Ia kecil dan memang biasa ‘dikecilkan’..bahkan dikucilkan. Selalu kurenungkan tentang rumput yang terus tumbuh kendati ia disingkirkan, disiangi, dicabut, tertimpa ludah, terinjak-injak, dianggap tak penting,…… Rumput, setinggi-tinggi dia tumbuh cuma beberapa sentimeter. Semampu mungkin ia berjuang tuk menjulang, ia rentan bergoyang sebagaimana ilalang yang sering kupandang di tanah lapang. Bila kumerawat tanaman hias juga tanaman bunga, kusiangi rumput dengan rasa geram yang terpendam. Kucabut dengan kuat dan tuntas hingga ke akarnya berharap tak lagi bertunas. Kalaupun sulit maka dengan sebilah pisau rumput kutebas.. kuperlakukan begitu karena kuanggap rumput itu tak berguna bagiku, tak penting untukku, dan perhatian banyak tertuju pada sesuatu yang indah tanpa “menghargai” rumput yang lemah. Apakah Anda pernah atau malah sering diremehkan? Ataukah Anda merasa bahwa diri sendiri tak semegah pohon jati? Adakalanya seseorang berkecil hati menerima suatu keadaan dan kenyataan. Keberadaan rumput, tetap ada maknanya. Ia menambah hijau kehidupan ini, menyegarkan pandangan mata, dll. Anda yang saat ini direndahkan orang lain (sebagaimana rendahnya rerumputan), mesti tegak lagi dan percaya pada diri Anda. Keberadaan diri Anda tentu memberikan kontribusi untuk kehidupan di sekeliling Anda. Orang lain boleh meremehkan Anda. Teman-teman boleh tidak menghargai Anda. Manakala Anda benar-benar merasa dikecilkan, hanya Anda sendiri yang bisa mengubah hati Anda menjadi lebih lapang. Embusan angin kencang memang mampu merebahkan ilalang, namun ia akan kembali tegar. Hari ini rumput diinjak, esok kembali tegak bahkan mungkin dengan embun segar nan jernih di pucuknya.