PKM dan Pasukan yang Diistirahatkan
Suatu malam menuju penghujung tahun 2013. Kafe Baca yang ruangannya tak begitu besar disesaki oleh orang-orang lintas usia. Lintas komunitas. Sebagian besar tak saling kenal. Mereka berkumpul untuk menggagas sebuah kegiatan yang tahun ini menjadi pagelaran ketiga bagi komunitas-komunitas kreatif yang ada di Makassar. Pagelaran yang dengan segala keterbatasannya baru bisa dilaksanakan pada tahun berikutnya, di 2014. acara itu Pesta Komunitas Makassar (PKM).
Di tengah diskusi-diskusi tentang divisi yang dibutuhkan saling terlontar, dua orang yang mewakili sebuah komunitas pejalan (kini bernama Pajappa) tampak saling melakukan pus. Suit dalam bahasa Indonesianya. Keduanya tertawa-tawa saling ‘bertaruh’. Yang menang, masuk divisi acara. Yang kalah, ke divisi perlengkapan. Dua orang itu: Anshari Wijaya, lebih akrab disapa Ari dan saya sendiri, Andi Nasser Otto, lebih dikenal dengan nama Na’.
Ya, saya tak jago kalau urusan bertaruh. Haha! Ari, kemudian pada PKM 2014 yang diketuai Ashari Ramadhan (Kak Rama/Papbiz) menjadi koordinator divisi acara. Sedang saya, menjadi satu dari 6 (enam) orang yang menjadi cikal bakal hadirnya sebutan ‘Pasukan Helm Besi’ bagi mereka yang bergabung dalam divisi perlengkapan.
Pasukan Helm Besi, sebenarnya hanya candaan yang tak sengaja keluar dari mulut seorang di antara kami. Ketika malam sebelum pelaksanaan kegiatan, hujan tak henti mengguyur lokasi tempat PKM 2014 akan diselenggarakan. Banjir,--maaf, mengikuti kiasan pemimpin kota ini: “Genangan,” kata Beliau--mulai mengisi pelataran Monumen Mandala. Termasuk menggenangi seluruh booth-booth komunitas. Tenda-tenda mulai tak kuasa menahan curah hujan. Enam orang yang begadang malam itu, saya, Win, Fadli Step, Rama, Janu dan Tri. Harus merelakan keinginan untuk tidur, demi memastikan tenda-tenda tidak roboh karena tampungan air hujan yang tak terbuang, melepaskan kembali instalasi terminal-terminal listrik yang sebenarnya telah terpasang rapi di setiap booth komunitas dan mengangkati barang-barang milik komunitas, perabot beserta jualan milik Usaha Kecil Menengah juga alat-alat milik sponsor-sponsor yang telah dititipi pada kami, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya pada malam dengan hujan lebat yang tak berhenti hingga langit telah terang. Semuanya, dilakukan oleh enam orang. Semuanya!
Pada 2015, pada masa-masa pembentukan kepanitiaan, seorang sesepuh menahan saya untuk tak terlibat langsung dalam kepanitiaan, “Kasih kesempatan adek-adekmu berkembang. Sudahmi kau.” ungkap Beliau. Hingga pelaksanaan hari pertama, seorang yang begitu saya hormati, yang sudah kuanggap seperti kakak, merangkulku sembari berkata, “Kalo ko masih anggapka’ kakak, bantuka’!” Lengan baju pun tergulung kembali. Obeng tes, tang potong, isolasi kabel dan suara-suara dari handy talkie pun kembali menjadi rutinitas selama dua hari pelaksanaan PKM 2015.
Tahun ini, 2016, saya sama sekali tak terlibat. Bahkan, sebenarnya saya tak berkesempatan hadir. Namun, pada hari pertama, melalui beberapa grup yang saya ikuti, obrolan-obrolan tak mengenakkan bermunculan. Tentang listrik tak menyala, tentang kabel yang melintas sembarangan, tentang komunitas yang menyekat-nyekat booth-nya, juga tentang hal-hal tak menyenangkan lainnya. Hari kedua, saya meliburkan diri dari rutinitas. Memaksakan diri hadir di Anjungan Pantai Losari, bukan datang dengan maksud menjadi pahlawan kesiangan, bukan. Saya datang dengan niat sederhana. Membantu yang bisa saya perbantukan. Sesedikit apapun. Setidaknya, bagi komunitas saya sendiri.
Di hari kedua itu pula, saya tahu, tahun ini ‘Pasukan Helm Besi’, dihapuskan. Meski tak tahu alasannya, saya percaya, pengambilan keputusan tersebut telah melalui pertimbangan dan kebijaksanaan dari pelaksana pada pagelaran di 2016 ini. Saya tidak menyayangkan dihapuskannya ‘Pasukan Helm Besi’, saya hanya rindu orang-orang yang meski lelah tak terkira sehabis mengerjakan ini-itu tetap menyimpan senyum kebanggaan di wajahnya. karena dia ‘Pasukan Helm Besi’. Satu dari sekian kekonyolan yang menjadi legenda dari PKM-PKM terdahulu.
Saya percaya, kesempurnaan itu mahluk yang tak pernah ada. Segalanya baik saja, selama orang-orang masih menghargai pelajaran dan pengalaman dari setiap proses yang dijalani hingga usainya suatu persembahan.
Selamat menyerap pengalaman baru kakak-kakak pelaksana PKM 2016. Panjang umur, hingga PKM tak terbilang!
*Tulisan ini diikutsertakan pada lomba yang diadakan Komunitasmks.org














