Aku melihat ke masa lalu dan menemukan diriku yang dulu. Ia masih remaja dan lugu dalam menerima harapan-harapan yang seseorang janjikan. Kudengar ia mengucapkan nama kekasihnya selembut perasaan.
Andai bisa kukatakan padanya sekarang: jangan gila.
Sehabis ini kau akan tahu kenapa cinta tak seharusnya kaujatuhkan terlalu dalam. Kau naif dan buta. Perasaanmu terlalu lemah menghadapi dunia. Bahkan kata-kata yang kekasihmu ucapkan itu suatu hari akan teringkari juga. Kau tahu, dia yang akan mengatakan perpisahan itu. Tentu bukan dirimu. Karena aku paling mengerti, betapa kau mencintainya pada saat itu.
Puisi-puisi cinta yang kautulis itu akan berakhir di sebuah buku yang bahkan tak mau lagi kaubaca, karena kau malu pada dirimu sendiri. Karena kau menyesal pernah sebodoh itu menerbangkan hatimu di sepasang sayap yang palsu. Dan perasaan itu akan berakhir di dering telepon malam yang ia layangkan ketika ia mabuk dan mengaku rindu--itu kebohongannya yang ke seribu. Tetapi dengan bodoh kau tetap menelannya. Menyatakan rindu sebaliknya.
Kau betul-betul gila, ya?
Tetapi ketika kau tidak bisa mengurangi kegilaanmu itu, setidaknya bersyukurlah bila nanti teman-temanmu akan setia menemani berhari-hari setelah ia menegaskan perpisahan. Karena di hari-hari itu kau tak tahu lagi bagaimana bentuk hatimu. Remuknya akan mengundang sesak setiap kali kau mencoba bernapas. Dan setiap tengah malam, kau akan terbangun dari tidur hanya untuk tertawa dan mengeluarkan air mata. Tanganmu menetap dan mengusap dadamu sendiri. Satu-satunya yang bisa kaukatakan di malam seperti itu hanyalah: Sakit. Sangat sakit. Sakit yang tak pernah kaukira sebelumnya. Sakit yang seperti tak ada obatnya.
Maka jangan pernah mengusir teman-temanmu pergi dan jangan melakukan hal bodoh! Percayalah akan ada orang-orang yang dengan sabar memelukmu, mengucap doa untuk sembuhnya patahmu, dan mengatakan kepadamu bahwa masih ada banyak hati yang mencintaimu. Masih banyak yang membutuhkanmu. Maka jangan pernah kau menjauh dari orang-orang yang sepeduli itu denganmu.
Tenanglah. Percaya padaku kalau dia nyatanya bukan duniamu.
Percayalah padaku suatu hari kau akan menemukan cinta yang jauh lebih baik darinya, jauh lebih mesra dari sikapnya padamu, dan membuat matamu terbuka lebar. Bahwa cinta dan harapan adalah dua hal yang berbahaya, namun kau sudah mengerti betapa kau tak perlu jatuh terlalu jauh lagi.