No title available
No title available

Janaina Medeiros
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

#extradirty
we're not kids anymore.
tumblr dot com

祝日 / Permanent Vacation
Today's Document
🪼
Xuebing Du
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Sade Olutola
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
h
occasionally subtle

Love Begins

oozey mess
Show & Tell
YOU ARE THE REASON
seen from Pakistan
seen from Austria

seen from France
seen from Philippines

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Pakistan

seen from Australia

seen from Bangladesh

seen from Argentina
seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@marmuts
Dalam hidup ini aku tidak pernah menjadi seorang penyerang, aku selalu menjadi pemain bertahan lalu perlahan mundur dan menghilang. Aku sadar bahwa banyak kesempatan yang aku lewatkan karena ketidaktahuan dan kebodohanku, ternyata aku tidak tahu apa-apa soal dunia ini.
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa seorang laki-laki harga dirinya begitu terluka ketika perempuannya dapat mandiri dan mencari penghasilan sendiri. Bagaimana bisa mereka merasa dirugikan dan direndahkan ketika perempuannya dapat meraih pendidikan tinggi dan bekerja dengan posisi terpandang.
Bagaimana bisa? Tolong jelaskan...
“Why do we get hopeless and give up? Often it is for one simple reason: because we are harder on ourselves than God is on us.”
— Yasmin Mogahed
Tulisan : Privilege
Mungkin kebanyakan dari kita, terlahir tidak dengan privilege. Orang tua kita bukan siapa-siapa, secara ekonomi juga biasa-biasa saja bahkan mungkin terpuruk. Kita adalah generasi pertama yang memiliki akses pada pendidikan tinggi, generasi pertama yang harus berjuang untuk memperbaiki taraf hidup keluarga. Istilahnya, Babat Alas!
Tapi, karena hal itu pula kita meraba-meraba. Apa yang harus kita lakukan, kita tidak punya orang tua yang paham dengan jalan yang kita pilih. Kita tidak punya jejaring warisan orang tua yang bisa kita gunakan untuk membuka jalan, tidak punya orang dalam, tidak punya akses pada lingkaran-lingkaran hebat di luar sana karena kita belum menjadi apa-apa.
Kebingungan itu bisa mengantarkan kita kepada dua hal; Pertama, membuat kita menyerah dan tidak memiliki keberanian untuk berjuang demi kehidupan yang lebih baik dari saat ini. Kedua, menjadi pemacu dan bersedia lelah, berkorban, tidur lebih sedikit, untuk mendapatkan apa yang dicari.
Ada hal yang paling sering terjadi difase ini pada diri kita. Kita salah mengenali masalah-masalah yang sebenarnya kita hadapi. Kesalahan identifikasi itu berakibat fatal kerena kita kemudian mengambil keputusan atau langkah yang keliru. Kita merasa sudah berjuang, padahal justru sedang menggali kubur sendiri. Hidup bukannya bertambah menjadi lebih baik, malah tambah meresahkan. Menjalani sesuatu yang semakin jauh dari tujuan.
Atau kesalahan identifikasi masalah yang membuat diri kita berpikiran pendek bahwa semua keresahan dan masalah hidup kita akan selesai dengan menikah. Lelah kuliah/skripsi, menikah. Lelah bekerja pengin di rumah biar dinafkahi, menikah. Buntu terhadap rencana hidup, menikah. Lupa jika pernikahan itu menambah masalah baru, tanggungjawab baru yang harus dikerjakan, tidak sekedar kehidupan indah yang seolah never-ending-fairy-tale seperti yang ditampilkan orang-orang di media sosial.
Sebagai anak yang lahir tanpa privilege. Kita sedang berjuang. Maka bersabarlah. Karena memang menjadi generasi pertama itu tidak pernah mudah. Pernah tidak keluar pagi-pagi sekali. Melihat orang-orang suah bergerak untuk kehidupannya. Mencari penghidupan. Beberapa di antara mereka mungkin ada yang seperti orang tua kita, menjadi buruh harian, menjadi pedagang kaki lima, petani, penjual sayur, dan pekerjaan-pekerjaan yang mungkin tidak ada dalam mimpi kita sama sekali. Tapi, mereka berjuang agar anak-anaknya memperoleh pendidikan, memperbaiki kehidupan keluarga di masa yang akan datang.
Kita tidak bisa menyalahkan keadaan, mengapa kita lahir dalam kondisi saat ini. Segeralah beranjak. Kita sedang membangun pondasi, jangan khianati masa depan kita, masa depan anak-cucu kita.
©kurniawangunadi | 15 September 2019
KESAL -
Mungkin orang mengira saya golongan anti-natalisme. Tapi sebagai anak yg merasakan pedihnya hasil pernikahan yg cacat, saya jadi belajar banyak dan mengoreksi kesalahan2 berpikir society kita yang dilanggengkan oleh budaya patriarki yang bernama pernikahan. Saya tidak akan menyentuh soal agama dalam pembahasan ini, karena saya masih bodoh soal agama. Tapi catat ya, bahwa saya mengutip apa yang pernah saya dengar bahwa "mereka yg diperintahkan nikah adalah yg sudah SIAP (ilmu, mental dan materil)" jangan lagi berpikir nikah untuk menjinakkan nafsu, hey dude kita bukan kaum JAHILIYYAH, kita kaum Nabi Muhammad saw. yang berilmu dan beradab. Clear ya, I stan on this statement.
Saya akan berada di perspektif seorang anak jadi jangan ada pembenaran atas nama orang tua, disini saya akan menjelaskan posisi seorang anak.
Bahwa anak tidak pernah bisa memilih lahir dari rahim siapa, dibesarkan oleh keluarga yang bagaimana kondisi finansial dan keilmuan agamanya. Kita tidak bisa memilih dan bernegosiasi. Itu secara garis besar kalian (para orang tua) yang memutuskan untuk membuat anak, yang membiarkan anak itu hidup kalian harus bisa menjamin segala hak nya di dunia ini. Ketika kalian menyesal dan marah dengan keadaan yang berubah, bukan anak yg harus kalian salahkan tapi diri kalian sendiri. Kita tidak pernah meminta untuk lahir ke dunia, kalian lah yang membuat keputusan untuk melahirkan seorang anak.
Seringnya orangtua enggan disalahkan dan merasa telah berjasa membesarkan anak. Jelas bahwa itu adalah konsekuensi dari hasil perbuatan kalian untuk melahirkan seorang anak, bisa-bisanya kalian merasa telah berjasa besar atas keputusan yang kalian buat sendiri. Kami tidak pernah menuntut untuk dibesarkan dan dididik, itu risiko kalian.
Jadi, terimalah risiko dan konsekwensi atas perbuatan kalian. Jangan jadikan kami beban, justru kami lah yg terbebani oleh segala macam keinginan dan ekspektasi kalian. Jangan pula menggunakan kalimat durhaka pada anak, karena saat kami lahir kami layaknya kertas putih bersih atau air suci bening yang tak bernoda. Jika kalian melihat perbuatan buruk kami, berkacalah siapa yang membuat kami memiliki sifat buruk itu. Sejak sekolah kita selalu dinasihati untuk nurut dan patuh pada orang tua tanpa pernah ada pelajaran bagaimana menjadi orang tua yang baik bagi anak. Padahal yang seharusnya di didik terlebih dahulu adalah orang tua.
Udah ya sekian bctan saya, saya masih jadi anak jadi hanya bisa kasih perspektif dari seorang anak. Gatau mungkin yang sudah jadi orang tua mungkin punya perspektif lain. Terimakasih.
Aug, 2019.
Jadi makin yakin untuk hidup sendiri, bukan hidup tanpa keluarga dan masyarakat. Maksud sendiri adalah mandiri, punya rumah sendiri, punya penghasilan sendiri, melakukan semuanya sendiri, melakukan segala hal yang disukai sendiri. Tidak di intervensi oleh siapapun, semua dalam kendali saya HAHA.
Think(s)
Ada apa dengan mereka? Seringnya banyak orang tua ingin menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki yang mapan, agar tidak susah hidupnya, agar terjamin kebutuhan hidup sehari-harinya, dan tinggal di tempat yang nyaman.
Jika hanya untuk hidup bahagia dengan materi dan segala kehidupan yg mereka sebut dengan hidup "layak" berikan saja akses pendidikan dan fasilitas pengembangan diri untuk anak perempuan. Biarkan mereka berusaha mencapai kehidupan "layak" dengan hasil jerih payah mereka sendiri. Mengapa harus menikah? Apakah menikah dilihat sebagai sebuah solusi, bukankah ini ironi?
Jika hanya menginginkan kelayakan hidup, setiap orang bisa mengusahakannya sendiri tanpa perlu bergantung pada siapapun.
KENAPA 25 NABI?
Kenapa kisah Nabi yang wajib diketahui hanya 25? Padahal jumlahnya begitu banyak, bahkan katanya lebih dari seratus ribu. Tapi kenapa hanya 25?
Setelah bertahun-tahun dalam kebingungan, ternyata saya menemukan jawabannya. Simple, karena Allah SWT ingin menjelaskan setidaknya ada 25 masalah yang mungkin terjadi dalam hidup manusia, dan Allah SWT memberikan contoh bagaimana menghapadi permasalahan tersebut.
Nuh a.s. mengajarkan kita tentang berdakwah menghadapi keluarganya, Luth a.s. mengajarkan kita tentang berdakwah menghadapi istri, Musa a.s. mengajarkan kita tentang berdakwah menghadapi kerajaan, dan Muhammad s.a.w. mengajarkan kita tentang berdakwah menghadapi kaum. Ayub a.s. mengajarkan kita tentang bersabar ketika kita kehilangan rezeki dalam sekejap, Zakaria a.s. mengajarkan kita tentang bersabar ketika kita belum diberi keturunan, Yusuf a.s. mengajarkan kita tentang bersabar ketika menghadapi godaan dari perempuan kaya nan cantik.
Sulaiman a.s. mengajarkan kita tentang bagaimana kekuasaan harusnya dimanfaatkan. Dan masih banyak kisah lainnya.
Karena itu, kisah-kisah para nabi, itu jauh lebih mulia dari sekedar dongeng pengantar tidur, ini bukan kisah para superhero, ini bukan kisah buatan, ini lebih dari itu.
Kisah para nabi, ialah kisah manusia biasa, yang diangkat oleh Allah, kisah manusia yang memiliki kelemahan sama seperti kita, namun mereka mampu melaluinya dengan berbagai ikhtiar. Ini adalah kisah pengantar hidup, mengantarkan para pendegarnya, untuk menjalani hidup yang benar sesuai tuntutan.
Maka, jika hari ini kita merasa jatuh, merasa Allah tidak adil, belajarlah dari kisah para Nabi, sesungguhnya mereka itu manusia biasa yang sudah melewati permasalahan yang melebihi kita, namun tetap bisa menjalani itu semua.
Sudahkah kita belajar dari kisah para Nabi?
___ KENAPA 25 NABI? Bandung, 14 Agustus 2019 @choqi-isyraqi
“If Islam is not making you happy, then something is wrong with your Islam.”
— Hamza Yusuf
Hidupku saat ini adalah hidup yang kuimpikan dulu. Bukankah terlalu kurang ajar dan tidak tau diri jika saat ini aku terlalu banyak mengeluhkan keadaan?
Sadarlah wahai aku. Kau hanya perlu belajar bersyukur. Sejatinya manusia memang tidak pernah puas setinggi apapun pencapaiannya.
Kadang, Allah begitu cepat menjawab keresahan kita. Melalui begitu banyak perantara yang kita temui.
Atau jangan-jangan, aku menduga. Selama ini jawaban itu sudah terbentang luas di depan mata tapi akulah yang tidak mengenalinya. Hanya karena aku sibuk memikirkan diriku sendiri, sibuk berasumsi, dan tidak percaya bahwa Dia akan menolong. Bahkan aku lupa berdoa, meminta kepadaNya.
Semua masalah besar ini tidak ada artinya di hadapan Allah Yang Maha Besar.
©kurniawangunadi