Ini curhatan... Karena saya adalah tipe orang yang tidak mampu mengungkapkan sesuatu secara verbal. Kau tau itu introvert... Tentang pertemanan, jalinan persahabatan yang saya alami hingga detik ini. Mengapa jumlah teman yang dimiliki saat dewasa lebih sedikit daripada saat anak-anak? Itu ada teorinya, dan itu juga yang saya alami sata ini. Sebelumnya, manusia diciptakan dengan kemampuan berfikir juga emosi yang berbeda. Itulah yang dikoneksikan dengan orang disekitarnya. Jika seseorang pernah berkata "Jangan pilih-pilih teman!" sejatinya pernyataan itu tidak boleh ditelan mentah-mentah, karena tidak semua orang cocok dengan diri kita. Manusia cenderung memilih seseorang yang nyaman untuk berinteraksi satu sama lain. Beberapa tahun lalu saya mencoba lebih terbuka dan berusaha berteman dengan siapa saja, berusaha menerima segala kekurangan mereka juga, namun nyatanya beberapa langsung menghilang dari hidup saya karena beberapa alasan, entah apa boleh disebut sebagai menjauhi saya karena perbedaan "golongan" sejatinya saya tidak peduli. Teman-teman SMP saya, mungkin hanya beberapa saja yang bertahan, namun jika ditabya soal solid atau tidak, kami masih solid, meski ada rasa canggung karena kesujsesan tiap individu berbeda. Teman-teman SMA saya terdiri dari beberapa golongan. Yah hanya beberapa yang masih dapat dijangkau keberadaannya, yang lain? Masih ada, hanya menjauhkan diri saja, atau karena sudah bertemu teman sejatinya yang lebih cocok. Setelah lulus SMA saya mendapat kabar bahwa teman sekelas saya yang dulu sangat bergantung hidupnya pada geng nya dikucilkan di kampusnya. Yah saya pikir itu balasan yang setimpal untuk dia. Sebelum melanjutkan ke sekolah tinggi, saya bergabung dalam sebuah komunitas sosial, di mana di situ lah kepribadian introvert saya berevolusi, seperti seekor ulat yang akhirnya mampu terbang tinggi. Di komunitas tersebut saya mendapat sangat banyak sekali teman, dan yah karena membernya terdiri dari berbagai kalangan dan umur dan POLA PIKIR yang berbeda dan visi misi yang juga berbeda, terbentuklah juga beberapa golongan. Lucunya tidak hanya berhenti di situ saja, dalam sebuah golongan tersebut terbagi lagi menjadi beberapa GENG. Yang akhirnya menyebabkan beberapa individu merasa tersisihkan. Di sini saya mulai merasakan rasa kurang nyaman saat terbang terlalu tinggi. Entah apa itu namanya pertemanan... Lebih parah lagi saat saya memasuki jenjang sekolah tinggi. Di sini saya seperti berada di dalam kandang yang dipenuhi sekawanan hewan-hewan penguasa rimba tanpa makanan. Seleksi alam terus berlangsung. Pertemanan di sini sudah sangat menyedihkan. Saya juga memiliki 2 orang teman yang menemani saya selama hampir 6 tahun ini. Sempat terpikir bahwa mereka adalah 2 sahabat sejati karena kami sudah berjuang bersama selama 5 tahun terakhir. Namun di akhir masa ke 5, di mana anggapan itu mulai terlihat bodoh. Mereka tidak memikirkan seperti yang saya pikir. Saya orang lain, teman hanya label, bisa dicabut maupun kembali dilekatkan. Yah apa yang orang lain bilang tentang teman atau sahabat, saya punya kesimpulan sendiri. Saya belum menemukan sahabat sejati. Dan untuk pertemanan, seorang introvert sejati tak akan bertahan menjadi ekstrovert sekeras apapun ia berusaha. Setinggi-tingginya seekor kupu-kupu terbang, pada akhirnya ia akan turun untuk berpijak. Dan lelah rasanya berusaha mengubah diri untuk berbaur dengan yang lain. Dijauhi saat menampakkan wujud asli, saya merasa seperti Mystique dalam serial X-Men. Menjadi diri sendiri adalah pilihan yang paling baik. Better to be true to who you are.