CERITA SANG HUJAN
Seandainya saya boleh memilih, saya tidak ingin menjadi hujan. Saya ingin terlahir sebagai matahari yang terlihat perkasa, yang oleh sebagian manusia dijadikan Tuhan. Katanya, matahari adalah sumber peradaban. Tanpa matahari, bumi kehilangan sumber daya yang amat besar. Bahkan, saya ada karena sang matahari pula. Sedangkan saya, hanya sebuah hujan yang sering disalahkan jika ada pemukiman manusia yang hancur atau rusak. “Hujan lebat membuat sebuah kampung di daerah Jawa Timur kebanjiran”, begitulah yang saya dengar dari seorang warta berita ketika saya mengintip di balik jendela rumah seseorang. Pernah juga saya melihat judul berita di koran, bunyinya begini : Hujan Lebat dan Angin Kencang Sebabkan Longsor di Daerah Sukabumi.
Sebenarnya sudah lama saya jenuh dikambing hitamkan sebagai perusak dan penghancur. Padahal setelah saya amati, ternyata memang manusianya saja yang tidak becus mengelola tata ruang mereka. Coba kalau mereka menyisakan lahan untuk resapan air yang saya keluarkan, tentu tidak akan banjir. Atau kalau mereka tidak membangun rumah di lereng yang curam atau struktur batuan yang lemah, tentu tidak akan longsor. Tapi mana mau mereka mengerti. Pokoknya kalau ada bencana seperti itu, pasti ulah Sang Hujan.
Dulu, ketika saya masih menjadi air di sebuah sungai, saya bercita-cita untuk menjadi hujan yang banyak membawa manfaat. Mimpi tersebut saya dapatkan ketika sungai tempat saya mengalir melewati belakang sebuah surau yang sedang mengadakan pengajian. Saya mendengar bahwa hujan adalah rahmat dari Yang Maha Kuasa. Lantas saya mendengar sang Kyai membacakan sebuah ayat yang bunyinya begini, “Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa, dan menyebarkan rahmat-Nya ......” Setelah itu, saya langsung menggebu-gebu ingin cepat-cepat menjadi hujan.
Makanya, ketika saya menjadi hujan dan ternyata justru dituduh seperti itu, saya merasa kecewa. Tapi mau bagaimana lagi, saya hanya bisa memendam kekecewaan tersebut dan melaksanakan rutinitas seperti biasa. Hingga entah bagaimana ceritanya, saya sampai di sebuah samudera luas. Di sana saya bertemu berbagai jenis air dari berbagai daerah. Mereka saling bertukar cerita. Sedangkan saya cukup mendengarkan saja karena tak mau ribet berhubungan dengan sesama air.
“Saya pernah dibawa jauh oleh awan ke puncak gunung, dan turun di sana. Karena suhunya dingin sekali, saya berubah menjadi salju,” kata air yang berasal dari sebuah daerah yang suhunya sangat dingin. “Kalau saya, dulu sekali pernah menjadi hujan di sebuah kota yang baru saja terkena bom. Lalu saya berubah menjadi hujan hitam. Jika diingat ingat, itu saat paling tragis dalam pengalaman saya.” kata air yang berasal dari daerah yang sekarang adalah daerah maju. Saya menjadi semakin tertarik dengan percakapan tersebut.
Ternyata menjadi hujan memiliki banyak cerita. Ada yang pernah melewati sebuah daerah yang sangat kering namun subur dan makmur, ada yang menemani seorang gadis patah hati setelah ditolak seorang lelaki, ada pula yang menemani seorang nenek tua menikmati sisa sore di beranda rumahnya. Bermacam-macam cerita saya dengar dari mereka.
Pada intinya, menjadi hujan tidak buruk juga. Terbukti saya sedang menuju sebuah daerah yang terkena kemarau panjang. Hujan sudah lama tidak turun di sana. Akibatnya padi tidak bisa dipanen, tanaman menjadi layu, dan manusia susah mencari air. Ketika saya turun menjadi hujan, mereka keluar rumah dan menyambut saya dengan suka cita. Anak kecil basah kuyup sambil menari-nari di jalanan. Para orang tua mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena mengabulkan doa-doa mereka. Sedangkan tetumbuhan meliuk-liuk tertanda bahagia. Dan hewan-hewan menadahkan kepala ke atas ingin merasakan segarnya air hujan.
Saya teringat pengajian dan ayat yang dibacakan Pak Kyai saat dulu. Ternyata benar, hujan adalah rahmat bagi semesta. Adapun bencana hadir sebagai peringatan kepada manusia untuk memperbaiki pola hidupnya. Maka, saya tidak lagi iri kepada matahari. Sekarang saya bangga menjadi hujan, asal bukan hujan di pipimu ^^
IG : @maudiahkhasanah
Tumblr : @maudiahkhasanah
FB : Maudiah Khasanah
Email : [email protected]













