak kandung begitu hebat β¦ Hubungan sedarah sangat menghairrahkan pada waktu itu. Benda benda yang terlarang biasanya bila dicoba akan rasa sedap. Ayah menpunyai tenaga yang luarbiasa dan dia tidak berhenti sekejap pun untuk terus nafasnya .. Barangkali sebab kerjanya kerja kasar. Batang koneknya yang hebat itu tertanam ke dasar pukiku dan setiap kali Bapak memompa ke dasar, terasa senak perutku dibuatnya .. βPadan muka kau dara kau Bapak ambik β¦ asyik tengok gambar orang memantat aje kan?! Mulai hari ini kau harus nak layan Bapak kat ruangan paham!!β Ujarnya lagi Kali ini rambut dijambak dan Bapak mulai merubah posisi di belakangku lalu mulai dengan posisi doggy β¦ βSedap tak perempuan sial? β¦ Sedap tak konek bapak kau sendiri?β tanya Bapaku sambil membisik di telingaku sambil memompa .. Sedap pak β¦ Argh β¦ Nnghh β¦. sszz.sss sedap β¦.β desahku lagi β¦ βMulai sekarang nak main batang orang lain tak? Tanyanya lagi samibil memompa ke dalam pukiku lau biarkan ke dasarβ Tttak β¦ Pakk β¦.β jawapku kesakitan karena rasa senak .. βHabis konek sapa kau nak, betina jalang? βkata Bapak, kali ini menjilat leherku.β Arrrrgghh β¦β¦ nak .. konek β¦ Bapak .. sorang β¦ ermm β¦.. nghsh .. βjawabku yang sudah hampir tak bermaya β¦ . Ayah mulai membalikan tubuhku terlentang laku memasukkan batangnya yang sedap itu ke dasar pukiku lagi β¦ Kali ini dia memeluk tubuhku dengan erat. Sambil memompa dengan kasar, dia memelukku dan mencium bibirku bertubi tubi β¦ "Bapak sayangkan kau .. bapak cintakan kau β¦β βYanti jangan takut .. ayah akan jaga Yanti dengan baikβ βYanti jangan munafik dengan Bapak lagiβ bisiknya ke telingaku .. βYanti pun sayangkan Bapak β¦ Yanti rindukan Bapak β¦β βYanti tak mau tinggalkan Bapak β¦.β βOhhh β¦. Yanti!!β teriaknya sambil masih memompaku mendalam dengan kasar β¦ Aku sudah tidak tertahan akibat perasaanku yang terlalu lama tersimpang β¦ Aku mulai melihat wajah Bapak dengan penuh kasih sayang .. βBapak .. ambillah tubuh Yanti .. Yanti rela dikerjakan Bapak tiap hari sampai bila bila .. Yanti rela tubuh Yanti dijamah setiap waktu dan tiap hari β¦ Yanti akan jadi hamba seks Bapak .. Orang lain tak perlu tahu .. Saudara kita pun tak ambil kisah tentang kita. Yang penting Bapak sayang Yanti .. "Buat pertama kalinya Bapak tersenyum dan ternyata dia terlihat sangat tampan dan macho.β Oh Yanti Sayangku β¦.β desah Bapak sambil memeluk san menciumiku bertubi2 lagi Dalam saat ini konek Bapak masih tertanam dalam kebijakan pukiku β¦ Kami saling berpelukkan dan berciuman dengan kasarnya. Kami melampiaskan nafsu kami sepanjang tengah hari itu hingga waktu malam .. Aku sangat tertegun dengan kehebatan nafsu Bapak sebab setelah 8 jam kami bersetubuh, dia masih mampu bertahan. Batang koneknya kini sudah jadi milikku .. masih keras di dalamku .. Kali ini aku pula memainkan perananku .. Tiap kali Bapak memompa koneknya ke dalam kebijakan pukiku, aku mulai bertarung balik. Perbuatan ini membuatnya rasa geram denganku .. "Ahh β¦ Yanti β¦ Bapak β¦ nak lepaskan β¦ Bapak tak tahan lagi β¦ kata Bapak sambil menahan. Baiklah Pak β¦. arrhhmmm β¦ ermm β¦ Yanti dah tak tahan β¦..β desahku βArrrghhnnn Bapak yang lalu dalam!β Teriaknya β¦ Aku rasa cairan panas mengisi ruang lubang pukiku β¦ Sangat sedap rasanya βPak ?β¦.β tanyaku manja sambil menghadap wajah Bapak yang mengadapku. βYa Yanti β¦ "Yanti makan obat perancang tau β¦β kataku selamba βYe ke β¦ Jadi? tanya Bapakβ Yanti nak memantat lagi ?β¦. Boleh ?β¦. βTanyaku lagi β¦ seperti menggoda β¦β Haha β¦ sini kau β¦ βjerit Bapak kecil lalu merangkulku lalu menindih tubuhku β¦ Ayah mulai menjilat leherku untuk membangkitkan syahwatku β¦. kami bersetubuhi berulang ulang kali pada malam itu seperti pengantin baru. Rupanya aku baru dapat tahu bahwa Bapak diberhentikan kerja karena perusahaannya tutup .. Dia diberi uang kompensasi sebesar $ 60 ribu Akibat khawatir dia tidak mampu membayai uang sekolah aku dia pergi minum degan teman2 senasib. Sepanjang libur sekolah itu kami tidak kemana- mana β¦ Hanya pergi ke toko untuk membeli barang dapur dan pil perancang. Kami bersetubuh sepanjang hari dan tiap2 hari dan berhenti untuk makan atau ke toilet. Di rumah kami tidak berpakaian .. Bapak lebih suka aku telanjang agar senang untuk kami bersetubuh ketika nafsu mendatang. Tingkap dapur dan kamar dan pintu selalu tertutup agar tetangga tidak mengambil tahu. Bapak memiliki nafsu seks yang buas. Tiap pagi kami bangun tidur selalu mulai dengan memantat .. waktu aku masak sarapan Bapak akan menjilat leherku sengaja membangkitkan nafsuku. Setelah makan waktu mandi bersama, dia akan menjamah tubuhku di kamar mandi. Apabila masak waktu tengah hari, dia akan masukkan batang koneknya yang idaman aku itu, digesel gesel di bontotku saat aku memotong bawang. Biasanya perbuatan itu akhir dengan persetubuhan dan Bapak akan lepaskan air maninya ke dalam rahimku. Pada waktu malam saat menonton TV aku akan menhisap batang koneknya hingga keras lalu dipancutkan ke mukaku. Aku tidak pernah jemu disetubuhi bapakku sendiri karena batang konek Bapak memang sudah jadi idamanku. Bapak pula pernah mengatakan bahwa perempuan muda remaja seperti aku perlu sering disetubuhi karena perempuan muda lebih cepat resah kalau tidak dapat dipuaskan nafsunya. Bapak pula tidak pernah mencari perempuan lain setelah ibuku meninggal dunia. Kekosongnya dan nafsunya tersimpan hingga dia menyetubuhiku. Aku sadar perbuatan kami memang terkutuk namun kami merasa bahagia bersama. Aku sudah mengambil keputusan untuk berhenti sekolah jadi aku bisa luangkan waktu bersama Bapak. Bapa pula akhirnya mendapatkan kerja malam agar dapat luangkan waktu siang hari bersamaku. Hidup kami berlanjut hingga kini
Hawa berdiri di hadapan meja guru. Dia memakai baju kurung pengawas berwarna biru muda yang kemas dengan kain biru tua yang digosok tajam. Lencana pengawas dan tanda namanya berkilat di dada. Dia sedang menyusun buku-buku latihan yang ditinggalkan oleh rakan sekelasnya.
Hawa:
(Bercakap sendirian sambil mengeluh)
Mana pula budak-budak ni letak pen merah Cikgu Farhana. Tadi ada atas meja ni. Takkanlah dah hilang.
Hawa membongkok sedikit, tangannya meraba-raba di bawah laci meja guru. Kain kurungnya yang ketat menonjolkan bentuk punggungnya yang bulat dan padat. Tiba-tiba, bunyi pintu kelas ditolak kasar mengejutkannya.
AMAD berdiri di muka pintu. Baju kemeja sekolahnya tidak dimasukkan ke dalam seluar. Tali lehernya longgar dan senyuman sinis terukir di wajahnya yang agak gelap itu.
Hawa:
(Berdiri tegak, mukanya serius)
Amad? Kau buat apa dekat sini lagi? Waktu sekolah dah lama habis. Kau patut dah balik atau pergi ke padang.
Amad:
(Melangkah masuk dengan perlahan, matanya meliar memandang tubuh Hawa)
Aku tertinggal barang. Kenapa? Kau nak catat nama aku dalam buku laporan kau ke, Cikgu Besar?
Hawa:
(Mendengus geram)
Jangan panggil aku macam tu. Aku buat kerja aku je. Cepat ambil barang kau dan keluar. Aku nak kunci kelas ni.
Amad tidak menghampiri mejanya sendiri di barisan belakang. Sebaliknya, dia berjalan terus ke arah Hawa yang masih berdiri di meja guru. Jarak antara mereka semakin rapat. Hawa dapat menghidu bau peluh dan sedikit bau rokok yang melekat pada baju Amad.
Amad:
(Berhenti hanya beberapa inci dari Hawa)
Kau tahu tak, Hawa... Kau ni kalau tak pakai muka sombong kau tu, kau nampak cantik sangat. Lagi-lagi bila kau tunduk tadi.
Hawa:
(Berundur selangkah, jantungnya mula berdegup kencang)
Kau jangan nak merepek. Keluar sekarang sebelum aku panggil pak guard.
Amad:
(Ketawa kecil, nadanya rendah dan mengancam)
Pak Guard? Pak cik tua yang tengah tidur dekat pondok depan tu? Dia takkan dengar apa-apa pun dari sini. Kita cuma berdua je dekat blok ni, Hawa.
Amad pantas menyambar pergelangan tangan Hawa. Hawa tersentak, cuba merentap tangannya tetapi pegangan Amad terlalu kuat.
Hawa:
(Suaranya bergetar antara marah dan takut)
Lepaskan aku! Kau dah gila ke Amad? Aku pengawas, aku boleh buat kau kena gantung sekolah!
Amad:
(Menarik Hawa rapat ke tubuhnya)
Gantunglah. Aku tak kisah. Tapi sebelum tu, aku nak rasa dulu apa yang kau sorok belakang baju kurung ni.
Amad menolak Hawa ke arah meja guru. Punggung Hawa terlanggar bucu meja, menyebabkan dia mengerang kesakitan. Amad tidak membuang masa, dia terus menghimpit tubuh Hawa dengan badannya yang lebih besar.
Hawa:
(Meronta-ronta, tangannya memukul bahu Amad)
Tolong! Sesiapa tolong! Amad, berhenti! Jangan buat macam ni!
Amad:
(Menutup mulut Hawa dengan telapak tangannya yang kasar)
Diam! Kalau kau bising, aku tumbuk muka kau. Faham?
Mata Hawa terbeliak ketakutan. Air mata mula bertakung. Amad menggunakan sebelah tangannya lagi untuk meraba dada Hawa. Dia meramas kasar buah dada Hawa yang masih terbalut baju kurung dan anak baju. Hawa hanya mampu mengeluarkan bunyi rintihan yang teredam di balik tangan Amad.
Amad:
(Berbisik di telinga Hawa)
Lembutnya tetek kau, Hawa. Dah lama aku perhati kau dari belakang. Hari ni aku dapat pegang juga.
Amad melepaskan tangannya dari mulut Hawa, tetapi segera beralih untuk membuka butang baju kurung Hawa. Hawa cuba menjerit lagi tetapi Amad menampar pipinya dengan kuat.
PLAK!
Pipi Hawa merah menyala. Dia tergamam, kepalanya berpusing. Kesempatan itu digunakan Amad untuk merentap butang baju kurung Hawa sehingga beberapa butang tercabut dan jatuh ke lantai simen, menghasilkan bunyi dentingan kecil.
Amad menarik tudung Hawa sehingga tercabut, mendedahkan rambut hitam Hawa yang tersanggul kemas namun kini mula serabai. Amad merentap baju dalam Hawa ke atas, mendedahkan sepasang buah dada yang putih melepak dengan puting yang berwarna merah jambu gelap.
Amad:
(Tercungap-cungap, nafasnya berat)
Ya Allah... Cantiknya kau, Hawa. Putih gila.
Hawa:
(Menangis teresak-esak, cuba menutup dadanya dengan tangan yang menggigil)
Tolonglah Amad... Jangan buat macam ni. Aku merayu... Kita kawan kan?
Amad:
(Tidak mempedulikan rayuan Hawa)
Kawan tak buat macam ni, Hawa. Ini namanya nikmat.
Amad menolak Hawa sehingga dia terlentang di atas meja guru yang panjang itu. Kaki Hawa terjuntai ke bawah. Amad segera menyeluk tangannya ke dalam kain kurung Hawa, meraba celah kangkangnya. Dia terasa kelembapan di situ.
Amad:
(Tersenyum sinis)
Eh, kau dah basah ke? Tadi cakap tak nak, tapi lubang kau dah sedia nak kena jolok ni.
Hawa:
(Menggelengkan kepala berkali-kali)
Bukan... itu peluh... Amad, tolong... Jangan...
Amad merentap seluar dalam Hawa ke bawah sehingga ke buku lali. Dia melihat kemaluan Hawa yang masih bersih, hanya ditumbuhi sedikit bulu halus di bahagian atas. Bibir kemaluan Hawa yang merah jambu itu kelihatan sedikit terbuka, mengeluarkan cecair jernih yang menandakan rangsangan yang tidak disengajakan akibat ketakutan dan sentuhan kasar.
Amad segera membuka zip seluarnya sendiri. Dia mengeluarkan zakarnya yang sudah tegang sepenuhnya. Batang zakarnya yang berwarna coklat gelap, urat-urat menonjol di sepanjang batangnya, dan kepalanya yang sudah mengeluarkan air mazi yang melekat.
Hawa:
(Melihat saiz zakar Amad, matanya membulat)
Besar sangat... Tak boleh... Sakit...
Amad:
(Memegang batangnya, melancap beberapa kali di depan muka Hawa)
Mula-mula memang sakit. Nanti kau akan minta lagi.
Amad menarik kaki Hawa dan membukanya dengan luas. Dia berdiri di celah kangkang Hawa. Dia meludah sedikit ke tapak tangannya dan menyapu air liur itu ke kepala zakarnya untuk pelincir. Tanpa amaran, dia menghalakan kepala zakarnya ke lubang faraj Hawa yang sempit itu.
Amad:
(Menekan masuk perlahan-lahan)
Ssttt... Relaks, Hawa. Masuk sikit je ni.
Hawa:
(Mengerang kesakitan, jari-jemarinya mencengkam kuat bucu meja)
Aaaaahhh! Sakit! Keluar! Amad, sakit sangat!
Zakar Amad yang besar itu mula merobek selaput dara Hawa. Darah segar mula mengalir keluar, bercampur dengan air mazi dan lendir semula jadi Hawa. Amad mendengus puas apabila dia merasakan keketatan dinding faraj Hawa yang menjepit batangnya.
Amad:
(Mula menghenjut dengan laju)
Ahhh... Ketatnya kau... Macam ni rupanya rasa puki pengawas sekolah. Sedap gila!
Hawa:
(Menangis, suaranya pecah)
Sakit... Berhenti... Tolong...
Amad tidak berhenti. Setiap henjutan menyebabkan bunyi tamparan daging antara paha Amad dan punggung Hawa. PLAK! PLAK! PLAK! Bunyi lendir yang diperah keluar masuk kedengaran sangat jelas di dalam kelas yang sunyi itu. "Shlick, shlick, squelch."
Tiba-tiba, bunyi derapan kasut tumit tinggi kedengaran dari koridor.
CIKGU FARHANA (32) berdiri di pintu kelas. Dia memakai baju kurung moden yang ketat, menonjolkan bentuk badannya yang persis jam pasir. Cermin matanya terletak elok di hidungnya yang mancung. Dia tergamam melihat apa yang berlaku di hadapannya.
Cikgu Farhana:
(Suaranya tegas tapi ada nada yang pelik)
Apa yang kamu berdua buat ni?! Amad! Hawa!
Amad berhenti menghenjut, tetapi dia tidak mengeluarkan zakarnya. Dia menoleh ke arah Cikgu Farhana dengan nafas yang masih tercungap-cungap. Hawa yang sedang menangis cuba menutup wajahnya dengan lengan.
Hawa:
(Tersedu-sedan)
Cikgu... Tolong saya... Amad... dia buat saya...
Cikgu Farhana melangkah masuk ke dalam kelas. Dia tidak menjerit meminta tolong. Dia tidak berlari mencari bantuan. Sebaliknya, dia mengunci pintu kelas dari dalam. Dia berjalan menghampiri meja guru itu dengan perlahan.
Amad:
(Cemas)
Cikgu... saya... saya boleh terangkan. Saya tak sengaja.
Cikgu Farhana berhenti di sebelah Amad. Dia memandang zakar Amad yang masih tertanam dalam lubang Hawa. Matanya yang tajam itu mula berubah menjadi kuyu. Dia menjilat bibirnya yang dipoles gincu merah.
Cikgu Farhana:
(Suaranya berubah menjadi rendah dan menggoda)
Tak sengaja kamu kata? Kamu dah rosakkan budak ni, Amad. Kamu tahu tak apa hukuman dia kalau saya lapor pada pengetua?
Amad:
(Menelan air liur, melihat reaksi pelik gurunya)
Tahu cikgu... Tapi... Hawa sedap sangat. Saya tak tahan.
Cikgu Farhana menghulurkan tangannya yang halus, jarinya yang berkuku panjang itu menyentuh bahu Amad yang berpeluh. Dia kemudian beralih melihat Hawa yang terlantar lemah, kangkangnya basah dengan darah dan air mani yang mula meleleh keluar.
Cikgu Farhana:
(Membongkok ke arah telinga Hawa)
Hawa sayang... Kau patut rasa bertuah. Amad ni ada 'barang' yang hebat. Tengoklah betapa besarnya kote dia dalam lubang kau sekarang.
Hawa:
(Terpinga-pinga, tidak percaya dengan apa yang didengarinya)
Cikgu? Apa cikgu cakap ni? Tolong saya, cikgu...
Cikgu Farhana:
(Ketawa sinis, tangannya mula membuka butang baju kurungnya sendiri)
Tolong kamu? Saya rasa saya lebih suka join kamu. Dah lama saya perhatikan Amad ni dalam kelas. Cara dia duduk, cara dia pandang saya... Saya tahu dia ni jantan yang kuat.
Hawa:
(Mata terbeliak)
Tak mungkin... Cikgu...
Cikgu Farhana membuka baju kurungnya, mendedahkan bra berwarna hitam dengan renda yang seksi. Buah dadanya jauh lebih besar dan matang berbanding Hawa. Dia kemudian menanggalkan kainnya, mendedahkan seluar dalam yang sepadan. Kulitnya yang kuning langsat kelihatan sangat menggoda di bawah cahaya petang.
Cikgu Farhana:
(Memandang Amad)
Amad, kamu nak saya laporkan atau kamu nak saya bantu kamu habiskan 'kerja' kamu ni?
Amad:
(Tersenyum lebar, nafasnya semakin laju)
Saya nak cikgu. Saya dah lama geram tengok tetek cikgu yang besar tu.
Cikgu Farhana:
(Naik ke atas meja guru, duduk di sebelah kepala Hawa)
Kalau macam tu, teruskan menghenjut pengawas kesayangan kita ni. Saya nak tengok secara dekat macam mana kote muda kamu ni bekerja.
Amad mula menghenjut semula dengan lebih bertenaga. Dia memegang pinggang Hawa dan menariknya rapat ke arahnya setiap kali dia menghujam masuk. "SLUP! PLAK!" Bunyi zakarnya masuk ke dalam faraj Hawa yang sudah lencun itu semakin kuat.
Amad:
(Mengerang kuat)
Ahhh! Cikgu! Tengok ni! Puki dia hisap kote saya kuat gila!
Cikgu Farhana memegang buah dadanya sendiri, memicit-micit putingnya sehingga tegang. Dia kemudian mengambil tangan Hawa yang sedang meronta dan meletakkannya di celah kangkangnya sendiri.
Cikgu Farhana:
(Berbisik pada Hawa)
Hawa, rasa ni. Cikgu pun dah basah sebab tengok kamu kena kenduk. Janganlah menangis. Rasa nikmat ni.
Hawa yang pada mulanya trauma, mula merasakan sensasi yang pelik. Walaupun sakit di bahagian bawah, sentuhan lembut tangan Cikgu Farhana pada tangannya dan pemandangan gurunya yang sedang berbogel itu mula mengelirukan derianya.
Amad:
(Meningkatkan kelajuan henjutan)
Cikgu, saya nak pancut! Aduh, sedap gila! Ketatnya!
Cikgu Farhana:
(Menjerit kecil)
Jangan pancut dalam dia lagi! Cabut sekarang dan pancut dalam mulut saya!
Amad segera merentap zakarnya keluar dari faraj Hawa. Bunyi "POP" kedengaran apabila zakar itu terlepas dari vakum faraj yang sempit. Zakar Amad kelihatan berkilat, merah, dan diselaputi lendir serta sedikit kesan darah.
Amad beralih ke arah Cikgu Farhana yang sudah melutut di atas meja. Cikgu Farhana membuka mulutnya luas-luas, lidahnya digerakkan seolah-olah mengundang.
Amad memegang kepalanya dan menghalakan zakarnya tepat ke muka Cikgu Farhana. Dia melancap laju beberapa kali sebelum cecair putih pekat memancut keluar dengan deras.
Amad:
(Mengerang sekuat hati)
OHHH SHIT! AMBIK NI CIKGU! AMBIK SEMUA!
Pancutan pertama terkena tepat di pipi dan cermin mata Cikgu Farhana. Pancutan kedua dan seterusnya masuk terus ke dalam mulutnya. Cikgu Farhana menelan setiap titisan air mani Amad dengan penuh ghairah. Sebahagian air mani itu meleleh keluar dari hujung bibirnya, jatuh ke atas dada Hawa yang masih terdedah.
Cikgu Farhana:
(Mengelap bibirnya, matanya merah menahan nikmat)
Banyaknya air kamu, Amad... Masin dan pekat. Saya suka.
Hawa hanya mampu melihat adegan itu dengan nafas yang tercungap-cungap. Seluruh badannya menggigil. Cikgu Farhana kemudian memandang Hawa kembali.
Cikgu Farhana:
(Menggosok-gosok air mani yang ada di dada Hawa ke seluruh kulit Hawa)
Tengok ni Hawa. Sekarang kamu dah jadi sebahagian daripada kami. Kamu dah rasa kote Amad, saya pun dah rasa. Sekarang, giliran saya pula nak rasa kamu.
Cikgu Farhana merapatkan wajahnya ke celah kangkang Hawa yang masih terbuka luas. Dia melihat lubang faraj Hawa yang merah dan sedikit bengkak. Dia menjilat saki baki air mani dan darah yang ada di situ dengan lidahnya yang panjang.
Hawa:
(Mengeluarkan bunyi antara rintihan dan desahan)
Ahhh... Cikgu... Apa cikgu buat ni... Geli...
Cikgu Farhana:
(Sambil menjilat kelentit Hawa)
Ssttt... Diam dan nikmati. Kamu takkan dapat rasa ni dengan budak lelaki macam Amad. Lidah saya lebih tahu mana nak cari punca nikmat kamu.
Amad berdiri di belakang Cikgu Farhana, dia memegang punggung gurunya yang besar itu. Batangnya yang tadi layu mula tegang kembali apabila melihat gurunya sedang menjilat kemaluan Hawa.
Amad:
(Suaranya serak)
Cikgu, saya nak masuk jubur cikgu pula boleh?
Cikgu Farhana:
(Menoleh sekilas sambil masih menjilat Hawa)
Boleh, Amad. Tapi pelan-pelan. Jubur saya sempit lagi. Gunakan air liur kamu banyak-banyak.
Amad meludah berkali-kali ke lubang dubur Cikgu Farhana yang berwarna coklat gelap dan berkedut itu. Dia meletakkan kepala zakarnya di situ dan menekan masuk.
Cikgu Farhana:
(Mengerang kuat, kepalanya terdongak ke belakang)
AAAHHHH! SAKITNYA! Amad... Besar sangat!
Henjutan Amad di lubang dubur Cikgu Farhana menyebabkan seluruh badan Cikgu Farhana bergegar, dan ini secara tidak langsung membuatkan lidahnya di dalam faraj Hawa bergerak lebih liar.
Hawa:
(Mula hilang kawalan, pinggulnya mula terangkat mengikut rentak lidah Cikgu Farhana)
Ahhh! Ahhh! Cikgu! Terus... teruskan! Saya... saya nak keluar!
Cikgu Farhana:
(Menerus dengan lebih rakus)
Lagi Hawa! Jerit lagi! Biar satu sekolah tahu betapa gatalnya pengawas kita ni!
Kelas 4 As Syafie kini dipenuhi dengan bunyi-bunyi yang menjijikkan tetapi penuh dengan nafsu. Bunyi henjutan Amad di jubur Cikgu Farhana "PLOK, PLOK, PLOK", bunyi jilatan Cikgu Farhana pada Hawa "SLURP, SLURP", dan jeritan nikmat Hawa yang akhirnya mencapai kemuncak.
Hawa:
(Tubuhnya mengejang, kakinya terkangkang luas seluas-luasnya)
SAYAAAA NAAAAKKKK CUMMM! AAAHHHHHHHH!
Cairan jernih terpancut keluar dari lubang Hawa, membasahi wajah Cikgu Farhana. Cikgu Farhana tidak berhenti, dia terus menghisap kelentit Hawa sehingga Hawa terkulai lemah.
Pada masa yang sama, Amad juga mencapai kemuncaknya buat kali kedua. Dia menghujam masuk sekuat hati ke dalam jubur Cikgu Farhana dan memancutkan seluruh air maninya ke dalam usus gurunya itu.
Amad:
(Tercungap-cungap, menyandarkan kepalanya di belakang Cikgu Farhana)
Ahhh... gila... ini hari paling best dalam hidup aku.
Cikgu Farhana perlahan-lahan bangun. Dia mengelap wajahnya yang basah dengan air mani dan air puki Hawa dengan tangan. Dia tersenyum puas.
Cikgu Farhana:
(Memandang Amad dan Hawa silih berganti)
Ingat ya, apa yang berlaku dalam kelas ni, kekal dalam kelas ni. Kalau ada sesiapa yang bercakap, saya akan pastikan kamu berdua dibuang sekolah dengan rekod yang paling buruk. Faham?
Amad:
(Mengangguk laju sambil menarik seluarnya ke atas)
Faham, cikgu. Saya takkan cakap apa-apa. Lagipun, saya nak buat lagi esok. Boleh kan?
Cikgu Farhana memandang Hawa yang masih terbaring dengan baju yang koyak-rabak.
Cikgu Farhana:
(Membantu Hawa bangun dan membetulkan baju kurungnya yang rosak)
Macam mana Hawa? Nak lagi esok? Atau nak saya lapor pada polis yang Amad rogol kamu? Kalau polis datang, saya akan cakap yang saya nampak kamu yang goda Amad. Kamu rasa polis nak percaya cakap siapa? Pengawas yang dah tak ada dara, atau guru yang dihormati?
Hawa menundukkan kepalanya. Dia melihat kesan darah di atas meja guru itu. Dia meraba bahagian bawahnya yang terasa sangat pedih tetapi masih berdenyut dengan saki-baki nikmat yang baru dirasainya.
Hawa:
(Suaranya sangat perlahan)
Tak perlu lapor, cikgu... Saya... saya akan diam.
Cikgu Farhana:
(Mengusap pipi Hawa dengan lembut)
Bagus. Budak bijak. Esok lepas sekolah, kita jumpa lagi di sini. Saya akan bawa minyak pelincir yang lebih baik. Amad, pastikan kamu bawa 'tenaga' yang lebih kuat esok.
Amad:
(Ketawa)
Mestilah, cikgu. Saya boleh buat lagi lima round kalau macam ni.
Mereka bertiga mula mengemas diri. Hawa cuba menutup kesan koyak pada bajunya dengan lencana pengawasnya. Cikgu Farhana memakai kembali baju kurungnya seolah-olah tiada apa yang berlaku.
Cikgu Farhana:
(Berjalan ke arah pintu, membukanya dan melihat koridor yang masih kosong)
Dah, pergi balik sekarang. Ikut jalan belakang. Jangan sampai ada orang nampak.
Hawa berjalan keluar dengan langkah yang sedikit tempang kerana kesakitan di celah kangkangnya. Amad mengikut dari belakang dengan wajah yang penuh kemenangan. Cikgu Farhana menutup lampu kelas dan mengunci pintu.
Cahaya matahari petang semakin malap, meninggalkan kelas dalam kegelapan yang menyimpan rahsia kotor di sebalik meja guru itu.
Hawa:
(Berhenti sekejap di hujung koridor, berpaling ke arah Amad)
Amad... esok... kau jangan kasar sangat macam tadi.
Amad:
(Mendekati Hawa dan membisikkan sesuatu)
Tengoklah keadaan macam mana. Kalau puki kau ketat macam tadi, aku tak janji aku boleh sabar.
Amad menepuk punggung Hawa dengan kuat sebelum berlari menuruni tangga. Hawa memegang punggungnya, satu perasaan yang bercampur baur antara takut, malu, dan keinginan yang baru bercambah mula memenuhi fikirannya.
Hawa:
(Bercakap dalam hati)
Apa dah jadi dengan aku... Aku pengawas... tapi aku suka rasa kote dia tadi...
Cikgu Farhana yang masih berdiri di depan pintu kelas hanya memerhatikan mereka berdua dari jauh dengan senyuman yang penuh muslihat. Dia tahu dia telah berjaya menjerat dua mangsa baru untuk memuaskan nafsu serakahnya yang selama ini terpendam di sebalik imej guru yang suci.
Hawa berjalan menuju ke pagar sekolah. Dia melihat Pak Guard yang masih tidur di pondoknya, sebiji radio kecil di sebelahnya memainkan lagu lama. Hawa mempercepatkan langkahnya, bimbang jika kesan-kesan pada tubuhnya dapat dikesan oleh sesiapa.
Hawa:
(Berhenti di hadapan cermin besar di lobi sekolah)
Muka aku... Nampak macam biasa ke?
Dia melihat pantulan dirinya. Rambutnya yang serabai tadi sudah dikemaskan, tetapi matanya yang sembab tidak dapat disembunyikan. Dia menarik nafas panjang, cuba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang.
Amad:
(Tiba-tiba muncul dari belakang tiang)
Wei, Hawa. Kau nak aku hantar balik ke?
Hawa:
(Terperanjat)
Tak payah. Aku boleh balik sendiri. Jangan dekat dengan aku dekat sekolah esok.
Amad:
(Tersengih)
Alah, janganlah macam tu. Tadi bukan main lagi kau menjerit nama aku masa cikgu jilat kau. Sedap kan?
Hawa:
(Muka merah padam)
Diamlah! Itu... itu sebab aku terpaksa.
Amad:
(Mendekati Hawa, tangannya memegang pinggang Hawa dengan kasar)
Terpaksa konon. Aku tahu kau suka. Lubang kau tu sempit, tapi bila dah kena jolok, dia hisap kote aku macam nak rak. Aku rasa kau lagi gatal daripada Cikgu Farhana.
Hawa:
(Menolak tangan Amad)
Lepaslah! Ada orang nampak nanti!
Amad:
(Melepaskan pegangannya, tapi masih tersenyum sinis)
Okey, okey. Esok jangan lupa bawa baju lebih. Aku rasa esok kita akan buat lagi lama. Cikgu Farhana cakap dia nak bawa barang 'special'.
Hawa tidak menjawab. Dia terus berlari keluar dari kawasan sekolah, meninggalkan Amad yang masih berdiri di situ dengan perasaan bangga.
Hawa berjalan pulang ke rumahnya yang terletak tidak jauh dari sekolah. Sepanjang jalan, dia hanya memikirkan tentang apa yang akan berlaku esok. Ketakutannya mula diganti dengan satu perasaan ganjil yang dia sendiri tidak faham. Kehangatan air mani Amad yang masih terasa kering di celah kangkangnya seolah-olah menjadi peringatan tentang dosa yang baru sahaja dia lakukan, namun entah kenapa, dia tidak sabar untuk melakukannya lagi.
. RUMAH HAWA - MALAM
Hawa berada di dalam bilik air. Dia menanggalkan baju kurungnya yang sudah rosak itu. Dia melihat lebam-lebam kecil di dadanya, kesan gigitan Amad. Dia menyentuh kemaluannya yang masih terasa pedih apabila terkena air.
Hawa:
(Merintih perlahan)
Aduh... pedihnya. Amad ni memang gila.
Dia teringat kembali wajah Cikgu Farhana semasa menjilatnya tadi. Lidah gurunya yang mahir itu benar-benar membuatkan dia hilang pertimbangan. Dia mula menggosok kelentitnya sendiri sambil membayangkan kejadian di dalam kelas tadi.
Hawa:
(Bernafas laju, jarinya mula bergerak pantas)
Ahhh... Amad... Cikgu... masukkan lagi...
Hawa mencapai kemuncak sekali lagi di bawah pancuran air bilik air. Dia terduduk lemah di atas lantai mozek yang sejuk. Dia tahu hidupnya sudah berubah. Dia bukan lagi Hawa yang suci, dia kini adalah hamba kepada nafsu Amad dan Cikgu Farhana.
DI DALAM KELAS - KEESOKAN HARINYA
Sesi persekolahan berjalan seperti biasa. Hawa menjalankan tugasnya sebagai pengawas dengan penuh dedikasi, seolah-olah kejadian semalam tidak pernah berlaku. Namun, setiap kali matanya bertembung dengan Amad di dalam kelas, satu renjatan elektrik seolah-olah mengalir di seluruh badannya.
Cikgu Farhana masuk ke kelas untuk mengajar subjek Matematik Tambahan. Dia memakai baju kurung berwarna hijau lumut yang sangat ketat.
Cikgu Farhana:
(Berdiri di hadapan kelas, matanya melirik ke arah Hawa dan Amad)
Baiklah semua, hari ni kita akan belajar tentang pembezaan. Hawa, tolong datang ke hadapan dan ambil buku latihan kawan-kawan kamu.
Hawa bangun dari tempat duduknya. Semasa dia berjalan melepasi meja Amad, Amad dengan sengaja menghulurkan kakinya, menyebabkan Hawa hampir tersandung.
Amad:
(Berbisik sangat perlahan)
Jangan lupa petang ni, pengawas.
Hawa tidak menoleh, tetapi mukanya mula kemerah-merahan. Dia mengambil buku dari meja Cikgu Farhana. Cikgu Farhana dengan sengaja menyentuh jari Hawa semasa menyerahkan buku itu.
Cikgu Farhana:
(Berbisik pada Hawa)
Dah sedia untuk 'tuisyen' petang ni, Hawa?
Hawa hanya mengangguk kecil sebelum kembali ke tempat duduknya. Sepanjang sesi pengajaran, fikirannya melayang jauh. Dia membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Cikgu Farhana dan Amad kepadanya petang nanti.
LOCENG SEKOLAH BERBUNYI - WAKTU BALIK
Semua pelajar bergegas keluar dari kelas. Amad tetap berada di tempat duduknya, berpura-pura mengemas begnya. Hawa berdiri di pintu kelas, menunggu sehingga semua orang beredar.
Cikgu Farhana:
(Masuk ke dalam kelas dengan sebuah beg tangan besar)
Hawa, kunci pintu. Amad, tutup semua tingkap.
Suasana kembali sama seperti semalam, tetapi kali ini penuh dengan persediaan.
Cikgu Farhana:
(Mengeluarkan sebotol minyak pelincir berbau strawberi dan sepasang gari mainan dari begnya)
Hari ni, kita akan buat eksperimen yang lebih menarik. Hawa, buka baju kamu sekarang.
Amad:
(Berdiri di belakang Hawa, mula meraba punggungnya)
Biar saya tolong bukakan, cikgu.
Hawa tidak lagi melawan. Dia membiarkan Amad menanggalkan bajunya satu persatu sehingga dia berdiri berbogel sepenuhnya di tengah-tengah kelas.
Cikgu Farhana:
(Melihat tubuh Hawa dengan penuh nafsu)
Sempurna. Amad, gari tangan dia dekat kerusi guru tu.
Amad melakukan apa yang disuruh. Hawa kini dalam keadaan duduk di atas kerusi guru, tangannya digari ke belakang kerusi, kakinya terbuka luas menghadap ke arah meja pelajar.
Cikgu Farhana:
(Membuka bajunya sendiri sehingga berbogel)
Amad, sekarang kamu boleh nikmati dia sepuas hati kamu. Gunakan minyak ni. Saya nak tengok kamu henjut dia sampai dia pengsan.
Amad menuangkan minyak strawberi itu ke zakarnya yang sudah tegang. Bau manis strawberi memenuhi ruang udara. Dia melutut di celah kangkang Hawa dan mula memasukkan zakarnya yang sudah licin itu.
Hawa:
(Mengerang nikmat)
Ahhh! Sedapnya... Sejuk... Amad... masukkannnn!
Amad menghenjut dengan lebih pantas berbanding semalam. Minyak pelincir itu memudahkan setiap tujahan, menyebabkan bunyi "SLOSH, SLOSH" yang sangat basah.
Cikgu Farhana tidak tinggal diam. Dia naik ke atas meja di hadapan Hawa dan mula menunjukkan kemaluannya yang sudah basah kepada Hawa.
Cikgu Farhana:
(Menggeselkan kemaluannya pada muka Hawa)
Jilat Hawa! Jilat puki cikgu sampai cikgu pancut!
Hawa dengan rakus menjelirkan lidahnya, menjilat lubang Cikgu Farhana yang mengeluarkan bau harum minyak wangi bercampur bau asli wanita. Di bawah, Amad terus menghenjut faraj Hawa tanpa belas kasihan.
Amad:
(Mengerang sambil memegang paha Hawa yang digari)
AHHH! CIKGU! SAYA NAK PANCUT DALAM LAGI!
Cikgu Farhana:
(Sambil kepalanya bergerak-gerak mengikut jilatan Hawa)
PANCUT JE AMAD! PENUHKAN RAHIM DIA DENGAN BENIH KAMU! BIAR DIA TAHU SIAPA TUAN DIA!
Amad memancutkan air maninya dengan sangat deras ke dalam rahim Hawa. Hawa merasakan kehangatan yang luar biasa memenuhi perutnya. Pada masa yang sama, jilatan Hawa menyebabkan Cikgu Farhana juga mencapai kemuncak yang dahsyat, air kencingnya terpancut sedikit mengenai muka Hawa.
Makin syar babyleein ni dah boleh bawa main ahh2ππ¦ tak dapat masuk habis sikit2 pun jadi ni pastu geser batang kt pek kecil pink babyleein heheπ₯΄ nen tu pun dh tumbuh sikit buat jilat2 puting ramas sikit2 pun takpa heheh sambil gosok pek pink babyleein mesti sedap, pastu bagi masuk 1 jari buat longgar sikit and bagi basah dapat lah batang abang masuk hujung je sikit2 pun takpa lama2 nanti tiap hari main dengan babyleein pun dapat masuk habis kt pek fit and pink babyleein tu ahhh fuckππ¦ ada yang suka bahan babyleein tak sini hehe mana tau ada yang minat dia ni buat jadi bahan
muka slut bdoh cmni baik kne rogol dpn bf dia, fuck dua2 lubang smpai menangis mintk tlong bf dia, merayu sruh stop sbb lubang dh terbukak luas sgt, smpai bergetar badan π bf dia sndri send gmbar kt aku.
bagi aku jela gf kau ni bro, aku kasi hari2 smpai dia takle jalan nk? jenis muka gf kau ni sedap rogol rmai2.
jom melancap kat betina murah bdoh niπ€£
skodeng baikkk punyaππ
π
TEMBAM
Besar nya tetek bini orang ..sedap nya.bayang kan dia tonyoh tetek dekat muka π€€π€€
Bring Your Photos to Live - AI-Powered Image to Video Generation
Bring Your Photos to Live - AI-Powered Image to Video Generation
Bring Your Photos to Live - AI-Powered Image to Video Generation
Lubang nie la yg paling sedap yg ada kat perempuan
547K Followers, 443 Following, 1,682 Posts - See Instagram photos and videos from ππππ ππππππππ πππππ π²πΎπ (@sitikhadijahhalim)
Bring Your Photos to Live - AI-Powered Image to Video Generation
Create AI-generated adult content with our advanced undress AI tools. Free and secure.
OpenGoon is an all-in-one NSFW AI tool for image, video, and xray generations. Choose a mode, upload a photo, and generate in seconds.
7M Followers, 1,201 Following, 4,706 Posts - See Instagram photos and videos from MIRA FILZAH (@mfmirafilzah)
Bring Your Photos to Live - AI-Powered Image to Video Generation
Create AI-generated adult content with our advanced undress AI tools. Free and secure.